MY REVENGE

MY REVENGE
EP 6 : POOR YOU, MARTHA II


__ADS_3

Hannah mendapati Demitri sudah pergi ketika ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya, entah Demitri terburu buru seperti itu karna ada urusan penting atau tidak betah berlama lama didalam ruangan yang sama dengan Hannah setelah kegiatan mereka semalam.


Hannah membaca kertas kecil yang Demitri tinggalkan diatas nakas.


Kau tidak perlu datang ke kantor hari ini jika kau tidak bisa.


Hannah meremas kertas itu dan melemparnya ke sembarang arah, tentu saja Hannah menolak untuk bersantai dirumah. Meski di kantor ia tidak melakukan apa apa tapi tetap saja Hannah tidak bisa jauh dari Demitri begitu saja, bukan tidak mungkin jika akan terjadi sesuatu yang Hannah tidak inginkan di kantor selama ia tidak ada.


Hannah membuka lemari pakaiannya, memilah pakaian yang akan dikenakannya dengan penuh teliti, pakaian mana kah yang kira kira bagus dan juga menggoda. Hannah memang sudah berhasil membuat Demitri tidur dengannya tapi belum dengan membuat Demitri tunduk dan dibawah kendalinya.


Pilihan Hannah jatuh pada kemeja putih dan rok mini hitam. Hannah yakin ia akan semakin terlihat menantang jika menggunakan bra dengan warna mencolok. Hannah tersenyum miring pada dirinya sendiri.


Demitri tidak akan tahan. Pasti.


***


"Apa Demitri sudah ada di dalam?"


Rafael mengernyit menatap Martha yang tampak tak sabaran berdiri dihadapannya.


"Pak Demitri sedang tidak bisa diganggu, Pak Demitri sendiri yang memesan kepada saya untuk tidak mempersilahkan siapapun masuk ke dalam ruangannya."


Martha mengerutkan alisnya tidak senang, fokusnya beralih pada kursi kosong disebelah Rafael, bukan kah itu tempatnya Hannah? Kemana anak sial itu?

__ADS_1


Martha mulai berpikir bahwa Hannah pasti ada didalam ruangan Demitri dan pasti Hannah mengatakan hal yang tidak tidak tentang dirinya kepada Demitri.


Martha tidak akan pernah mengampuni Hannah jika memang benar itu terjadi, Martha tidak perduli Rafael melarangnya, Martha dengan paksa membuka pintu ruangan Demitri dan masuk dengan cepat sehingga Rafael tidak sempat menarik ataupun menahannya.


Martha terdiam ketika mendapati Demitri tengah duduk berbincang dengan Ayahnya yaitu Hans Constantine.


Martha mengutuk dirinya sendiri, merasa malu namun Martha tetap tidak ingin mengakui bahwa tindakannya itu salah, ia tidak pernah salah.


"Maafkan saya Pak, saya sudah melarang Ibu Martha untuk masuk namun beliau memaksa." Rafael menundukkan kepalanya pertanda ia sangat menyesal atas kelalaiannya.


Tepat saat itu Hannah datang, berdiri tepat didepan pintu dengan membawa tas Tupperware yang berisi makanan buatannya, Hannah berdecak dalam hati, ia sudah tahu pasti akan terjadi sesuatu.


Hannah memperlihatkan senyum manisnya kepada Hans ketika ia melihat Hans menotis keberadaannya. Hannah melangkah mendekat ketika Hans melambaikan tangan pada Hannah dan meminta Hannah untuk masuk dan duduk disebelahnya.


"Apa yang kau bawa, kau terlambat?" Hans menepuk nepuk bahu Hannah lembut. "Kalau kau ada masalah bilang pada Om ya, Om akan berusaha membantu sebisa Om."


"Wah kau menyiapkan ini untuk Demitri? Kau benar anak baik."


"Itu bukan kebaikan Pa, sudah memang tugasnya untuk melakukan itu. Kalau bukan lalu apa lagi, sedangkan Papa tidak suka jika ia menjadi Office girl di kantor ini."


Hannah kesal sekali dengan jawaban dingin Demitri, siapa semalam yang mendesah desah diatasnya dan menatapnya penuh gairah?


Hannah tidak mengambil pusing perkataan Demitri dan membereskan apa yang harus dibereskan nya. Namun kegiatannya terhenti ketika melihat Demitri melangkah mendekati Martha yang masih diam berdiri di dekat pintu bagai patung.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu Martha, tapi akhir akhir ini kau jadi bertindak tidak terkendali, kau harus tahu bahwa aku tidak suka jika kau seperti ini. Aku tidak suka melihat mu bertingkah seperti wanita yang tidak tahu sopan santun seperti ini, pulang lah."


Martha tampak tidak terima, wajahnya memerah. Belum lagi emosinya mulai membaik ketika melihat Hannah menatapnya dengan tatapan mengejek, Martha merasa terhina.


"Aku datang kesini karna aku kesal kau tidak menepati janji mu untuk mengunjungi ku selamam!" Martha lepas kendali ia berteriak, membuat Demitri yang ada di hadapannya mengangkat salah satu alisnya.


"Kau bukan satu satunya hal yang harus ku urus Martha, jika kau bertingkah kekanakan seperti ini aku justru akan mulai memikirkan untuk membatalkan rencana pernikahan kita nanti, aku tidak bisa menikah dengan wanita tidak terkendali, kau tahu itukan?"


Gotcha!


Hannah semakin melebarkan senyumannya, dari sudut matanya Hannah bisa melihat Hans yang duduk disebelahnya pun tersenyum, sepertinya Hans benar benar tidak suka dengan Martha.


"Kenapa justru kau yang marah padaku, seharusnya aku yang marah disini. Kau tidak menepati janji mu dan membuatku menunggu semalaman!" Martha masih saja keras kepala, ia mulai meneteskan air mata buayanya membuat Hannah yang melihatnya ingin sekali muntah, sungguh akting yang sangat bagus.


"Semalam ada urusan penting mendadak yang harus ku urus, kau juga harus mengerti bahwa aku ini bukan laki laki bebas yang bisa berkeliaran sesuka hati ku, banyak pekerjaan yang menanti."


Senyum Hannah kembali terbit setelah mendengar jawaban Demitri, Hannah berpikir jadi seperti ini rasanya melihat Martha terpojokkan?


Calon suami mu memang mengurus hal yang penting semalam, jelas saja tidur dengan ku adalah hal penting dibandingkan menghabiskan waktu dengan wanita bekas dari banyak pria seperti mu Martha.


*Jelas sekali perbedaannya, mendapatkan keperawanan ku lebih penting bagi Demitri dari pada menghabiskan waktu dengan wanita tua seperti mu.


Haha.

__ADS_1


Ini sangat menyenangkan sekali.


Sangat*.


__ADS_2