MY REVENGE

MY REVENGE
EP 10 : DIJUAL?!


__ADS_3

“Maafkan aku yang selalu merepotkan.” Hannah merasa tidak enak kepada Rafael, lantaran ini sudah kedua kalinya Rafael diberi tugas untuk mengantar Hannah pulang dalam keadaan yang sama, berantakan.


“Bukan apa apa, memang sudah tugas ku mematuhi segala yang Pak Demitri perintahkan.” Rafael tampak biasa saja, namun tiba tiba raut wajahnya berubah serius dan menoleh kearah Hannah yang duduk di bangku penumpang disebelahnya. “Sebenarnya apa hubungan mu dengan Pak Demitri?”


Hannah tergagap mendengar pertanyaan Rafael, Hannah tidak tahu harus menjawab seperti apa. Hannah saja malu pada dirinya sendiri bagaimana bisa Hannah menjawab pertanyaan Rafael.


“Sebaiknya kau jangan bermain main dengan orang yang salah, Pak Demitri itu bukan laki laki baik, apalagi dia sudah memiliki calon istri, kau hanya akan berakhir menjadi pihak yang tersakiti nanti, apapun motif mu mendekati Pak Demitri lebih baik akhiri sekarang selagi masih ada kesempatan.” wajah Rafael semakin kelihatan serius, Hannah bisa melihat ketulusan dimata Rafael, Hannah tahu Rafael adalah orang baik tapi Rafael tidak mengerti dirinya, Hannah akan menjadi keras kepala tidak memperdulikan peringatan Rafael karna Hannah tidak bisa mundur begitu saja setelah Hannah merelakan kesuciannya untuk Demitri untuk kesuksesan misinya.


“Kau kelihatannya tetap tidak akan mendengarkan nasihat ku.” Rafael berdecak, ia menghela nafas sebelum akhirnya menepuk nepuk puncak kepala Hannah dengan penuh sayang, Rafael sudah menganggap Hannah seperti adiknya sendiri meski ia sendiri tidak begitu kenal dengan Hannah namun Rafael merasa bahwa Hannah bukanlah tipe wanita yang sama seperti wanita wanita biasanya, entah kenapa Rafael merasa Hannah berbeda.


“Aku punya alasan ku tersendiri, meski endingnya menyakitkan pun aku akan tetap melakukannya karna setidaknya aku sudah berusaha, dari pada aku mati tanpa pernah mencoba.” Hannah tidak menjelaskan apa sebenarnya hal yang dimaksudnya, dan Rafael juga tidak bertanya lebih jauh, Rafael ingin Hannah tetap nyaman meski Rafael sebenarnya khawatir dengan wanita yang duduk disampingnya itu.


“Kita sudah sampai.”


Hannah tersenyum kepada Rafael, mengucapkan terima kasih kepada Rafael sebelum akhirnya ia turun dari mobil Rafael dan melambaikan tangannya sepanjang mobil Rafael melaju menghilang dari pandangannya.


Sekali lagi Hannah menemukan orang baik yang berada disisinya, namun itu belum juga mampu memadamkan api dendam yang berkobar kobar dihatinya.


Seandainya dulu Martha tidak menggoda Ayah Hannah maka Hannah tidak akan melakukan hal ini sekarang, mungkin saat ini Hannah akan sibuk mengurus kuliahnya dan pulang kerumah disambut oleh Ayah dan Ibunya dengan suka cita.


Membayangkan hal itu saja sudah membuat mata Hannah terasa pedih, Hannah menarik nafas panjang dan berusaha untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Hannah menolak untuk menangis, ini bukan waktunya menangisi hal hal seperti itu, Hannah hanya perlu menunggu waktu terbaik untuk menghancurkan Martha sehancur hancurnya lalu mulai kembali menjalani hidupnya seolah olah semuanya tidak pernah terjadi.


Hannah akan mulai memikirkan kebahagiaannya setelah ia melihat kehancuran Martha dengan matanya sendiri.


***


*From : Demitri Cons.

__ADS_1


Besok berpakaian lah yang sopan namun berkelas, Kau akan mendampingi ku menemui klien penting, jangan mempermalukan ku*.


Hannah membaca pesan dari Demitri itu dengan alis berkerut kerut, kenapa juga harus ia yang menemani Demitri menemui klien? Bukankah biasanya Rafael yang mendampinginya?


Hannah tidak akan mengerti dengan urusan urusan bisnis dan sejenisnya, urusan Hannah hanya kesehatan Demitri, pola makan Demitri dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan hal itu.


Hannah tidak mau mengambil pusing, ia hanya perlu mengambil sisi positifnya saja. Semakin sering Demitri bersamanya maka semakin sedikit pula waktu Demitri bersama Martha.


Yah, itulah yang Hannah inginkan.


Hannah kembali meletakkan ponselnya ke nakas dan berbaring di ranjangnya.


Hannah merasa tubuhnya remuk, Bagaimana tidak? Demitri memperlakukannya dengan sangat kasar, tidak ada kelembutan sedikitpun. Namun Hannah tetap membiarkannya, membiarkan Demitri bertindak semaunya selama ia bisa melihat ekspresi malu dan terpojokkan Martha seperti pagi tadi.


Senyum Hannah ketika membayangkan kesialan Martha luntur, Hannah teringat dengan saudara laki laki Demitri yang bernama Ivander itu.


Hannah yakin Ivander akan sama menyebalkannya dengan Demitri atau lebih parah, pertama bertemu saja Hannah sudah disebut pelacur olehnya. Tidak tahu kedepannya bagaimana, Ivander patut untuk Hannah awasi dan Hannah patut menjaga jarak dari Ivander. Ivander berbahaya.


***


Dalam hati Hannah mengutuk Demitri, kenapa laki laki itu terus saja bertingkah sok jijik namun tetap saja mau menidurinya? Laki laki brengsek.


“Sudahlah kita sudah tidak punya waktu lagi, cepat masuk ke mobil.” Demitri menghentikan perdebatan yang bahkan tak Hannah respon, Demitri duduk tepat di belakang di bangku penumpang.


Mata Demitri melotot marah ketika melihat Hannah duduk tepat disebelahnya. “Siapa yang menyuruh mu duduk disini? Duduk di depan bersama supir!”


Hannah menatap Demitri penuh kekesalan sekilas, ia ingin sekali beradu argumen dengan laki laki itu namun seluruh amarahnya kembali ia telan bulat bulat. Hannah segera berpindah duduk tepat disebelah supir.


Demitri sialan.

__ADS_1


***


“Kami mohon maafkan kekencangan kami untuk menemui Anda begitu tiba tiba seperti ini, namun saya minta agar Anda menarik kembali tuntutan Anda terhadap adik saya Ivander.”


Hannah melirik Demitri dan laki laki tampan yang duduk dihadapannya bergantian, sebenarnya apa yang kedua laki laki itu bahas? Kenapa Hannah mendengar kata Ivander dan tuntutan?


“Menarik tuntutan? Enak saja! Dia sudah menipu ku dan meniduri istri ku, kau pikir aku akan tetap diam saja?!” laki laki yang menjadi lawan bicara Demitri itu mengamuk.


Hannah nyaris saja tersedak air liurnya sendiri, yang benar saja Ivander meniduri istri orang lain, benar benar gila.


Bertemu klien dari mananya, ini bukan bertemu klien namnya. Hannah jadi mempertanyakan kenapa ia diajak kesini.


“Justru karna itu, untuk kerugian uang pasti akan saya ganti dua kali lipat. Dan atas kesalahan Ivander yang meniduri istri Anda itu bukan sepenuhnya salah Ivander, istri Anda sendiri kenapa tidak menolak ajakan Ivander.” Demitri membalas dengan tenang.


“Tetap saja dia bersalah!” teriak laki laki dihadapan Hannah dan Demitri itu tidak terima.


“Ya, memang dia bersalah, maka dari itu saya membawa kekasih Ivander bersama saya. Anda bisa balas dengan menidurinya jika Anda mau.”


Hannah mendadak membeku ketika Demitri dengan tiba tiba memaksanya untuk berdiri dari posisi duduknya.


Hannah semakin melotot ketika Demitri dengan seenaknya mengangkat dagu Hannah menghadap kearah laki laki yang menjadi lawan bicara Demitri itu.


“Tidak kah anda tergoda? Tidak kah ia cukup untuk menyelesaikan masalah ini?”


Perkataan Demitri benar benar membuat Hannah membeku dan berkeringat dingin, apa apaan ini? Demitri menjualnya?


*Demitri


Menjual

__ADS_1


Dirinya?


Brengsek*!


__ADS_2