MY REVENGE

MY REVENGE
BAB 48


__ADS_3

Sudah selama seminggu ini Axel setiap pulang sekolah selalu di jemput oleh Hannah dan juga Demitri, Axel tidak merasa terganggu justru merasa senang karena setiap pulang sekolah menjadi lebih menyenangkan.


Tapi Axel tidak bisa memungkiri bahwa ia merindukan makan siang bersama dengan Darlen, karena seminggu ini Axel selalu makan siang bersama dengan Ibu nya dan juga Demitri.


Makan bersama dengan teman Ibu nya itu memang menyenangkan, tapi Axel tetap saja merindukan makan siang dengan Darlen di rumah mereka. Meski Axel tetap makan malam bersama dengan Darlen dan juga Giovano, tetap saja Axel sudah terbiasa makan siang dengan Darlen sebelumnya.


Meski ada Demitri sekalipun, posisi Demitri tetap tidak bisa menggantikan posisi Darlen.


Sekarang ini Axel, Hannah dan Demitri sedang berada di mobil. Mereka telah makan siang bersama dan sekarang Demitri sedang mengantarkan nya ke rumah.


“Kau tahu Demitri kau tidak perlu repot-repot menjemput Axel terus seperti ini, aku saja yang menjemput Axel sudah cukup. Pekerjaan mu pasti menanti mu sedangkan kau justru membuang buang waktu mu dengan kami.” ucap Hannah pelan kepada Demitri yang sedang menyetir, berusaha agar suara nya tidak terdengar oleh Axel yang duduk di kursi belakang.


“Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Pekerjaan ku bukan lah masalah.” balas Demitri dengan suara yang pelan juga.


Tentu saja Demitri tidak merasa kerepotan dengan hal ini, justru ini kesempatan emas bagi Demitri untuk bisa lebih dekat dengan Axel dan juga bisa menghabiskan waktu dengan Hannah.


Demitri menghentikan mobil nya tepat di depan rumah Giovano, turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Hannah dan juga Axel.


Axel yang turun dari mobil Demitri langsung berlari masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan terima kasih kepada Demitri. Sementara Hannah masih bersama dengan Demitri.


“Teeima kasih karena telah mengantar kami, ku hargai perjuangan mu. Sampai jumpa besok.” Hannah berjinjit dan mengecup bibir Demitri singkat sebelum ia menyusul Axel masuk ke dalam rumah.


Meski hanya kecupan singkat, Demitri sudah bahagia bukan main karena hal tersebut. Memang Hannah memberikan kecupan tersebut sebagai rewards untuk Demitri selama seminggu ini yang telah menyempatkan dirinya untuk selalu ikut menjemput Axel dan makan siang dengan mereka serta mengantar mereka pulang hingga selalu telat kembali ke kantor.


Kecupan yang Hannah berikan membuat Demitri semakin bersemangat, Demitri akan semakin giat untuk menjemput Axel, hitung hitung sekaligus berkencan secara tidak langsung juga dengan Hannah.


***


Rafael mengernyitkan keningnya kebingungan saat melihat Demitri yang kembali ke kantor dengan senyum lebar dan juga Rafael perhatikan Demitri terus saja menyentuh bibirnya.


Meski kebingungan dan penasaran Rafael memilih untuk diam saja dari pada ia bertanya dan akan terkena omelan nantinya, lagi pula sebagai seorang sekretaris itu bukan urusan Rafael untuk mengetahui hal apa yang menyebabkan Demitri terus senyum-senyum seperti itu.


Tapi jika dipikir-pikir Rafael menjadi teringat gosip yang beredar diantara para karyawan di perusahaan akhir akhir ini.


Tentu saja gosip mengenai atasan nya, yang bukan lain adalah Demitri sendiri.


Demitri sering keluar kantor lebih dulu sebelum makan siang dan kembali terlambat namun dengan senyum lebar nya, suasana hati Demitri bagus sekali akhir-akhir ini membuat hal tersebut menjadi bahan gosip bagi para karyawan karena sebelumnya yang karyawan lihat dari Demitri itu selalu wajah muram dan juga amarah.

__ADS_1


Demitri selalu terlihat suram dan memarahi setiap karyawan habis-habisan meski karena kesalahan kecil saja. Tapi akhir-akhir ini Demitri justru berbeda sehingga membuat para karyawan berspekulasi bahwa Demitri sedang jatuh cinta.


Rafael memang sudah tahu bahwa Demitri jatuh cinta, dan kepada siapa Demitri jatuh cinta tentu saja kepada mantan rekan kerjanya yaitu Hannah.


Tapi karyawan lain tidak ada yang tahu dan mereka bertanya-tanya siapa kiranya wanita beruntung yang mendapatkan hati dari laki laki kaya raya seperti Demitri.


***


Sama seperti hari hari sebelumnya Demitri kembali berangkat awal menuju rumah Hannah untuk menjemput Hannah dan mereka berdua akan pergi bersama sama untuk menjemput Axel dari sekolah dan makan siang bersama.


Saat melihat wajah Hannah, Demitri menjadi teringat kecupan yang Hannah berikan kepadanya kemarin. Demitri tidak mengerti kenapa dirinya menjadi bersikap seperti anak remaja yang baru jatuh cinta seperti ini.


Tapi jujur saja melihat Hannah membuat jantung Demitri berdebar lebih kencang dari biasanya.


Saat Hannah telah masuk ke dalam mobil, Demitri melajukan mobilnya menuju sekolah Axel. Sekolah Axel tidak jauh jadi tidak butuh waktu lama untuk kesana.


Sesaat mereka sampai di depan sekolah Axel, lima menit setelah nya bel pulang berbunyi dan anak anak mulai keluar dari kelas masing masing. Saat itu pula lah Hannah dan Demitri turun dari mobil untuk menyambut Axel seperti biasanya.


Dari kejauhan Axel terlihat berlari mendekati mereka, Axel tersenyum kearah Hannah namun kemudian senyum Axel luntur saat melihat Demitri.


Mungkin Hannah tidak menyadari hal tersebut namun Demitri menyadarinya, dan perasaan Demitri mulai tidak enak. Merasa seolah ada sesuatu dengan Axel dan itu menyangkut dirinya.


Demitri membukakan pintu mobil untuk Axel, perasaannya masih tidak enak, namun Demitri berusaha untuk menyingkirkan pikiran itu dan tersenyum.


Axel dan Hannah sudah masuk ke dalam mobil, Demitri menoleh kearah mereka berdua.


“Nah, hari ini Axel mau makan apa. Kita mau makan siang dimana?” tanya Demitri sebelum melajukan mobil nya.


“Axel mau pulang, Axel mau makan siang sama Papa Darlen.”


Hannah terkejut mendengar perkataan Axel itu, “Axel tidak mau makan siang sama Om Demitri?”


Axel menggelengkan kepala nya, “Axel mau makan siang sama Papa Darlen, kemarin kemarin kan sudah sama Om Demitri. Papa Axel kan Papa Demitri bukan Om Demitri jadi kenapa Axel sama Om Demitri makan siang sama Om Demitri terus sedangkan Papa di rumah sendirian.”


Ah, Demitri tidak bisa mengatakan apapun. Jadi ini perasaan tidak enak yang ia rasakan itu. Senyum Axel luntur saat melihat kehadiran nya karena Axel merasa jenuh dengan Demitri yang terus datang dan berusaha mengambil waktu yang bisa Axel habiskan bersama Papa Darlen nya itu.


Axel hanya menganggap Demitri sebagai teman dari Ibu nya, dan Axel senang dengan Demitri karena Demitri baik tapi Demitri paham bahwa Axel pasti juga akan merasa kesal jika terus ditempeli begitu.

__ADS_1


Demitri melirik kearah Hannah yang juga memandang kearahnya, Hannah seolah simpati terhadap Demitri dan mengatakannya melalui pandangan matanya.


Demitri mengangguk kepada Hannah, memberi tanda bahwa ia tidak apa-apa dan ini bukan masalah besar, tentu saja Axel akan lebih memilih Darlen di banding dirinya. Darlen yang sudah ada dengan Axel sejak kecil sementara Demitri bukan siapa-siapa.


Demitri melajukan mobil nya dalam diam, dalam mobil tersebut hanya ada suara senandung pelan dari Axel sembari melihat lihat jalanan dari balik jendela. Axel dengan polosnya tidak mengetahui bahwa penolakannya untuk makan siang dengan Demitri menimbulkan luka goresan kecil di hati Demitri.


“Sudah sampaai..” Demitri dengan riang membukakan pintu mobil untuk Axel, Axel melompat turun dari mobil Demitri dan tertawa kearah Demitri.


“Terima kasih Om sudah jemput Axel. Axel masuk ya Om, dada~”


Seperti biasa Axel masuk ke dalam rumah lebih dulu sembari berlari riang, meninggalkan Hannah dengan Demitri berdua.


“Kau tidak apa apa?" tanya Hannah kepada Demitri, Demitri menoleh dan menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia tidak apa-apa, Demitri tidak punya alasan untuk merasa kesal bukan, ia bukan siapa-siapa Axel.


“Tidak apa-apa, wajar saja Axel ingin makan siang dengan Darlen. Selama ini kan kalian selalu makan siang bersama, aku saja yang tiba tiba muncul dan mencuri waktu kebersamaan nya dengan Darlen.” Demitri tersenyum pahit, awalnya ia sudah besar kepala bahwa Axel akan sangat menyukai nya dan perjalanan Demitri untuk bisa mendapatkan Hannah dan juga Axel akan mudah, namun nyatanya tidak semudah itu.


“Jangan berkecil hati.” ujar Hannah pelan sembari menepuk bahu Demitri.


“Oh ya, besok weekend. Apa kau dan Axel bisa ikut dengan ku. Aku ingin mengajak kalian jalan-jalan.” Demitri berusaha untuk menceriakan kembali suasana, ia teringat dengan rencana nya untuk mengajak Hannah dan Axel jalan-jalan besok.


Sebenarnya Demitri hendak mengajak saat mereka makan siang bersama tadinya, tapi berhubungan mereka tidak jadi makan siang bersama Demitri jadi menanyakan nya sekarang.


Senyum Demitri pudar saat melihat ekspresi wajah Hannah, Hannah menatapnya dengan pandangan bersalah. Demitri tahu jawaban nya, Hannah tidak bisa.


“Maafkan aku tapi kami akan pergi dengan Giovano dan Darlen besok ke taman binatang. Axel sudah memintanya sejak lama, Giovano juga sudah merencanakan nya dari jauh-jauh hari. Sekali lagi maafkan aku, mungkin kita bisa pergi dengan Axel lain kali.”


Demitri berusaha untuk menyembunyikan kekecewaan nya, ia tersenyum dan mengangguk. “Ya tidak apa-apa. Masih banyak waktu ke depannya, kita bisa pergi bersama lain kali.”


Hannah meraih tangan Demitri dan menggenggam nya erat, “Kau tidak perlu sedih, besok malam kau dan aku bisa pergi bersama meski tanpa Axel. Kalau di ingat-ingat setelah aku memberikan mu kesempatan, kita belum pernah pergi berdua, berkencan hanya ada kau dan aku.”


Demitri yang awalnya sempat murung kembali bersemangat, Demitri menatap Hannah dengan pandangan tidak percaya.


“Ka-kau serius?”


Hannah menganggukkan kepalanya, “Iya aku serius, pastikan besok malam kau membawa ku ketempat yang bagus. Aku tidak ingin kencan pertama kita di tempat yang buruk. Kau harus memilih tempat dengan benar.”


Demitri dengan semangat mengacungkan Ibu jari nya. “Tenang saja aku tidak akan mengecewakan mu.”

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu sekarang kau kembali ke kantor mu, ah iya. Jangan lupa makan siang, hanya karena kau tidak bisa makan siang dengan ku dan Axel hari ini jangan sampai kau melewatkan makan siang mu.”


Demitri tertawa mendengar nasehat dari Hannah, “Iya, kau tidak perlu khawatir. Kalau begitu aku pergi dulu.”


__ADS_2