
“Kenapa kau memaksa sekali Hannah untuk menerima cinta kakak mu itu, kau kan tidak ada urusannya dengan masalah ini jadi tidak perlu ikut campur.” Darlen masih saja tidak mau mengalah, mana mungkin Darlen sudi melepaskan Hannah yang telah ia jaga susah payah untuk laki laki seperti Demitri. Darlen lebih memilih Hannah hidup sendiri selamanya dibandingkan harus merelakan Hannah untuk Demitri.
“Urusan Hannah dan Demitri juga bukan urusan mu Darlen, sebelum mengatakan hal seperti itu kau seharusnya berkaca. Kau juga ikut campur dalam kehidupan Hannah!”
“Itu karena aku menginginkan yang terbaik untuk Hannah!”
“Kalian berhenti bertengkar, suara kalian bisa mengganggu tidur Axel.” Hannah berusaha menjadi penengah diantara Darlen dan juga Ivander, “Darlen.. aku tahu maksud mu baik tapi biarkan Ivander bicara dulu.”
Darlen mendengus tak senang, untuk apa mendengarkan perkataan Ivander. Sudah jelas bahwa laki laki itu datang kemari atas suruhan Demitri. Berpura pura seolah dirinya telah berubah tapi mengirim adiknya kemari untuk menekan Hannah agar memberikan dirinya kesempatan.
Benar benar sifat asli Demitri yang licik.
“Aku tahu kakak ku Demitri bukanlah laki laki suci yang tidak pernah melakukan kesalahan tapi aku hanya ingin kau memberinya kesempatan Hannah, kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya pantas untuk menjadi pendamping mu dan juga mampu membahagiakan dirimu. Jika suatu saat nanti Demitri melakukan kesalahan, mengecewakan mu dan melukai perasaan mu maka aku tidak akan melarang mu untuk menghukum Demitri, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan. Aku tidak akan mencegah mu jika kau ingin meninggalkannya, aku juga tidak akan membantu Demitri lagi, aku bahkan akan turun tangan untuk menghukumnya bila hal itu terjadi. Jadi ku mohon berilah kakak ku yang bodoh itu kesempatan untuk bisa berada disisimu.”
Hannah memandang Ivander yang terlihat begitu serius, perkataan Ivander juga entah mengapa menyentuh perasaan Hannah. Sudah dua orang yang menyuruh Hannah untuk membuka hatinya kepada Demitri, orang itu adalah Giovano dan Ivander.
Dan penjelasan yang Giovano dan Ivander berikan sama sama masuk akal dan juga ada benarnya semua. Hannah juga tidak ingin egois lagi.
Hannah menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban, Ivander yang melihatnya tersenyum lebar bahagia sementara Darlen justru mengerutkan dahi tak senang dengan keputusan Hannah itu.
“Apa apaan ini Hannah, bagaimana bisa kau menerimanya? Demitri itu tidak bisa dipercaya!” Darlen masih bersikeras dengan pendapatnya, bagi Darlen mau sebagaimana-pun Demitri berubah Demitri tetap tidak bisa dipercaya.
“Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua Darlen, ah bukan.. ini bukan kesempatan kedua Demitri tapi kesempatan pertamanya, karena dulu aku tidak pernah benar benar membuka hati ku pada Demitri. Aku hanya memanfaatkannya sebagai sarana balas dendam ku saja.” Hannah masih menggenggam tangan Darlen lembut, berharap Darlen mau mengerti.
Giovano yang baru saja keluar dari kamar Axel itu menepuk pundak Darlen dari belakang. “Tugas kita hanya menjaga Hannah, keputusan Hannah biarkan Hannah yang memilihnya, kita tidak berhak. Sesayang apapun kau pada Hannah kau tidak akan pernah tahu apa yang terbaik untuk Hannah selain diri Hannah sendiri.”
Darlen yang awalnya ingin kembali menentang keputusan Hannah terdiam setelah mendengar ucapan Giovano itu. Darlen kalah, ia tidak bisa membalas lagi. Mau tidak mau Darlen hanya bisa menerima dan menyaksikan.
__ADS_1
Darlen mengepalkan tangannya kuat kuat, “Jika Demitri berani melukai mu sedikit saja. Maka aku tidak akan segan segan membunuhnya. Aku bersumpah, aku tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang jika aku melihat mu kembali terluka.”
***
Demitri sedang berbaring di ranjang saat pintu rumahnya itu terdengar terbuka, tanpa melihat Demitri sudah menduga bahwa itu pasti Ivander yang datang untuk memarahinya lagi karena hari ini Demitri tidak berangkat kerja dan juga Demitri belum juga makan.
Ivander pasti akan mengoceh panjang lebar lagi seperti seorang Ibu-ibu sebentar lagi. Namun setelah beberapa menit Demitri tidak juga mendengar suara ocehan Ivander. Membuat Demitri turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar untuk memastikan apa Ivander benar datang atau Demitri salah mendengar tadi.
Alih-alih menemukan Ivander di ruang tamu, Demitri justru melihat Hannah sedang berdiri di depan pintu. Demitri senang sekali saat melihat Hannah, namun senyum Demitri luntur seketika teringat sesuatu.
Demitri dengan lemas melangkah ke arah sofa dan duduk disana, mengabaikan sosok Hannah yang masih berdiri membelakangi pintu masuk itu. Demitri menoleh sekali lagi dan masih mendapati Hannah berdiri disana.
Demitri tertawa miris, menertawakan dirinya yang ia rasa sangat menyedihkan. “Ah.. aku mulai berhalusinasi lagi. Kalau begini terus mungkin aku bisa kembali diseret ke rumah sakit jiwa.”
Dengan tangan besarnya Demitri mengusap wajahnya kasar, Demitri berpikir bahwa sosok Hannah yang kini berjalan mendekatinya itu hanyalah halusinasinya saja karena Demitri merasa terlalu putus asa untuk menemui Hannah.
Demitri menggelengkan kepalanya, tidak. ia tidak bisa terus seperti ini. Jika begini kondisinya bisa semakin parah. Demitri bangkit dari posisi duduknya, hendak meminum obatnya demi menghilangkan bayangan Hannah yang terus ia lihat disekitarnya.
Namun belum sempat Demitri melangkahkan kakinya ke dapur, pergelangan tangan Demitri ditahan. Digenggam hingga Demitri tidak bisa melanjutkan langkahnya.
Dan saat itu lah mata Demitri melebar dan ia segera membalikkan tubuhnya dengan cepat kearah dimana bayangan Hannah tengah duduk.
Demitri melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa tangannya digenggam oleh bayangan Hanna itu dan Demitri juga bisa merasakan kehangatan dari genggaman itu.
Saat itu lah Demitri menyadari bahwa Hannah yang tengah duduk dihadapannya itu bukan lah bayangan melainkan Hannah yang asli, Hannah yang Demitri rindukan. Hannah yang sangat ingin Demitri temui dan Demitri dekap dalam pelukannya.
“Ka-kau.. bagaimana bisa kau ada disini?” Tanya Demitri dengan suara bergetar, “Ku harap ini benar benar sungguhan, bukan karena halusinasi ku yang bertambah parah, tapi aku bisa merasakan kehangatan tangan mu. Tolong katakan bahwa ini kenyataan.”
__ADS_1
Demitri menggenggam balik tangan Hannah, menyatukan kedua tangan mereka dalam kehangatan. Demitri membawa tangan Hannah mendekati bibirnya dan memberikan kecupan di telapak tangan Hannah.
“Meski aku tidak tahu kenapa kau bisa ada disini, aku tetap senang karena aku bisa bertemu dengan dirimu lagi. Aku merindukan mu.”
Hannah yang melihat Demitri seperti ini, merasakan nyeri dihatinya. Hannah bisa merasakan bahwa Demitri benar benar tulus mencintainya.
Hannah kemari ke rumah Demitri atas keinginannya sendiri, awalnya Ivander yang akan menemui Demitri dan mengatakan kepada Demitri bahwa Hannah akan memberikan Demitri kesempatan untuk memulai hubungan diantara mereka mulai dari nol lagi. Namun Hannah ingin mengatakannya sendiri kepada Demitri secara langsung.
Sehingga Hannah meminta Ivander untuk mengantarkannya kemari, bahkan Ivander yang membukakan pintu rumah Demitri untuk Hannah lalu setelah itu Ivander pergi untuk memberikan Hannah dan Demitri privasi untuk bicara berdua.
“Kau sudah makan?” tanya Hannah kepada Demitri lantaran Demitri kelihatan lemas sekali.
Demitri menatap Hannah dengan senyum bahagianya, meski matanya terlihat sayu tak bertenaga. “Kau mengkhawatirkan ku?”
Hannah menganggukkan kepalanya, ya. Hannah memang mengkhawatirkan Demitri. Dan hal tersebut membuat Demitri kembali tersenyum dengan air mata yang tanpa dapat ia cegah mengalir turun membasahi pipinya.
“Hanya di khawatirkan oleh mu saja aku sebahagia ini, bagaimana jadinya jika aku bisa mendapatkan cinta mu, mungkin aku sudah mati bahagia.” Demitri berusaha untuk menghapus air matanya namun Hannah sudah lebih dulu mengusap air mata di pipi Demitri.
“Aku akan menerima cinta mu asalkan kau hidup dengan benar dan juga jika kau berjanji tidak akan membuat ku terluka.” ujar Hannah pelan namun dapat dengan jelas Demitri dengar, mendengar hal tersebut Demitri segera duduk dengan tegak.
“Kau serius? kau akan menerima cinta ku?” tanya Demitri memastikan, Demitri tidak ingin terbang tinggi dan jatuh kemudian hanya karena ia salah tanggap.
Hannah dengan perlahan menganggukkan kepalanya dan saat itu juga Demitri menarik Hannah ke dalam pelukannya, Demitri menenggelamkan wajahnya diceruk leher Hannah dan memeluk Hannah erat-erat sembari terus mengatakan terima kasih.
“Aku berjanji aku tidak akan melukai mu, terima kasih karena sudah memberikan ku kesempatan. Terima kasih..”
Hannah bisa merasakan lehernya basah, Hannah yakin bahwa itu karena air mata Demitri. Pasti Demitri menangis lagi, namun kali ini tangis bahagia dan penuh rasa syukur.
__ADS_1
“Aku mencintai mu Hannah, aku benar benar mencintai mu.”