MY REVENGE

MY REVENGE
EP 27 : PENYESALAN


__ADS_3

Hannah menatap jeruji besi yang membatasi dirinya, hukuman untuk dirinya sudah ditetapkan sejak beberapa hari lalu, tidak ada keluarga yang bisa dikabarkan tentang hukuman matinya, Hannah sendirian.


Besok ia akan dieksekusi dengan cara ditembak mati, Hannah sama sekali tidak takut, Hannah justru merasa dirinya pantas mendapatkan itu semua, karena itu semua memang salahnya, salah dirinya.


Satu hal yang Hannah syukuri, ia akan segera bertemu kedua orangtuanya.


Sudah saatnya ia kembali ke pelukan ibunya, misi nya telah berhasil. Martha sudah tewas ditangannya, Martha sudah tewas karena kehabisan darah dan terlambat dilarikan kerumah sakit.


Hannah memejamkan matanya ketika mengingat kata terakhir yang Martha ucapkan kepadanya bahwa semua hal yang terjadi adalah salahnya.


Bahu Hannah bergetar, ia kembali menangis, semua cobaan ini sudah jauh melebihi dari batas kemampuannya.


Ibu.. aku rindu..


Ayah.. aku rindu..


Anak ku.. maafkan aku..

__ADS_1


***


Demitri menatap tajam kedua orang tua Martha, Demitri tidak terima dengan apa yang kedua orangtua Martha itu ucapkan.


“Bagaimana bisa kalian membiarkan Hannah dihukum mati? Dia tidak bersalah! Putri kalian yang bersalah!”


Ivander yang ada di sana menonton perdebatan Demitri dengan kedua orangtua Martha hanya diam tidak mencoba untuk ikut campur.


Ayah Martha menghela nafas berat, “Berhenti membela Hannah Demitri, Hannah jelas jelas sudah membunuh Martha, bagaimana bisa kau terus bersikeras membela seseorang yang telah membunuh calon istri mu? Bahkan kau tidak datang dihari pemakaman Martha, kau ini tunangan macam apa?!”


Demitri berdecih, ia tidak terima disalahkan, semuanya juga tidak akan jadi serumit ini jika saja Martha tidak pernah lahir ke dunia. “Kau yang berhenti, berhenti bermain peran sebagai korban, kau seharusnya malu, kau memenjarakan Hannah dan menganggap putri mu korban sedangkan selama ini putri mu sudah membunuh banyak orang, termasuk orangtua Hannah!”


Wajah keriput Ayah Martha mendadak pucat, “Jangan mengada ngada, Martha tidak pernah berbuat seperti itu!”


Demitri mendengus kesal, “Akhirnya aku tahu alasan mengapa Martha menjadi wanita tidak tahu diri yang menggoda banyak laki laki demi uang dan tidak segan membunuh orang, itu semua karena orangtuanya saja tidak jauh beda dengan dirinya.”


Wajah Ayah Martha kali ini memerah, ia tidak senang dituding seperti itu oleh Demitri namun lidahnya kelu untuk kembali mengelak, karena memang benar adanya bahwa ia dan istrinya sudah menikmati uang dari Martha.

__ADS_1


“Kami tidak bisa membantu mu untuk membebaskan Hannah, jika kau mau Hannah bebas lakukan sendiri, kami tidak akan pernah mau melepaskan orang yang sudah membunuh anak kami.” Kali ini Ibu dari Martha yang angkat bicara, “Pergilah, kau sudah tidak ada hubungan apa apa lagi dengan kami.”


Demitri menolak untuk pergi, bagaimana ia bisa menyerah begitu saja sementara Hannah besok sudah akan di eksekusi, “Tidak, aku tidak akan pergi, ku mohon bantu aku, bebaskan Hannah! Uang.. jika kalian menginginkan uang aku bisa berikan sebanyak apapun yang kalian mau asalkan kalian bebaskan Hannah.”


Ibu Martha menghela nafas berat, “Sebanyak apapun uang yang akan kau berikan tidak akan bisa menggantikan putriku, jadi menyerah lah.”


Demitri menggelengkan kepalanya tidak terima, kenapa uang tidak bisa membuat mereka luluh? Kenapa uang tidak bisa menggantikan Martha, sedangkan Martha sudah membunuh banyak orang demi uang.


“Kalian harus membebaskan Hannah! Haruusss!!” Demitri mulai menggila, ia mulai mengeraskan suaranya dan menarik kerah baju Ayah Martha, Ivander yang berada disekitar dengan segera menahan Demitri dan menjauhkannya agar tidak bertindak bahaya.


“Lepaskan aku!! Lepas!!” Demitri meronta ronta, “Jangan halangi aku Ivander aku harus membebaskan Han—”


“Semuanya sudah tidak akan ada artinya, mau sekuat apapun kau berteriak dan memaksa tidak akan ada artinya, sudah ada bukti yang menjerat Hannah dan hukuman Hannah pun sudah dijatuhkan, kau tidak bisa melakukan apa apa, aku juga sudah berjuang sekuat yang aku bisa untuk membebaskan Hannah namun aku tidak bisa, kita tidak bisa melawan hukum.”


Demitri menggelengkan kepalanya mengelak dari kenyataan, “Tidak, jika ada uang maka semuanya akan terselesaikan. Beri saja mereka uang, mereka pasti akan membebaskan Han—”


“Kalau memang semudah itu aku sudah membebaskannya sejak lama, kalau memang semudah itu Hannah tidak akan mendekam dipenjara sekarang menunggu waktu ia akan dieksekusi, jika memang semudah itu..”

__ADS_1


Demitri menangis, meraung raung menolak kenyataan pahit ini. Kenapa semuanya harus jadi seperti ini, kenapa ia harus seterluka ini hanya untuk seorang wanita bernama Hannah.


__ADS_2