MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 29


__ADS_3

“Tembak dia Demitri, jangan beri ampun.”


Hannah kembali terbangun dari mimpi nya, kali ini tubuh nya lebih basah dari sebelum nya.


Hannah mengusap wajah nya kasar, kenapa.. kenapa ia memimpikan hal seperti itu? Kenapa Demitri bisa muncul dalam mimpi Hannah itu dan juga, siapa wanita yang Hannah lukai itu.


Kenapa dalam mimpinya Hannah terlihat sangat amat membenci wanita itu. Dan juga kenapa mimpi ini terasa sangat nyata seolah olah benar benar pernah terjadi sebelumnya?


***


“Wajah mu kelihatan kusut sekali, apa tidur mu tidak nyenyak?” Giovano yang sedang mengambil air minum kebingungan saat melihat Hannah terduduk letih di sofa. Tidak seperti biasa nya.


“Aku bermimpi, mimpi yang sangat aneh.” jawab Hannah pelan, ia benar benar masih belum bisa melupakan mimpi nya itu.


“Memang nya kau bermimpi tentang apa?” tanya Giovano sembari duduk disebelah Hannah, ini baru pukul 4 pagi. Tapi Hannah sudah terlihat lesuh seperti ini.


“Entahlah aku tidak bisa menjelaskan nya.” Hannah memijat pelipis nya, kepala nya benar benar terasa pusing. Seolah olah Hannah bukan habis bangun tidur melainkan habis menaiki roller coaster sebanyak 20 kali.


Benar benar pusing dan mual rasa nya.


***


Hannah benar benar kesal, saat ia mengantar Axel ke sekolah Hannah kembali bertemu dengan Demitri. Laki laki itu benar benar tidak kenal kata menyerah, terus saja menganggu Hannah dengan mengatakan segala hal buruk tentang Giovano.


Belum lagi tentang mimpi Hannah semalam, mengingat dalam mimpi nya Hannah melihat Giovano menodongkan pistol ke arah nya membuat Hannah semakin kesal saja rasa nya meski itu semua hanya mimpi.


“Hannah kau harus mendengarkan ku, dan melihat semua bukti bukti yang ku punya. Akh tidak berbohong tentang suami mu. Aku melakukan ini semua demi kebaikan mu, karena kau mirip dengan kekasih ku sehingga aku merasa tidak tega jika kau terus di bohongi oleh Giovano.”


Hannah kembali memijat pelipis nya, seandainya saja Giovano tidak ada meeting pagi pagi sekali pasti hari ini Axel diantar oleh Giovano dan Hannah tidak perlu bertemu dengan Demitri begini. Bertemu dengan Demitri hanya membuat kepala nya semakin sakit. sakit sekali.


“Tidak bisa kah kau diam? aku tidak pernah meminta bantuan mu, urusan keluarga ku adalah urusan ku. Tolong jangan ikut campur.” Hannah mendorong Demitri menjauh, hendak pergi meninggalkan Demitri namun Demitri menahan Hannah. Memegang tangan Hannah agar tidak meninggalkan nya begitu saja.


“Lepaskan Demitri!” teriak Hannah kesal, ia berusaha menarik tangan nya namun tidak bisa Demitri menggenggam tangan Hannah dengan erat sekali. “Ku bilang lepaskan!”


“Kenapa kau keras kepala sekali Hannah, tujuan ku itu baik.”


“Kau yang keras kepala! tidak bisakah kau berhenti, aku muak melihat wajah ku!” Hannah benar benar sudah tidak tahan lagi, Hannah mengigit tangan Demitri sehingga Demitri melepaskan genggaman tangan nya.


“Kenapa kau tutup mata padahal kau tahu suami mu berselingkuh di belakang mu, kenapa kah tetap menolak percaya kepada ku meski aku memiliki semua buktinya. Kenapa Hannah, apa karena kau sudah tahu semuanya dan memilih untuk terus berpura pura tidak tahu karna kau tidak ingin kehilangan Giovano demi putra ku? Atau karna kau takut kehilangan suami yang kaya raya?!”


Tidak seharusnya kalimat itu keluar dari mulut Demitri, tapi Demitri tidak sengaja. Ia seperti ini karena terlalu kesal dengan penolakan penolakan Hannah.


Sementara Hannah sendiri tidak perduli Demitri berpikir tentang dirinya sebagaimana pun, Hannah hanya ingin Demitri menjauh.


“Kalau aku memang tidak ingin kehilangan suami kaya raya lalu kenapa? Kau tidak senang? ini hidup ku, kau tidak berhak ikut campur!” Hannah kembali berbalik hendak pergi meninggalkan Demitri, namun lagi lagi Demitri menahan nya.


Demitri kembali menggenggam pergelangan tangan Hannah, dengan paksa membalik tubuh Hannah agar menghadapnya. “Kalau kau tidak mau melepaskan suami kaya raya mu itu karena uang, aku bisa memberikan ku uang. Lebih banyak dari yang Giovano berikan kepada mu, jadi ceraikan saja suami mu itu dan jadi lah kekasih ku.”

__ADS_1


Hannah terdiam, terkejut dengan perkataan Demitri. Benar rupanya, Demitri sudah gila. “Aku menjadi kekasih mu? Maksud mu menggantikan posisi kekasih mu yang sudah mati itu? aku tidak akan pernah sudi menjadi


pengganti orang lain, terlebih karena wajah ku mirip dengan nya. Satu hal yang harus kau camkan Demitri, aku tidak menginginkan mu! ingat itu!”


***


“Arrghhhh!”


Demitri melempar semua barang barang nya tidak perduli bahwa barang yang ia lempar adalah barang barang mahal dan juga beberapa diantaranya adalah berkas berkas penting.


Darah Demitri benar benar mendidih, ia kesal setengah mati setelah mendengar penolakan Hannah. Harga dirinya bagai di injak injak tapi terlebih lagi bukan tentang harga dirinya melainkan hati Demitri, rasanya sakit sekali saat mendengar Hannah mengatakan bahwa ia tidak menginginkan Demitri.


“Sial, kenapa semuanya jadi begini! Kenapaaaaa!!!” Demitri menjambak rambut nya sendiri, rasanya ia mulai kembali menggila. Rasanya Demitri ingin sekali menghancurkan semua yang ada di bumi ini.


Rafael asisten Demitri yang berada di luar ruangan Demitri bisa mendengar teriakan Demitri dan juga suara pecahan barang barang yang Demitri lempar sebagai sarana melampiaskan amarah nya.


Rafael dengan sigap menghubungi Ivander, Ivander harus tahu tentang hal ini karena Ivander sudah berpesan kepada Rafael jika Demitri melakukan tindakan yang berbahaya maka Rafael harus segera menghubungi Ivander.


“Maaf mengganggu Tuan Ivander, tapi Tuan Demitri saat ini sedang mengamuk dan menghancurkan semua barang barang di ruangan nya.” Rafael bicara dengan Ivander melalui telepon kantor, sesekali Ivander melirik dari kaca. Melihat apa yang tengah Demitri lakukan. Takut takut jika Demitri menyakiti dirinya sendiri seperti dulu.


Rafael bisa mendengar keterkejutan dari Ivander, Ivander dengan segera menutup sambungan telepon tersebut setelah mengatakan bahwa ia akan segera kesana menemui Demitri.


Tak lama kemudian Ivander datang, dengan wajah panik dan juga tubuh berkeringat karena ia berlari panik kemari.


“Bagaimana Demitri, dia masih mengamuk?” tanya Ivander kepada Rafael, Rafael menganggukkan kepala nya dan menunjuk ke arah jendela kaca ruangan Demitri, mereka berdua bisa melihat bahwa Demitri masih melempar barang barang nya sembari berteriak teriak dan juga bersumpah serapah.


“Kau tidak tahu apa yang terjadi dengan nya sampai dia jadi seperti ini?” tanya Ivander lagi kepada Rafael, Rafael kembali menggelengkan kepala nya.


Saat Rafael menyambut kedatangan Demitri dengan memberi salam dan membungkuk hormat kepada Demitri pun Demitri justru mendorong Rafael dengan kasar hingga Rafael nyaris terjatuh.


Demitri langsung masuk ke dalam ruangan nya dan melempar barang barang milik nya, Rafael benar benar tidak tahu menahu apa penyebab Demitri bisa menjadi seperti itu.


“Saya tidak tahu Tuan Ivander, tiba tiba saja Tuan Demitri datang dengan keadaan seperti itu. Dia juga sempat mendorong saya, mungkin ada sesuatu hal yang membuat nya kesal sampai seperti itu.”


Ivander mengernyitkan kening nya, kebingungan kenapa Demitri menjadi seperti ini lagi. Ivander mencoba menerka nerka apa sekira nya yang menjadi penyebab Demitri menjadi seperti ini.


Kalah tender? tidak mungkin.


Sarapan nya tidak enak? itu jauh lebih tidak mungkin. Demitri tidak mungkin menggila hanya karena sarapan saja.


Ivander kemudian teringat dengan pembahasan nya dengan Demitri kemarin, bahwa hari sebelumnya Demitri sudah kelihatan sangat kesal. Itu semua karena rencana nya tidak berjalan lancar.


Rencana untuk merusak hubungan Giovano dan Hannah.


Apa ini ada hubungan nya lagi dengan wanita itu? Sudah pasti, sudah pasti ini ada hubungan nya dengan wanita itu karena Demitri terus saja membahas wanita itu sebelumnya.


Ivander yakin Hannah pasti melakukan sesuatu yang melukai harga diri dan perasaan Demitri hingga Demitri bisa sampai se-marah ini.

__ADS_1


Ivander masuk ke dalam ruangan Demitri, baru ia membuka pintu Ivander sudah harus menunduk menghindar dari barang yang Demitri lempar melayang ke arah nya.


“Hei! Kak Demitri tenang lah, kenapa kau jadi menggila seperti ini? Mengamuk dan melempar barang barang mu tidak akan membuat semua nya menjadi lebih baik.” Ivander berusaha untuk membuat Demitri berhenti, meski begitu Ivander tetap melindungi kepala nya dengan tangan nya, takut takut jika nanti ada barang lain lagi yang terlempar ke arah kepala nya.


“Semuanya sia-sia! kenapa harus ******** itu yang bertemu dengan Hannah lebih dulu, kenapa juga Hannah lebih memilih manusia biadab itu di bandingkan dengan ku padahal dia telah di selingkuhi berkali kali. Apa kurang nya diriku?!!!” Demitri lagi lagi berteriak, Ivander merasa ikut kesal mendengar nya.


“Bukan kah sudah ku bilang berteriak teriak seperti ini tidak ada guna nya, berteriak memaki seperti ini tidak akan membuat Hannah menjadi memilih mu dibandingkan Giovano!”


Demitri beralih menatap Ivander dengan mata nya yang memerah karena amarah nyam “Kalau begitu apa yang harus ku lakukan hah, apa lagi yang harus ku lakukan?!”


Ivander mengangkat tangan nya, berusaha menggerak gerakan nya naik turun. Meminta Demitri untuk tenang. “Pertama tama kau harus tenang kan dirimu terlebih dahulu, kau tidak akan bisa berpikir jernih jika dalam keadaan emosi seperti ini dan kau tidak akan bisa memikirkan langkah apa yang akan kau ambil kedepan nya jika kepala mu masih di penuhi oleh amarah.”


Ivander mendekati Demitri, menarik Demitri untuk duduk di sofa. Ivander memanggil Rafael, memerintahkan sekretaris Demitri itu untuk membawakan air minum dingin untuk Demitri.


“Bawakan air dingin untuk Kak Demitri.”


Rafael dengan cepat menganggukkan kepala nya, “Baik Tuan Ivander, akan saya bawakan.”


Rafael pergi mengambil air minum sementara Ivander duduk tepat di hadapan Demitri, menghela nafas berat saat ia melihat ke sekeliling.


Betapa berantakan nya ruangan Demitri saat ini, banyak barang barang yang pecah berserakan di lantai.


Tak lama Rafael datang membawakan air minum dingin sesuai dengan apa yang Ivander perintahkan. Ivander mengambil gelas berisi air minum dingin tersebut dari Rafael dan memerintahkan Rafael untuk keluar.


“Ini minum lah, semoga ini bisa membantu mendinginkan kepala mu.” Ivander menyerahkan gelas air minum tersebut kepada Demitri, yang langsung Demitri tenggak hingga tandas.


Ivander tahu kakak nya itu pasti haus setelah berteriak teriak seperti orang gila tadi. Ivander mengambil gelas kosong itu dari Demitri takut takut Demitri kembali melayangkan gelas tersebut sebagai pelampiasan amarah nya.


“Bagaimana apa kepala mu sudah agak dingin?” Tanya Ivander sembari ia kembali duduk di hadapan Demitri, “Bisa kau ceritakan kepada ku apa yang terjadi sehingga aku bisa mengetahui apa aku bisa membantu mu dalam masalah ini atau tidak.”


Demitri diam saja, rasa nya malas menceritakan kejadian pagi ini kepada Ivander.


“Biar ku tebak, Hannah pasti mengatakan hal yang menyakiti harga diri dan perasaan mu kan?” tanya Ivander menebak nebak, dan benar saja tebakan nya tidak meleset.


Hannah memang mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan Demitri, karena itu lah Demitri mengamuk tidak jelas seperti sebelumnya.


“Apa yang dia katakan kepada mu memang nya sampai kau jadi seperti ini?” tanya Ivander lagi.


Cukup lama Demitri terdiam hingga akhirnya ia menjawab pertanyaan Ivander, “Dia bilang dia tidak menginginkan ku.”


“Bukan kah itu wajar? kenapa kau sakit hati, untuk apa dia menginginkan mu sementara dia sudah punya suami?”


Demitri kesal mendengar perkataan Ivander, perkataan Ivander itu tidak membantu apa apa dan justru membuat Demitri semakin kesal.


“Tapi suami nya sudah mengkhianati nya, kenapa juga dia masih memilih bertahan dengan suami ******** nya itu?!” emosi Demitri kembali tersulut.


“Kak, kau ini bukan siapa-siapa. Bagi Hannah kah itu orang yang tidak di kenal nya dan tiba tiba ingin membongkar semua kebusukan suami nya, tentu saja Hannah tidak akan menerima mu. Kau justru terlihat buruk di mata nya. Bukan nya muncul sebagai kesatria penyelamat dalam hidup nya kau justru muncul seperti penguntit dan memaksa Hannah untuk memilih mu.”

__ADS_1


Demitri kembali berdecak sebal mendengar perkataan panjang Ivander, “Kalau kau duduk disini hanya untuk menceramahi ku lebih baik kau keluar. Karna itu tidak berpengaruh kepada ku dan hanya akan membuat ku semakin kesal.”


Ivander mendelik sebal kearah Demitri, kakak nya itu benar benar susah sekali untuk diberi tahu. “Jika kau memang ingin mendapatkan Hannah, pertama Tama kau harus mendekati anak nya dahulu, buat anak nya membenci Ayah nya. Dan menangkan hati anak itu, jika kau bisa merebut hati anak nya maka kau juga bisa merebut hati Ibu nya.”


__ADS_2