MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 11


__ADS_3

Demitri tidak sabar, ia tidak bisa menunggu hari esok. Demitri terlalu tidak sabar untuk hal itu.


Sebenarnya Demitri ingin sekali menyuap salah satu karyawan di bar tersebut untuk mendapatkan informasi soal Darlen.


Namun Demitri tahu bahwa tidak akan ada yang berani melakukan itu karena itu sudah menjadi larangan keras dari atasan mereka. Menerima uang suap berarti sama saja dengan di pecat.


Demitri keluar dari Bar tersebut bersama Ivander, Ivander tidak sama dengan Demitri. Ivander merasa tidak apa apa dengan kegagalan mereka bertemu dengan Darlen karena masih ada hari esok.


“Kau mau menghubungi siapa?” Pertanyaan itu lah yang keluar dari bibir Ivander ketika ia melihat Demitri yang bukan nya masuk ke dalam mobil mereka justru berhenti dan mengeluarkan ponsel nya.


“Aku tidak bisa menunggu sampai besok, aku akan menyuruh orang kepercayaan ku untuk mencari informasi mengenai pemilik Bar ini. Setelah mendapatkan nya aku akan mendatangi rumah nya langsung.”


Ivander menganga mendengar perkataan Demitri, ia tidak menyangka Demitri akan bertindak sejauh itu hanya untuk bertanya.


“Kita hanya akan bertanya kepada nya apa dia kenal atau pernah melihat wanita yang mirip Hannah, kenapa kau sampai harus menyelidiki orang itu. Jangan berlebihan Demitri, tindakan mu bisa saja membuat orang lain tidak nyaman.” Ivander berusaha untuk menasehati Demitri, berharap Demitri mengerti namun Demitri nampak nya tidak perduli dengan nasehat nasehat dari Ivander.


Demitri tetap menelepon orang kepercayaan nya itu, Ivander hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya. Sungguh kakak laki laki nya ini benar benar sangat keras kepala.


***


Malam ini Giovano, Darlen, Hannah dan Axel makan malam di restoran bersama. Axel kelihatan senang sekali, ia bahkan makan dengan lahap.


“Axel mau udang?” tanya Darlen kepada Axel.


Axel dengan semangat menganggukkan kepalanya. “Mau Pa!”


Giovano merasa gemas dengan tingkah Axel sehingga ia mengacak acak rambut Axel karena gemasnya. “Anak Daddy menggemaskan sekali.” Giovano juga mencubit pelan pipi Axel yang menggembung karena tengah mengunyah banyak makanan di dalam mulut nya.


Mereka berempat bahagia bersama sama. Namun nampak nya ada yang tidak senang dengan kebahagiaan mereka.


Salah satu pelanggan restoran sempat melirik mereka dengan tatapan aneh sebelum akhirnya ia menggunjing mereka dengan temannya. “Aneh sekali anak itu punya dua Ayah.”

__ADS_1


“Benar, mungkin yang satu Ayah kandung nya dan yang satu lagi Ayah tirinya.”


“Mana mungkin Ayah kandung dan Ayah tiri bisa akrab, mungkin wanita itu menikah dengan dua laki laki makanya anak itu jadi punya dua Ayah.”


Dari nada bicara mereka saja sudah terdengar bahwa mereka tengah mengejek Hannah dan keluarga nya.


Bukan hanya Hannah yang mendengar perkataan jelek tentang mereka tapi Giovano dan Darlen juga mendengarnya.


Mereka tidak masalah jika ada yang bicara buruk tentang mereka namun mereka tidak ingin Axel mendengar kata kata ‘tiri’. Takut bila kata itu bisa menyakiti perasaan Axel.


Atau lebih tepatnya mereka takut jika Axel mulai penasaran dan bertanya kenapa ia punya Ayah dua? Apa yang harus mereka katakan pada Axel.


Haruskah mereka mengatakan dengan jujur bahwa Axel itu bukanlah anak kandung mereka?


***


Seperti dugaan Demitri, menyuruh orang kepercayaan nya untuk mencari informasi mengenai Darlen adalah pilihan yang tepat. Tidak perlu menunggu waktu lama, hanya dalam selang waktu kurang dari satu jam Demitri sudah mendapatkan informasi yang ia inginkan.


Demitri hanya butuh alamat dan nomer ponselnya.


Demitri mencoba untuk mendial nomer tersebut, menunggu berharap panggilannya di angkat namun berkali kali Demitri mencoba hasilnya tetap sama. Panggilan nya tidak diangkat.


Ivander yang berada di dekat Demitri mengatakan kepada Demitri untuk mengirimkan pesan saja, pesan untuk bertemu besok hari namun Demitri menolak. Demitri ingin bertemu hari ini juga.


Dan ia akan pergi ke rumah Darlen sekarang, Demitri tahu itu terdengar gila. Namun entah mengapa Demitri benar benar ingin kesana, seolah olah hati kecilnya yang menyuruhnya kesana.


“Terserhah kau saja. Jika terjadi masalah, ku harap kau bisa menyelesaikannya. Aku hanya akan menemani mu kesana. Aku tidak ingin ikut campur lebih jauh.” tukas Ivander sembari membuang muka.


***


“Daddy, Axel mau ice cream.” Axel yang berada di pangkuan Hannah melihat ke depan dimana Giovano tengah menyetir mobil dengan Darlen yang duduk tepat di sebelahnya.

__ADS_1


“Sudah malam sayang, kau baru saja sembuh sakit.” Bukan Giovano melainkan Darlen yang menjawab, dan jawaban Darlen itu membuat Axel cemberut. Ia ingin sekali makan ice cream.


“Tapi Axel mau ice cream Pa, Axel janji tidak akan sakit.” Axel mengangkat dua jari mungilnya, wajahnya terlihat serius mengucapkan janji kepada Darlen.


“Hal seperti itu tidak bisa dijanjikan sayang, nanti kita makan ice cream sama sama kalau Axel sudah benar benar sembuh ya.” Kali ini Hannah lah yang membujuk Axel, Axel tidak bisa berkata kata lagi. Ia hanya duduk lemas bersandar pada dada Hannah.


“Senyum dong sayang.” bujuk Hannah mengelus pipi Axel, Axel tetap diam tidak membalas perkataan Hannah.


Hannah hanya bisa menghela nafas berat, Axel merajuk kali ini. Entah lah harus bagaimana membujuk Axel nanti.


Hannah bertemu pandang dengan Darlen.


“Biarkan saja, lebih baik melihat nya merajuk dari pada harus melihat nya jatuh sakit lagi hanya karena kita tidak bisa menolak keinginan nya.” ujar Darlen kepada Hannah, Hannah menganggukkan kepala nya mengerti.


Mereka sudah hampir sampai ke rumah, Hannah akan memikirkan cara membujuk Axel nanti saja saat mereka sudah sampai di rumah.


“Berhenti!”


Hannah mengerutkan alisnya ketika mendengar Darlen tiba tiba saja meminta Giovano untuk menghentikan mobil padahal mereka sudah hampir sampai rumah.


“Ada apa Darlen, apa ada yang tertinggal?” tanya Hannah kepada Darlen. Mobil yang mereka naiki saat ini tengah berhenti.


“Putar balik!” ujar Darlen lagi tanpa menjawab pertanyaan Hannah. Hannah benar benar kebingungan sekarang, ada apa sampai sampai Darlen terus memaksa Giovano untuk putar balik sementara mereka hanya perlu melewati 2 rumah lagi untuk sampai ke rumah mereka.


“Aku bilang putar balik Giovano!” teriak Darlen kepada Giovano, yang membuat Giovano terperanjat dan Giovano dan Darlen saling menatap sejenak sebelum akhirnya Giovano menggerakkan stir mobilnya untuk memutar balik arah mobil mereka.


“Ada apa sebenarnya?” Hannah penasaran, ia kembali bertanya namun tidak ada jawaban dari Darlen dan Giovano sehingga Hannah berusaha melihat keluar melalui jendela kaca mobil berharap ia menemukan alasan dari sikap aneh Darlen.


Kerutan di dahi Hannah semakin menjadi saat ia melihat ada mobil yang terparkir di depan rumah mereka, dan ada dua laki laki berdiri disana sembari melihat ke arah rumah mereka.


“Bukan kah laki laki itu laki laki yang kemarin bertemu dengan ku di rumah sakit?” tanpa sadar Hannah bertanya kepada dirinya sendiri setelah melihat sosok laki laki yang sebelumnya sudah pernah ia temui itu. Laki laki yang mengetahui nama nya, laki laki yang melihat nya dengan pandangan aneh.

__ADS_1


Darlen menoleh kebelakang dengan cepat, ia menatap Hannah dengan mata melebar terkejut. “KAU PERNAH BERTEMU DENGAN NYA?!”


__ADS_2