MY REVENGE

MY REVENGE
EP 21 : KEHILANGAN


__ADS_3

Hannah mengusap perutnya, Hannah merasa perutnya terasa amat sangat sakit. Hannah pusing dan juga lemah, ia terlalu banyak memikirkan perkara kehamilannya.


Hannah tidak tahu apa yang harus dilakukannya, Hannah terus saja berpikir bagaimana cara ia akan membebaskan dirinya dari penjara ini demi calon buah hatinya, namun semuanya sulit, teramat sulit.


Hannah tidak mungkin dengan mudah keluar dari penjara sementara Martha dan Demitri berada dipihak yang sama, Hannah yakin seratus persen Demitri dan Martha pasti tengah merencanakan sesuatu agar Hannah dipenjarakan seumur hidup.


"Kau baik baik saja?"


Salah satu tahanan bertanya kepada Hannah lantaran Hannah terus terusan memegang perutnya, "Kau sakit, aku akan mengatakan kepada sipir penjara jika kau sakit."


Hannah ingin mengangguk namun ia tidak mampu, sakit yang ia rasakan begitu kerasa hingga Hannah bahkan tidak mampu bergerak.


"Hei, kau tidak apa apa?" wanita itu semakin panik melihat Hannah yang semakin parah, "Astaga, kau berdarah!"

__ADS_1


Mendengar kata darah membuat Hannah menjerit, Hannah ketakutan. Hannah takut kandungannya kenapa kenapa, Hannah tidak sanggup jika harus menghadapi kehilangan lagi. Hannah tidak mau ditinggal lagi oleh orang yang disayanginya.


Hannah menangis, semakin kuat rasa sakit diperutnya pandangan Hannah semakin terasa berat, Hannah terus memanjatkan doa meski ia sudah lama tidak berdoa, Hannah terus berharap kandungannya baik baik saja.


Namun Hannah tidak bisa menahan rasa sakitnya, rasa sakitnya terus menguat hingga Hannah tak lagi sanggup dan kehilangan kesadarannya, semuanya menggelap, rasa sakitnya pun lenyap, yang ada hanya ketakutan yang luar biasa.


***


Ponsel Ivander tiba tiba saja berdering, tak lama kemudian hal serupa terjadi kepada Demitri. Keduanya saling pandang beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut dalam diam.


Meski mereka sama sama mendengarkan perkataan dari si penelepon, namun reaksi yang mereka berikan jauh berbeda. Ivander setelah menerima panggilan tersebut ia berlari terburu buru dengan wajah paniknya meninggalkan Demitri, sementara Demitri hanya terdiam mendengarkan si penelepon itu bicara hingga selesai dan mematikan ponselnya dalam diam.


Demitri menatap layar ponselnya itu dalam diam, ia menunduk memandang pantulan wajahnya dari ponsel itu hingga Demitri tiba tiba terkejut melihat setitik air terjatuh kelayar ponselnya tersebut.

__ADS_1


Demitri gelagapan, ia meraba pipinya yang basah. Ia menangis? Kenapa juga ia menangis? Kenapa juga Demitri menangis setelah mendengar kabar bahwa Hannah dilarikan kerumah sakit dan kini tengah keguguran.


Demitri bertanya tanya dalam hatinya, bagian mana yang membuatnya menangis, Hannah yang keguguran atau Hannah yang masuk rumah sakit? Bagian mana yang membuat Demitri merasa hatinya seperti dicabik cabik dan nafasnya sesak seperti ini.


***


Hannah meraba perutnya, Hannah merasakan kekosongan, kehampaan yang sama seperti yang dulu ia rasakan pada saat ia kehilangan kedua orangtuanya.


Air mata mengalir tanpa dapat ia cegah dari matanya, Hannah kehilangan harapan terakhirnya, Hannah lagi lagi dihadapkan kepada duka yang sama.


Seandainya Hannah tidak dipenjara Hannah tidak akan tertekan hingga keguguran, seandainya ia tidak mendekam ditempat itu semuanya akan baik baik saja, namun lagi lagi semuanya tidak pernah berjalan sesuai dengan keinginannya.


Tuhan seolah olah tidak pernah berpihak kepadanya, Hannah seolah merasa bahwa ia sudah tidak ada artinya lagi hidup di dunia jika hidupnya saja dipenuhi dengan penderitaan penderitaan yang tiada habisnya.

__ADS_1


__ADS_2