
Darlen kebingungan saat ia sampai di parkiran ternyata belum ada Hannah disana, apa antrian nya panjang sekali sampai memakan waktu yang lama?
Darlen segera masuk ke dalam mobil, menunggu Hannah di dalam mobil sembari berusaha untuk menidurkan Axel.
Axel merengek dalam dekapan Darlen, “Papa, Mamaa manaa..”
Tangan besar Darlen bergerak mengusap kepala Axel lembut, “Sabar ya sayang, sebentar lagi Mama datang.”
***
Hannah semakin mengerutkan alisnya ketika ia tidak mendapat jawaban dari laki laki yang tengah memegang pergelangan tangan nya dengan sangat kuat itu.
“Maaf, tolong lepaskan tangan saya. Saya tidak punya waktu untuk hal seperti ini, anak saya sedang sakit.” ujar Hannah sinis, Hannah kesal lantaran waktu nya jadi terbuang untuk hal yang tidak jelas. Sementara Axel pasti sudah merengek ingin berada di pelukan Hannah saat ini.
Hannah merasakan cengkraman di tangan nya mulai mengendur hingga akhir nya benar benar terlepas. Sesaat tangan laki laki itu tidak lagi menahan Hannah, saat itu juga Hannah pergi meninggalkan laki laki itu tanpa sepatah kata pun.
***
Demitri memandangi telapak tangan nya yang telah menyentuh wanita itu, bodoh. Pikirnya dalam hati.
Lagi lagi Demitri melakukan kesalahan yang sama, mengganggu orang lain karena halusinasi nya, wanita itu bukan Hannah. Karena Hannah tidak memiliki anak, lagi pula Hannah sudah mati. Demitri melihat kuburan Hannah dengan mata nya sendiri.
“Maaf Pak, obatnya..” Apoteker itu kembali memanggil Demitri untuk ke sekian kali nya, untung nya kali ini Demitri menoleh dan menerima obat tersebut.
“Bapak baik baik saja?” tanya apoteker itu kepada Demitri, Demitri menggelengkan kepalanya. Tentu saja Demitri tidak baik baik saja.
“Seperti nya saya berhalusinasi lagi, tadi saya melihat wanita barusan mirip dengan kekasih saya yang telah meninggal, bahkan suara nya pun sama. Biasa nya tidak terjadi seperti ini setelah saya minum obat.”
Apoteker tersebut mengangguk prihatin kepada Demitri, ia hanya memperhatikan Demitri yang mengeluarkan ponsel nya dan berusaha untuk menunjuk kan foto kekasih nya yang telah meninggal itu.
“Mereka pasti kelihatan berbeda bukan, ku rasa aku sudah tidak tertolong lagi. Sepertinya aku bisa masuk rumah sakit jiwa lagi jika terus begini.” ujar Demitri sembari menyodorkan ponselnya, menunjuk kan foto Hannah kepada apoteker itu.
__ADS_1
Sebenarnya Demitri tidak mengerti kenapa juga dia harus bercerita tentang hal ini kepada apoteker itu.
Wajah apoteker itu yang awal nya terlihat prihatin, sekarang justru terlihat kebingungan. “Tapi foto kekasih Bapak ini memang benar benar mirip dengan wanita barusan, Bapak tidak berhalusinasi.”
Ponsel yang Demitri pegang mendadak jatuh ke lantai, “A-apa?!”
“Iya benar Pak, wanita yang barusan menebus obat itu mirip sekali dengan foto kekasih Bapak, saya tidak bohong.”
Demitri tidak lagi mengatakan apa apa, Demitri dengan segera berlari. Mengabaikan ponsel nya yang tergeletak di lantai.
Demitri harus menemukan wanita itu lagi, Demitri harus bertanya. Kenapa..
Kenapa wanita itu bisa memiliki rupa yang sama dengan Hannah, kenapa wanita itu bisa memiliki suara yang sama dengan Hannah, dan juga kenapa wanita itu bisa memiliki nama yang sama dengan Hannah.
Banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang berputar putar di kepala Demitri.
Demitri terus berlari, melihat sekeliling berharap bisa bertemu dengan wanita itu lagi dan memperjelas semua nya, namun Demitri terlambat.
***
“Apa antriannya panjang sekali?” Darlen berdtanya kepada Hannah yang baru saja masuk ke dalam mobil, “Axel terus saja merengek memanggil mu.”
Hannah mengambil alih Axel dari gendongan Darlen, Axel yang setengah tertidur merasakan bahwa Hannah lah yang kini menggendongnya sehingga ia semakin tertidur lelap menempatkan wajah kecil nya di ceruk leher Hannah.
“Mamaa..” Desis Axel pelan, Hannah menepuk nepuk punggung Axel lembut.
“Iya sayang ini Mama.” Hannah mengecup tangan kecil Axel, tangan Axel terasa hangat karena demam nya belum juga turun.
“Axel selalu manja kepada mu setiap kali ia sakit” ujar Darlen sembari melajukan mobil mereka keluar dari area parkir.
***
__ADS_1
“Kenapa raut wajah mu seperti itu?” Ivander kebingungan ketika melihat Demitri pulang dengan keadaan kacau, memang sih Demitri selalu terlihat kacau, tapi kali ini Demitri terlihat lebih lebih kacau dari biasa nya. Belum lagi dengan mata sembab nya itu.
“Kalau ku jelas kan pun kau tidak akan percaya.” tukas Demitri mengabaikan Ivander, Demitri melewati Ivander yang masih terduduk di sofa.
“Kenapa kau bicara seperti itu, kau bicara seolah olah aku tidak perduli pada mu.”
Demitri menghela nafas berat, “Aku tahu kau perduli pada ku tapi kau memang tidak pernah percaya kepada ku bukan? Jika kau percaya kepada ku kau tidak akan datang kemari setiap jam hanya untuk memastikan aku meminum obat. Karena kau tidak percaya aku akan meminum obat ku, jika kau saja tidak percaya akan hal seperti itu apa kau akan percaya jika aku mengatakan pada mu bahwa hal yang membuat ku menggila hari ini karena aku melihat wanita yang mirip dengan Hannah, Apa kau percaya?!”
Demitri menggelengkan kepalanya, ia tertawa sinis. “Kau pasti akan mengatakan bahwa itu halusinasi ku saja. Sementara aku benar benar melihatnya, menyentuhnya, dan bicara dengannya!”
“Kau juga bertemu dengan nya?”
Demitri mengerutkan alisnya, bukan ini jawaban yang Demitri kira akan Ivander keluarkan. Demitri mengira Ivander akan balik meninggikan suara nya dan mengatakan bahwa benar itu semua hanya halusinasi Demitri semata.
“Juga?” tanya Demitri kebingungan.
Ivander menganggukkan kepalanya, “Karena aku juga melihat wanita itu kemarin dan sayang nya aku kehilangan jejak nya. Kau tahu dia siapa?”
Emosi Demitri mendadak mereda, Demitri tidak menyangka bahwa Ivander juga telah bertemu dengan wanita itu.
“Nama wanita itu Hannah.”
Ivander berdecak, “Aku serius Kak, siapa nama perempuan itu?”
“Nama perempuan itu benar benar Hannah, karena aku memanggilnya Hannah karena aku berpikir dia benar benar Hannah ku. Dan kau tahu apa jawaban wanita itu, dia bilang dia benar Hannah tapi dia tidak mengenal ku.”
Ivander terdiam, sejenak ia berpikir. “Apa itu hanya kebetulan saja. Kebetulan wanita itu mirip dengan Hannah dan memiliki nama yang sama.”
“Tapi aku sudah mendengar suara wanita itu Ivander, suara nya persis seperti suara Hannah. Dan entah kenapa aku merasa bahwa itu adalah Hannah ku.”
“Tapi Hannah yang kau cintai sudah meninggal Kak, seminggu yang lalu kau baru saja dari makam nya. Tidak mungkin orang yang sudah mati hidup kembali.”
__ADS_1