
,Alleysa beralih mendekati Kevin, ia menghapus air mata serta ingus Kevin. “Ayo Kevin baikan sama Axel, Axel memang punya dua Papa tapi Papa nya baik semua kok tidak jahat. Kevin tidak bisa menyamakan semua orang ya, Papa tiri sepupu Kevin jahat bukan berarti Papa nya orang lain juga jahat. Paham kan sayang?”
Kevin menganggukkan kepala nya pelan, Alleysa menuntun Kevin melangkah mendekati Axel.
Kevin menyodorkan tangan kecil nya untuk berjabat tangan pertanda meminta maaf. “Maafin Kevin ya Axel, kita baikan ya.”
Axel menerima jabatan tangan Kevin tersebut dan mengangguk kecil. “Iya. Kita baikan.”
***
Darlen menghela nafas berat, masalah Axel sudah selesai. Saat di rumah tadi jantung Darlen hampir copot rasa nya saat mendengar bahwa Axel menangis disekolah. Darlen pikir Axel terjatuh saat bermain atau benar benar dijahati oleh teman teman nya. Tapi semua nya hanya kesalah pahaman saja.
“Kau mau langsung pulang Len?” tanya Hannah kepada Darlen, mereka sedang berada di depan gerbang sekolah Axel sekarang. Axel sudah kembali masuk ke kelas melanjutkan pelajaran nya, bahkan tadi Axel masuk ke dalam kelas sembari berpegangan tangan dengan Kevin.
Darlen menganggukkan kepala nya, Darlen belum juga tidur sejak pulang dari Bar. Niat awal nya setelah membasuh diri dari kamar mandi Darlen ingin tidur namun mereka justru mendapat panggilan untuk ke sekolah.
“Kau pulang lah, aku akan tetap disini. Aku masih tidak tenang untuk meninggalkan Axel sendiri meski masalah nya sudah selesai.” Hannah ingin menunggu Axel saja, lagi pula Hannah lihat lihat ada beberapa orang tua yang duduk bersama menunggui anak mereka.
“Mau ku temani?” Darlen menawarkan, meski ia menguap karena rasa kantuk tidak tertahankan yang kembali menyerang nya.
Hannah mengibas ngibaskan tangan nya. Menolak tawaran Darlen tentu saja. Hanna tahu bahwa Darlen belum tidur sejak semalam. Mata Darlen terlihat sangat merah. “Tidak perlu, kau pulang saja ke rumah dan tidur. Jika kau menemani ku disini dan justru jatuh tertidur disini kau justru akan menyusahkan aku nanti nya. Tidak ada Giovano disini yang bisa menggendong mu ke rumah.”
Darlen tertawa dengan jawaban Hannah, Darlen mengacak acak rambut Hannah gemas. “Adik ku ini, pintar sekali kau bicara. Kalau begitu aku pulang, jika ada apa apa telepon saja aku oke?”
Hannah kembali menganggukkan kepala nya, “Iya aku akan menelepon mu jika ada apa apa, sana pulang lah.”
Hannah memperhatikan Darlen yang masuk ke dalam mobil, melambai lambaikan tangan nya sejenak ke arah Darlen sebelum akhirnya mobil Darlen benar benar melaju meninggalkan Hannah.
Hannah berbalik melangkah kan kaki nya ke arah segerombolan Ibu ibu muda yang tengah duduk mengobrol sembari menunggu anak anak mereka yang tengah belajar di dalam.
“Wah Bu, itu tadi suami nya ya, tampan sekali Bu. Anak nya pasti juga Tampan.”
Hannah tertawa, baru saja ia datang ia sudah mendengar pujian untuk Darlen dan Axel.
***
Darlen mencengkram stir mobil erat erat, meski Darlen tidak menunjukkan nya di depan Hannah tapi Darlen benar benar gelisah.
__ADS_1
Mengingat pertengkaran Axel dengan teman nya itu semua karena dirinya dan juga Giovano. Karena Axel punya 2 Ayah.
Darlen tidak bisa membayangkan bagaimana teman teman Axel akan memperlakukan Axel nanti jika teman teman nya tahu bahwa sebenarnya Axel punya dua Ayah bukan karena Hannah menikah dua kali.
Melainkan karena Axel memang bukan anak mereka. Axel, Darlen adopsi dari panti asuhan dengan alasan Darlen ingin mempunyai anak.
Saat itu dipikiran Darlen hanyalah ingin mempunyai anak, Darlen tidak memikirkan resiko ke depan nya yang akan terjadi.
Dan sekarang semuanya baru terpikirkan oleh Darlen, bagaimana jika nanti Axel semakin besar dan tahu bahwa Darlen dan Giovano memiliki hubungan yang tak biasa.
Darlen tidak bisa menutupi bahwa ia takut. Benar benar takut, takut anak yang ia sayangi akan jijik kepada nya nanti.
***
Demitri menghentikan mobil nya tepat di dekat gerbang sekolah Axel, sekali lagi Demitri melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya memastikan bahwa dirinya datang lebih awal dari jam pulang Axel.
Demitri hendak menunggu dari dalam mobil nya menunggu ke datangan Hannah namun Demitri justru melihat Hannah sedang duduk berbincang dengan beberapa wanita.
Demitri pikir Hannah baru akan datang nanti tapi ternyata Hannah sudah ada disini. Dengan cepat Demitri turun dari mobil nya dan menghampiri Hannah.
“Hannah..”
***
Hannah mendongak dan mendapati bahwa orang yang memanggil nya adalah Demitri, Hannah berdecak sebal. Kenapa juga Demitri bisa ada disini? Dan untuk apa laki laki itu menghampiri nya.
Para Ibu Ibu muda yang menjadi teman bicara Hannah sebelum nya melirik penasaran ke arah Demitri, dan berbisik bisik mengatakan bahwa Demitri tampan. Kehadiran Demitri disini benar benar menarik perhatian.
“Ada apa?” tanya Hannah datar, Hannah tidak perduli bahwa ia kelihatan jutek atau terkesan tidak senang dengan kehadiran Demitri karena memang begitu lah kenyataan nya. Hannah tidak senang Demitri ada disini.
“Bisa kita bicara berdua?” Tanya Demitri sembari menatap Hannah dengan pandangan penuh harap, Hannah jengkel sekali rasa nya di tatap seperti itu. Sebenar nya apa mau Demitri dari dirinya?
Bukan kah jawaban dari pertemuan mereka sebelum nya sudah cukup?
“Ku mohon..” ucap Demitri lagi, yang mau tak mau Hannah iyakan, malu terus menjadi tontonan orang lain.
Demitri tersenyum melihat bahwa Hannah setuju, Demitri meraih tangan Hannah dan membawa Hannah untuk ikut dengan nya, agak menjauh dari keramaian agar bisa bicara tanpa di dengar orang lain.
__ADS_1
“Sebenar nya apa mau mu?” tanya Hannah sembari melepaskan tangan nya dari Demitri.
“Aku ingin memberitahu mu sesuatu, ini mengenai suami mu Giovano.”
Hannah mengerutkan kening nya ketika mendengar Demitri menyebut nyebut nama Giovano. “Ada apa dengan nya?”
Demitri menghela nafas berat, Demitri tidak tahu bagaimana harus memulai nya. “Giovano, suami mu itu.. dia itu laki laki ********. Kau tahu dulu dia bercerai dengan mantan istri nya karna dia berselingkuh dengan sesama jenis.”
Demitri mengharapkan ekspresi terkejut Hannah, namun bukan nya terkejut Hannah justru terlihat datar setelah mendengar perkataan Demitri itu. Apa Hannah sudah tahu? Kalau memang sudah tahu kenapa ia bisa sesantai itu.
“Lalu?” tanya Hannah masih dengan wajah datar nya, “Lalu apalagi?”
“Ka-kau tidak terkejut? kau sudah tahu?”
Hannah menganggukkan kepala nya, Iya Hannah sudah tahu. Darlen yang menceritakan nya.
“Kenapa kau kelihatan santai sekali, suami mu itu dengan selingkuhan nya hubungan mereka belum berakhir!” Ujar Demitri gemas karena melihat Hannah yang kelihatan biasa biasa saja. Apa Hannah tidak mempercayai perkataan nya?
Dalam hati Hannah memaki Demitri, hal seperti ini juga Hannah sudah tahu. Tentu saja hubungan Giovano dengan Darlen belum berakhir. Mereka bahkan sudah menikah meski secara tidak resmi karna pernikahan mereka di tentang dan dianggap tidak lazim.
“Kau tidak percaya kepada ku ya? Aku punya bukti jika kau tidak percaya, aku bisa menunjukkan nya kepada mu.” Demitri hendak mengeluarkan ponsel dari saku jas kerja nya namun dengan segera Hannah hentikan.
“Tidak perlu, aku tidak perlu melihat bukti itu.” Hannah mendongak menatap Demitri dengan pandangan serius meski Demitri menatap nya balik dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Tuan Demitri yang saya hormati, tidak bisa kah anda tidak ikut campur dengan urusan keluarga saya. Masalah keluarga saya biar saya yang urus, anda tidak perlu turun tangan.” Hannah berujar datar, Demitri kaget mendengar nya. Bukan ini. Bukan ini respon yang Demitri inginkan.
“Tapi aku hanya ingin kau tahu, agar kau tidak terus dibohongi oleh suami bejat mu itu.” tukas Demitri masih ingin membela diri, bahwa apa yang dilakukan nya ini benar.
Hannah mengerutkan kening nya tak senang, sebenar nya apa yang Demitri inginkan dengan mengatakan hal seperti ini? Jika di mata Demitri Hannah dan Giovano pasangan suami istri maka ia melakukan ini untuk menghancurkan hubungan pernikahan itu?
Untuk apa? agar Demitri bisa membawa lari dirinya dan menyiksa nya seperti dulu lagi. Jelas jelas Darlen mengatakan bahwa Demitri lah yang membuat Hannah terluka bahkan sampai lupa akan ingatan nya.
“Lalu setelah memberitahu ku apa yang kau inginkan?” tanya Hannah lagi, sengaja mendesak Demitri.
“Tentu saja semua ini ku lakukan agar kau sadar dan menceraikan laki laki ******** itu, dia tidak pantas kau pertahan-kan sementara dia justru asik berselingkuh di belakang mu.” Demitri dengan menggebu gebu berusaha menjelaskan nya kepada Hannah, berpikir bahwa Hannah akan mengerti namun Hannah justru menatap nya dengan pandangan lebih kesal lagi.
“Kenapa kau tertarik sekali dengan hubungan pernikahan ku dengan Giovano, masalah rumah tangga kami bukan urusan mu. Kau dan aku bahkan tidak saling kenal, jangan bersikap seolah olah kah dan aku sangat dekat sehingga kau bisa bicara seenak mu kepada ku.” Hannah mundur beberapa langkah dari Demitri, “Pergi lah, aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan mu. Sebentar lagi anak ku akan pulang, aku tidak ingin anak ku mendengar hal hal buruk tentang Daddy nya dari mulut mu.”
__ADS_1
“Ta-tapi Hannah..”
“Pergi Demitri, kehadiran mu tidak di inginkan disini.”