
“Syukur lah.. Anak Mama sudah tidak demam lagi.” Hannah mengecup kening Axel lembut, putra nya itu tersenyum manis karena mendapat kecupan dari Hannah.
“Anak Papa sudah sehat rupanya.” Darlen datang menggendong Axel, pagi ini mereka akan sarapan bersama seperti biasanya.
“Kemarin Axel cengeng sekali, Papa sampai pusing.” ledek Darlen sembari mencolek hidung kecil Axel, Axel cemberut setelah mendengar hal itu.
“Axel gak cengeng Papa!!” Axel tidak terima disebut cengeng, padahal kemarin Axel memang benar menangis terus terusan sampai Hannah saja tidak bisa meninggalkan sisi nya.
“Iya.. Iya.. anak Papa itu tidak cengeng, sekarang kita ke bawah ya. Daddy Giovano sudah menunggu dibawah. Kita sarapan sama-sama.”
***
“Kita akan pergi ke Bar itu nanti malam jadi tenang lah dan berkerja lah dengan benar. Jangan lempar semua tugas mu kepada ku terus menerus.” Ivander menyerahkan setumpuk berkas penting yang perlu Demitri pahami dan tanda tangani.
Demitri mengerutkan kening nya tidak senang saat melihat tumpuk‘kan berkas yang Ivander bawakan, tapi meski begitu Demitri tetap mengerjakannya.
Demitri berharap waktu cepat berlalu dan Demitri bisa segera bertemu dengan wanita itu lagi.
***
Hannah menyuapi Axel sarapan, Axel kelihatan sedih saat melihat Giovano sudah selesai sarapan. Pertanda bahwa sudah saatnya untuk Giovano berangkat berkerja.
“Daddy jangan pergi..” rengek Axel, “Main saja sama Axel, Mama dan Papa.”
__ADS_1
Giovano menggelengkan kepala nya, Giovano paham bahwa keinginan Axel adalah mereka berkumpul besama sama. Giovano mengerti keinginan anak kecil seperti Axel.
“Kalau Daddy tidak berangkat kerja lalu siapa nanti yang membeli susu, mainan, dan baju baju kesukaan Axel?” tanya Giovano kepada putra nya itu. Axel terdiam, tampak berpikir keras.
“Tapi kan uang Daddy banyak.” sahut Axel polos, yang mendapat tertawaan dari Darlen dan juga Hannah.
Jawaban Axel itu tidak salah, Giovano memang punya banyak uang. Bukan hanya Giovano, tapi Darlen juga memiliki nya. Di pakai sampai tujuh turunan pun tidak akan habis rasanya.
Tapi tetap saja Giovano harus berkerja, bukan semata mata hanya karena uang tapi juga sebagai tanggung jawabnya.
Giovano bangkit dari kursi meja makannya dan beralih mendekati Axel, Giovano berlutut tepat disamping Axel.
“Daddy memang tidak bisa tetap tinggal dirumah seperti apa yang Axel mau, tapi Daddy janji akan pulang cepat untuk Axel.”
Darlen semakin tertawa melihat kelakuan mereka, Darlen menjadi berpikiran untuk tidak pergi ke Bar nya malam ini. Sehubungan dengan Giovano yang akan pulang cepat.
Mereka berempat akan menghabiskan waktu bersama sama, berkumpul keluarga bersenang senang.
“Kalau begitu Daddy berangkat ya, jangan nakal. Jangan buat Papa dan Mama pusing.” Giovano mengecup kening Axel lembut sebagai salam perpisahan, Axel menganggukkan kepala nya menggemaskan.
“Cepat pulang ya, Daddy.”
***
__ADS_1
Ivander menunjukkan Bar yang ia maksud kepada Demitri, mereka masih berada di parkiran saat ini. Mereka juga datang terlalu awal, sedangkan Bar nya baru akan dibuka 2 jam lagi.
Semuanya karena Demitri tidak sabaran untuk datang, Demitri terus mengatakan lebih cepat lebih baik. Dengan alasan bahwa mereka mungkin bisa bertemu dengan pemilik Bar tersebut saat Bar tersebut akan dibuka.
Meski menunggu dalam waktu yang lama mata Demitri tidak diam saja, Demitri terus memperhatikan sekeliling. Berharap jika wanita yang Ivander sebut ia lihat di Bar ini muncul.
Tapi sampai Bar itu benar benar dibuka dan pengunjung mulai berdatangan, Ivander dan Demitri masih saja tidak bertemu dengan wanita yang mereka cari-cari.
Ivander dan Demitri memutuskan untuk masuk ke dalam Bar dan bertanya kepada salah satu pekerja disana.
Ivander menghampiri seorang bartender, “Bisa kau panggil kan atasan mu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya.” Ucap Ivander kepada bartender bername-tag Peter, itu.
Peter menatap Ivander dengan pandangan ramah, “Maaf sebelumnya ada apa anda mencari Pak Darlen, apakah salah satu pekerja disini ada yang membuat anda tidak senang?”
“Bukan, ini bukan tentang komplain tapi ada yang ingin ku tanyakan kepadanya. Bisa kau panggilkan dia?” Ivander menjelaskan situasinya, namun nampak nya keberuntungan tidak sedang berpihak kepada Ivander ataupun Demitri.
“Maaf, tapi Pak Darlen tidak ada. Hari ini ia ada acara keluarga, mungkin jika hal yang ingin kalian tanyakan itu penting sekali kalian bisa datang lagi besok hari.” Peter memberikan saran kepada Ivander setelah mengatakan berita buruk itu. Tentu saja bagi Ivander dan Demitri ketidak hadiran atasan Peter itu adalah berita buruk bagi mereka karena itu berarti mereka harus menanti lagi.
Demitri tidak tahan, ia yang berada di belakang Ivander melangkah maju mendekat, “Apa kami tidak bisa meminta nomer telepon nya?”
Peter menggelengkan kepala nya, “Maaf tapi saya tidak berani menyerahkan nomer ponsel Pak Darlen ke sembarang orang karena Pak Darlen sangat melarang hal seperti itu.
Demitri berdecak tidak senang, bagaimana ini. Jadi Ivander dan Demitri harus kembali lagi besok? Padahal Demitri sudah berharap lebih sebelumnya. Sayang sekali.
__ADS_1