MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 27


__ADS_3

“Kenapa kau tertarik sekali dengan hubungan pernikahan ku dengan Giovano, Demitri? masalah rumah tangga kami bukan lah urusan mu. Kau dan aku bahkan tidak saling mengenal, kita tidak dekat satu sama lain. jangan bersikap seolah olah kah dan aku sangat dekat sehingga kau bisa bicara seenak mu kepada ku.” Hannah mundur beberapa langkah menjauh dari Demitri, “Pergi lah, aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat dengan mu. Sebentar lagi anak ku akan keluar, aku tidak ingin anak ku melihat dan mendengar hal hal buruk tentang Daddy nya dari mulut mu.”


“Ta-tapi Hannah..”


“Pergi Demitri, kehadiran mu tidak di inginkan disini.”


***


Demitri dengan kesal kembali masuk ke dalam mobil nya, mencengkram stir mobil nya erat erat lantaran rencana nya gagal total.


Kenapa Hannah keras kepala sekali dan tidak mau mendengarkan perkataan Demitri. Padahal Demitri hanya ingin Hannah sadar bahwa Giovano itu orang yang bejat tapi tetap saja Hannah terus berpihak kepada Giovano.


Apakah Hannah tidak perduli meski Giovano berselingkuh? bukan kah sebagai seorag istri seharus nya Hannah merasa sakit hati, dan berusaha membuktikan apa yang Demitri katakan benar atau tidak. Tidak mungkin bukan seorang istri tidak perduli jika suami nya bermain api di belakang nya.


Demitri memperhatikan Hannah yang keluar dari gerbang sekolah bersama dengan putra nya, mereka bergandengan tangan dan naik ke dalam taxi.


Selama memperhatikan anak Hannah, Demitri mulai berpikir apakah sebenarnya Hannah sudah tahu mengenai perselingkuhan Giovano dan memilih bertahan karena putra mereka.


Membayangkan hal tersebut membuat darah Demitri mendidih rasanya, Demitri tidak suka dengan hal itu. Benar benar tidak suka.


***


“Kita kenapa pulang naik taxi Ma? Tidak di jemput Papa Darlen?” Axel yang tengah Hannah bantu naik ke dalam taxi bertanya, ia pikir hari ini akan pulang dengan Papa Darlen nya.


“Papa Darlen sedang istirahat sayang, jadi pulang sama Mama naik taxi saja. Sekalian kita mampir beli makan siang untuk Papa Darlen.”


Sebenarnya bukan itu alasan sesungguh nya mengapa Hannah tidak meminta Darlen datang untuk menjemput sementara Darlen sudah berpesan jika sudah pulang nanti untuk menghubungi nya maka Darlen akan datang menjemput.


Hannah sengaja karena Hannah tidak ingin Demitri melihat Darlen, Hannah sadar betul bahwa Demitri masih belum pergi meski sudah Hannah usir. Laki laki itu justru menunggu diam di dalam mobil nya, benar benar membuat Hannah merasa seperti di awasi.


Hannah tidak ingin Demitri melihat Darlen karena jika Demitri melihat Darlen pasti Demitri akan menghampiri Darlen dan pasti akan ada keributan disana.


“Mama, Asel juga mau makan ice cream ya.”

__ADS_1


Hannah menoleh kembali pada Axel dan menganggukkan kepala nya, “Iya sayang, kita juga akan beli ice cream untuk mu. Tapi janji makan dengan lahap ya, Mama tidak akan memberikan mu ice cream kalau kau makan hanya sedikit.”


Axel mengangkat tangan nya dengan semangat, “Iya Asel akan makan yang banyaaaak!”


***


Demitri kembali ke kantor dengan wajah suram, para karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengan nya semakin takut untuk sekedar memberikan salam saat berpapasan. Takut akan terkena omelan.


“Sial!” teriak Demitri sembari menutup pintu ruangan kerja nya dengan kasar, Demitri tidak perduli dengan sekretaris nya, Rafael yang kebingungan dengan bantingan pintu itu.


Demitri kelewat kesal, padahal sebelum nya Demitri sudah sempat bahagia memikirkan bahwa rencana nya akan berhasil, tapi semuanya justru berantakan.


Bahkan Hannah menolak untuk melihat bukti yang Demitri miliki, benar benar menjengkelkan.


“Kak, kau sudah kembali?”


Demitri menoleh ke belakang, melihat bahwa Ivander baru saja datang tak lupa dengan berkas berkas penting di tangan nya. Melihat itu membuat Demitri semakin kesal.


Ia baru saja datang dengan keadaan kesal, mood nya benar benar hancur dan sekarang Ivander justru datang membawa pekerjaan yang harus Demitri urus. Padahal dahulu Demitri tidak pernah mengeluh ataupun kesal dengan pekerjaan tapi sekarang melihat Ivander membawa berkas saja sudah membuat dada Demitri panas ingin bersumpah serapah.


“Dilihat dari raut wajah mu sepertinya rencana mu gagal total ya.” Tebakan Ivander benar, tidak meleset sedikit pun. Rencana Demitri memang benar benar gagal total.


“Aku tidak ingin membahas hal ini, kau pergi lah aku tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaan ku jika kau terus disini.” Demitri duduk di kursi kekuasaan nya itu, masih memandang tajam ke arah Ivander yang berleha-leha di sofa empuk nya.


“Kau ini, sebelum nya kau bilang kau hanya ingin memastikan wanita itu saja benar benar mirip dengan Hannah atau tidak. Sekarang kau ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga nya, apa kau benar benar ingin merebut wanita itu dari Giovano?”


Demitri dengan mantap menganggukkan kepala nya, tentu saja ia ingin merebut wanita itu dari Giovano. Setelah bertahun tahun merasakan sakit nya di tinggal mati, Demitri menemukan wanita yang mirip dengan wanita yang ia cintai. Tentu saja Demitri tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja.


***


Hannah dan Axel sampai di rumah dengan gembira, membawa makanan yang telah mereka beli di luar untuk di makan bersama dengan Darlen. Tak lupa Axel menenteng plastik berisi ice cream yang telah Hannah beli untuk nya.


“Kalian sudah pulang, kenapa tidak menelepon ku agar ku jemput?” Darlen keluar dari kamar nya terkejut melihat kehadiran Hannah dan juga Axel.

__ADS_1


“Tidak perlu, lagi pula tidak ada salah nya pulang naik taxi. Kami sudah membelikan makan siang. Bisa kah kau bantu Axel mengganti pakaian nya sementara aku menyiapkan makan siang untuk kita semua?” Hannah mengambil alih plastik dari tangan Axel, memasukkan ice cream milik Axel itu ke dalam kulkas agar tidak mencair.


Darlen dengan sigap menggendong Axel menuju kamar Axel, sembari Axel mulai bercerita dengan apa yang ia lakukan di sekolah. Bercerita bahwa Axel telah berbaikan dengan Kevin dan sekarang mereka teman dekat.


“Pa, tadi Asel sempat di ledeki lagi karena tidak bisa bilang Elll..” Axel bermaksud menyebutkan huruf R, namun ia tidak bisa. Karena hal itu lah ia sempat di-ledeki sebelum nya. Teman teman se-usia nya sudah bisa bilang R meski tidak sebagus pengucapan orang dewasa tapi setidak nya mereka bisa dan hal itu membuat Axel iri sekaligus kesal.


“Tapi Kepin datang membela Asel. Kepin bilang adik sepupu nya juga tidak bila bilang Ell.” ujar Axel polos.


Darlen ingin tertawa rasanya, teman Axel yang bernama Kevin itu selalu menyamakan nyamakan Axel dengan adik sepupu nya. Hal itu benar benar lucu menurut Darlen.


“Nah Axel sudah ganti baju, ayo sekarang kita ke meja makan. Papa sudah lapar.”


***


Axel sibuk menikmati ice cream nya setelah makan sembari duduk di sofa menonton tayangan Pororo, acara kartun kesukaan nya.


Darlen membantu Hannah membersihkan meja makan bekas mereka makan siang bersama.


Hannah yang melihat Axel sibuk sendiri merasa bahwa ini kesempatan nya untuk bicara dengan Darlen.


“Darlen, tadi di sekolah Axel aku bertemu dengan Demitri.”


Perkataan Hannah itu sontak membuat Darlen yang tengah membantu Hannah menaruh piring kotor ke wastafel terhenti. Darlen menoleh dengan cepat ke arah Hannah, “Apa yang Demitri lakukan disana. Kenapa kalian bisa bertemu?”


Hannah mengangkat bahu nya, Hannah juga tidak tahu kenapa Demitri bisa ada disana tapi menurut Hannah Demitri pasti kesana bukan karena kebetulan. “Entah lah aku juga tidak tahu, yang pasti dia datang dan menemui ku. Berkata bahwa Giovano telah berselingkuh di belakang ku. Setahu Demitri Giovano adalah suami ku karena saat terakhir kali ia kemari, ia mendengar Axel memanggil Giovano Daddy.”


Darlen dengan cepat menaruh piring kotor yang ia pegang ke wastafel, kali ini benar benar menfokuskan dirinya kepada Hannah. “Berselingkuh? maksud mu?”


“Dia tahu bahwa kau dan Giovano ada hubungan jadi dia berpikir bahwa kalian berselingkuh di belakang ku. Dia bahkan ingin menunjukkan bukti kepada ku, dia benar benar bersikeras ingin meyakinkan ku bahwa Giovano berselingkuh. Tapi jika dipikir pikir, dari mana Demitri memiliki bukti jika kau dan Giovano saja tidak pernah bermesraan di depan publik.”


Darlen berdecih, tentu Darlen tahu mengapa Demitri bisa memiliki bukti. Laki laki itu punya banyak uang, kekuasaan, tentu saja mendapatkan bukti seperti itu bukan lah hal yang sulit bagi Demitri.


“Sudah jelas bahwa Demitri pasti menyuruh orang kepercayaan nya untuk mengorek tentang hubungan ku dan Giovano, kau berhati hati lah dengan laki laki itu. Bukan tidak mungkin dia akan menyewa orang untuk membuntuti mu, laki laki itu gila. Dia pernah masuk rumah sakit jiwa dulu, kah benar benar harus menjaga jarak dari laki laki itu. Aku tidak ingin kau terluka.”

__ADS_1


Hannah menganggukkan kepala nya mengerti, lagi pula Hannah juga tidak ingin berdekatan dengan laki laki itu. Meski Hannah tidak mengingat apapun tentang Demitri, Hannah tetap merasa tidak nyaman di dekat laki laki itu.


Rasanya sangat tertekan setiap kali Demitri dekat dengan nya seolah olah tubuh Hannah sendiri yang menolak untuk dekat dengan Demitri, mungkin tubuh Hannah mengingat trauma tersebut, trauma yang disebabkan oleh laki laki itu.


__ADS_2