
Hannah sedang duduk di sofa sembari membaca majalah saat ada panggilan masuk dari sekolah Axel, Hannah terkejut bukan main saat melihat ada panggilan masuk.
Perasaan Hannah sudah tidak enak, lantaran tidak mungkin pihak sekolah menelepon jika bukan karena terjadi sesuatu dengan Axel di sekolah.
“Apa benar ini Ibu Hannah, orang tua dari Axel Reynaldi?”
Hannah dengan polos nya menganggukkan kepala nya meski orang yang tengah bertelepon dengan nya tidak akan bisa melihat gerakan kepala nya itu. “Iya saya Ibu nya, ada apa? apa terjadi sesuatu?”
Hannah tidak bisa menyembunyikan nada kekhawatiran dalam pertanyaan nya, bagaimana tidak khawatir, ini hari pertama Axel sekolah.
Hannah menyalahkan dirinya sendiri, seharusnya Hannah ikut dengan Giovano tadi. Bukan ikut mengantar melainkan ikut ke sekolah Axel dan menunggu Axel disana.
Hari pertama biasa nya memang tidak terlalu berjalan dengan baik, seharusnya Hannah sadar bahwa jika Axel terlalu malu, takut atau apapun itu jika ada ada Hannah disana maka semua nya akan mudah.
“Ada apa? kau kelihatan panik sekali.” Darlen yang baru keluar dari kamar mandi menatap bingung Hannah, Hannah juga menatap nya namun dengan raut wajah yang menunjukkan kecemasan. Darlen jadi khawatir karna hal itu. “Ada apa sebenar nya?”
“Guru dari Sekolah Axel baru saja menelepon ku dan mengatakan bahwa Axel menangis di sekolah, guru yang menelepon mengatakan bahwa Axel terus meminta pulang dan mencari cari diriku.” Jawab Hannah masih dengan kepanikan nya, Darlen berusaha untuk membuat Hannah tenang.
“Memang nya hal apa yang terjadi sampai Axel menangis dan mencari cari mu seperti itu? Tidak mungkin Axel begitu karena takut ataupun nervous, kita semua tahu betapa tidak sabar nya Axel untuk mulai bersekolah.”
Hannah menggelengkan kepala nya, “Aku juga tidak tahu, maka dari itu akan kesana. Axel membutuhkan ku.”
“Tunggu dulu Hannah.” Darlen menghentikan Hannah yang hendak melangkah pergi keluar rumah.
Hannah menghentikan langkah nya dan kembali menoleh ke arah Darlen, mengernyitkan kening nya menatap bingung Darlen. Apa lagi yang Darlen ingin-kan? Hannah tidak punya banyak waktu, ia harus segera pergi ke sekolah Axel sekarang.
__ADS_1
“Aku akan ikut dengan mu.”
Darlen dengan terburu buru berlari mengambil kunci mobil dan juga mengganti pakaian nya, Axel pasti masih menangis sekarang ini dan sedang menunggu Hannah. Mereka harus cepat datang, karena Darlen paham betul bahwa akan sulit bagi orang lain untuk menenangkan tangisan Axel.
Hannah yang melihat Darlen berlari ke kamar nya memilih untuk menunggu Darlen di luar, tak lama Darlen pun keluar dengan kunci mobil di tangan nya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, Darlen melajukan mobil nya menuju sekolah Axel setelah kedua nya memakai sabuk pengaman.
***
“Tenang ya Axel.. Ibu sudah menelepon Mama Axel dan sebentar Axel akan datang.” guru wanita bernama Alleysa itu masih berlutut di depan Axel, mengusap tiap tetesan air mata Axel yang mengalir turun ke pipi nya yang semakin memerah itu.
Sang guru berusaha untuk membujuk Axel, berharap Axel mau berhenti menangis setelah mendengar kalimat kalimat menenangkan darinya namun tetap saja Axel menangis.
Alleysa menoleh kearah Kevin yang masih cemberut menatap Axel yang tengah menangis. “Ayo Kevin minta maaf sama Axel.”
“Kevin.. ayo minta maaf, kasihan Axel sudah menangis terus sejak tadi.”
Kevin berbalik menoleh ke arah Axel, tapi bukan untuk meminta maaf. Kevin justru menatap Axel tajam, memelototi Axel dengan kesal. “Memang nya apa salah ku? Aku kan tidak melakukan apa apa pada mu, yang aku bilang itu benar. Kenapa kau malah menangis dan membuat guru berpikir kalau aku yang jahat disini?!”
Alleysa terkaget melihat Kevin yang justru memperkeruh suasana, “Kevin, kau tidak boleh begitu sayang. Kevin kau harus mengakui kesalahan mu, menjelek-jelekan orang tua teman itu bukan tindakan yang benar.”
“Tapi aku tidak menjelek-jelekan orangtua dia Bu! Dia saja yang cengeng!” jawab Kevin lagi, nada suara nya meninggi bersamaan dengan wajah nya yang mulai memerah menahan tangis. Kevin tidak suka di pojok-kan begini.
“Mamaaa!!” Axel berteriak memanggil Hannah sesaat Axel melihat Hannah baru saja datang. Axel segera berlari menghampiri Hannah dan menangis dalam pelukan Ibu nya itu.
__ADS_1
Alleysa bangkit dari posisi nya yang berlutut, ia melangkah mendekati Hannah dan Axel. Berusaha menjelaskan kejadian nya kepada Ibu Axel tanpa memojokkan pihak manapun, Alleysa tidak ingin orang tua Axel menjadi benci melihat Kevin nanti nya yang akan berujung pertengkaran antar orang tua. Antara orang tua Axel dengan orang tua Kevin.
Hannah menepuk nepuk punggung Axel lembut, berusaha membuat putra nya itu tenang.
“Hiks.. Axel gak punya Papa tili.. Papa sama Daddy baik, gak jahat. Kepin yang jahaaat.. Huaaa..” Tangis Axel dalam pelukan Hannah, Hannah merasakan hati nya teriris mendengar tangisan Axel. Ternyata Axel menangis karena teman nya meledeki dirinya karena memiliki dua Ayah.
Kevin yang sejak tadi telah menahan tangis nya akhirnya sudah tidak sanggup lagi sehingga ia juga menangis. Ia menangis dengan keras, membuat perhatian guru, Hannah dan juga Darlen beralih kepada Kevin.
“Aku kan gak jahatin Axel, aku cuma bilang kalau anak yang punya Papa tiri itu Papa nya jahat, sepupu ku punya Papa tiri jahat.” Kevin bicara sambil menangis, suara nya kencang membuat Axel yang tadi nya masih menangis mendadak berhenti dan menoleh ke arah Kevin. Mengintip dari dalam pelukan Hannah.
“Aku kan kasihan sama sepupu ku yang dijahati Papa tiri nya, aku mau bilang Axel supaya jangan takut dan tonjok saja Papa tiri nya kalau Papa tiri nya jahat tapi sebelum Kevin bilang Axel sudah nangis duluan. Kevin gak salah, Kevin kan gak pukul Axel. Axel yang cengeng!” Kevin mengusap air mata dan juga ingus nya yang mengalir.
“Tapi aku gak punya Papa Tili!” Kali ini Axel yang berteriak, masih tidak terima dengan Kevin yang terus terus saja menyebut dirinya memiliki Ayah tiri.
“Tapi kan Papa Axel ada duuaa..”
“Bialin Papa aku dua, aku senang punya Papa dua!”
“Sudah sayang.. sudah..” Hannah kembali menepuk punggung Axel lembut, “Maksud Kevin itu baik, jangan bertengkar lagi ya. Kalian juga jangan menangis terus nanti sakit dan besok jadi tidak bisa berangkat sekolah.”
Hannah mengusap pipi gembul Axel, menyingkirkan sisa sisa air mata Axel. “Sudah ya sayang, baikan sama Kevin sekarang. Kalian berdua itu hanya salah paham.”
Alleysa beralih mendekati Kevin, ia menghapus air mata serta ingus Kevin. “Ayo Kevin baikan sama Axel, Axel memang punya dua Papa tapi Papa nya baik semua kok tidak jahat. Kevin tidak bisa menyamakan semua orang ya, Papa tiri sepupu Kevin jahat bukan berarti Papa nya orang lain juga jahat. Paham kan sayang?”
Kevin menganggukkan kepala nya pelan, Alleysa menuntun Kevin melangkah mendekati Axel.
__ADS_1
Kevin menyodorkan tangan kecil nya untuk berjabat tangan pertanda meminta maaf. “Maafin Kevin ya Axel, kita baikan ya.”
Axel menerima jabatan tangan Kevin tersebut dan mengangguk kecil. “Iya. Kita baikan.”