
Marsya sudah sadar dari pinsannya, ternyata hari pun sudah pagi. Marsya melihat sekeliling, dia merasa ruangan ini sangat berbeda dari yang dia lihat semalam. Ruangan juga berbeda dengan kamar aparteman dan kamar hotel yang biasa mereka gunakan.
“Dimana ini” katanya.
James keluar dari kamar mandi masih menggunakan jubah mandi “kamu sudah bangun sayang” menghampirinya.
“Dimana kita?” tanyanya.
“Kamu ada di mansion saya, apa masih ada yang sakit?” James duduk.
Marsya berusaha duduk “aw.. aw..” merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
“Sini saya gendong mandi” James menyingkirkan selimut.
Marsya sudah memakai jubah baju tidur yang diberikan James setelah sampai di mansion. Jadi semua tubuhnya sudah tertutup oleh jubah itu. James menggendong Marsya ke kamar mandi.
James sudah menyiapkan air mandi untuk Marsya. Sampai di kamar mandi Marsya di dudukkan di bath up. James membuka jubah tidurnya lalu dia mengangkat Marsya kedalam bath up yang sudah berisi air sabun dan sedikit wangi-wangian.
“Kamu berendam dulu” James mau pergi.
Marsya memegang tangan James “mau kemana?”.
“Saya mau pakai baju dulu, kenapa?” James melihat Marsya.
“Temani saya mandi dan bantuin” Marsya tersenyum.
James merasa kasihan karena semua itu perbuatannya “baiklah” James membuka baju mandi dan masuk dalam bath up.
James membantu Marsya menggosok seluruh tubuhnya dengan hati-hati “boleh saya tanya sesuatu?”.
“Tanya saja”
“Tempat semalam dimana? Disini?”
“Nggak, rahasia”.
“Kenapa kamu lakukan itu pada saya?”
“Itu sudah tugas kamu jadi pathner *** saya, kapan pun saya mau kamu harus siap melakukannya. Meskipun saya minta dihadapan teman-teman saya ataupun keluarga kamu. Kamu harus siap, tubuh kamu juga harus siap menerimanya”.
“Oh... setelah itu apa kamu akan mencampakkan saya?”.
“Siapa bilang begitu?”.
“Saya. Kalau saya yang meminta kamu ketika saya ingin boleh?”.
“Boleh. Tapi tidak waktu saya kerja”.
“Kalau saya tetap mau, bagaimana?”.
“Kamu akan saya bawa ke tempat semalam dan alatnya lebih parah lagi”.
Marsya mengangguk “sekarang saya mau, tapi saya yang menguasai kamu boleh?”.
James kaget “Ha?”.
“Boleh gak?” Marsya melihat James.
“Iya, silakan” James langsung melentangkan tangannya.
__ADS_1
Disaat Marsya mau mulai menyentuh dan membelai tubuh James, dia sudah langsung terangsang. Marsya langsung tersenyum dan tidak jadi melakukannya.
“Kenapa gak jadi?” tanya James.
“Saya masih ada yang mau saya tanyakan?”.
“Apa?”.
“Apa benar kamu tidak akan menikahi saya?”.
“Tidak”.
“Meskipun nikah sirih?”.
“Iya”.
“Apa kamu mau punya anak dari saya?”.
“Iya, jika sudah waktunya”.
“Kapan waktunya?”.
“Kapan saya mau” James sudah tidak tahan menahannya.
James langsung membalikkan badan Marsya dan melakukannya sekali lagi didalam bath up.
“Apa sekarang waktunya?” tanya Marsya.
James langsung menghentikannya “tidak, tunngu saja. Kalau sudah waktunya, akan lebih sakit dari semalam”. James keluar dari bath up “kamu jangan memancing saya, sebab hidup dan tubu kamu ada di genggaman saya. Sekali lagi kamu menanyakan ini akan saya buat lebih sakit dari semalam. Kemudian kamu jangan lupa minum pil yang saya suruh itu setiap hari” James langsung mengambil jubah mandi dan pergi meninggalkan Marsya.
Marsya melihat James pergi “kamu salah melakukan saya seperti semalam James. Sebab om-om yang sudah membayar saya dulu lebih parah lagi memperlakukan tubuh saya. Karena saya mempertahankan kesucian saya, tapi kamu yang mengambilnya. Saya tahu kamu sudah ada perasaan sama saya” kata Marsya.
Aku, Ken, Mike, dan Galu berangkat ke kampung aku. Sebab acara syukuran di perkebunan akan dilaksanakan besok harinya. Kita sudah sampai di bandara dan di jemput oleh Dave dan Jihan.
Kita tidak mampir ke rumah mbak Raisa ataupun mas Doni. Kita langsung ke perkebunan sebab masih banyak persiapan yang mau di persiapkan.
Esokan harinya semua pekerja dan masyarakat kampung sudah berdatangan ke tempat acara. Mereka tidak tahu kalau itu adalah syukuran karena aku sembuh dari sakit. Masyarakat tidak ada yang tahu hanya keluarga aku yang tahu.
Setelah acara syukuran selesai, semua keluarga inti sedang duduk di ruangan meeting yang ada di tempat wisata.
Ken bicara “sebelumnya aku dan Laili minta maaf sudah mengumpulkan semua orang. Tapi ada sesuatu yang ingin kita sampaikan”.
“Silakan katakan, Ken” ucap paman aku.
“Begini paman, bibi, om, tante, mas, dan mbak, kita berdua sudah berencana ingin melangsungkan pernikahan secepatnya”.
“Alhamdulillah..” jawab semua orang.
Semua orang kaget mendengarnya, tak terkecuali Mike, Galu, Jihan, dan Dave. Sebab mereka adalah orang yang paling terdekat dengan kita tapi kita tidak ada memberi tahu mereka.
Jihan melihat aku “beneran Ly?”.
“Iya..” jawab aku sambil mengangguk.
“Aku senang” Jihan memeluk aku.
“Kapan waktunya, Ken?” tanya Doni.
“Satu bulan lagi mas” jawab Ken.
__ADS_1
“Ada yang mau aku tanyakan mas, paman, apa keluarga besar saya harus datang juga kesini?” tanya Ken.
Mas Doni berdiskusi dengan paman, bibi, om, dan tante aku. Mereka bersepakat tidak perlu sebab mereka tahu kalau Ken tidak banyak punya keluarga. Mereka sudah percaya dengan Ken serta Mike sepupunya juga ada disana.
“Tidak perlu Ken, disini kan sudah ada Mike sepupu kamu. Kita percaya kamu tidak akan menipu kita semua” ucap Doni.
“Dimana kalian akan mengadakannya?” tanya Raisa.
Ken melihat aku “akad nikah disini mbak, langsung resepsi malamnya. Seminggu kemudian kita akan mengadakan resepsi di Jakarta” jawab Ken.
“Kamu setuju Ly?” tanya salah satu bibi aku.
“Iya bi, itu sudah keepakatan kami berdua” jawab aku.
“Baiklah. Tapi, sebelum kalian menikah dan Laili sudah sembuh dari sakitnya berarti Laili tidak perlu kembali ke Jakarta. Laili harus tinggal disini sampai kalian sah menjadi suami istri, boleh Ken?” ucap paman.
“Iya paman tidak masalah kok” jawab Ken.
“Silakan kalian siapkan pernikahan impian kalian, kami keluarga besar akan mendukungnya” perintah paman.
“Terimakasih banyak paman” jawab aku dan Ken.
Semua keluarga aku langsung pamit sebab hari sudah semakin sore. Mereka akan langsung kembali ke rumah masing-masing. Tinggal aku, Ken, Mike, Dave, Jihan, dan Galu.
“Ken, kenapa lo gak bilang sama kita?” tanya Mike.
“Maaf, kita memang sengaja menyembunyikannya dari kalian” kata Ken.
“Iya, kita juga ingin kalian sama mendengarkan dengan yang lainnya” kata aku.
“Selamat ya bu bos” ucap Galu.
Aku tersenyum “aku senang, akhirnya sahabat aku menikah juga. Karena kalian sudah mengumumkan kabar bahagia, gue juga mau mengumumkan kabar bahagia juga” kata Jihan.
“Kabar bahagia apa, Han?” tanya aku.
“Aku sedang hamil 4 minggu” ucap Jihan.
“Beneran?” aku melihat Jihan.
“Iya..”
“Selamat, aku senang” aku memeluk Jihan.
“Selamat bro” ucap Ken dan Mike pada Dave.
“Terimakasih, selanjutnya kalian” jawab Dave.
“Selamat ya Han” Galu memberikan selamat.
“Terimakasih mba” jawab Jihan.
Mereka semua sangat senang sebab mendengar dua kabar bahagia. Pertama aku dan Ken akan melangsungkan pernikahan secepatnya. Kedua Jihan hamil anak pertamanya dengan Dave.
Sedangkan di luar negeri sana ada yang tidak berbahagia yaitu Thania. Dia sedang hamil anak dari orang yang sudah mencampakkannya. Sekarang terjebak dengan cinta paksaan dari Alberto.
Setiap hari Thania menangis ingin keluar dari kamarnya tapi selalu di kunci oleh Alberto. Dia tidak mau melepaskan Thania meskipun dia tahu kalau Thania tidak akan bisa kabur. Alberto akan tetap mengurungnya disana, sebab dia sangat terobsesi dari dulu dengan kecantikan Thania.
Makanya Alberto memanfaatkan jabatannya untuk menaklukkan Thania. Dia rela menikung bosnya sendiri untuk bisa mendapatkannya. Meskipun Thania hamil bukan anaknya, dia akan tetap menyekap Thania. Sambil menjalankan nafsunya dengan menikmati tubuh Thania yang sedang hamil.
__ADS_1