MY REVENGE

MY REVENGE
EP 28 : IT'S TOO LATE TO SAY I LOVE YOU


__ADS_3

Hannah berjalan keluar dari jeruji besi yang selama ini mengurungnya, Hannah hanya diam tak bicara ketika petugas memborgol tangannya dan membawanya ke suatu tempat yang sudah Hannah ketahui adalah ruang eksekusi.


Sebelum Hannah masuk kedalam ruangan tersebut matanya ditutupi dengan sebuah kain, Hannah melangkah maju dalam arahan sang petugas dan diarahkan untuk berlutut diposisi yang sudah ditentukan.


Sebelumnya mereka sudah bertanya apakah Hannah punya permintaan terakhir sebelum dieksekusi namun Hannah tidak meminta apa apa, Hannah hanya berkata untuk melakukannya dengan cepat.


Hannah bisa merasakan hawa dingin di ruangan tersebut, tempat itu sangat sunyi, Hannah hanya bisa mendengar suara nafasnya dan suara suara jantungnya yang berdetak, pikiran Hannah melayang memikirkan hidup nya selama ini.


Dilahirkan oleh Ibu yang baik hati, namun besar dengan penuh penderitaan. Namun senyum Hannah sempat terbit ketika mengingat momen momen bahagia nya bersama Ayah dan Ibunya, tertawa bersama karena sebuah hal kecil.


Namun senyum itu hanya sekilas, Hannah mulai meneteskan air matanya ketika mengingat bahwa hidupnya telah hancur ditangannya sendiri.


Hannah merasa bersalah kepada Ibunya, seandainya saja saat itu Hannah tahu bahwa Ibunya sangat depresi pasti Hannah bisa mencegah Ibunya untuk bunuh diri.


Hannah merasa bersalah kepada Ayahnya karena telah meninggalkan Ayahnya itu, seandainya Hannah tidak meninggalkan Ayahnya maka Ayahnya mungkin saat ini masih hidup bersamanya.


Hannah merasa bersalah kepada calon anaknya yang bahkan belum sempat lahir sudah harus kembali ke pelukan Tuhan, seandainya Hannah tidak memulai pertikaian maka Hannah tidak akan dipenjara dan anaknya pasti selamat.


Hannah merasakan kain yang menutup matanya basah, kenangan kenangan pedih masa lalu tidak pernah gagal membawa duka dihatinya dan membuatnya menangis.


Hannah merasa bersalah, ia terus menangis tidak menyadari dan tidak perduli ketika hitungan mundur sudah dimulai dan para sniper sudah mengarahkan senjata api mereka tepat kearah posisi jantung Hannah.


Tepat dihitung and terakhir, para sniper tersebut menarik pelatuk mereka dan melayangkan peluru ke jantung Hannah, hanya 3 dari beberapa sniper disana yang benar benar memiliki peluru dan peluru tersebut berhasil menusuk masuk tepat di jantung Hannah.


Membuat Hannah terjatuh tak berdaya, semuanya terjadi begitu saja tanpa suara karena senjata apinya sudah dipakaikan peredam suara, Hannah terbaring dengan darah yang mulai mengucur deras membasahi tubuhnya.


Semuanya menjadi gelap, tubuhnya mati rasa. Hannah hanya mampu menjerit dalam hatinya sebelum akhirnya semuanya benar benar menghilang, tertelan dalam kegelapan dan kesunyian.


*Ibu.. Ayah..


Maafkan aku yang tidak bisa menjadi anak yang seperti kalian harapkan.


Maafkan aku yang tidak bisa bersikap seperti nama indah yang sudah kalian berikan kepadaku, maafkan aku karena tidak bisa menjadi sosok pemaaf seperti bagaimana arti dari kata ‘Hannah’ dan juga tidak bisa menjadi wanita bermartabat sebagai mana arti dari ‘Zilvania’


Maafkan aku tidak bisa menjadi Hannah Zilvania yang sempurna, maafkan aku yang egois dan memilih untuk menemui kalian. Maafkan aku yang tidak bisa bersikap dewasa dan merelakan semuanya, maafkan aku yang menyerah atas segalanya dan memilih untuk beristirahat disisi kalian.


Maafkan aku..


Maafkan*..

__ADS_1


***


Ivander mengusap sudut matanya yang basah, Ivander sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis namun ia tetap tidak bisa mengendalikan emosinya.


Ivander tidak tahu harus bagaimana lagi, Hannah baru saja dimakamkan dan sekarang Ivander harus melihat kakaknya meraung raung memanggil nama Hannah, Ivander sudah menghubungi pihak rumah sakit jiwa untuk menangani Demitri.


Mereka membawa Demitri memasuki mobil dengan paksa, Demitri sudah tidak tertolong lagi, ini satu satunya jalan terbaik yang bisa Ivander lakukan.


Ivander sebenarnya tidak mau memasukkan Demitri kerumah sakit jiwa namun melihat kejadian yang sebelumnya terjadi Ivander tidak punya pilihan lain.


Demitri sudah melukai banyak orang untuk menemui Hannah, Demitri bahkan sempat membawa senjata dan nyaris menembaki seluruh petugas ditempat Hannah dieksekusi kemarin, untung saja petugas disana sigap membekuk Demitri.


Namun semuanya justru semakin memburuk ketika Demitri melihat jenazah Hannah dibawa keluar dari ruang eksekusi, darah ditubuh Hannah membuat Demitri hilang akal, Demitri meronta ronta dan menangis tidak karuan hingga pingsan beberapa jam.


Ivander tidak bisa menahan air matanya lantaran kakaknya sudah bukan lagi kakaknya yang dulu, Demitri tidak lagi mau menatapnya ataupun bicara dengannya Demitri hanya terus meneriakkan nama Hannah dan mulai melempar barang barang, bahkan mulai menyakiti diri sendiri dan orang sekitar.


Karena alasan itulah Ivander dengan berat hati memasukkan Demitri kerumah sakit jiwa, Ayah dan Ibu tiri mereka bahkan angkat tangan, tidak tahu harus apa dan hanya berduka melihat kondisi putra yang dicintai mereka menjadi seperti itu.


Ivander menghela nafas berat, ia memasuki mobilnya dan melakukan mobil itu menuju sebuah pemakaman, pemakaman kedua orang tua kandungnya.


***


“Ibu.. Ayah.. maafkan aku yang jarang berkunjung dan juga maafkan aku yang tidak bisa menjaga Kakak sebagaimana Kakak selalu menjaga ku selama ini, maafkan aku yang selalu menjadi pahlawan kesiangan, maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan calon cucu kalian dan juga maafkan aku yang memasukkan kakak kerumah sakit jiwa.” Ivander kembali meneteskan air mata, ia menatap batu nisan kedua orangtuanya itu sambil terisak isak. “Maafkan aku yang tidak menyadari bahwa kakak selama ini menanggung beban berat dan dendam dalam hatinya, maafkan semua kebodohan ku.”


***


“Lepaskan aku! Aku tidak gila! Aku mau menemui Hannah!!”


Demitri memberontak ia berusaha menggerakkan tangannya namun ia tidak mampu lantaran lengannya terlipat dan lengan baju pasiennya terikat kebelakang, membatasi gerakannya agar tidak menyakiti diri sendiri ataupun orang lain.


“Lepaskan!” Demitri masih saja memberontak ketika salah satu perawat menyuntikkan obat penenang kepadanya, Demitri masih berteriak teriak hingga suaranya tiba tiba menelan dan Demitri jatuh terlelap dalam tidurnya.


Satu kata yang Demitri ucapkan sebelum kesadarannya benar benar terenggut.


“Hannah..”


***


Demitri bermimpi, lebih tepatnya mimpi tentang masa lalu. Dimana saat ia masih tertawa tawa bahagia bersama kedua orangtua dan kedua saudaranya.

__ADS_1


Lalu tiba tiba saja sebuah api terlihat dan membakar seisi rumah, menewaskan kedua orangtuanya dan hanya meninggalkan Demitri bersama dengan Ivander dan kakak perempuan mereka, Anita.


Semuanya bagai kaset rusak berputar dikepalai Demitri, kilasan kejadian bahagia dan penderitaan bercampur menjadi satu.


Dimana Demitri tersenyum lebar melihat Kakak perempuannya itu menikah dengan laki laki yang dicintainya, lalu berubah menjadi getaran ketakutan saat melihat Kakaknya bertengkar dengan suaminya karena satu orang yang disebut sebut sebagai Martha.


Getaran ketakutan itu berubah menjadi isak tangis ketika sang Kakak kecelakaan dan mati bersama dengan suaminya di tempat kejadian yang dikarenakan perdebatan dalam perjalanan dan juga masalah rem blong.


Semuanya semakin mengerikan ketika bayangan masa lalu Demitri dan Ivander dibawa ke panti asuhan mulai berputar dikepalanya, siksaan siksaan dipanti asuhan hingga diadopsi dan kembali bertemu dengan Martha semuanya terputar dikepalai Demitri.


Hingga dalam tidurnya Demitri meneteskan air mata, teringat sebuah nama. “Hannah..”


Maafkan aku yang terlambat menyadarinya.


Maafkan aku yang tidak sempat mengatakan padamu, bahwa sesungguhnya aku mencintai mu.


Maafkan aku juga yang menjadi orang bodoh dan tidak bisa menyelamatkan anak kita, maafkan aku yang terlalu egois dan menjadikan mu korban pada akhirnya.


Maafkan aku.. cintaku..


Maafkan aku yang tidak sempat mengatakan bahwa kau dibutuhkan, di inginkan, dan juga dicintai oleh laki laki bodoh ini..


Hannah Zilvania, aku mencintai mu, meski terlambat aku tetap mencintai mu.


Satu hal yang sama sama Demitri dan Hannah sadari, bahwa segala sesuatu yang dimulai dengan maksud tidak baik maka akan berakhir tidak baik pula.


Beginilah akhir dari maksud tidak baik Demitri, berakhir menyedihkan di rumah sakit jiwa menangisi kepergian Hannah, wanita yang ia cintai.


Yang sampai nafas terakhirnya akan terus ia ingat dan ia cintai, meski semuanya tidak ada artinya.


Demitri mencintai Hannah dan Demitri akan menunggu saat dimana ia akan bertemu Hannah kembali, meskipun itu bermakna kematian sekalipun.


Karena Demitri mencintai Hannah, sesederhana itu.


SEASON 1 END


*Pesan author : Harap kalian bisa menemukan pesan moral didalam cerita ini ya :) Terima kasih sudah membaca cerita ini dari awal hingga saat ini, terima kasih juga sudah mau menyukai, berkomentar dan memfavoritkan cerita ini.


Saya harap kalian tidak bosan membaca cerita cerita absurd dari saya :) sampai ketemu dilain kesempatan.

__ADS_1


Salam sayang,


Ezra*.


__ADS_2