MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 40


__ADS_3

“Axel minta adik?” Darlen dengan terkejut bertanya kepada Hannah, mencoba memastikan apakah yang barusan ia dengar itu tidak salah.


Hannah dengan lemas menganggukkan kepalanya, malam ini Hannah, Darlen dan Giovano sedang berdiskusi saat orang yang menjadi topik diskusi mereka tengah tidur dengan lelap di kamarnya.


“Axel bilang teman temannya punya adik jadi dia juga ingin punya adik.”


Darlen tertawa, berusaha menahan agar tawa nya tidak terlalu keras dan berakibat mengganggu tidur Axel. Darlen merasa lucu karena Axel meminta adik begitu saja hanya karena teman nya yang lain memiliki adik.


“Kenapa kau justru tertawa, kau tidak tahu apa dia merengek kepada ku meminta hal yang mustahil untuk ku berikan.” Hannah melirik Darlen jengkel, merasa bahwa tidak seharusnya Darlen menertawakan hal seperti ini.


“Kalau Axel menginginkan adik, maka kita berikan saja apa yang dia inginkan. Kita bisa mengadopsi anak lagi, itu bukan hal yang mustahil. Banyak anak di panti asuhan yang menunggu datangnya orang untuk mengadopsi mereka.” Darlen dengan santainya memberikan solusi, Hannah tahu memang mereka bisa saja melakukan hal itu tapi sebenarnya bukan hal tersebut lah yang paling membuat Hannah pusing.


“Ya aku tahu kita bisa melakukan hal itu tapi bukan itu yang benar benar ku khawatirkan Darlen, bukan tentang Axel yang menginginkan adik yang ku khawatirkan. Tapi mengenai Axel yang selalu terpaku kepada perkataan temannya dan juga apa yang terjadi kepada temannya. Bagaimana jika setelah ini Axel bertanya kenapa aku tidur dengannya tidak seperti orang tua temannya yang tidur sekamar, dan bagaimana jika dengan gamblang bercerita ke temannya bahwa kau dan Giovano yang tidur sekamar. Bukan kah Riko akan di bully nantinya?”


Apa yang Hannah bicarakan benar, Darlen juga tahu bahwa hari itu akan datang. Dan Darlen takut bahwa nanti Axel akan membenci mereka karena merasa malu dengan keadaan keluarga mereka yang aneh ini.

__ADS_1


“Mau tidak mau kita harus menjelaskannya kepada Axel perlahan lahan, aku tidak ingin Axel tahu perihal ini dari mulut orang lain. Yang ada ia hanya akan membenci kita nantinya.” Kali ini Giovano yang angkat bicara, “Aku yakin jika kita menjelaskannya dengan benar maka Axel pasti akan mengerti, Axel itu pintar dan juga berhati lembut. Meski bukan benar benar darah daging kita tapi kita mengenal Axel dengan baik, Axel bukan anak yang seperti itu.”


Hannah dan Darlen menganggukkan kepala mereka setuju, perkataan Giovano benar sekali. Axel itu anak baik, jika mereka menjelaskan dengan baik baik kepada Axel maka Axel pasti akan menerima nya dengan baik pula.


“Dan kau Hannah..” lanjut Giovano sembari menatap serius Hannah yang duduk di sofa sebrangnya, “Apa kau benar benar akan hidup sendiri dan hanya fokus kepada Axel saja? Bukan maksud ku untuk terlalu ikut campur, tapi bukankah alangkah lebih baik jika kau mulai membuka hati mu untuk Demitri dan memulai kisah kalian dari awal kembali?”


Darlen yang duduk disebelah Giovano terkejut dengan perkataan Giovano barusan, ia menoleh kepada Giovano dengan pandangan tak percaya. Setelah urusan Hannah dan Demitri selesai, Giovano justru meminta Hannah membuka hatinya untuk Demitri? Apa Giovano sudah kehilangan akal?


“Apa maksud mu Van, kau menyuruh Hannah untuk membuka hatinya kepada Demitri? Hannah sudah susah payah untuk lepas dari laki laki itu dan kau justru mengatakan hal bodoh ini, aku tahu pekerjaan mu di kantor mungkin sulit sehingga kau tertekan tapi aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan segila ini.”


“Aku mengatakan hal seperti ini bukan tanpa alasan, aku meminta mu untuk mencoba membuka hati mu kembali kepada Demitri karena aku merasa bahwa Demitri benar benar mencintai mu, jujur.. memang awalnya aku menentang Demitri untuk mendekati mu kembali, tapi setelah melihat bahwa Demitri menurut saja saat kau minta untuk berhenti mendekati mu menunjukkan bahwa ia akan melakukan apa saja untuk mu termasuk melepaskan mu, bukan kah itu cinta? aku juga ingat bahwa saat Demitri berpikir bahwa kau sudah benar benar tewas, Demitri menggila. Dia lah orang yang paling tidak bisa menerima kematian mu sampai masuk rumah sakit jiwa.”


Kening Hannah berkerut, ia tidak tahu perihal ini. “Demitri masuk rumah sakit jiwa?”


Demitri menganggukkan kepalanya, tetap berusaha menjelaskannya kepada Hannah meskipun ia mendapatkan tatapan tidak senang dari Darlen. “Demitri merasa sangat menyesal akan segala kesalahannya dan tidak bisa menerima kematian mu sampai sampai ia masuk rumah sakit jiwa. Perusahaan nya hampir hancur dan harus berpindah tangan sementara kepada Ivander. Bahkan setelah Demitri keluar dari rumah sakit jiwa dia tetap tidak bisa kembali seperti semula. Ketergantungan obat obatan dan terus saja masuk rumah sakit karena kasus percobaan bunuh diri sama seperti mu dulu.”

__ADS_1


Mulut Hannah terbuka, terkejut dengan informasi yang baru saja ia dapatkan. Demitri sama menderitanya seperti dirinya dulu? benarkah?


“Tapi aku tidak berani mengambil langkah, aku takut terjatuh lagi saat melangkah. Aku tidak berani.” Hannah menggelengkan kepalanya, kenangan masa lalu masih membekas kuat dibenaknya. Menjadi alasan Hannah untuk enggan memulai kisah baik dengan Demitri ataupun lelaki lain.


“Jikalau kau takut melangkah, maka buka saja pintu hati mu dan biarkan Demitri masuk. Biarkan Demitri yang berusaha berjalan dan masuk kesana. Berikan dia kesempatan untuk membuktikan kepada mu bahwa kalian pantas bersama.”


***


Ivander menghela nafas berat, benar Demitri mengatakan tidak akan melakukan hal hal aneh setelah cintanya ditolak mentah mentah oleh Hannah tapi tetap saja Demitri terus saja murung dan kerjaan dan hidupnya semakin berantakan.


“Kau pasti belum makan malam kan?” Ivander membuka kulkas yang ada di rumah Demitri, kulkas tersebut kosong melompong. Tidak ada apapun bahkan air mineral dingin pun tidak ada. Ivander berdecak melihat hal tersebut, mau tidak mau besok Ivander harus mampir ke mini market untuk belanja keperluan isi kulkas Demitri.


“Sampai kapan aku harus mengurusi mu terus begini, aku juga punya kehidupan ku sendiri. Kapan kau akan menyayangi dirimu sendiri dan berhenti bersikap sembrono. Aku bahkan tidak bisa mencari kekasih karena setiap waktu yang ku miliki ku pakai untuk mengkhawatirkan mu!” Ivander dongkol tentu saja, siapa juga yang tidak kesal terus melihat kakaknys bersikap seolah kiamat di depan mata dan mengabaikan kesehatannya sendiri.


“Bagaimana bisa kau mencintai orang lain jika kau saja tidak bisa mencintai dirimu sendiri.” ujar Ivander lagi sembari mengeluarkan ponselnya, memutuskan untuk memesan makanan siap antar. Lantaran tidak ada makanan satupun dirumah Demitri dan juga Demitri harus makan malam karena Ivander yakin siang tadi pasti Demitri juga tidak makan.

__ADS_1


__ADS_2