MY REVENGE

MY REVENGE
EP 19 : BEBAN BARU


__ADS_3

“Angkat tangan kalian, kalian sudah terkepung!”


Hannah menjatuhkan pisau yang digenggamnya, ia sempat panik ketika melihat beberapa polisi masuk sembari menodongkan pistol kearahnya.


“Apa apaan ini?!” Hannah tidak terima, bagaimana bisa semua rencana yang ia susun berantakan seperti ini. Hannah tidak takut masuk penjara hanya saja Hannah tidak bisa masuk penjara sementara Martha masih hidup, itu tidak sepadan.


“Lepaskan!” Hannah memaki, ia memberontak ketika salah satu polisi memborgolnya, Hannah tidak terima.


“Penjarakan dia, dia mencoba untuk membunuh ku!”


Teriakan Martha membuat Hannah semakin naik pitam, seharusnya Martha sudah tewas saat ini, jika Martha sudah mati ditangannya maka Hannah akan dengan suka rela masuk ke dalam penjara, itu tidak masalah baginya.


“Kau seharusnya mati!!” Hannah berteriak, semakin ia dibawa pergi oleh polisi menjauh dari Martha semakin kuat ia berteriak, bahkan ketika ia dibawa masuk ke dalam mobil polisi pun Hannah masih berusaha memberontak meski hasilnya sia sia.


“Kenapa kau diam saja Demitri, aku terluka parah saat ini, kau mau aku mati kehabisan darah disini?” Martha lemas, ia menyandarkan tubuhnya kepada Demitri yang kelihatan ling lung.


“Kepala ku pusing.” Martha mengoceh pelan sebelum akhirnya kesadarannya tertelan oleh kegelapan.


***


“Kau gila kak?!” Ivander mencengkram erat kerah kemeja Demitri yang berlumuran darah Martha. “Kau membiarkan Hannah dibawa oleh polisi sedangkan Hannah tengah mengandung anak mu!”


Demitri terdiam, ia tidak melawan sedikitpun. Demitri masih bingung dengan kata ‘hamil’ yang terus saja Ivander ucapkan.


“Untuk pertama kalinya kita kembali punya anggota keluarga lain kak, setelah kematian kedua orangtua kandung kita dan kakak perempuan kita. namun saat dia hadir kenapa kau membiarkannya masuk kedalam penjara, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya keponakan ku harus tumbuh di dalam penjara sampai hari ia akan dilahirkan!”


Demitri mendorong Ivander, ia mengeraskan wajahnya. Demitri tidak akan terpengaruh oleh perkataan Ivander yang menyangkutkan masalah ini dengan kenangan masalalu. “Hannah tidak mengandung anak ku, kau jelas tahu aku bukan satu satunya laki laki yang tidur dengannya.”


Ivander terdiam, ia tahu bahwa Demitri pernah menjual Hannah kepada Giovano namun entah mengapa hati Ivander mengatakan bahwa anak yang Hannah kandung adalah keponakannya, anak yang Hannah kandung memiliki ikatan dengan dirinya dan juga Demitri tapi mengapa Demitri tidak mau mengerti? kenapa Demitri selalu mengutamakan logikanya dibandingkan perasaannya sendiri?


“Aku tidak percaya kalau Hannah tengah mengandung anak ku, kau tidak bisa memaksa ku untuk mempercayainya, jika kau benar benar percaya anak itu adalah keponakan mu maka berikan aku bukti baru aku akan mempercayaimu.” Demitri berbalik, memasuki ruang rawat Martha.


Ivander yang Demitri tinggalkan mengepalkan tangannya kuat kuat, kenapa Demitri masih saja memilih calon istrinya itu? Ivander memang belum pernah bertemu dengan calon istri Demitri namun Ivander sudah mendengar banyak hal tentang wanita itu dari Ayah tiri mereka, Hans Constantine.


Yang Ivander tahu wanita itu jauh lebih tua dari Demitri dan juga licik, Ivander bahkan malas rasanya jika harus menemui wanita tua itu. wanita tua itu mati pun Ivander tidak perduli.


***

__ADS_1


Hannah memukul besi sel yang menghalanginya untuk keluar itu kuat kuat, tidak perduli tangannya akan terluka dan bahkan Hannah tidak bisa merasakan sakitnya.


“Lepaskan aku dari sini!!” Hannah sudah berteriak berkali kali namun tidak ada satupun orang yang merespon.


Hannah benci kenyataan bahwa ia tidak pernah beruntung, Hannah benci kenyataan bahwa disaat ia menjadi orang baik Tuhan justru kejam kepadanya, Hannah benci kenyataan bahwa ketika ia memilih untuk menjadi orang jahat pun Tuhan tetap tidak berpihak kepadanya.


Hannah mulai meneteskan air mata, kenapa untuk mencapai satu hal Hannah harus semenderita ini.


Kenapa Hannah harus kehilangan banyak hal?


Kenapa Hannah harus terus tertekan oleh perasaan yang kian hari kian membesar dihatinya, Hannah lupa caranya untuk tersenyum dengan tulus.


Hannah lupa rasanya bahagia. Bahkan Hannah lupa kapan terakhir kali ia tertawa riang, yang Hannah ingat hanya tangisan tangisannya dikala malam sepi, kesakitan kesakitannya dikala ditinggalkan orang terkasihnya. Hannah sudah kehilangan jati dirinya sejak lama.


“Lepaskan aku.. lepaskan aku dari sini!”


***


James menyesal, ia bisa mendengarkan tangisan dan teriakan Hannah dari sel sebelah.


James sudah mengatakan kepada polisi bahwa ia yang bersalah, James sudah mengatakan bahwa ialah yang mencoba untuk membunuh Martha namun polisi bukan orang yang bisa James tipu dengan mudah, barang bukti berupa pisau yang ada pada polisi itu jelas jelas memiliki sidik jari Hannah bukan James.


James tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menebus rasa bersalahnya.


fokus James teralihkan kepada seorang laki laki yang melangkah mendekat kedalam sel sementara yang Hannah tempati.


James tidak tahu kenapa orang itu bisa masuk dan diantarkan oleh pihak polisi juga, namun ketika melihat pakaian yang dikenakan laki laki itu James sadar akan satu hal, uang berkuasa atas segalanya di dunia yang fana ini.


***


Ivander mamasukkan tangan nya melalui celah sel dan mengusap tangan Hannah yang memerah, “Kau baik baik saja?”


Hannah menepis tangan Ivander, “Jangan berpura pura baik padaku, kau dan kakak mu itu sama saja!”


Hannah memaki Ivander, masih dengan air mata yang mengucur deras dari matanya.


Ivander tidak menyerah begitu saja, Ivander kembali menggenggam tangan Hannah dengan lembut dan menatap Hannah penuh perasaan, “Jangan seperti ini Hannah, aku berjanji aku akan berusaha mengeluarkan mu dari sini namun kau juga harus berjanji bahwa kau tidak akan melukai dirimu sendiri.”

__ADS_1


“Kenapa juga aku harus berjanji hal itu kepada mu, kau dan aku tidak memiliki hubungan apa apa Ivander, berhenti berpura pura peduli jika pada akhirnya kau hanya akan melakukan hal yang sama seperti yang kakak mu lakukan kepada ku!”


Ivander menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan melakukan hal kejam ataupun menyakiti mu, aku tidak akan pernah menyakiti wanita yang kini tengah mengandung anak dari kakak ku sendiri.”


Hannah terdiam, awalnya ia sudah menyiapkan sumpah serapah untuk Ivander namun kalimat yang Ivander katakan kepadanya membuat sumpah serapah Hannah kembali tertelan, Hannah mengedipkan matanya berkali kali memastikan bahwa ia tidak tengah bermimpi atau pun salah dengar.


“Ka-kau bilang apa?”


“Kau tengah mengandung anak Demitri, Hannah.”


Hancur sudah..


Semuanya hancur.


Pertahanan yang Hannah bangun sudah hancur lebur, kenapa ia begitu ceroboh?


Hannah tidak pernah menginginkan anak dari Demitri, Hannah tidak pernah mau memiliki kelemahan seperti ini.


Hannah menangis, ia menangis lantaran bingung bagaimana nasibnya kedepan. Apakah ia akan terus dipenjara dalam kondisi mengandung, atau yang lainnya.


Hannah takut jika Demitri ataupun Martha nantinya memiliki niat untuk menghabisi Hannah berserta calon anaknya, Hannah paranoid.


“Kau jangan khawatir, aku akan melindungi mu dan keponakan k—”


“Pergi!”


“Tapi Hann—”


“Pergi!!!”


Ivander tidak punya pilihan lain, ia melangkah mundur menjauh sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Hannah yang masih histeris.


Hannah tidak tahu ia harus bersikap seperti apa, apakah ia harus sedih lantaran sekarang ia punya kelemahan atau ia harus bahagia lantaran ia sekarang kembali memiliki keluarga, meski saat ini Hannah tidak tahu bagaimana rupanya.


Hannah lelah akan segala sesuatu yang terjadi, Hannah sudah tidak tau lagi harus bagaimana menyingkapinya.


***

__ADS_1


__ADS_2