
Giovano segera pergi setelah ia mengantarkan Hannah ke rumah mereka, Giovano beralasan memiliki urusan penting soal perkerjaan kepada Hannah tapi Giovano tidak pergi ke kantor setelah mengantar Hannah.
Giovano justru pergi menemui Darlen, ada hal penting yang harus mereka bahas dan Hannsh tidak boleh mengetahui hal itu.
***
Hannah masuk ke dalam rumah yang sepi, Hannah mengecek Axel dikamar dan mendapati Axel yang telah tertidur lelap.
Hannah kembali menutup kembali pintu kamar Axel dan beralih duduk di sofa ruang tamu. Hannah duduk sembari memikirkan hal yang sebelumnya terjadi, tentang keanehan Darlen dan juga Giovano.
Darlen dan Giovano jelas jelas sedang menyembunyikan sesuatu, Hannah tahu itu dan Hannah merasa tidak senang akan hal itu. Hannah merasa bahwa dirinya berhak tahu, apalagi jika hal tersebut menyangkut tentang dirinya.
Tapi bagaimana caranya agar bisa mengetahui apa yang Darlen dan Giovano sembunyikan darinya? Seberapa keras pun Hannah memaksa mereka tidak akan jujur.
Apakah ini bersangkutan dengan masa lalu Hannah yang tidak bisa Hannah ingat?
***
“Kau bertemu dengan Ivander?” tanya Giovano kepada Darlen yang duduk tepat disebelahnya.
__ADS_1
Darlen menganggukkan kepalanya lalu kemudian menggelengkannya, membuat Giovano bingung dengan jawaban Darlen.
“Aku tidak benar benar bertemu dengannya, tapi dia melihat ku saat aku memanggil Elijah. Sepertinya dia tidak mengingat ku. Ku harap memang begitu.” Darlen kembali memijit pelipisnya, ia merasa sangat pusing sekarang ini.
“Ya mungkin dia tidak mengingat mu, dulu saat kalian bertemu itu hanya sebentar saja dan karena permasalahan mengenai istri ku. Dia tidak akan mengingat hal hal yang tidak penting menurutnya.” Giovano mengusap bahu Darlen lembut, “Jangan terlalu kau pikirkan.”
“Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya Van, Ivander sempat melihat Hannah tadi. Bukan tidak mungkin jika Ivander akan mencari Hannah nantinya.” Darlen menghentak hentakkan tangannya frustasi, membayangkan Ivander dan Hannah bertemu saja sudah membuat kepala Darlen semakin sakit. “Sebelumnya Demitri dan sekarang Ivander, kita sudah berhasil tidak bertemu dengan mereka sedikitpun selama 5 tahun ini tapi kenapa sekarang justru jadi seperti ini?”
Giovano menghela nafas berat, “Tidak bisakah kita biarkan mereka bertemu, ku dengar dari rekan kerja ku bahwa Demitri sangat menderita, kau tahu sendiri bukan bahwa Demitri sempat masuk rumah sakit jiwa.”
Darlen menepis tangan Giovano yang mengelus pundaknya, Darlen menatap Giovano dengan pandangan kesal. “Apa kau lupa bagaimana Hannah dulu? kita sudah susah payah untuk membuatnya bisa tersenyum seperti sekarang, dan kau justru mau membiarkan mereka bertemu? Kau mau melihat Hannah mati untuk yang kesekian kalinya?!”
“Pokoknya aku tidak akan membiarkan mereka bertemu, aku tidak mau melihat Hannah tersakiti lagi, cukup dimasa lalu aku melihat wanita itu menderita. Aku tidak mau lagi, aku sudah menganggap Hannah seprti adik ku sendiri. Melihat dia terluka sama rasanya seperti aku melukai diriku sendiri.”
Giovano terdiam, ia benar benar sangat paham dengan apa yang Darlen takutkan. Karena Giovano ada dan melihat bagaimana Hannah menderita dulu.
Giovano dan Darlen berjuang mati matian berusaha untuk menyuap orang dalam agar mereka tidak benar benar menembak tepat dijantung Hannah sehingga Hannah masih bisa diselamatkan saat itu.
Mereka juga mengarang banyak kebohongan untuk menyelamatkan Hannah, kematian palsu, kuburan palsu, dan juga pengobatan Hannah yang memakan waktu yang lama.
__ADS_1
Giovano ingat betul itu.
***
“Mamaa..”
Hannah terperanjat dari lamunannya ketika mendengar suara Axel memanggilnya, Axel berjalan mendekatinya sembari mengusap usap matanya.
“Kenapa sayang, kenapa bangun?” Hannah bangkit dari sofa dan menggendong Axel yang masih setengah mengantuk.
“Axel haus Ma..”
Hannah dengan sigap membawa Axel menuju dapur, menuangkan segelas air minum dan membantu Axel untuk minum dari gelas itu. Hannah dengan telaten mengusap bibir basah Axel setelah Axel selesai minum.
“Daddy mana Ma, tadi Axel sama Daddy.” Axel bertanya sembari memeluk Hanna erat erat, ia menyandarkan kepalanya di bahu Hannah. Axel menguap karena rasa kantuknya mulai kembali menyerang.
“Daddy ada urusan penting jadi Daddy pergi. Axel mau tidur lagi? Mau Mama temani?”
Axel mengangguk dalam gendongan Hannah, ia sudah semakin mengantuk. Axel bahkan sudah benar benar tertidur pulas ketika Hannah membaringkannya kembali ke ranjang.
__ADS_1
“Mimpi indah, sayang.”