MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 22


__ADS_3

Darlen pun semakin takut, Hannah sudah mulai mengingat kenangan nya di masa lalu satu persatu, bagaimana jika ingatan Hannah akhirnya kembali ke semula.


Apakah Hannah bisa menerima kenyataan atau Hannah akan menyakiti dirinya lagi seperti dulu? Darlen harap kali ini tidak akan seperti dulu, karena dulu Hannah putus asa dan trauma karena Hannah merasa tidak memiliki siapa siapa dan tidak bisa mempercayai siapapun.


Tapi bukan kah kondisi nya sekarang sudah berbeda? Hannah tidak lagi sendirian, ada Darlen, Giovano dan tentu saja Axel yang selalu ada di sisi Hannah.


Berusaha mewarnai hidup Hannah yang baru sedemikian rupa, Darlen harap jika ingatan Hannah memang benar benar kembali. Hannah akan tetap menjalani hidupnya ini dan melepaskan rasa trauma, sakit hati nya dan juga bisa melupakan kepergian anak nya yang telah tiada.


***


Demitri tengah menyusun rencana untuk bisa bertemu dengan Hannah lagi, tapi Demitri bingung rencana seperti apa? Demitri tidak bisa muncul begitu saja di depan Hannah bukan?


Demitri bukan siapa siapa Hannah, teman saja bukan.


Jika Demitri tiba tiba saja mengajak Hannah berbincang dan mengungkapkan segala kebusukan Giovano, Demitri masih belum memiliki bukti bukti nya. Orang suruhan Demitri masih sedang mencari bukti bukti nya untuk Demitri.


Dan sayang nya itu memakan waktu yang cukup lama. Sedangkan Demitri sudah sangat ingin bertemu dengan Hannah kembali, sial sekali rasa nya tidak bisa menemui orang yang ingin kita temui tanpa alasan.


Demitri mengetuk-ngetuk bollpoin yang berada di tangan nya itu ke meja, kepala nya terisi tentang Hannah, Hannah dan Hannah membuat Demitri merasa malas untuk mengerjakan dokumen dokumen yang menumpuk di meja kerja nya itu.


Helaan nafas berat keluar dari mulut Demitri, pandangan mata Demitri beralih kepada foto yang terpajang di meja kerja nya. Yang tak lain adalah foto Hannah, Hannah yang dicintai nya. Hannah nya yang telah tiada.


Pandangan mata Demitri mendadak sendu, Demitri tiba tiba merasakan perasaan bersalah. Sudah seminggu sejak Demitri berhasil bertemu dengan wanita yang mirip dengan Hannah.


Dan setelah hari itu nampak nya Demitri seolah lupa dengan Hannah yang ia cintai, Demitri merasa bersalah sekali. Bukan maksud dirinya untuk melupakan, tapi hal itu terjadi dengan sendirinya.


Jemari Demitri beralih mengusap foto yang terpajang di atas meja itu. “Apakah tidak apa apa jika aku menganggap nya sebagai pengganti dirimu? Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kau telah tiada, dengan adanya wanita yang mirip dengan dirimu membuat ku bahagia. Mungkin aku bisa memulai nya kembali, memulai apa yang seharusnya kita lakukan.”

__ADS_1


Demitri terdiam sejenak, memandangi foto tersebut lamat lamat. “Aku tahu aku terdengar egois, tapi aku akan merebut wanita itu. Wanita itu seharusnya menjadi milik ku, karena dia adalah pengganti dirimu. Tidak seharusnya Hannah yang baru bersama dengan laki laki ******** itu.”


***


“Jadi sudah diputuskan bahwa Axel akan bersekolah disini! Bagaimana Axel, Axel senang kan?” Darlen menunduk melihat ke arah Axel yang tersenyum riang memandang gedung kecil dari taman kanak kanak yang baru beberapa menit lalu mereka kunjungi.


Axel menganggukkan kepala nya dengan penuh semangat. Tentu saja Axel senang, ini hal yang di-inginkan nya, belum lagi saat mereka sebelumnya datang ke ruang guru. Mereka sempat melewati lapangan bermain disana, rasa nya menyenangkan sekali Axel ingin cepat masuk sekolah dan bergabung bermain dengan anak anak yang lain.


“Kebetulan Daddy berangkat bekerja bisa melalui jalan ini, jadi setiap pagi Daddy bisa mengantar mu berangkat sekolah.” ujar Darlen lagi yang semakin membuat binar di mata Axel semakin menjadi.


“Ku rasa itu tidak perlu Darlen, kau tahu sendiri bukan Giovano selalu berangkat awal sekali dan terburu buru karena banyak perkejaan yang menanti nya. Aku khawatir dengan mengantarkan Axel ke sekolah terlebih dahulu sebelum berangkat kerja hanya akan membuat Giovano kerepotan saja. Lagi pula aku tidak punya perkerjaan jadi aku saja yang mengantar dan menjemput Axel.”


Darlen berdecak, ia menggelengkan kepala nya tidak setuju. Bukan nya tidak setuju dengan Hannah yang mengantar jemput Axel melainkan Darlen tidak setuju dengan perkataan Hannah bahwa Giovano akan repot dan akan kesulitan saat berangkat kerja.


“Giovano bukan orang seperti itu, justru Giovano akan senang sekali dapat mengantar Axel ke sekolah.”


“Iya sayang, nanti Papa, Mama dan Daddy akan bergantian mengantar Axel.”


***


Demitri mengerutkan kening nya tak senang saat mendapatkan pesan masuk dari orang suruhan nya, orang yang Demitri perintahkan untuk membuntuti Darlen dengan harap harap mendapatkan bukti yang kuat mengenai perselingkuhan Giovano dan Darlen yang bisa Demitri berikan kepada Hannah agar Hannah bisa mempercayai nya.


Namun alih alih mendapatkan hal yang di inginkan. Demitri justru mendapatkan kiriman foto Darlen dengan Hannah yang tengah mengunjungi sekolah taman kanak kanak bersama anak yang seingat Demitri adalah anak Hannah dengan Giovano.


Demitri kesal melihat foto tersebut lantaran ia merasa Hannah telah dibodohi oleh Darlen dan justru mereka berdua sangat dekat, Giovano benar benar ******** setelah membuat selingkuhan nya tinggal bersama dengan Hannah.


Giovano bahkan dengan tega nya membuat Darlen dan Hannah akur, Demitri benar benar tidak bisa membayangkan nya. Memikirkan Giovano yang diam diam saat malam meninggalkan Hannah di kamar nya dan justru berselingkuh dengan Darlen di kamar Darlen benar benar membuat darah Demitri mendidih.

__ADS_1


“Siaalan. Lihat saja, akan ku bongkar semua kebusukan kalian. Dan disaat Hannah terpuruk karena mengetahui semua kejahatan kalian, di saat itu lah aku akan muncul dan memberikan bantuan. Menjadi tempat bersandar bagi Hannah yang terluka hati nya. Lihat saja, tunggu tanggal main nya.”


***


Ivander berdecak kesal ketika berkas yang susah susah ia bawa dari ruangan Demitri jatuh berceceran karena dirinya terpeleset saat keluar dari lift.


Dengan kesal Ivander memunguti berkas berkas tersebut, beruntung berkas penting tersebut tidak rusak ataupun basah karena jatuh ke lantai.


Meski keadaan berkas yang di bawa oleh nya aman dari kerusakan, Ivander tetap tidak senang. Ivander kesal lantaran karena lantai yang basah ia jadi terpeleset seperti ini.


Dalam hati Ivander memaki orang yang telah membuat lantai tersebut basah, Ivander tahu ini semua ulah siapa. Sudah pasti ulah salah satu office boy/girl yang sebelum nya mengepel lantai ini dan mengepelnya terlalu basah.


Belum lagi Office girl/boy tersebut tidak menaruh tanda lantai basah disini membuat orang yang tengah terburu buru seperti Ivander tidak memelankan langkah nya untuk berhati hati hingga berakhir terjatuh.


Ivander menghela nafas berat, Ivander tidak akan tinggal diam. Ia akan mengkomplain masalah ini kepala kepala office girl/boy agar hal seperti ini tidak terulang lagi.


Ponsel di kantung celana Ivander berdering pertanda ada panggilan dari seseorang. Ivander merogoh kantung celana nya tersebut, mengambil ponselnya dan melihat bahwa yang menelepon nya bukan lain adalah Christian.


“Ada apa?” pertanyaan itu lah yang keluar sesaat Ivander menekan tombol hijau pada layar ponsel nya itu, mendekatkan ponsel itu tepat ke telinga nya.


“Kau ada waktu? hari ini ada reuni. Kau harus ikut, tahun tahun sebelumnya kau sudah absen berkali kali. Kali ini kau harus ikut agar teman teman kita tidak lupa dengan tampang mu!”


Ivander berdecak, ia kira apa. Tapi jika di pikir pikir memang sudah lama sekali Ivander tidak mengikuti acara reuni.


Tepat nya setelah Demitri, Kakak Ivander mulai stress karna kepergian wanita yang di cintai nya itu.


“Bagaimana kau bisa datang tidak?”

__ADS_1


“Ya.. aku akan datang, kirimi saja aku alamat nya. Jika sempat aku akan datang.”


__ADS_2