
Hannah lagi lagi mengamuk lantaran rencana bunuh dirinya kembali digagalkan Darlen dan Giovano.
Hannah mulai semakin beringas, ia melempar segala barang yang ada, vas bunga, lampu tidur, semuanya Hannah lempar sebagai sarana melampiaskan amarah nya.
“Kenapa kalian tidak biarkan saja aku mati?! Aku tidak mau hidup, tidak bisa kah kalian mengerti bahwa aku tidak mau hidup!!!!” Hannah berteriak, Darlen tidak berani mendekati Hannah lantaran Hannah mengancam jika Darlen melangkah sedikit saja untuk mendekatinya maka Hannah tidak akan segan segan melempar barang yang ada di sekitar nya ke arah Darlen.
“Hannah, ku mohon tenang lah. Ini semua kami lakukan demi dirimu, karena aku perduli kepada mu. kau tidak bisa menyia-nyiakan hidup mu begitu saja.” suara Darlen bergetar, ia sedih melihat Hannah seperti ini.
Hannah menggelengkan kepalanya, ia jatuh terduduk dilantai masih dengan Isak tangis nya. “Jika kau memang perduli kepada ku seharusnya kau biarkan aku mati, Aku hanya ingin tenang. Aku ingin semuanya berakhir, aku tidak ingin hidup lagi. Ku mohon biarkan aku mengakhirinya.. Semua orang juga akan bahagia jika aku tidak ada.”
Kali ini Darlen lah yang menggelengkan kepala nya ia tidak setuju dengan perkataan Hannah, “Semua orang akan bahagia jika kau tidak ada? kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, aku terus berusaha untuk mempertahankan mu karena aku tahu aku akan sangat sedih bila kau mati, bukan hanya aku tapi banyak orang, hanya saja kau tidak menyadarinya Hannah. Orang tua mu dan juga bayi mu yang telah tiada tidak akan senang kau menyusul mereka dengan cara seperti ini. Kau harusnya bisa hidup dengan bahagia, membuktikan kepada mereka bahwa kau bisa hidup meski dengan luka luka di hati mu, membuktikan bahwa kau pantas untuk hidup karena hidup mu itu berarti.”
Darlen melangkah pelan pelan mendekati Hannah, Hannah sudah tidak lagi melempar barang barang. Hannah kini sibuk menangis sembari terduduk dilantai.
“Hannah, aku tidak bisa melihat mu seperti ini. Kau tidak sendirian, aku perduli pada mu. Jangan pernah berpikir bahwa kau tidak ada artinya di dunia ini dan tidak akan ada yang sedih dengan kepergian mu karena nyatanya aku ikut terluka melihat mu terluka.” Darlen duduk tepat disebelah Hannah, meraih Hannah ke dalam pelukannya.
“Aku tahu berat bagi mu untuk melupakan kenangan buruk yang melukai mu, tapi kau harus bisa bangkit dan memulai hidup baru lagi. Kau harus percaya bahwa kebahagiaan pasti akan dalam genggaman mu suatu saat nanti.” Darlen mengusap usap punggung Hannah dengan lembut, berusaha menenangkan Hannah yang masuk terisak, menangis dalam pelukan Darlen.
***
Sejak hari itu mulai ada kemajuan terhadap kondisi mental Hannah, Hannah sudah tidak lagi melakukan percobaan bunuh diri ataupun marah atau menangis secara tiba tiba.
Darlen dan Giovano pikir itu benar benar sebuah kemajuan, mereka senang sekali lantaran Hannah terlihat tenang.
__ADS_1
Mereka tidak tahu bahwa itu hanyalah ketenangan sebelum badai menerjang, Hannah memang tidak lagi berteriak, tidak lagi melempar barang, tidak lagi menangis, tidak lagi melukai dirinya namun ada satu hal yang masih Hannah lakukan dan hal itu semakin menjadi setiap harinya.
Darlen dan Giovano tahu bahwa Hannah trauma, mentalnya terluka tetapi mereka tidak pernah sedikitpun berpikiran untuk membawa Hannah ke psikiater. Disitu letak kesalahan Darlen dan Giovano.
Mereka lalai menyadari bahwa pikiran Hannah semakin kacau setiap hari, pikiran aneh selalu berkeliaran di kepala nya.
Darlen dan Giovano terlalu percaya diri bahwa Hannah telah sembuh, Hannah sudah tidak lagi bersikap aneh sehingga mereka tidak lagi mengawasi Hannah seketat sebelumnya.
Dan saat itu pula Darlen dan Giovano melihat bagaimana Hannah lompat dari atap rumah mereka dan jatuh di atas mobil yang mereka tumpangi. Darlen dan Giovano baru saja pulang kerja dan Hannah justru menyambutnya seperti itu.
Hanya teriakan yang keluar dari mulut Darlen, ketika tubuh Hannah jatuh tepat di atas mobil mereka. “Hannah!!”
***
Darlen merasa lalai, yang bisa Darlen lakukan hanyalah menangis di dalam pelukan Giovano. Mereka sudah pasrah, jika memang Hannah tidak selamat maka mereka akan mengikhlaskannya dan berharap Hannah bisa tenang dan bahagia dengan keputusan nya.
Darlen sudah tidak berharap banyak, jikalau Hannah kembali selamat, pada akhirnya Hannah akan terus berusaha mengakhiri nyawa nya bukan, Darlen tidak bisa melakukan apa apa agar Hannah bisa melupakan semua kenangan buruknya.
Tapi siapa sangka? Hannah justru kembali selamat meski keinginan nya untuk mati sangat tinggi. Tuhan masih tidak mengijinkannya untuk pergi.
Darlen berlari masuk ke ruang rawat Hannah saat dokter mengijinkannya untuk masuk. Tangis Darlen semakin pecah saat melihat Hannah membuka matanya, Darlen pikir Darlen tidak akan bisa bertemu dengan Hannah lagi.
Tapi pertanyaan yang keluar dari mulut Hannah dengan terbata bata itu membuat tangis Darlen berhenti.
__ADS_1
“Kau siapa?”
Darlen terkejut tentu saja ketika Hannah tersadar dan bertanya seperti itu kepadanya, awalnya Darlen pikir itu semua akibat bius yang masih berefek kepada Hannah pasca operasi.
Namun keesokan harinya saat Darlen dan Giovano kembali menjenguk Hannah, reaksi Hannah tetap sama. Hannah tidak mengenal Darlen ataupun Giovano.
Seharusnya Darlen sedih melihat Hannah seperti itu, namun Darlen justru merasa bahwa ini kesempatan baginya. Kesempatan untuk membuat Hannah bahagia.
Meski Darlen harus mengarang banyak kebohongan kepada Hannah, itu semua tidak apa apa. Asalkan Hannah bisa memulai hidup baru lagi, dan tertawa lagi maka berbohong sebagaimana pun Darlen rela.
Karena kebahagiaan Hannah juga kebahagiaan nya. Darlen benar benar telah menganggap Hannah sebagai adiknya, Darlen mengerti bagaimana rasanya hidup sendirian.
Bedanya Darlen bertemu dengan laki laki baik seperti Giovano sedangkan Hannah nasib nya tidak sebagus Darlen, Darlen tidak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi Hannah.
Pantas saja jika Hannah terus berusaha ingin mengakhiri hidupnya, luka dihatinya sudah terlalu besar, bagaimana bisa menata hidup baru dengan kenangan buruk seperti itu.
Darlen berjanji, setelah ini dirinya tidak akan membiarkan Hannah mengingat ingat masa lalu nya yang mengerikan itu.
Darlen juga tidak akan membiarkan orang orang dari masa lalu Hannah kembali mencul di kehidupan Hannah lagi, tidak akan.
Hannah nya yang sekarang akan menjadi Hannah yang baru, Hannah yang bahagia.
Darlen menoleh kearah Giovano, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Giovano untuk membisikan sesuatu. “Aku punya rencana..”
__ADS_1