MY REVENGE

MY REVENGE
EP 17 : THE DAY


__ADS_3

“Kau kelihatan pucat, kau tidak apa apa kan?” James menatap Hannah yang tengah duduk bersandar lemas di sofa.


“Aku tidak apa apa, kau tidak perlu khawatir. Kau sudah menyusun segala rencananya bukan?” Hannah menatap James yang duduk tepat dihadapannya, Hannah tenang ketika James mengangguk kan kepalanya.


“Aku akan menculiknya malam ini dan mengurungnya di tempat yang sudah kita tentukan sebelumnya, pastikan kau datang disaat sepi dan tidak ada satu pun orang yang ikut dengan mu. Kita akan menghabisinya disana besok. Kau bisa puas menyiksanya disana.”


Hannah tidak tersenyum ataupun berekspresi apa apa, Hannah hanya merasa begitu tenang saat ini. Tenang karna ada seseorang disisinya yang akan membantunya mencapai apa yang di inginkan nya.


“Aku pamit, aku masih harus menyiapkan alat alat untuk strategi kita, tali, pisau dan pistol sudah ada namun aku berniat untuk menambah alat penyiksa lainnya yang ku rasa akan berguna besok.”


Hannah hanya mengangguk, memandang punggung James yang semakin menjauh hingga menghilang tertelan pintu cafe tersebut.


“Semuanya akan baik baik saja.”


***


Martha bergoyang kesana kemari mengikuti alunan musik, ia benar benar ingin melepas penatnya. Penolakan Demitri sudah bukan lagi mempermalukan Martha namun juga menggores hatinya, Martha sakit hati dan sekarang ia tengah butuh hiburan.


Martha berusaha untuk bergoyang sensual, berusaha menarik perhatian para laki laki di dalam club itu, Martha memang sudah tidak muda lagi namun Martha masih cantik dan seksi untuk seumuran dirinya.


Martha terlalu asik menari dan ia terlalu mabuk, ia bahkan tidak perduli ketika ada laki laki menggandengnya dan membelainya. Martha justru merasa senang, Martha berpikir ia akan bersenang senang dan menghabiskan malam dengan laki laki itu.


Menghabiskan malam yang panas tanpa perlu mengkhawatirkan soal Demitri dan Hannah.


Martha hanya tertawa cekikikan ketika ia dimasukkan kedalam mobil, “Kita mau kemana? Aku tidak suka hotel muraahhh, aku suka yang mahal, bawa aku ke hotel yang maaahalll.”

__ADS_1


Martha masih ingin melanjutkan ocehannya namun sosok laki laki yang membawanya itu dengan sigap menempelkan sebuah sapu tangan tepat di hidung Martha, Martha memberontak lemah namun tiada artinya, Martha yang memang setengah sadar akibat alkohol semakin mudah jatuh tertidur hanya diberi sedikit obat bius.


“Tidurlah yang nyenyak, besok adalah hari yang berat untuk mu.”


***


Ivander melirik kertas yang berada dalam genggamannya berserta pintu salah satu apartemen dihadapannya bergantian, Ivander tahu bahwa Hannah sudah sejak lama tidak masuk kerja dan Ivander memiliki inisiatif tersendiri untuk menemui Hannah.


Ivander ingin minta maaf atas apa yang sudah terjadi kepada Hannah atas namanya, Ivander menyesali perbuatan kakaknya terhadap Hannah dan Ivander juga jadi menyesali perbuatannya sebelumnya yang merendahkan Hannah disaat pertama kali ia bertemu Hannah.


Jujur saja Ivander waktu itu berpikir bahwa Hannah adalah wanita murahan lantaran tidak mempunyai hubungan dengan Demitri namun mau berkali kali berhubungan intim dengan Demitri.


Tapi semakin Ivander lihat Ivander justru melihat hal lain, melihat sebagaimana Demitri menghancurkan Hannah bukan Hannah yang menghancurkan Demitri.


Ivander mengulurkan tangannya menekan bel, menunggu seseorang untuk membukakan pintu. Memang ini masih pagi hari namun Ivander rasa jam segini sudah pantas pantas saja bertamu kerumah seseorang.


“Hey, kau baik baik saja?” Ivander mendadak khawatir, Ivander tidak pernah berpikir akan disambut dengan Hannah dalam keadaan begini, Ivander berpikir Hannah akan dalam keadaan sehat dan memaki dirinya karna telah berani beraninya datang mengunjunginya.


“A-aku—” belum sempat Hannah melanjutkan perkataannya, Hannah sudah lebih dulu terjatuh, beruntung Ivander sigap menangkap Hannah sehingga kepala Hannah tidak perlu membentur kerasnya lantai.


“Hei bangun!” Ivander menepuk nepuk pipi Hannah, berusaha membuat wanita itu bangun dari pingsannya. Namun berapa kali pun Ivander menepuk dan menggoyang goyangkan tubuh Hannah, Hannah tetap tidak sadarkan diri.


“Shit, aku harus membawanya ke rumah sakit.”


***

__ADS_1


Martha mengernyit merasakan pening teramat sangat di kepalanya, Martha bermaksud menggerakkan tangannya untuk memijat pangkal hidungnya namun Martha justru menyadari bahwa ia ternyata tengah dalam keadaan terikat.


“Sudah bangun tuan putri?”


Martha mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara itu, emosinya Menaik ketika ia melihat James dengan pakaian serba hitamnya berdiri diujung ruangan dengan senyum miring yang menghiasi wajah menyebalkannya.


“Apa yang kau lakukan, lepaskan aku! Jangan main main dengan ku, kalau kau macam macam aku tidak akan membayar mu dan akan ku pastikan kau menderita seumur hidup mu James!”


James tidak perduli dengan ancaman Martha, “Kau akan menghancurkan ku? Sadarlah akan posisi mu saat ini, aku bisa saja menghabisi mu dalam sekejap jika aku mau.”


Martha terdiam, ia sadar bahwa James memang laki laki gila namun Martha tidak pernah berpikir bahwa James akan menyerang dirinya seperti ini.


“Bukan aku yang akan memberimu pelajaran, seseorang akan datang nanti malam untuk melakukannya, ku harap kau bersiap siap.”


***


Hannah mengerjap ngerjapkan matanya perlahan, aroma obat obatan membuat Hannah merasa tidak nyaman.


Hannah mengecek sekeliling berpikir dimana ia sebenarnya, namun melihat segala peralatan yang ada dan aroma yang menyeruak ke rongga hidungnya membuat Hannah sadar bahwa ia tengah berada dirumah sakit.


Hannah bangkit dari posisi berbaring nya, ia memijat pelipisnya sebentar sebelum akhirnya fokusnya teralih kepada ponselnya yang berdering kencang.


“Kau dimana, sudah waktunya. Ku harap kau segera menuju kemari, wanita gila itu terus memberontak dan berteriak.” suara James membuat Hannah menegakkan posisi duduknya, ia melepaskan infus dari tangannya secara paksa, tidak memperdulikan rasa sakit yang dirasakannya.


“Aku segera kesana.”

__ADS_1


Hannah turun dari bangsalnya, berjalan terburu buru tanpa sempat memikirkan apa penyebab ia pingsan sebelumnya dan siapa yang membawanya ke rumah sakit. Yang Hannah pedulikan sekarang hanya satu, menghabisi Martha dengan tangannya sendiri.


__ADS_2