
Darlen sudah ada di rumah saat melihat Hannah dan Axel pulang diantar oleh Demitri, ada rasa kesal tentu saja dalam hati Darlen melihat wajah Demitri meski Darlen hanya melihat nya dari balik jendela sekalipun.
Tapi saat melihat betapa bahagia nya Axel, melihat bahwa Axel pulang ke rumah dengan senyum lebar membuat Darlen ikut tersenyum dan merasa bahagia, sepertinya Axel dan Demitri akur dan bagus nya Demitri bisa membuat Axel senang.
Awal nya Darlen sudah bersiap untuk memaki Demitri habis-habisan jika Demitri justru membuat Axel tidak nyaman ataupun terlalu menekan Axel, tapi sepertinya semuanya justru berjalan lancar. Bagus lah jika begitu adanya.
“Kalian sudah pulang, bagaimana makan siang nya?” tanya Darlen menyambut Hannah dan juga Axel, ditangan Axel ada dua 2 mainan yang Darlen yakini pasti pemberian dari Demitri. “Wah.. Axel bawa apa, dari siapa itu sayang?”
Axel semakin melebarkan senyuman nya, senang bahwa Darlen bertanya. Karena ia memang sangat ingin menceritakan tentang mainan nya ini kepada Darlen.
“Om Demitri yang belikan untuk Axel, Pa. Om Demitri baik ya, belikan Axel robot yang besar.” Axel masih dengan bersemangat nya menunjukkan robot pemberian Demitri itu, Darlen menganggukkan kepala nya melihat Axel yang dengan bangga nya memamerkan mainan baru nya itu.
Darlen akui Demitri itu cerdik, merayu Axel dengan mainan. Tentu anak kecil pasti akan luluh dengan mainan, jika Demitri secerdik ini maka tidak butuh waktu lama bagi Demitri untuk benar benar bisa mendapatkan hati Axel.
***
“Bagaimana, apa Demitri melakukan hal yang aneh-aneh? Dia tidak terlalu berlebihan dan memaksakan diri untuk dekat dengan Axel kan?” Darlen bertanya kepada Hannah, kini hanya ada mereka berdua. Axel sudah pergi ke kamar nya. Ingin bermain dengan mainan baru nya itu.
“Tidak Darlen, Demitri tidak begitu. Kau terlalu berpikir buruk tentang Demitri, Demitri tidak melakukan hal yang aneh-aneh.” Hannah duduk di sofa, duduk tepat di sebelah Darlen. “Kau sendiri bagaimana, apa kau dan Giovano makan siang romantis bersama?”
“Romantis apanya, kami hanya makan siang biasa dan ya pembahasan kami tidak jauh jauh dari Axel.”
Hannah mengangguk mengerti, memang pasti berat bagi Darlen melepaskan anak yang ia sayangi pergi dengan laki-laki yang amat dibenci nya setengah mati.
__ADS_1
“Kau benar benar akan menikah dengan Demitri?" tanya Darlen lagi, kali ini ekspresi wajah nya lebih serius dari sebelumnya.
Hannah tertawa melihat ekspresi Darlen itu, dan juga menertawakan pertanyaan Darlen yang menurutnya Darlen berpikir terlalu jauh.
“Aku belum memutuskan untuk menikah dengan nya, lagi pula aku ini baru memberikannya kesempatan bukan untuk menikah dengannya langsung. Urusan menikah, itu bisa dipikirkan lain kali, dan juga fokus utama ku masih pada Axel.” ucap Hannah sembari mengingat ingat tentang Demitri, setelah melihat bagaimana Demitri memperlakukannya dan juga Axel memang telah menunjukkan betapa Demitri tidak main main ingin menjalin hubungan yang serius dengan dirinya.
Melihat tindakan Demitri saja Hannah sudah tahu bahwa Demitri amat sangat mencintainya, namun Hannah masih belum berani untuk melangkah ke pelaminan dengan Demitri.
“Setelah ku pikirkan lagi, memang ada baik nya jika kau dan Demitri menikah. Dengan begitu Axel bisa memiliki keluarga yang sebenarnya, memiliki Ayah dan Ibu. Kau tahu bukan bahwa sampai kapan pun Axel tidak akan pernah bisa menjadi anak ku dalam hukum, karena hubungan ku dan Giovano itu terlarang.” Ucap Darlen pelan, hal ini juga lah yang sebelumnya Darlen bahas degan Giovano saat makan siang bersama. Giovano juga memikirkan hal yang sama.
“Aku juga ragu Axel bisa menerima keadaan ku dan juga Giovano, sebaik apapun Axel. Sebaik apapun kita mendidiknya untuk berpikiran terbuka. Jika Axel mendapatkan perlakuan berbeda dari orang-orang sekelilingnya karena aku dan Giovano. Axel pasti akan membenci kami karena telah membuat hidup nya menderita. Jadi sebelum hal itu terjadi ada baik nya jika kau segera berkeluarga.”
Hannah memperhatikan Darlen yang tampak menahan air mata nya, setiap kali membahas hal seperti ini Darlen selalu menahan perasaan nya. Padahal Hannah tahu bahwa hal itu berat bagi Darlen. Menjadi orang yang berbeda itu tidak mudah, Hannah mencoba untuk menghangatkan suasana kembali dengan candaan nya.
“Jadi kau akan melepaskan ku untuk Demitri, padahal kau benci setengah mati kepadanya. Apa sekarang kalian sudah berada di pihak yang sama?” goda Hannah sembari mengikut lengan Darlen.
Darlen dan Demitri berada di pihak yang sama? Mana mungkin.
“Aku masih belum sepenuh nya percaya kepada Demitri, tapi melihat dari dua orang yang ku sayangi di dunia ini mendukung laki laki itu. Aku tidak bisa apa-apa bukan? Tidak ada salahnya juga memberinya kesempatan, manusia bisa berubah.”
Hannah menganggukkan kepalanya, tersenyum dan bersandar manja di bahu Darlen. “Kau tahu Darlen, aku bahagia sekali bertemu dengan mu. Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini dan berpikiran bahwa diriku tidak berharga dan mati adalah satu satu nya jalan untuk ku. Tapi kau datang dan berusaha menunjukkan kepada ku bahwa diriku berharga, bahwa aku tidak sendirian. Aku tidak tahu bagaimana jadinya aku tanpa adanya dirimu.”
Darlen juga ikut tersenyum, mengusap lembut puncak kepala Hannah yang bersandar di bahu nya. “Aku juga tidak tahu bagaimana jadinya diriku tanpa dirimu. Aku selalu merasa kesepian meski aku memiliki Giovano, keberadaan mu juga sebuah kebahagiaan bagiku. Meski kita tidak memiliki ikatan darah, kau tetap adik ku tersayang.”
__ADS_1
Hannah kembali tertawa, “Seandainya kau bukan kekasih Giovano pasti aku akan menjadikan mu suami ku.”
“Hati hati dengan ucapan mu, kalau Giovano mendengar bisa bisa dia memukul kepala mu dengan tas kerja nya.” balas Darlen sembari tertawa.
***
“Bagaimana, lancar?” Ivander datang ke ruang kerja Demitri sembari membawa berkas berkas penting yang harus Demitri tanda tangani.
Laki laki itu duduk dengan santai di sofa setelah menaruh berkas yang dibawa nya itu ke atas meja kerja Demitri.
Ivander melihat Demitri tersenyum lebar, melihat senyum itu Ivander sudah dapat mengetahui bahwa proses mendekati anak Hannah yang berkedok makan siang bersama itu berjalan mulus.
“Aku turut senang kalau memang semuanya berjalan lancar, setidaknya aku tidak perlu melihat wajah murung menyedihkan mu itu lagi.” Ivander dengan santai nya menaikkan kaki nya ke atas meja, berusaha mencari posisi ternyaman untuknya.
Ivander merasa kelelahan tentu saja, setelah sibuk mengambil alih semua pekerjaan Demitri tiap kali Demitri pergi untuk mengejar cinta nya itu.
“Ivander, kau juga seharusnya mulai mencari kekasih. Apa kau ingin menjadi bujang lapuk selamanya?”
Ivander mengernyit dan menatap dongkol Demitri, bujang lapuk katanya. Ivander begini juga karena siapa, karena pusing mengurusi Demitri yang selalu patah hati.
“Kau pikir aku bisa mencari kekasih setelah melihat bagaimana menderitanya dirimu hanya karena cinta? aku lebih baik menjadi bujang lapuk dari pada harus menjadi budak cinta seperti dirimu.”
Ivander sudah cukup puas dengan hidupnya, bercinta dengan banyak wanita tanpa harus terikat. Ivander menyukai kebebasan yang dimilikinya itu.
__ADS_1
Memiliki perasaan cinta seperti apa yang Demitri rasakan kepada Hannah hanya akan membuat Ivander berakhir menyedihkan. Ivander tidak ingin melalui apa yang kakak nya alami.
“Tidak usah pusingkan tentang diriku, kau lebih baik berfokus mengambil hati calon anak mu itu. Dengan begitu kau dan Hannah bisa segera menikah.”