
“Tapi Hannah..” Demitri berusaha meraih tangan Hannah kembali, berusaha agar bisa menggenggam tangan wanita yang di cintai nya itu lagi namun Hannah menepis nya.
“Ku mohon, jika kau memang mencintai ku tolong lepaskan aku dan biarkan aku bahagia dengan cara ku sendiri.” Hannah tetap pada pendirian nya, ini pilihan Hannah. dan pilihan Hannah sudah bulat.
“Tapi aku mencintai mu, aku ingin bersama dengan mu!” tukas Demitri lagi, masih tidak ingin menyerah.
“Tapi aku tidak mencintai mu Demitri, ku mohon mengertilah. Tidak ada guna nya kau terus mendekati ku dan berusaha mendapatkan ku karena aku tidak akan pernah jatuh ke pelukan mu bagaimana pun cara nya.”
“Aku tidak bisa..” Demitri menggelengkan kepala nya, masih tidak ingin menuruti kemauan Hannah yang menurut Demitri tidak akan mungkin sanggup ia jalani.
“Kalau kau tidak bisa kau hanya akan menunjukkan kepada ku bahwa kau masih sama seperti dirimu yang dulu Demitri, Demitri yang tidak mau mengalah, Demitri yang egois dan Demitri yang keras kepala. Demitri yang amat sangat ku benci.” Hannah kembali menatap Demitri dengan pandangan sendu, Hannah benar benar memohon kepada Demitri dengan sepenuh hati nya. “Ku mohon lepaskan aku, anggap kita tidak pernah mengenal sebelum nya. Aku bukan untuk mu.”
***
Demitri pulang dengan hati yang teramat sangat hancur, hancur berkeping keping. Setelah dibuat bahagia mengetahui fakta bahwa Hannah, wanita yang di cintai nya masih hidup Demitri justru harus menelan pil pahit bahwa cinta nya sampai kapan pun tidak akan pernah di terima oleh Hannah.
Ingin berjuang mendapatkan cinta Hannah pun percuma, Hannah hanya akan menganggap nya sebagai laki laki yang egois.
Kenapa untuk bahagia saja sulit sekali bagi Demitri? Demitri hanya ingin Hannah menjadi milik nya, hidup bahagia berdua dan memiliki anak anak bersama. Kenapa hal seperti itu saja tidak bisa Demitri dapat kan?
Demitri masih menangisi nasib nya saat pintu rumah nya di buka, orang itu tidak lain adalah adik laki laki nya. Ivander.
“Kak, aku mencari cari mu di kantor tapi kau tidak ada ternyata kau disini. Kenapa kau tidak pergi ke kantor, tidak kah kau tahu pekerjaan mu sudah menumpuk banyak sekali?” Ivander belum menyadari bahwa Demitri tengah menangis, Ivander berjalan mendekati Demitri dan langkah Ivander terhenti sesaat ia akhirnya melihat bahwa kakak laki laki nya itu tengah menangis.
“Kau menangis? kenapa kau menangis, apa kau menangis karena rencana mu gagal lagi?” Ivander duduk di hadapan Demitri berusaha untuk menghibur kakak laki laki nya itu. “Tenag saja rencana bukan hanya itu saja, kita bisa mencoba rencana lain.”
Ivander melihat Demitri menggelengkan kepala nya, membuat Ivander menaikkan alis nya kebingungan. “Apa kau ingin menyerah?”
Demitri menganggukkan kepala nya, mengusap air mata yang terus mengalir dari mata nya itu. “Sebanyak apapun rencana yang ku susun, Hannah tidak akan pernah bisa aku miliki. Karena dia memang benar benar tidak menginginkan diriku.”
“Lalu kau ingin bagaimana sekarang? Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Ivander lagi.
__ADS_1
“Cari kan aku wanita, aku butuh melampiaskan rasa sakit hati ku saat ini. Kau selalu tahu tentang wanita, bawa salah satu wanita yang suka kau tiduri kemari.”
***
“Kau sudah menemui nya?” tanya Darlen kepada Hannah yang baru saja kembali, Hannah dengan senyum lebar menganggukkan kepala nya.
“Jadi kau sudah lega sekarang?”
Hannah kembali mengangguk, “Iya, aku sudah lega sekali.”
“Tidak apa apa, aku bahagia asalkan kau bahagia. Apapun keputusan yang kau ambil. Aku akan selalu mendukung mu, karena aku Kakak mu.” Darlen membuka lebar tangan nya, seolah olah memberi tanda kepada Hannah untuk datang ke pelukan nya.
Hannah memeluk Darlen, membenamkan wajah nya di dada Darlen, “Nanti malam mari kita makan bersama di luar. Kau libur lah dari Bar, tanpa kehadiran mu disana Bar kesayangan mu itu tidak akan mendadak bangkrut.”
Darlen berdehem sebagai jawaban, Darlen tidak akan pergi ke Bar milik nya malam ini. Mereka ber-empat akan makan malam bersama sama. Memulai hari yang baru yang lebih indah lagi bersama sama.
“Axel pasti akan senang sekali.”
***
Demitri menatap wanita yang tengah berdiri di hadapan nya itu, wanita itu cantik, bentuk tubuh nya indah. Dan juga seksi. Tapi Demitri tidak bisa fokus memikirkan hal itu. Kepala nya justru kosong, sama seperti hati nya.
Demitri mendekati wanita itu dan mengecup bibir nya, memberikan ciuman panas dan menuntun wanita itu untuk ke ranjang besar milik nya berharap dengan hal ini rasa sedih di hati nya bisa menghilang.
***
““Daddy, nanti pulang nya jangan lupa mampil beli buku gambal balu ya. Buku gambal Asel sudah penuh semua.” Axel duduk dengan manis di pangkuan Darlen yang duduk di bangku depan bersebelahan dengan Giovano yang tengah menyetir.
“Iya sayang, nanti kita beli buku gambar untuk Axel.”
“Hari ini Axel mau makan apa?” Hannah yang duduk di bangku belakang bertanya.
__ADS_1
Axel terdiam sejenak, mata bulat nya itu bergerak gerak seolah tengah berpikir keras. “Asel mau makan cumi cumi hehe!!”
“Terus apa lagi?” Darlen kali ini yang bertanya sembari memainkan rambut Axel yang terasa sangat halus.
“Sama ikan! samaa ayam!” sahut Axel lagi dengan gembira.
“Axel gak mau makan sayur?” Darlen menggoda Axel, Darlen tahu bahwa Axel kurang suka pada sayur sayuran.
“Gak mau, sayur buat Papa Darlen saja. Papa Darlen kan suka sayur kaya embek.” Axel tertawa setelah balas meledek Darlen, di ikuti oleh tawa Hannah dan Giovano.
***
“Arrgghh!!”
Demitri memukul kaca lemari di kamar nya hingga pecah. Demitri pikir dengan membawa wanita panggilan kemari akan membuat beban Demitri setidak nya berkurang dan bisa membuat Demitri paling tidak sedikit saja lupa terhadap Hannah.
Namun nyata nya Demitri tidak bisa, secantik apapun sankta panggilan itu, sebagus apapun tubuh nya, Demitri tidak bisa meniduri wanita itu
Demitri bahkan tidak bisa terangsang sedikit pun, di kepala dan hati Demitri hanya ada Hannah seorang dan sial nya Hannah tidak akan pernah bisa Demitri miliki.
Demitri duduk di lantai kamar nya dengan tangan yang berlumuran darah akibat memukul kaca lemari.
Wanita panggilan yang sebelum nya Ivander bawa kemari sudah Demitri perintah kan untuk pergi, Demitri tidak mampu untuk menyentuh wanita lain.
Demitri terdiam sembari menatap tangan nya yang terluka. Luka di tangan nya tidak sebanding dengan luka yang berada di hati Demitri. Luka nya teramat dalam dan Demitri tidak tahu luka itu bisa sembuh dengan sendiri nya atau tidak.
“Hannah kenapa kau tega sekali membuang ku seperti ini, aku mencintai mu. Aku tahu dulu aku salah, tapi kenapa kau tidak bisa memberi ku kesempatan. Aku berjanji aku akan membahagiakan mu, ku mohon biarkan aku mencintai mu.”
Demitri mulai kembali menitikkan air mata, hati nya benar benar hancur.
Demitri menangis menderita di kamar nya seorang diri sementara Hannah tertawa bahagia dengan Giovano, Darlen dan Axel.
__ADS_1
Hal yang sangat berbeda dan kontras, Demitri berlarut dalam kesedihan nya sementara Hannah membuka lembaran baru dan mencoba hidup untuk membahagiakan dirinya dan juga tentu saja Axel, putra kesayangan nya.