
[Sebelumnya]
*Tapi rencana hanya tinggal rencana, bukan nya Hannah muncul Demitri justru melihat Darlen lah yang menjemput putra Hannah dari sekolah.
Demitri dengan kesal memukul stir mobil nya, sial. Demitri gagal lagi.
Dan apa apaan ini, Anak Hannah dan Darlen dekat? benar benar. Melihat hal itu membuat Darlen semakin berapi api, jika Darlen saja bisa dekat dengan anak Hannah maka Demitri pun bisa.
Demitri akan mengambil hati anak itu, membuat anak itu membenci Ayah nya sendiri, lalu membenci Darlen dan hanya akan memilih Demitri sebagai calon Ayah baru nya*.
***
Sakit kepala yang Hannah rasakan semakin memburuk sehingga Hannah tidak bisa menjemput Axel dari sekolah, Darlen lah yang menjemput Axel dari sekolah hari ini.
Darlen sempat mengajak Hannah untuk ke rumah sakit, takut bila rasa sakit kepala yang Hannah rasakan itu pertanda adanya penyakit berbahaya mengingat dulu kepala Hannah terbentur keras sekali sampai lupa ingatan.
Tapi Hannah menolak dan mengatakan hanya butuh waktu istirahat saja maka rasa sakit kepala nya pasti akan sembuh dengan sendiri nya.
Namun seperti nya semua tidak berjalan seperti apa.yang Hannah pikirkan, Hannah pikir dengan beristirahat akan membuat rasa sakit kepala nya berkurang tapi kenyataan nya yang terjadi rasa sakit kepala Hannah justru semakin menjadi-jadi.
Rasa sakit nya semakin bertambah parah disertai dengan kilasan kilasan bayangan ingatan dari masa lalu Hannah yang satu persatu perlahan muncul.
Air mata Hannah mulai mengalir bersamaan dengan kilasan ingatan nya yang perlahan lahan kembali.
Hannah ingat bahwa dirinya semasa kecil tidak bahagia, orang tua nya selalu saja bertengkar. Atau lebih tepat nya sang Ayah selalu saja menyakiti Ibu nya. Memukuli, berselingkuh dan juga tanpa segan membawa selingkuhan nya ke rumah.
__ADS_1
Hannah ingat dulu keluarga nya pernah merasakan apa itu kedamaian, kebahagiaan, dan kasih sayang sebelum wanita bernama Martha Oretta itu muncul. Wanita yang tidak lain adalah selingkuhan Ayah Hannah.
Hannah ingat, wanita itu lah yang membuat Ibu Hannah meninggal. Meninggal tanpa sempat merasakan kebahagiaan kembali sebelum maut menjemput. Semua nya rencana Martha, demi bisa memonopoli Ayah Hannah dan juga harta benda milik Ayah Hannah.
Tangisan Hannah semakin deras ketika mengingat bahwa bukan hanya Ibu nya yang meninggal namun Ayah nya juga meninggal. Bukan kebetulan karena memang itu semua adalah perbuatan Martha. Hannah kehilangan orang tua nya hanya karena satu wanita.
Rasa benci terlalu menyelimuti perasaan Hannah sehingga Hannah memutuskan untuk membalaskan semua rasa sakit hati nya, dendam nya kepada Martha dengan merebut calon suami Martha seperti apa yang Martha lakukan kepada Ibu Hannah.
Hannah meremas seprai ranjang nya, ingatan menyedihkan itu terlalu sulit untuk Hannah terima. Kenyataan bahwa Hannah kehilangan semua nya hanya karena satu orang wanita biadab.
***
“Mama mana Pa, Kenapa Mama tidak ikut jemput Asel?” Axel kebingungan saat melihat Darlen lah yang datang menjemput nya bukan Hannah, awal nya Axel pikir mereka berdua datang bersama untuk menjemput nya namun sampai masuk ke dalam mobil Axel tidak juga melihat kehadiran Ibu nya, membuat Axel bertanya tanya karena tidak biasa nya Hannah absen dalam menjemput Axel.
“Mama kurang enak badan sayang, Mama butuh waktu untuk ber-istirahat, karena itu Papa yang datang kemari untuk menjemput Axel.” Darlen membantu Axel memasang sabuk pengaman, Darlen memperhatikan mata Axel yang mendadak berkaca kaca setelah mendengar bahwa Hannah sedang kurang enak badan.
“Apa Mama sakit karena Axel nakal?” tanya Axel lagi, kali ini ia sudah siap untuk menangis jika saja benar bahwa Hannah, Ibu nya jatuh sakit karena kelelahan menjaga dirinya yang nakal.
“Bukan sayang, Mama sakit bukan karena Axel. Axel tidak perlu khawatir ya, setelah tidur yang banyak dan minum obat Mama pasti akan sehat kembali.” Darlen berusaha untuk membuat Axel kembali ceria lagi, Darlen tahu Axel pasti khawatir sekali.
“Axel mau peluk Mama..”
“Iya, nanti sampai rumah Axel peluk Mama ya.”
***
__ADS_1
Semetara orang lain sibuk dengan urusan mereka masing masing, Hannah yang berada di kamar nya justru tersiksa. Tersiksa dengan rasa sakit di kepala nya semakin lama semakin kencang menghantam.
Rasa nya Hannah lemas sekali, energi nya benar benar terkuras habis hanya dengan mengingat potongan kecil soal ingatan nya. Hannah tidak bisa membayangkan bagaimana jadi nya jika Hannah mengingat bagian ingatan nya yang di ceritakan oleh Darlen sebelum nya.
Hannah pasti akan hancur sekali bila mengingat kejadian mengerikan itu.
***
Sesampai nya di rumah Axel segera berlari ke kamar Hannah, bermaksud memberikan Ibu nya itu kecupan dan memeluk Ibu nya itu sebagai bentuk kasih sayang. Agar Ibu nya segera sembuh dan bisa bermain dengan nya lagi.
Axel berjinjit mencoba membuka pintu kamar Hannah, ketika pintu tersebut terbuka. Axel segera berhambur masuk ke dalam dan mendekati Hannah yang tengah berbaring di ranjang dengan selimut tebal menutupi tubuh nya.
Axel berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara keras agar tidur Hannah tidak terganggu, Axel memperhatikan Ibu nya itu yang tengah terlelap dengan wajah penuh keringat.
Axel tidak tahu apa yang terjadi sehingga Ibu nya tidur dengan peluh sebanyak itu, entah kah mimpi buruk atau memang Hannah merasa sangat kesakitan hingga berkeringat seperti itu.
Tangan kecil Axel dengan sigap mengambil tisu dari atas meja balas, secara perlahan mengelap bulir bulir keringat di setiap bagian wajah Hannah tanpa membuat tidur Ibu nya itu terganggu.
“Mama cepat sembuh ya, Asel sayang Mama.” Axel memberikan kecupan penuh cinta ke kening Hannah sebelum akhir nya Axel pergi membuat bekas tisu yang ia gunakan untuk menghapus peluh di wajah Hannah.
Darlen yang melihat kejadian itu tidak bisa menahan senyum nya, Hannah harus tahu bahwa di dunia ini keberadaan Hannah adalah kebahagiaan untuk orang lain.
Hannah harus tahu bahwa Hannah tidak sendiri, banyak orang yang menyayangi nya. Dulu mungkin Hannah tidak tahu tapi sekarang, Hannah tidak boleh lagi menganggap nyawa dan dirinya tidak berharga.
***
__ADS_1
“Kau sudah menceritakan semua nya kepada Hannah?” Giovano kini tengah berada di kamar bersama dengan Darlen, membahas mengenai kejadian siang ini. Hal yang sampai membuat Hannah sakit.
“Aku hanya menceritakan beberapa saja tidak keseluruhan, tapi Hannah sudah mulai mengingat masa lalu nya satu persatu, ku harap meski kenangan itu sekelam apapun dan seburuk apapun Hannah bisa menerima nya.” Darlen kembali tersenyum, “Tapi aku mulai yakin bahwa Hannah tidak akan seperti dulu lagi, Hannah tidak akan menyakiti dirinya lagi. Karena sekarang ada Axel. Hannah tidak akan mungkin bisa melihat Axel menangis.”