MY DREAM

MY DREAM
84


__ADS_3

Ken dan Mike sudah berada di ruang kerja “so, why?” ucap Mike setelah duduk.


“Sebenarnya gue memang tidak bisa berangkat sebab semalam Eka bilang sama gue kalau Thania akan datang seminggu lagi. Sepertinya waktu yang seminggu akan semakin lama. Jadi aku berharap lo bisa menjaga Laili untuk gue” ucap Ken.


“Apapun yang terjadi gue akan menjaganya. Tapi ada satu pertanyaan mengganjal sama gue. Apa yang mau lo lakukan nantinya?” kata Mike.


“Pokoknya Thania memang tidak boleh sampai disini. Apapun yang terjadi masalah gue dengan Thania harus selesai” ucap Ken tegas.


“Lo pergi sama siapa, bukannya Dave sedang di penginapan. Lalu siapa yang akan menemani lo?”.


“Gue akan pergi dengan Danu n Gank, sebab hanya dia yang bisa gue andalkan saat ini. Satu lagi Mike, lo jangan bilang sama Dave. Sebab dia tidak tahu mengenai ini, lo tahu kan akibatnya jika Dave tahu?”.


“Iya gue paham, tapi gue gak bisa janji. Sebab Dave pasti akan bertanya, bukan sama gue tapi yang lain pasti akan beritahunya”.


“Semua ini gue serahkan sama lo, apapun yang terjadi gue yakin lo bisa menanganinya” kepercayaan yang besar diberikan Ken pada Mike.


“Insya Allah..” jawab Mike.


***


Kembali ke meja makan “kamu gak sarapan?” tanya aku pada Maisy.


“Aku sudah sarapan tadi di rumah kak” jawab Maisy.


Datang perawat dengan oma “oma...” Maisy langsung salaman dengan oma.


“Apa kabar kamu?” tanya oma.


“Sehat oma, oma?”


“Seperti yang kamu lihat” oma tersenyum.


“Nona, ayo kita minum obat” ucap perawat.


“Iya..” jawab aku.


Perawat sudah membantu aku mendorong kursi roda “mau kemana kak?” tanya Maisy.


“Kakak mau ke ruang perawatan untuk siap-siap melakukan pengobatan. Kamu mau ikut atau tunggu disini?” tanya aku.


“Aku ikut boleh kan?” ucap Maisy.


“Boleh kok” aku tersenyum.


“Sus, boleh aku yang dorong” ucap Maisy pada perawat.


“Iya non” perawat langsung menjauh.


Maisy langsung mendorongnya “ruang perawatannya sama dengan ruang mommy dulu kan kak?”.


“Iya..” jawab aku.


Sampai di depan ruang perawatan perawat dan dokter melarang Maisy untuk masuk. Sebab ruangan tersebut memang sangat steril. Jadi Maisy hanya menunggu dan melihat aku dari luar ruangan. Disana sudah tersedia kursi dan meja untuk orang-orang yang melihat proses pengobatan aku.


Tidak lama dokter Agus datang untuk memperiksa aku. Dokter Agus datang bersama oma yang mengantarnya.

__ADS_1


“Om Agus...” ucap Maisy dan langsung salaman.


“Ci, kapan pulang?” ucap dokter Agus.


“Kemarin malam sampai rumah om, tadi pagi langsung di ajak kak Mike kesini ketemu kakak Laili. Om mau periksa kak Laili ya?”


“Iya, om masuk dulu ya” ucap om Agus.


“Iya om” ucap Laili.


Ketika dokter Agus memeriksa aku datang Mike dan Ken menghampiri Maisy.


“Dokter Agus sudah datang?” tanya Ken.


“Sudah kak, tuh lagi periksa kak Laili” jawab Maisy.


Tidak lama keluar dokter Agus “bagaimana om?” tanya Ken.


“Alhamdulillah kondisinya sudah lebih baik. Hanya saja sekarang kakinya yang masih belum bisa digerakkan sebab aliran darah ke kakinya terhambat. Sepertinya akan butuh lama untuk penyembuhannya” penjelasan dokter Agus.


“Apakah tidak ada cara untuk dia bisa jalan lagi om. Sebab tiga minggu lagi dia akan ulang tahun” Ken khawatir.


“Dia bisa sembuh asal dia melakukan terapi” jawab dokter Agus.


“Dimana Laili bisa melakukannya om?” tanya Mike.


“Di rumah sakit Anugrah bisa. Disana peralatannya lebih lengkap dan juga bisa konsultasi dengan dokter spesialis langsung” Agus.


“Oke, Mike lo urus semuanya ya” Ken melihat Mike.


“Om, selama Laili melakukan terapi berarti om masih melakukan perawatan sama dia kan?” tanya Ken.


“Masih Ken, om akan diskusi dengan dokter disana untuk kesembuhannya. Ada apa sih, kamu kelihatan khawatir gitu?” Agus tahu Ken sedikit khawatir.


“Sebab... sebab, aku mau keluar negeri beberapa hari om. Ada pekerjaan yang mengharuskan aku langsung kesana mengurusnya” ucap Ken.


Agus menepuk pundak Ken dan tersenyum “kamu gak usah khawatir. Laili akan sembuh kok, sebab penyakitnya sudah ditangani dengan tepat waktu. Semua orang disini sangat menyayanginya, tidak hanya kamu”.


“Benar tuh kak, selama kakak pergi aku akan membantu kak Mike untuk menjaga kakak cantik. Kakak tenang saja, percaya sama Maisy” ucap Maisy.


“Beneran Ci?” Ken melihat Maisy.


“Iya...”


“Terimakasih..” Ken sangat senang.


Lalu aku keluar dari ruang perawatan dengan kursi roda yang di dorong oleh perawat “terimakasih sus” kataku setelah sampai di tempat semua orang.


Perawat langsung pergi untuk membantu perawat dan dokter jaga yang sedang merapikan peralatan perawatan yang aku gunakan tadi.


“Ada apa dok?” tanya ku setelah melihat semua orang yang baru selesai bicara.


“Nggak ada Ly, ini kita sedang membahas mengenai penyakit kamu tadi” jawab dokter Agus.


“Oh...”

__ADS_1


“Bagaimana Ly, kamu sudah siap melakukan terapi di rumah sakit?” tanya Ken padaku.


“Aku ngikut saja apa yang terbaik untuk aku menurut kamu” jawab ku.


“Oke, berarti setuju. Mulai besok kamu pergi terapi bersama Mike dan Maisy. Di rumah sakit juga akan ada Beni sama Anggika yang akan menemani kamu” kata Mike.


“Kamu kemana? Tidak akan menemani aku lagi?” aku merasa Ken tidak mau menemani aku dalam pengobatan sesuai dengan janjinya.


“Bukan gitu, tapi kamu yang menyuru aku pergi untuk memenuhi permintaan tuan Ismail dan Qasya. Jadi aku akan pergi nanti malam, gak apa-apa kan?” Ken melihat aku.


“Iya tidak apa-apa, sebab ada Maisy yang akan temani aku. Iya kan Ci?” aku melihat Maisy.


“Iya kakak cantik” jawab Maisy sambil tersenyum.


***


Aku sedang istirahat ditemani oleh Maisy. Sedangkan Ken dan Mike sedang pergi sebentar sebab mereka akan bertemu Danu, Eka, dan Beni.


Semua orang sudah berkumpul di restoran private “Laili gak kenapa-napa lo tinggal sendiri, Ken?” tanya Eka.


“Nggak apa-apa, dia bersama Maisy” jawab Ken.


“Adik lo balik bro?” ucap Beni.


“Iya..” jawab Mike.


“Berarti kerjaan lo semakin double sekarang ya Mike. Apa dia masih bawel dan ngeselin lagi?” ledek Beni.


“Masih sama dengan lo nyebelin” Mike kesal.


“Sudah ah, mari kita fokus sekarang” Eka menengahi mereka yang bertengkar.


Semua langsung diam “Danu, bagaimana? Apa lo sudah siap berangkat sama saya?” tanya Ken sama Danu.


“Siap bos” jawab Danu.


“Lo gak beritahu Dave kan?” tanya Mike.


“Nggak bos, tapi kalau bos Dave kembali dan mencari saya bagaimana nantinya?” Danu masih memikirkan Dave.


“Kalau masalah itu lo gak usah takut, nanti biar gue sama Mike yang beritahu. Lo pergi saja sama Ken, sebab kalau Dave tahu sekarang dia akan datang dan paksa dia sendiri yang pergi. Apalagi kalau dia tahu tujuan kenapa lo ikut” kata Eka.


“Benar yang dikatakan Eka, lo diam saja dulu” sambung Ken.


“Baik bos” jawab Danu.


“Ben, lo juga siap untuk membantu Laili di rumah sakit. Sebab dia akan melakukan terapi mulai besok. Kalau lo sibuk lo minta bantuan Anggika, bisa?” Ken melihat Beni.


“Oke siap..” jawab Beni.


“Tapi lo jangan sibuk ngecengi adik Mike saja nanti dan lo harus fokus” pesan Ken.


“Iya gue tahu, lagian asisten lo pasti selalu standby kan!” ucap Beni.


“Gue percaya sama lo. Ka, berarti setelah gue pulang lo harus siap-siap juga” Ken melihat Eka.

__ADS_1


“Oke...” jawab Eka.


__ADS_2