
Ivander merenggang-kan otot-nya yang terasa kaku, karena Demitri tidak masuk kerja perkerjaan Ivander menjadi lebih berat.
Ivander melirik arloji dipergelangan tangan nya, sekarang sudah waktu nya pulang. Pekerjaan Ivander pun sudah selesai semua, bahkan Ivander pun sudah mengirim pesan pengingat agar Demitri meminum obat nya.
Entah lah semakin lama Ivander merasa bahwa dirinya sudah bukan lagi adik Demitri namun lebih berperan seperti Ibu Demitri. Benar benar, kakak nya itu terus saja membuat nya pusing.
Untuk sekarang ini mari lupakan masalah masalah itu, ini waktu nya untuk bersenang senang. Ivander juga sudah berjaga jaga menyuruh salah satu anak buah nya untuk mengawasi Demitri. Khawatir jika Demitri melakukan hal yang tidak tidak selama Ivander sibuk menyenangkan dirinya sendiri.
***
“Kenapa kau kemari bukan kah sudah ku bilang kau tidak perlu membantu ku disini, Axel pasti mencari mu.” Darlen berdecak melihat Hannah yang menyusul nya ke Bar, padahal Darlen bisa mengawasi Bar sendirian.
“Berhenti lah menolak bantuan ku, lagi pula hari ini giliran Giovano yang membacakan Axel dongeng. Jadi aku tidak dibutuh kan di rumah.” Hannah bicara sembari tertawa, Darlen tidak bisa mengatakan apa apa lagi selain membiarkan Hannah melakukan apa yang diinginkan nya.
“Kalau begitu kau gantikan bartender yang tidak bisa masuk malam ini.”
Hannah berdecih setelah mendengar perkataan Darlen, “Kau bilang kau tidak perlu bantuan ku padahal kau sendiri kekurangan orang. Kalau kau terus berbohong dan memaksakan dirimu sendiri aku akan mengadukan mu kepada Giovano nanti.”
***
__ADS_1
“Kenapa kita tidak ke tempat biasanya saja? Disana kita sudah menjadi tamu VIP.” Ivander memasuki Bar bersama teman teman nya, kali ini ia dan teman nya tidak datang ke Bar langganan mereka yang biasa nya karena salah satu teman Ivander; Christian mengusulkan untuk datang kemari saja.
Dengan alasan bahwa ada seorang perempuan di Bar ini yang sedang Christian incar maka mereka akan bersenang senang di Bar ini saja sembari Christian berusaha untuk menarik perhatian wanita yang diincar nya itu.
“Ayolah Ivander, aku benar benar menginginkan wanita itu. Bersenang senang di Bar lain tidak akan membuat mu mati.” Christian mengajak Ivander dan teman nya yang lain untuk duduk, dan memesan minuman mahal dan juga meminta agar wanita yang diincar nya itu lah yang mengantarkan minuman untuk mereka.
Selama menunggu minuman datang, teman Ivander yang lain turun ke lantai dansa. Menari disana sembari menggoda beberapa wanita.
***
“Hari ini Kak Hannah yang menggantikan Peter, memangnya Axel tidak mencari Kak Hannah?” seorang wanita dengan seragam pelayan nya datang menyapa Hannah sembari mengambil botol minuman pesanan.
Hannah kembali melanjutkan pekerjaan nya setelah wanita itu pergi membawa keranjang dorong berisikan botol minuman itu untuk diantar.
Pandangan Hannah beralih kepada pencapit es batu yang tertinggal, Hannah dengan segera berusaha menyusul wanita tersebut dan memberikan pencapit es batu tersebut sebelum wanita itu dimarahi habis habisan oleh pelanggan.
Belum sempat Hannah sampai, Darlen sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan Hannah dengan kuat. Menghentikan langkah Hannah menuju wanita itu.
“Ada apa Darlen?” tanya Hannah kebingungan.
__ADS_1
“Ikut aku.” Darlen dengan cepat menarik Hannah untuk ikut dengannya, Darlen terlalu terburu buru hingga tanpa sadar ia menarik Hannah terlalu kuat hingga menyakiti Hannah.
“Tapi Darlen, Elijah lupa membawa pen—”
“Diam Hannah dan turuti saja aku.”
Hannah tidak tahu ada apa dengan Darlen dan kenapa ia mendadak menarik nya seperti ini. Satu hal yang Hannah tahu bahwa sekarang ini Darlen sedang terlihat sangat panik.
***
Ivander tidak perlu turun ke lantai dansa untuk bisa menggaet para wanita, dengan duduk saja ditempat nya pun wanita sudah akan berdatangan dengan sendiri nya.
“Mana wanita yang kau maksudkan itu?” Ivander bertanya kepada Christian yang masih tersenyum riang sembari menunggu wanita incaran nya itu datang membawa minuman mereka.
“Sebentar lagi, ah itu dia!” Christian menunjuk kearah seorang pelayan Bar yang sedang mendorong keranjang dorong yang berisikan minuman mereka. Senyum Christian semakin lebar bersamaan dengan semakin mendekatnya wanita itu.
Ivander memperhatikan wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, ya memang benar wanita itu cantik dan tipe Christian sekali.
Pandangan Ivander beralih ke belakang wanita tersebut dan detik itu juga mata Ivander membesar karena keterkejutan.
__ADS_1
“Kak Hannah?!”