
Ivander panik, ia mondar mandir kesana kemari mencari Hannah. Ivander bukannya panik tanpa alasan, Ivander baru saja mengetahui dari dokter bahwasanya Hannah saat ini tengah mengandung.
Dan sialnya kandungan Hannah begitu lemah dikarenakan stress, tekanan dan juga riwayat kecelakaannya sebelumnya.
Ivander panik lantaran dalam kondisi lemah Hannah justru berkeliaran, tidak bisa dipungkiri bahwa besar kemungkinan Hannah akan jatuh pingsan kembali nantinya.
***
Demitri menyetir mobilnya mengikuti mobil polisi di depannya, Martha di culik. Dan untungnya Clara sempat melihat kemana Martha dibawa.
Clara sendiri yang mengadukan hal itu kepada Demitri dan melaporkannya ke pihak polisi.
***
“Kau!” Martha berteriak marah ketika ia melihat Hannah berdiri dihadapannya, “Berani beraninya kau melakukan hal ini padaku! Lepaskan aku atau aku akan menghabisi mu dengan tangan ku sendiri nanti!”
Hannah tersenyum miring, menertawakan kebodohan Martha. “Kau akan menghabisi ku? Sebelum kau bisa menghabisi ku kau pasti sudah mati lebih dahulu ditangan ku!”
“Kau wanita sialan, kau renggut kebahagiaan masa kecil ku, kau buat kedua orangtua ku tiada, kau buat hidup ku hancur, kau buat aku harus tumbuh besar dalam kepedihan dan selalu saja menangis! Kau wanita sialan, kau tidak akan pernah ku maafkan!” Hannah berteriak, ia mengeluarkan segala kekesalan dihatinya, air matanya sudah tidak dapat lagi ia bendung. Kenangan pedih masa lalu terlintas dalam ingatannya.
“Semuanya karna ku? Kalau iya memang kenapa, salah ayah mu yang mudah terayu dan juga salah Ibu mu yang lemah dan bodoh, dan juga salah mu yang begitu lemah hanya karna kesedihan seperti itu saja!” Martha balik berteriak, ia tidak sadar bahwa perkataannya memancing emosi Hannah semakin memuncak.
Hannah dengan emosi meraih sebilah pisau yang sudah dipersiapkan James sebelumnya, Hannah bergerak cepat menggores tajamnya pisau itu tepat di pipi Martha, membuat Martha menjerit kesakitan.
“Wajah mu yang kau banggakan itu memang sudah seharusnya dilukai seperti ini, karna wajah mu itu kau sombong dan karna wajah mu itu kau berani merayu Ayah ku!” Hannah menggerakkan tangannya lagi, menggores lengan Martha dalam dalam. “Dan tangan ini adalah tangan yang sudah meracuni Ayah ku, kau kelihatan cantik dengan darah ditubuh mu”
Hannah menggila, ia terus menciptakan goresan goresan menyakitkan ditubuh Martha tanpa memperdulikan kesakitan dan jeritan Martha.
James yang juga ada di dalam ruangan itu hanya memandang dalam diam, ia cukup terkejut ketika mengetahui betapa benci dan sedihnya Hannah hanya karna wanita sialan itu.
James masih sibuk memperhatikan Hannah hingga tiba tiba ia tersentak tatkala pintu yang sudah ia kunci rapat rapat di dobrak paksa hingga roboh, James membeku ketika melihat polisi berdatangan dengan senjata api ditangan mereka.
“Angkat tangan kalian, kalian terkepung!”
***
Sehari sebelum kejadian
Clara Aurora, teman dari Martha itu duduk santai disofa mewah club yang dikunjunginya, Clara mengedipkan matanya ke setiap laki laki yang melihatnya dengan penuh nafsu.
__ADS_1
Dalam hati Clara tertawa dikarenakan setiap laki laki yang ingin mendekatinya tidak bisa melakukan apa apa karna sosok laki laki angkuh dan juga kejam yang duduk tepat di samping Clara.
Clara memanjangkan lehernya menengok kesana kemari mencari keberadaan Martha, sebelumnya Martha sudah memberitahu Clara bahwa Martha akan datang ke club dan akan bersenang senang lantaran ia banyak pikiran memikirkan calon suaminya.
Mata Clara menyipit fokus pada sosok yang siluetnya Clara kenal, melihat dari caranya bergoyang membuat Clara sadar bahwa orang yang dilihatnya itu benar Martha.
Clara berdecak ketika melihat Martha sibuk bergoyang bersama laki laki bahkan gerakan mereka terkesan intim, dalam hati Clara berpikir pantas saja Demitri selalu menunda bunda pernikahan dan membatasi dirinya dari Martha, Martha saja dengan senang hati melayani laki laki lain disaat calon suaminya mungkin saat ini masih tengah sibuk bekerja untuk masa depannya.
Clara tidak mau ikut campur, ia mengubah pikirannya yang awalnya ingin menghampiri Martha. Biarkanlah Martha bertindak sesukanya, Martha ingin tidur dengan siapapun juga tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Clara hanya memperhatikan bagaimana mereka berusaha keluar dari kerumunan orang orang dilantai dansa, namun Clara mengerutkan alisnya ketika ia melihat wajah dari laki laki yang membawa Martha dengan mesra.
Clara teringat sesuatu, jelas sekali yang Clara ingat Martha pernah membawa laki laki itu kehadapannya, saat itu Clara sedang dalam masalah dengan salah satu laki laki bajingan dan Martha menawarkan bantuan untuk membunuh laki laki kurang ajar itu dengan menggunakan anak buahnya.
Wajah anak buah yang Martha kenalkan hari itu sangat mirip dengan wajah laki laki yang tengah membawa Martha yang mabuk berat itu.
Clara tahu sekali Martha seperti apa, seputus asa apapun Martha ia tidak akan pernah mungkin mau tidur dengan anak buahnya sendiri.
Clara menoleh kearah laki laki yang duduk disampingnya, Clara mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga laki laki itu, mengatakan ia berjanji bahwa malam ini ia akan menemani laki laki itu hingga esok pagi asalkan laki laki itu mau membantunya melakukan sesuatu.
“Apa yang kau inginkan?” laki laki itu memposisikan dirinya untuk duduk tegak, menatap serius kearah Clara.
***
Clara tidak punya maksud apa apa mengikuti Martha dan anak buahnya itu, Clara hanya ingin memastikan saja, jikalau anak buah Martha itu membawa Martha ketempat wajar yang tidak aneh menurut Clara maka Clara akan membiarkan mereka dan pulang dengan Demian. Namun jika Clara melihat ada kejanggalan lain yang membahayakan maka Clara akan melapor kepada polisi dan juga calon suami Martha.
Clara melakukan ini lantaran ia tahu diri, sebelumnya Martha pernah membantunya dan kali ini Clara hanya ingin balas Budi jadi kedepannya Clara tidak perlu segan lagi terhadap Martha yang pernah menyelamatkannya.
“Aneh, untuk apa mereka ke rumah tua itu, area ini sepi sekali tidak ada penduduk lain disini.” mata Clara bergerak nyalang melihat dalam kegelapan, sungguh tidak ada bangunan rumah lain disana selain rumah tua itu dan pepohonan yang lebat tak terawat.
“Ku rasa ini kasus penculikan, mana mungkin mereka ingin bersenang senang ditempat tidak elit seperti ini.” Clara bergegas mengambil ponselnya, hendak mendial nomer Demitri, calon suami dari Martha.
“Bisa saja mereka kemari memang untuk bersenang senang, bisa saja laki laki itu tidak punya uang untuk menyewa hotel mewah. Lagi pula kau sendiri yang bilang kalau mereka saling mengenal satu sama lain jadi untuk apa kau khawatir?” Demian yang duduk di bangku kemudi tampak malas malasan memikirkan tentang masalah Martha, Demian tahu sejak dulu bahwa Martha bukanlah perempuan baik baik.
“Semiskin nya laki laki bagaimana mungkin dia tidak mampu menyewa hotel murah tapi bisa membayar biaya masuk ke Club Alaskar, kau tahu sendiri kan Club itu bukan Club murah yang bisa dimasuki sembarangan.” Clara tetap bersikukuh pada pendapatnya.
“Baiklah, hanya saja tunggu sampai esok hari. Kita lihat jika sampai dua puluh empat jam Martha tetap tidak ada kabar juga, kau bisa hubungi calon suaminya dan polisi. Semuanya terserah padamu, sekarang kau hanya perlu menepati janji mu untuk menemani ku.”
Clara berdecak kesal, “Ingat aku ini adik ipar mu, Demian sialan.”
__ADS_1
***
Clara sudah menanti sepanjang hari dan menghubungi ponsel Martha berkali kali namun tetap tidak ada jawaban.
Hari sudah mulai gelap, Clara semakin yakin kalau kemarin malam Martha diculik oleh anak buahnya sendiri.
Clara mengambil tasnya berlari terburu buru keluar dari mansion Demian, saat keluar ia berhadapan dengan salah satu anak buah Demian yang entah sejak kapan ditugaskan sebagai supir pribadi Clara.
“Antarkan aku ke alamat ini.” Clara memberikan kertas kecil kepada supirnya itu, ia akan mengunjungi Demitri sembari menelepon polisi.
***
Clara merasa ada yang aneh, entah kenapa saat Clara mengatakan Martha sedang diculik Demitri tidak kelihatan panik sama sekali, atau itu karna ia selalu berekspresi datar.
Saat Clara pindah menjadi satu mobil dengan nya pun Clara tidak merasakan hawa kecemasan dari Demitri, ia hanya menyetir dalam diam mengikuti mobil polisi di depan.
Clara turun dari mobil bersama dengan Demitri, melangkah di belakang membiarkan polisi membekuk pelakunya dahulu sebelum mereka ikut masuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
Clara menutup mulut dengan tangannya ketika ia melihat kondisi Martha, darah dimana mana, kondisi Martha sangat kacau.
“Demitri s-sayang, tolong a-aku.” Martha yang kondisinya terikat dan berdarah darah memanggil Demitri, sementara polisi tengah memborgol dua pelaku yang menculik dan melukai Martha.
Clara terkejut ketika ia melihat kearah dua pelaku yang diborgol oleh polisi, Clara tahu benar siapa dua orang itu. Yang satunya adalah anak buah Martha dan satunya lagi adalah anak tiri Martha. Sosok yang selalu Martha bicarakan kepada Clara, sosok yang sangat Martha benci setengah mati.
“P-penjarakan dia, dia yang melakukan ini padaku.” Clara bisa melihat Martha menangis dalam pelukan Demitri, darah ditubuh Martha bahkan berpindah ke kemeja yang Demitri kenakan.
Clara merasa kasihan, bukan kepada Martha melainkan kepada anak tiri Martha, bagaimana nasib nya jika ia benar benar dipenjara? Masa mudanya hancur hanya untuk karna perang dendam yang entah kapan akan terselesaikan.
Diantara suara tangisan Martha dan makian Hannah, ponsel Demitri tiba tiba saja berdering. Demitri mengangkatnya terburu buru lantaran itu panggilan dari adiknya.
“Ada apa?”
“Kau harus dengar perkataan ku ini baik baik.”
“Ya, apa? Aku sedang tidak dalam keadaan bisa mendengar omong kosong mu.”
“Hannah hamil.”
“a-apa?!”
__ADS_1