
Niat awal Ivander pergi ke Bar adalah untuk bersenang senang, namun pulang dari Bar bukannya bahagia Ivander justru pusing.
Bayangan wanita yang mirip dengan Hannah itu masih terus berkeliaran dipikiran Ivander, Ivander menjadi ingin bertanya kepada Demitri dimana Demitri sebelumnya melihat wanita yang mirip dengan Hannah.
Namun Ivander takut jika ia bertanya yang ada Demitri justru kambuh dan kembali tidak terkendali lagi.
Ivander benar benar merasa serba salah, ia ingin mengabaikan saja hal itu namun ia tidak bisa. Ivander tidak pernah meragukan matanya sedikitpun sejak dulu, ia tidak pernah salah melihat.
Apalagi Ivander tidak percaya dengan hal hal mistis jadi tidak mungkin itu hantu Hannah, amat sangat tidak masuk akal.
Ivander akan mencari tahu tentang wanita itu meski Elijah sudah mengatakan bahwa tidak ada wanita yang mirip Hannah berkerja disana tapi Ivander masih tidak ingin menyerah begitu saja.
***
Hari ini adalah hari dimana Demitri harus pergi ke rumah sakit untuk Check Up rutin nya.
Sebenarnya Demitri malas sekali pergi ke rumah sakit karena ia tahu bahwa dokter akan mengatakan hal yang sama seperti sebelum sebelumnya, meminta Demitri untuk tidak lupa minum obat, perbanyak bergaul dengan orang lain agar pikiran pikiran gila Demitri tidak sering bermunculan.
Demitri merasa tidak ada gunanya sebenarnya pergi ke rumah sakit, namun Demitri menghindari pertengkaran dengan Ivander. Jika Demitri tidak pergi ke rumah sakit masa sudah dapat di pastikan bahwa Ivander akan mengamuk da mengganggu Demitri.
Dari pada bertengkar dengan Ivander, Demitri lebih memilih mengalah dan pergi ke dokter seorang diri.
Demitri turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobil miliknya itu, cepat cepat menuju resepsionist untuk mengatur pertemuannya dengan dokter yang telah dijadwalkan dari jauh jauh hari.
Tidak banyak hal yang terjadi selama pemeriksaan, semuanya sesuai dugaan Demitri. Sama saja.
__ADS_1
Demitri keluar dari ruangan dokter sembari membawa kertas resep yang harus ia tebus, tanpa melihat Demitri sudah tahu obat apa yang harus ia tebus. Itu obat yang sama seperti yang ada dirumah, obat yang selalu Ivander paksa untuk Demitri minum.
“Hannah!”
Langkah Demitri berhenti seketika mendengar suara seseorang memanggil orang lain dengan sebutan Hannah.
Jantung Demitri berdebar debar kencang, selalu saja seperti ini Demitri tidak bisa mendengar kata ‘Hannah’ sedikitpun.
Demitri menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran pikiran aneh dikepala ya dan berusaha untuk menenangkan detak jantungnya, Demitri harus menebus obat.
***
“Hannah!” teriak Darlen kepada Hannah yang berjalan lebih dulu dihadapannya, “Dompet mu tertinggal, bagaimana bisa kau menebus obat tanpa membawa dompet.”
Darlen memberikan Hannah dompetnya, Darlen sedang menggendong Axel yang tengah sakit saat ini.
Untungnya Axel tidak sakit parah, dokter juga sudah memberikan resep obat untuk Axel. Dan sekarang ini Hannah bermaksud untuk menebus obat itu sementara Darlen akan menemani Axel ke toilet untuk buang air kecil.
“Kalau kau selesai lebih dulu, kau langsung ke mobil saja dan tunggu kami disana.” Darlen berbalik lawan arah dengan Hannah, melangkah menuju toilet dengan Axel dalam gendongannya.
Hannah kembali melanjutkan tujuannya untuk menebus obat Axel. Sejenak Hannah bersyukur bahwa ia tidak perlu mengantri untuk menebus obat, hanya ada satu orang lain yang juga sedang menebus obat disana.
“Permisi..”
***
__ADS_1
Demitri menyodorkan resep miliknya kepada seorang apoteker, menunggu apoteker tersebut mengambilkan obatnya. Demitri merasa ingin cepat pulang, ia benci berada dilingkungan rumah sakit.
Demitri meminggirkan tubuhnya sedikit saat merasa ada orang lain yang juga ingin menebus obat, awalnya Demitri merasa biasa saja namun setelah Demitri mendengar orang tersebut bicara dengan apoteker, tubuh Demitri mendadak menegang.
Demitri mengenal suara itu, suara itu terasa sangat familiar di telinganya. Dan karena hal itu lah Demitri merasakan tangan nya bergetar hebat. Apakah ini halusinasi lagi?
Demitri dengan cepat menoleh, melihat sosok perempuan yang berdiri disampingnya yang tengah menebus obat itu.
Mata Demitri melebar ketika melihat wanita itu, kenapa.. kenapa wanita itu mirip sekali dengan Hannah?
Jangan bilang ini halusinasi lagi, jika benar ini halusinasi maka Demitri sudah semakin parah. Sebelumnya ia tidak pernah berhalusinasi setelah minum obat. Tapi kali ini..
Demitri terlalu larut dalam pikirannya sampai tidak mendengar saat apoteker memanggil namanya untuk membayar obat yang Demitri ingin tebus.
Jantung Demitri benar benar tidak terkendali sesaat wanita itu berbalik hendak pergi. Demitri melihat wajahnya dengan jelas, wanita itu percis sekali dengan Hannah.
Demitri tidak tahu harus melakukan apa, ia hanya spontan menarik pergelangan tangan wanita itu saat melihat wanita itu hendak pergi menjauh.
Kini wanita itu menoleh menatap Demitri, mereka sangat dekat sehingga Demitri bisa menatap wajah wanita itu dengan amat sangat jelas. Tidak mungkin jika ini halusinasi.
“Maaf, anda siapa?” tanya wanita itu kepada Demitri.
Air mata Demitri meluruh turun membasahi pipinya, mana mungkin ini halusinasi. Suara itu, wajah itu. Semuanya terasa jelas. Seolah olah wanita yang dihadapannya ini benar benar Hannah.
“Hannah..” desis Demitri pelan masih dengan air matanya yang terus meluruh turun.
__ADS_1
Wanita itu memiringkan kepalanya, semakin menatap Demitri dengan tatapan bingung.
“Iya saya Hannah, anda siapa? Apa kita saling mengenal?”