
Hannah bersyukur teramat sangat bahwa Giovano baik padanya, Gio mengantarnya pulang dengan baik baik.
Darlen juga sangat baik padanya.
Hannah memasuki apartemennya sembari berpikir, Hannah berpikir bagaimana lagi caranya untuk menghadapi Demitri.
Demitri sudah jelas sekali bukan laki laki yang mudah untuk dikuasai, dan sialnya Hannah sepertinya salah langkah karna memilih untuk membalaskan dendamnya terhadap Martha melalui Demitri.
Bukannya Martha yang hancur melainkan justru Hannah yang hancur ditangan Demitri, Hannah merasa jika semakin lama ia berdekatan dengan Demitri maka semakin bahaya, besar kemungkinan nantinya Demitri dan Martha justru berkerja sama untuk menghancurkannya itu bukanlah hal yang mustahil untuk dua manusia keji itu.
Namun di satu sisi Hannah juga bingung, jikalau Hannah menyerah dalam rencana yang sudah dirancangnya itu Hannah tidak punya rencana cadangan, Hannah tidak tahu bagaimana cara lain untuk menghancurkan Martha selain melalui Demitri.
Hannah tidak mau melepas dendamnya begitu saja setelah apa yang sudah dikorbankannya, apa yang harus Hannah lakukan?
Hannah terlalu banyak berpikir, ia bahkan tidak menyadari bahwa ia lupa menutup pintu apartemennya rapat rapat sebelum ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hannah tidak menyadari dua orang tidak dikenal telah menyelinap masuk ke apartemennya, masuk mengendap ngendap dengan sebilah pisau tajam ditangannya.
Salahkan Hannah yang begitu teledor, Hannah terlalu sibuk memikirkan masalah tentang Demitri dan Martha sehingga lupa dengan keamanan dirinya sendiri.
__ADS_1
Hannah sibuk membasahi tubuhnya dibawah derasnya air yang terjun bebas dari shower membasahi tubuhnya. Hannah ingin sejenak melepas penat dengan berlama lama dikamar mandi, namun ketika Hannah samar samar mendengar suara langkah kaki diluar Hannah segera mematikan shower dan memasang telinganya baik baik. Memastikan apakah ia tidak salah dengar sebelumnya.
Hannah benar benar mendengar suara langkah kaki, ia mendadak gemetar ketika mengingat ia lupa mengunci pintu. Hannah menebak nebak dalam hatinya apakah itu perampok atau sejenis pembunuh berantai atau bahkan pembunuh bayaran yang diminta seseorang untuk menyakiti Hannah.
Hannah melangkah pelan pelan, memastikan tidak menimbulkan bunyi apa apa ketika ia mengambil bathrobe nya dan mengenakannya.
Suara langkah kaki itu tidak lagi terdengar, itu sama sekali tidak membuat Hannah tenang, itu justru membuat Hannah takut setengah mati. Orang itu pasti sedang menunggu Hannah untuk keluar dari kamar mandi atau sedang menunggu ancang ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi ini.
Seandainya saja Hannah membawa handphone nya ke kamar mandi maka Hannah bisa saja menelepon seseorang untuk meminta bantuan, sialnya Hannah tidak membawa handphone miliknya, barang tersebut ia letak kan tepat di atas ranjang miliknya.
Berteriak minta tolong pun hasilnya akan percuma, tidak akan ada yang mendengar karna Hannah sedang berada di kamar mandi yang sialnya kedap suara.
Hannah tidak tahu harus berbuat apa, jika ia melangkah keluar maka ia pasti akan habis seperkian detik sesaat pintu kamar mandi itu Hannah buka.
Hannah membekap mulutnya rapat rapat, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Hannah benar benar takut.
“Hey, buka pintunya aku tahu kau di dalam.”
Hannah semakin gemetar, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Hannah tidak bisa melarikan diri, seandainya saja ada jendela atau celah dikamar mandi ini untuk Hannah melarikan diri, namun nyatanya tidak ada harapan.
__ADS_1
Hannah tidak akan pernah membukakan pintu kamar mandi itu, melakukan hal itu sama saja dengan bunuh diri.
Jantung Hannah berdegup semakin kencang lantaran mendengar suara dari luar, suara akibat percobaan untuk membuka pintu kamar mandi tersebut, Hannah takut setengah mati karna mendengar suara masuknya kunci ke lubang kunci pintu itu.
Hannah semakin mengutuk dirinya karna sembarangan menaruh kunci cadangan kamar mandi di laci, Hannah tidak pernah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi. Jikalau Hannah tahu maka Hannah tidak akan pulang hari ini, mungkin menginap di tempat Reyna jauh lebih aman.
Hannah meraih shower, memastikan airnya panas, Hannah mengambil ancang ancang jikalau pintu itu benar benar terbuka maka Hannah akan menyiram orang tersebut dengan air panas.
Hannah terus mengawasi pintu itu hingga dengan tiba tiba saja pintu itu terbuka, Hannah dengan sepenuh kekuatannya mengarahkan kearah orang itu namun nampaknya hal itu sama sekali tidak berarti, Hannah harus menelan kenyataan pahit ketika ia mendapati orang yang menelusup masuk kerumahnya itu sangat cerdas, mengenakan jaket kulit yang tidak tertembus air, jangan lupakan sarung tangan nya yang juga terbuat dari bahan yang sama.
Hannah memberontak sekuat tenaga ketika orang itu mengambil alih shower yang berada di tangan Hannah, namun Hannah tidak bisa menang melawan, Hannah menyesali kenyataan bahwa ia lebih lemah dari lawannya sekarang ini.
Shower yang sebelumnya menjadi senjata Hannah tergeletak begitu saja dilantai, Hannah terdiam ketakutan. Matanya melirik pintu yang terbuka, Hannah mendorong orang itu dan berlari mencoba menyelamatkan dirinya.
Namun lagi lagi Hannah harus menelan kenyataan pahit, Hannah melihat satu orang lagi yang tengah menyiapkan sebuah plastik hitam besar.
Hannah melangkah mundur, pelan pelan meraih vas bunga terdekat. Hannah bermaksud memukul kepala orang itu selagi ia masih membelakangi Hannah namun lagi lagi gerakan Hannah terhenti ketika orang itu berbalik menghadap kearah Hannah.
Hannah bisa melihat ekspresi orang itu kelihatan terkejut, sama seperti Hannah saat ini. Mereka sama sama terkejut akan kehadiran satu sama lain.
__ADS_1
“Kak James?”
“Hannah..”