
Ketika mereka bicara ponsel Mike berdering, ternyata Dave yang menghubunginya. Mike melihat poselnya dan langsung melihat Ken.
Ken mengetahuinya “ada apa?”
“Dave...” Mike melihat Ken.
“Ya angkat saja” perintah Ken.
Mike langsung mengangkatnya “iya, kenapa?”.
“Gue sudah ketemu sama Endi, dia sekarang sudah berada di tangan anak buah gue” ucap Dave.
“Syukur deh, sekarang apa yang mau lo lakukan?”
“Gue juga sudah mengetahui siapa dalang dari kecelakaan tersebut. Benar dugaan kita selama ini kalau Endi terpaksa melakukannya”.
“Apa lo sudah tahu?”
“Sudah!”
“Siapa?” Mike sangat tertarik dengan pembicaraan mereka.
“Gue tidak bisa mengatakan disini, gue akan bicara dengan Ken dulu”.
“Oh..”
“Lo dimana?”
“Gue di rumah Ken sedang meeting bersama Laili juga”.
“Baiklah, bisa lo kasih ponselnya sama Ken sebentar?”
“Baiklah” Mike memberikan ponsel pada Ken “Dave mau bicara sama bos”.
Ken mengambil ponsel Mike “kenapa?”.
“Apa gue sudah bisa pulang?”
“Apa pekerjaan lo sudah selesai?”
“Sudah, gue akan bawa dia ke markas kita disana”.
“Kenapa harus disini, emang lo gak bisa selesaikan disana saja?”
“Sebab dia orang kita juga”.
Ken kaget “Apa? Siapa?”
“Nanti saja kalau kita sudah sampai disana, lo lihat sendiri dan tanya langsung. Sebab semua ini berhubungan dengan masalalu lo sendiri” penjelasan Dave.
“Baiklah. Apa tidak masalah sama Jihan kalau lo pulang sekarang. Sebab Laili saja masih belum melakukan pengobatannya lagi. Gue gak mau dia marah sama gue karena gue yang maksa kalian balik” Ken melihat aku sambil bicara dengan Dave.
Aku mendengar Ken yang bicara mengenai pekerjaan dan menyebut nama aku. Tapi aku tidak tahu apa inti pembicaraan mereka.
“Bilang sama Ken kalau aku mau ngomong sama Laili” bisik Jihan pada Dave.
__ADS_1
“Ken, Jihan mau bicara sama Laili!”.
“Iya. Ly, Jihan mau ngomong” Ken memberikan ponsel pada aku.
“Iya Han, ada apa?” kata ku.
“Ly, kalau gue balik sekarang tidak apa-apa kan. Gue mau lanjut kerja lagi, sebab kasihan mas Angga dan mas Tejo yang kerja sendiri. Gue dengar dari mbak Luna penginapan sudah selesai pembangunannya ya. Jadi kapan mau pembukaannya?” ucap Jihan.
“Iya. Ken belum mau pembukaannya sebab gue harus sembuh dulu” aku sambil melirik Ken.
“Oh gitu. Jadi boleh kan, kita balik sekarang?” tanya Jihan lagi.
“Emang kamu gak puas ya pergi kesana?”
“Puas kok. Dave sudah mengajak gue keliling kota Paris. Bagaimana kapan-kapan saja kita liburan bareng. Kalau lo sudah sembuh, gue mau lihat lo sembuh dan menemani lo melakukan pengobatan, Ly” bujuk Jihan.
“Kalau kamu kembali kamu juga tidak bisa menemani aku berobat kali Han. Kamu pasti akan kembali ke penginapan untuk menyelesaikan proyek kita. Jawab jujur, kamu pulang bukan karena kerjaan dari Ken kan?”
“Nggak lah, gue saja gak tahu pekerjaan mereka apa. Pliss boleh ya?” Jihan masih mencoba membujuk aku.
“Baiklah, kalian pulang saja. Aku tahu kalian tidak sabar untuk bekerja lagi” ucap aku.
Jihan senang “makasih ya”.
“Iya sama-sama. Aku kembalikan pada Ken” aku memberikan ponsel pada Ken “ini...”.
Ken mengambilnya “lo sudah dengar kan?”.
“Iya. Pintar juga istri gue membujuk kesayangan lo itu” ledek Dave.
“Tahu ah, gue juga gak dengar. So, kapan jadwal kita pulang?”.
“Besok. Kalian pulang pakai pesawat pribadi saja. Sudah ya, akan gue suruh Mike mengurusnya” Ken menutup telepon dan memberikan ponsel Mike padanya.
“Seperti yang lo dengar kalau mereka akan pulang, lo urus semuanya. Sebab gue akan menemui dokter Agus” perintah Ken.
“Apa dokter Agus sudah kembali bos?” tanya Mike.
“Nanti malam dia datang, sebab gue harus cepat menangani penyakit Laili. Gue mau pembukaan tempat wisata ketika Laili sudah sembuh total” ucap Ken.
“Seharusya tidak perlu juga menunggu aku, kapan pun kita bisa melakukan pembukaannya” ucap aku sambil menunduk.
“Ya kita lihat saja nanti” keputusan Ken.
Mike langsung pamit dan kembali ke perusahaan. Sedangkan aku disuruh istirahat oleh Ken di kamar. Sedangkan dia langsung masuk ruang kerjanya yang tidak tahu apa yang dikerjakan disana.
Aku juga tidak pernah diizinkan oleh Ken untuk masuk kesana. Setiap aku ingin masuk, Ken selalu melarang aku. Aku penasaran apakah ada dia menyembunyikan sesuatu di ruangan itu yang membuat aku tidak boleh masuk.
***
Esokan paginya, seperti biasa setelah sarapan pagi aku di cek kesehatan aku oleh dokter jaga dan perawat. Setelah selesai Ken langsung pamit pada ku untuk menemui dokter Agus. Dia akan menemui dokter Agus dan dokter Anggika bersama Beni.
Ponsel Ken berdering “iya..” jawab Ken.
“Gue sudah di depan..” ternyata Beni yang menghubunginya.
__ADS_1
“Oh iya, sebentar gue kesana” Ken langsung menutup panggilannya.
“Ly, aku berangkat sekarang ya. Kalau ada sesuatu kamu bisa hubungi aku langsung atau bilang sama oma” ucap Ken pada ku.
“Iya..” jawab aku yang sedang tidur di bankar.
“Kalian harus menjaganya dengan hati-hati” pesan Ken pada semua perawat dan dokter jaga yang ada disana.
“Baik tuan...” jawab semua orang.
Ken langsung meninggalkan ruangan kesehatan yang ada di mansion tersebut. Dia masuk ke ruang kerjanya mengambil beberapa berkas. Kemudian dia langsung menemui Beni yang sudah menunggunya di depan mansion.
“Maaf gue lama” ucap Ken ketika masuk mobil Beni.
“Its oke, sudah biasa gue nunggu lo. Sudah siap?” ucap Beni.
“Iya...”
Beni langsung menjalankan mobilnya “by the way, kenapa lo ngajak gue ketemu sama dokter Agus dan Anggika. Kenapa gak Mike saja yang lo ajak?” tanya Beni ketika sudah dijalan.
“Mike sedang mengurus kepulangan Dave bersama Jihan”.
“Mereka sudah pulang, cepat sekali honeymoon nya?” Beni kaget.
“Iya. Sebab tugas mereka sudah selesai”
“Tugas? Tugas apaan? Jangan-jangan lo mengirim mereka honeymoon kesana hanya karena....” Beni bertanya-tanya.
Ken langsung menyambarnya “lo jangan fikir macam-macam. Mereka pergi juga karena Laili, gue gak pernah maksa mereka. Mereka pulang juga karena keinginan mereka masing-masing. Lagian dari awal mereka juga tidak ingin honeymoon. Lo jangan menuduh gue macam-macam” Ken langsung emosi.
“Gue bukan Laili yang bisa lo bohongi, kalau lo karena kerjaan lo juga tidak akan mengirim mereka kesana”.
“Pekerjaan apa coba?” Ken menatap Beni.
“Menangkap orang yang menabrak Laili disana” tebak Beni.
Ken langsung ingin memukul Beni “lo kampret, darimana lo tahu?” kesal Ken.
Beni langsung tertawa “ha.... ha.... kan benar tebakan gue. Jujur gak ada yang mengasih tahu gue. Gue hanya menebak saja, sebab gue sudah tahu lo dari lama kali”.
“Lo ya... awas mulut cabe lo itu kebablasan nanti” ancam Ken.
“Siap bos, dijaga” ucap Beni. “Tunggu, tidak hanya itu kan alasan lo tidak ngajak Mike kan?” Beni masih belum percaya dengan jawaban Ken.
“Menurut lo?” Ken mulai sebal lagi.
“Menurut gue, lo pasti masih tidak suka kalau Mike ada harapan lagi sama Anggika kan? Makanya lo tidak mau Mike berhubungan langsung sama Anggika. Gue tahu lo mengajak gue karena juga malas kan ketemu sama dia” tebak Beni lagi.
“Itu lo tahu, untuk apa juga lo tanya lagi kampret” Ken benar-benar naik darah kalau sudah bicara dengan Beni.
“Ya pengen tahu saja dari mulut lo langsung. Tapi nyatanya tetap tidak bisa. Terus apa kabar Mike dengan Galu?”
Ken melihat Beni “lo kenapa kepo sih, lo tanya langsung sama mereka”.
Beni mau menjawab Ken tapi langsung disambar Ken “sekali lagi lo tanya, mulut lo gue kasih sambal”.
__ADS_1
“Oke-oke” Beni langsung diam setelah melihat Ken yang sudah sangat kesal padanya.