MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 24


__ADS_3

“Duh senyum nya lebar sekali anak Mama.” Hannah menggoda Axel yang duduk di kursi meja makan dengan senyum riang nya.


Axel sudah rapih dengan seragam sekolah nya yang lucu berwarna biru, tak lupa rambut Axel telah Hannah sisir dengan rapih. Itu semua juga atas permintaan Axel.


“Anak Papa sudah rapih ya.” Darlen yang baru keluar dari kamar menyapa Axel, memberikan kecupan selamat pagi di pipi gembul putra nya itu. “Semangat sekali seperti nya yang mau berangkat sekolah.”


Darlen juga ikut menggoda Axel, Axel justru menganggukkan kepala kecil nya dengan semangat. Axel sudah tidak sabar bertemu dengan teman teman baru. Pasti sangat menyenangkan.


Biasanya Axel selalu hanya bermain dengan Hannah dan Darlen, bergantian sesaat Giovano berkerja. Dan bermain dengan Giovano saat Giovano pulang kerja sementara Darlen pergi mengurus Bar milik nya.


Bertemu dengan teman baru adalah hal yang sudah sejak lama Axel inginkan, mengingat di daerah tempat tinggal nya ini tidak ada teman seumuran nya yang bisa diajak bermain.


“Daddy sudah siap siap Pa? harus bulu bulu, nanti Axel tellambat.” ujar Axel masih dengan gaya bicara nya yang lucu, anak berusia 4 tahun itu masih kesulitan untuk menyebut huruf R.


Darlen melirik jam besar yang tergantung di dinding, tertawa ketika melihat pukul berapa sekarang. “Ya ampun Axel sayang, ini masih pagi sekali. Kau tidak akan terlambat, kau hanya terlalu bersemangat.” Darlen mencubit gemas hidung Axel, putra nya itu benar benar sangat tidak sabar untuk berangkat ke sekolah.


“Ada apa ini pagi pagi sudah ramai sekali.” Giovano datang dengan setelah rapih nya, sebelum duduk di kursi nya ia mengecup pipi gembul Axel terlebih dahulu. “Wah Axel sudah rapih ya. Sudah siap berangkat sekolah?”


Axel menganggukkan kepala nya dengan penuh semangat, “Siap Daddy!”


Giovano tertawa mendengar jawaban lantang penuh semangat dari Axel. “Kalau begitu habis kan sarapan nya ya, setelah sarapan kita akan langsung berangkat. Akan Daddy antar-kan Axel sampai ke kelas nanti, bukan hanya sampai gerbang sekolah saja.”


Axel kembali menganggukkan kepala nya, mulai memakan makanan nya kembali. Meski Axel masih berantakan saat makan sendiri, Axel tetap melakukan nya. Ia harus mulai mandiri dan tumbuh besar. Tidak boleh terus menerus di suapi oleh orang tua nya.


***


Demitri sudah siap dengan pakaian rapih nya, Demitri mengambil kunci mobil nya yang terletak di atas meja. Hari ini tujuan Demitri bukan lah kantor nya.

__ADS_1


Melainkan Demitri akan pergi ke sebuah taman kanak kanak, lebih tepat nya sekolah dari anak Hannah.


Menurut informasi yang Demitri dapatkan dari orang kepercayaan nya, hari ini adalah hari pertama anak Hannah masuk ke sekolah taman kanak kanak nya.


Demitri berpikir pasti Hannah akan mengantarkan anak nya kesana dan itu bisa menjadi kesempatan Demitri untuk bertemu dengan Hannah.


Demitri sudah siap, ia masuk ke garasi rumah nya, menaiki salah satu mobil mewah milik nya yang terparkir rapih di garasi besar rumah nya itu.


***


“Sial!” maki Demitri kesal sembari memukul stir mobil nya. Setelah lama menunggu di dalam mobil, menunggu kemunculan Hannah mengantar anak nya bersekolah. Demitri justru mendapati Giovano lah yang datang mengantarkan anak nya itu ke sekolah.


Kesal sekali rasa nya padahal Demitri sudah semangat untuk bertemu dengan Hannah namun yang muncul justru orang yang tidak Demitri perkenankan keberadaan nya.


Gagal lagi.


Mungkin tidak sekarang, tapi Demitri tidak akan menyerah. Ia akan mencoba lagi, lagi, dan lagi. Hari ini Giovano yang mengantar anak itu ke sekolah tapi yang menjemput pasti Hannah karena Demitri yakin Giovano pasti sibuk dengan perkerjaan nya di jam anak taman kanak kanak pulang sekolah.


***


Axel dengan riang membuka tas nya seperti apa yang guru perintah kan. Mengeluarkan pensil warna milik nya yang sudah ia siapkan di dalam tas sejak semalam.


Hari ini hari pertama Axel, ia sudah berkenalan tadi di depan dan sekarang saat nya menggambar bersama.


Tema menggambar kali ini bebas, Axel melirik ke arah teman teman yang lain yang mulai sibuk menggambar. Ada yang menggembar ikan, dua gunung dengan matahari di tengah, kereta, ada juga yang menggambar hello kitty.


Axel bingung harus menggambar apa. Axel hanya teringat senyum dan lambaian tangan Daddy nya saat mengantar nya masuk ke kelas. Rasa nya menyenangkan di antar ke sekolah oleh Daddy nya.

__ADS_1


“Aku gambar Daddy saja, ah.. sama Mama juga, Papa Darlen juga, sama Acel juga. Semua nya sama sama.” bisik Axel pelan pada dirinya sendiri.


Dengan fokus ia menggambarkan ke tiga sosok orang yang sangat disayangi nya itu.


Seorang anak laki laki seumuran Axel datang mendekati Axel sembari membawa kertas gambar nya sendiri, ia menatap Axel dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. “Aku gambar jerapah kamu menggambar apa?”


Tanya anak laki laki itu sembari menunjukkan kertas gambar nya kepada Axel, anak itu bilang ia menggambar jerapah tapi saat dilihat lihat gambar nya justru terlihat seperti ayam.


“Loh, Papa kamu ada dua?” tanya anak laki laki itu saat melihat gambar buatan Axel.


Axel dengan semangat menganggukkan kepala nya. “Iya, ada Daddy dan Papa.” Axel dengan polos nya memamerkan gambar buatan nya.


Axel tidak sadar bahwa perkataan nya menarik perhatian anak anak yang lain termasuk guru yang mengajar.


Salah satu anak yang kelihatan paling tengil datang menghampiri Axel. “Ih Papa nya ada dua. Papa tuh cuma satu, Mama juga satu. Kata mama ku, anak yang Papa nya itu ada dua berarti Mama nya menikah lagi karena gak bahagia.”


Axel mengerutkan kening nya tidak terima mendengar perkataan anak kecil yang sok tahu itu.


Melihat adanya keributan, guru datang berusaha untuk melerai. “Kevin, jangan bicara seperti itu. Tidak sopan.”


Kevin, si anak tengil yang di tegur guru itu cemberut tak terima karena dirinya di marahi. “Tapi kan benar Ibu, Tante ku nikah 2 kali karna gak bahagia. Dina, sepupu aku jadi punya dua Papa. Papa tiri, jahat gak sayang sama Dina. Anak baru ini juga pasti Papa baru nya jahat.”


Wajah Axel memerah menahan tangis, apa yang Kevin ketahui soal kedua Ayah nya. Kevin tidak tahu apa apa. Axel tidak pernah di jahati oleh Giovano ataupun Darlen.


“Papa Darlen dan Daddy Giovano baik, kamu yang jahat! kamu bilang Papa ku jahat Kalna kamu ili, aku punya dua kamu cuma punya satu!” Teriak Axel keras bersamaan dengan air mata nya yang meluruh, Axel menangis sekencang kencang nya.


Bukan ini yang Axel ingin kan, Axel ingin punya teman baru tertawa bersama bukan nya bertengkar seperti ini dan menangis.

__ADS_1


Padahal ini baru hari pertama nya sekolah, tapi ia sudah menangis sedih seperti ini. Rasa nya ingin pulang saja dan masuk ke dalam pelukan Ibu nya.


“Huaa Mamaaa.. Asel mau Mamaaa..”


__ADS_2