
“Apa apaan ini? Kau mau menjual ku kepada laki laki itu?!” Hannah marah, ia menunjuk nunjuk wajah Demitri tidak senang. Hannah melirik tajam kearah laki laki yang tengah menunggunya di dalam mobil, laki laki itu sudah setuju akan memaafkan Ivander jika Hannah mau tidur dengannya.
“Aku ini bukan barang Demitri!!”
Rahang Demitri mengeras, ia tidak suka melihat Hannah yang bersikap berani terhadapnya, apalagi berteriak kepadanya. “Jaga bicara mu, ingat kau sedang berbicara dengan siapa.”
“Memangnya kau siapa? Kau hanya manusia sama seperti ku, yang membedakan kita hanya kau punya uang dan kekuasaan dan juga sikap buruk mu itu, kau tidak jauh beda dengan sampah!” Hannah masih meledak ledak, mana mungkin ia tidak marah ketika ada orang yang dengan mudahnya memperjual belikan nya untuk imbalan ‘maaf’.
“Kenapa kau mempersulit keadaan hah? Bukan kah itu hal yang tidak sulit, kau hanya perlu melebarkan kaki mu untuknya, kalau kau bisa melakukan hal itu dengan mudah kepada ku kenapa tidak dengannya, kau ini kan ******* itu sudah tugas mu!” Demitri mengoceh tanpa berpikir setajam apa kalimat yang ia katakan, Demitri mengoceh seolah olah Demitri tidak perduli kalimatnya bisa melukai perasaan Hannah, tentu saja Demitri tidak perduli, Hannah tidak berarti apa apa untuk siapapun.
Hannah tidak ingin tidur dengan laki laki lain, mau Demitri memaksanya atau apapun itu Hannah tetap tidak akan menuruti Demitri, Demitri benar benar sudah sangat keterlaluan.
Hannah ingin menghancurkan Martha, Hannah rela hancur demi mencapai tujuannya itu tapi bukan hancur ditangan Demitri, Hannah hanya akan hancur oleh dirinya sendiri. Tidak ada orang lain yang boleh menghancurkannya, karna ini adalah misi balas dendam Hannah bukan projek untuk menjadi korban dari seorang laki laki tidak tahu diri seperti Demitri.
“Ivander yang berbuat salah lalu kenapa harus aku yang dikorbankan?! Kalau pun kau ingin menukar maaf dari laki laki itu dengan wanita kenapa wanitanya harus aku, aku bukan boneka mu!!”
Demitri berdecih, ia semakin menatap Hannah tajam. Kali ini tangan Demitri ambil kendali mencengkram dagu Hannah kuat kuat. “Kau itu *******, kau harus tahu dimana tempat mu. Jangan membantah dan turuti saja!”
Hannah kembali ingin melawan namun ia tidak bisa, dua orang laki laki bertubuh besar datang menyergap Hannah. Dengan paksa mereka menyeret Hannah untuk masuk kedalam mobil.
Hannah berteriak, berharap ada orang yang menolongnya atau setidaknya Demitri merasa kasihan padanya dan berakhir menolongnya namun nyatanya Demitri justru mengangkat tangannya dan melambai lambaikan tangannya, tersenyum mengejek kearah Hannah.
Iblis. Benar benar iblis.
Hannah mulai meneteskan air mata, Hannah tidak tahu bagaimana lagi cara agar dia bisa lepas dari laki laki yang saat ini membawanya.
“Jangan menangis, aku tidak akan melakukan hal yang buruk padamu.”
Hannah terdiam, ia melirik laki laki yang tengah serius menyetir di depannya. Hannah tidak tahu kemana perginya dua laki laki yang sebelumnya menyeret Hannah masuk ke dalam mobil, kini Hannah baru menyadari bahwa ia hanya berdua di mobil bersama laki laki yang sebelumnya telah bersepakat dengan Demitri.
“Apa maksud mu?” Hannah mengusap air matanya yang mengalir di pipinya, Hannah mencoba untuk berbicara tanpa tersendat sendat oleh tangisannya.
__ADS_1
“Maksud ku, aku tidak akan meniduri mu atau melakukan hal lain yang merugikan mu, aku menyetujui kesepakatan yang Demitri tawarkan semata mata hanya untuk menjaga martabat ku, aku tidak ingin dianggap remeh oleh dua kakak beradik sialan itu.” Laki laki itu berbicara sembari fokus menyetir, sesekali melirik kearah spion untuk melihat ekspresi Hannah.
“Aku bukan orang jahat, nama ku Giovano Renaldi. sekali lagi ku katakan kau tidak perlu takut padaku, sekedar informasi aku ini gay.” ujar laki laki itu terkekeh, ia tak dapat menahan tawanya ketika melihat dari spion bahwa Hannah terkejut atas pengakuannya.
Hannah terkejut tentu saja, kalau laki laki bernama Giovano Renaldi ini gay lalu mengapa ia tadi bertingkah sok marah di depan Demitri karna istrinya ditiduri oleh Ivander, dan yang lebih membuat Hannah bertanya tanya jika Giovano Renaldi gay lalu kenapa ia memiliki istri?
Seolah olah mengetahui isi kepala Hannah, Giovano kembali buka suara, “Aku menikah dengan istri ku semata mata karna perjodohan dan juga orang tua kami, kami sama sekali tidak saling mencintai, aku mencintai orang lain.”
Perasaan Hannah menjadi agak sedikit tenang, setidaknya Hannah tenang karna ia tidak perlu melayani laki laki lain. Melayani Demitri saja sudah membuat Hannah tertekan.
“Kau mau membawa ku kemana? Kalau kau memang tidak akan melakukan hal buruk bisa kah kau turun kan aku di persimpangan jalan sana.”
Hannah berharap sekali Giovano akan menurunkannya namun hingga persimpangan terlewati mobil Giovano masih saja melaju, Hannah mulai kembali panik, Giovano sepertinya tidak benar benar serius dengan perkataannya.
“Aku tidak bisa bertindak ceroboh, aku akan tetap membawa mu ke rumah ku dan aku akan mengantar mu pulang esok hari, agar Demitri tidak curiga.”
Mobil Giovano memasuki sebuah rumah elit yang cukup membuat Hannah terpana, Giovano sepertinya bukan orang sembarangan maka dari itu Demitri dengan kejamnya menyerahkan Hannah sebagai imbalan atas maaf dari seorang Giovano.
Giovano membukakan pintu mobil untuk Hannah, tanpa segan mengajak Hannah memasuki rumahnya.
“Kau sudah pulang say— siapa dia?”
Hannah tersenyum kikuk kepada seorang laki laki yang sedikit agak feminim datang menyambut dirinya dan Giovano.
“Dia orang yang dikirim Demitri untuk membujuk ku sayang, kau sudah makan?” Giovano berbicara lembut, memberikan kecupan hangat di kening kekasihnya itu.
“Oh hai, nama mu siapa, nama ku Darlen Alvarendra, Gio biasa memanggil ku Darlen.” kekasih Giovano itu mengulurkan tangannya ramah, senyum manis tidak pernah luntur menghiasi wajahnya yang bahkan Hannah aku kelihatan sangat cantik, Hannah saja malu mengakui bahwa ia adalah wanita tulen sedangkan laki laki dihadapannya jauh lebih indah darinya.
“Nama ku Hannah Zilvania, kau bisa memanggilku Hannah.” Hannah menjabat tangan Darlen, cukup terkejut ketika Darlen justru menariknya kedalam sebuah pelukan hangat.
“Kenapa wanita semanis dirimu bisa berurusan dengan Demitri? Untung saja Demitri menawarkan dirimu kepada Gio, kalau kepada laki laki lain mungkin kau sudah habis sehabis habisnya.”
__ADS_1
Darlen tidak salah bicara, apa yang Darlen katakan memang benar. Kalau bukan Gio mungkin Hannah sudah digilir oleh laki laki lain karna Demitri.
“Kenapa kau bisa berurusan dengan Demitri?”
Hannah menghela nafas berat, “Aku punya alasan ku tersendiri tapi aku tidak bisa mengatakannya, maafkan aku.”
Darlen tampak mengerti, Darlen menuntun Hannah untuk duduk di sofa ruang tamu. “Santailah anggap saja rumah sendiri, kau harus menetap disini sehari dan besok aku atau Gio akan mengantar mu pulang. Ini semua demi nama baik Gio, tidak ada yang tahu bahwa Gio itu gay, kau akan menjaga rahasia ini kan?”
Hannah mengangguk dengan cepat, tentu saja ia akan menjaga rahasia Giovano, Giovano sudah baik padanya setidaknya itu balasan yang bisa Hannah lakukan.
***
“Kakak, dimana ******* mu itu?” Ivander memasuki ruangan Demitri dengan kekecewaan, niat awal Ivander datang itu ingin mengganggu Hannah, melihat ekspresi tersinggung dan marah Hannah tiap kali Ivander meremehkannya sedikit menghibur Ivander namun Ivander justru tak mendapati Hannah ditempat seharusnya ia berada.
“Hannah sedang bersama Giovano sekarang.”
Alis tebal Ivander bertaut, “Untuk apa Hannah bersama Giovano?”
“Untuk apalagi menurut mu? Tentu saja untuk melayani laki laki sialan itu, Hannah harus melakukannya agar Giovano tidak menuntut mu atas penipuan yang kau lakukan dan juga atas kelakuan bejat mu yang meniduri istrinya.”
Mata Ivander membesar seketika, jawaban Demitri benar benar membuat Ivander terkejut dan tidak terima disisi lain.
“Kenapa kau mencampuri urusan ku kak? Kenapa juga kau libatkan Hannah dalam masalah ini, istri Giovano sendiri yang mau tidur dengan ku tanpa aku paksa dan kini kau justru membuat Hannah harus melayani Giovano? Kau gila!”
Demitri yang awalnya duduk tenang fokus terhadap file file penting yang sedang dibacanya itu mendongak menatap Ivander tajam. “Aku harus melindungi mu, meski harus mengorbankan seratus wanita seperti Hannah itu tidak berpengaruh apapun bagi ku. Kalau kau mau tidur dengan nya kau juga bisa melakukan hal itu, tunggu saja sampai ia kembali dari Giovan—”
“Kau gila kak, kau benar benar gila!” Ivander tidak menyangka Demitri akan sekejam ini terhadap perempuan, “Ku harap kau akan hancur dalam lubang kuburan mu yang kau gali sendiri itu, semoga sukses.”
Ivander keluar dari ruangan Demitri, meninggalkan Demitri yang masih mengeraskan wajahnya. Meski sekelebat wajah pilu Hannah saat meminta bantuannya tadi kembali muncul di ingatannya.
Demitri berdecih pada dirinya sendiri, “Untuk apa aku memikirkannya, dia bukan siapa siapa. Dia mati pun tidak ada urusannya dengan ku.”
__ADS_1
***