
“Seandai nya saja kau punya anak Ivander, mungkin aku akan lebih mudah mendekati anak Hannah, dengan kau memiliki anak mungkin aku bisa berpura pura menjemput anak mu atau anak mu bisa kita perintah kan untuk mendekati anak Hannah itu.”
Ivander mendelik menatap kakak nya itu dengan pandangan tidak percaya, “Kalau pun aku memiliki anak aku tidak akan membiarkan anak ku kau jadikan sebagai alat untuk mendekati seorang wanita!
Demitri terdiam cukup lama, otak nya mulai buntu karena tidak tahu harus memikirkan rencana apa. Terlebih lagi semalam ia bermimpi aneh. “Apa kita culik saja anak Hannah itu?”
Kali ini Ivander melotot ke arah Demitri, “KAU GILA?!”
“Maksud ku, aku menyuruh orang untuk menculik nya lalu aku akan muncul sebagai pahlawan untuk menyelamat kan nya. Bukan kah hal seperti itu biasa nya keren bagi anak anak?”
Ivander menggelengkan kepala nya. “Keren? Kalau Giovano tahu yang ada kau hanya akan di tuntut dan nama mu justru akan muncul di halaman depan koran harian nanti nya. Kau tahu bukan kalau Giovano itu bukan orang bodoh yang bisa kau tipu-tipu.”
“Lalu aku harus bagaimana? aku benar benar frustasi sekarang!”
“Kenapa kau tidak menjadi donatur saja disekolah itu, sekolah itu sering mengadakan bakti sosial. Kau bisa menjadi donatur disana. Dan kau bisa bertemu dengan Axel saat kau bertemu dengan kepala sekolah disana.”
***
“Jadi kau sudah ingat semuanya?” tanya Darlen kepada Hannah, Darlen berkeringat dingin takut takut jika Hannah mulai kembali depresi seperti dahulu. Darlen belum siap untuk melihat Hannah seperti itu lagi.
“Iya aku sudah mengingat semua nya dan Darlen kau tidak perlu khawatir, aku baik baik saja.” Hannah bisa merasakan bahwa Darlen khawatir terhadap dirinya sehingga Hannah mengatakan hal itu kepada Darlen agar Darlen tidak perlu mencemaskan dirinya lagi.
__ADS_1
“Aku tidak akan menyakiti diriku lagi seperti dulu jadi kalian tenang saja.”
Perkataan Hannah tersebut benar benar membuat Darlen tenang, karena apa yang Darlen takut kan tidak akan pernah terjadi.
“Bagus lah kalau begit—”
“Tapi Darlen..” Hannah memotong perkataan Darlen, meski Hannah mengatakan dirinya tidak akan melukai dirinya sendiri lagi. Tetap saja ada satu hal yang ingin Hannah lakukan setelah ia mengingat kembali semua ingatan nya.
“Tapi apa?” tanya Darlen sembari menaikan alis nya.
“Aku ingin bertemu dengan Demitri.” ucap Hannah pelan.
Hannah terdiam sejenak, mengingat tentang ingatan nya di masa lalu yang bersangkut paut dengan Demitri. “Dalam ingatan ku, saat aku membunuh Hannah dan jatuh putus asa, Demitri tidak berusaha melarikan diri ataupun membalas menembak ku. Dia justru memeluk ku yang tengah menangis. Awal nya aku tidak menyadari nya karna aku terlalu termakan rasa putus asa tapi setelah tenang seperti sekarang ini dan mengingat nya lagi. Aku penasaran kenapa Demitri memeluk ku saat itu. Aku ingin bertanya kenapa dia menangis dan memeluk ku, apa Demitri merasa bersalah karena kami telah kehilangan calon anak kami atau ada alasan lain nya. Aku benar benar ingin tahu.”
Darlen menggelengkan kepala nya, tentu saja Darlen tidak akan setuju dengan keinginan Hannah ini. “Menemui nya dan bertanya hal seperti itu hanya akan membongkar semua nya Hannah, status mu yang sudah berusaha aku dan Giovano sembunyikan akan sia-sia. Aku sudah bersyukur karena dia dengan bodoh nya percaya kau bukan Hannah, tapi jika kau menemui nya dan bertanya perihal pelukan itu. Demitri akan mengetahui tentang jati dirimu dan kita tidak tahu apa yang akan dilakukan nya kepada mu setelah mengetahui hal tersebut. Bagaimana jika dia kembali melapor kepada polisi, melaporkan bahwa kau masih hidup.”
“Jika Demitri memang ingin aku mati, pada hari dimana aku jatuh dan tidak sanggup lagi memegang pistol. Demitri ada disana, dia mendekati ku. Bisa saja dia menembak mati diriku disana tapi dia tidak melakukan nya dan dia justru memeluk ku.”
Giovano yang berada di antara Hannah dan Darlen itu ikut buka suara, “Kau hanya ingin menanyai hal itu Hannah, bukan untuk memberi nya kesempatan untuk mendekati mu?”
Hannah menggelengkan kepala nya, “Jika yang kau maksud adalah kesempatan untuk hidup bersama, memulai kisah baru bersama nya sebagai pasangan. Tentu saja tidak, aku.. aku rasa aku sudah tidak bisa mencintai orang lain lagi selain Axel.”
__ADS_1
“Demitri juga selau mendekati ku meski ia berpikir bahwa aku bukan Hannah yang asli. Kenapa dia ingin sekali mendapatkan ku, aku ingin tahu hal tersebut.”
Darlen menghela nafas berat, Darlen merasa tak habis pikir dengan keinginan Hannah. “Sebelum nya kau kelihatan benci setengah mati kepada nya, kenapa kau jadi seperti ini Hannah?”
“Aku hanya ingin mengakhiri semua nya dengan cara baik baik, aku juga akan meminta Demitri untuk berhenti mengharapkan ku. Karena aku tidak akan pernah berada di sisi nya kembali. Dulu aku berada di sisi Demitri demi membalaskan dendam ku kepada Martha, tapi sekarang Martha telah tiada aku tidak ingin memiliki hubungan lagi dengan Demitri. Aku benar benar ingin mengakhiri nya dengan baik baik.”
Darlen menghela nafas berat, Darlen tidak punya pilihan lagi. Jika memang itu yang Hannah inginkan Darlen tidak bisa melarang. “Baiklah, aku tidak akan melarang mu. Lakukan apapun yang kau ingin kan, selama yang kau ingin kan itu tidak merugikan dirimu sendiri.”
Hannah tersenyum dan mengangguk kepada Darlen. Memeluk Darlen erat erat. “Terima kasih, Kakak.”
***
“Maaf Pak, bukan nya kami menolak kebaikan Bapak. Tapi sekolah kami sudah memiliki donatur Pak, jika Bapak memang ingin berdonasi kami bisa menyarankan Bapak ke sekolah lain atau ke panti asuhan dekat sini Pak.” Kepala sekolah tersebut dengan sopan menolak ajuan Demitri untuk menjadi donatur.
Kepala sekolah tidak bisa menerima adanya donatur lagi, karena uang dari donatur lain nya sudah lebih dari cukup untuk anak anak yatim piatu yang bersekolah di sekolah ini dan juga untuk kegiatan kegiatan amal sekolah lain nya.
Demitri keluar dari ruang kepala sekolah itu dengan kesal, benar benar jengkel lantaran ada saja manusia yang tidak mau menerima uang.
Demitri melangkah kan kaki nya keluar dari sekolah tersebut, baru saja Demitri keluar dari gerbang sekolah. Demitri sudah melihat Hannah yang berdiri tak jauh dari nya wanita itu menatapnya dengan tatapan serius.
“Bisa kita bicara sebentar?”
__ADS_1