MY REVENGE

MY REVENGE
EP 25 : I'M THE VILLAIN HERE


__ADS_3

Martha meringis kesakitan, berharap harap banyak pada Demitri, berharap Demitri mau melakukan apa yang dimintanya, senyuman Martha terbit ketika melihat Demitri menodongkan senjata apinya tepat ke arah Hannah.


“Apa yang kau tunggu Demitri, cepat tembak dia!” Martha berteriak disela sela kesakitannya, Martha gemas melihat Demitri yang hanya mengacungkan pistol itu tanpa melakukan apa apa, Demitri hanya terus memandang Hannah dihadapannya.


“Tembak dia Demitri!!”


Demitri masih tidak bergeming, ia menatap Hannah yang berdiri tidak jauh dihadapannya, Hannah tidak menunjukkan ekspresi apa apa. Bukankah seharusnya Hannah tengah berduka saat ini? Hannah baru saja keguguran bukan.


Demitri melihat Hannah memiringkan kepalanya menatap Demitri dengan wajah datarnya, “Kenapa kau belum juga menembak ku? Jangan ragu ragu, sebelumnya kau tidak ragu ragu menjual ku dan menyakiti ku lalu kenapa sekarang kau justru kelihatan ragu?”


Demitri berkedip, ia menyadari kebenaran yang dikatakan Hannah, Demitri terdiam mencoba coba untuk mencari alasan, mencari alasan kenapa ia tidak bisa menarik pelatuk itu dan menembak Hannah, mencari cari alasan kenapa sebelumnya ia menangis ketika mendengar kabar bahwa Hannah telah keguguran.


Kenapa?


Demitri kembali menatap Hannah, ia menelusuri penampilan Hannah dari ujung kepala hingga ujung kaki, Hannah tampak berantakan, rambutnya tidak terurus dengan baik, piyama rumah sakitnya kelihatan kotor dan juga tidak lupa dengan beberapa luka memar di leher dan kakinya yang lecet dan mengeluarkan sedikit darah.


Kenapa penampilan Hannah yang begitu menyedihkan dihadapannya saat ini begitu mencubit hatinya?

__ADS_1


Demitri terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak mendengarkan teriakan Martha yang memaksanya untuk segera menembak Hannah dan juga teriakan Martha yang mencoba untuk menyadarkannya, mencoba untuk membuatnya tidak lengah namun Demitri benar benar lengah, Hannah dengan luwes mengambil alih pistol itu dari Demitri dan membalikkan keadaan, kini Hannah yang menodong Demitri dengan pistol ditangannya.


Demitri terkejut tentu saja, namun ia tidak begitu perduli, Demitri bahkan masih saja mengabaikan Martha yang terduduk kesakitan di dekatnya, masih saja mencoba mengatasi luka dipunggungnya.


“Kenapa kau juga menunggu?” Demitri menatap Hannah yang masih mengacungkan pistol kearahnya, “Apa kau juga tidak bisa menembak ku? Bukan kah kau membenciku? Ayo tembak saj—”


“As you wish.”


Bang!


“Demitri!!” Martha berteriak, Martha tampak tidak terima dengan perlakuan Hannah kepada Demitri, “Mati saja kau Hannah, diantara semua orang di dunia ini kau lah yang pantas mati dan disalahkan atas semua yang terjadi, kau seharusnya membunuh dirimu sendiri!”


Hannah mengalihkan fokusnya kepada Martha.


“Salah mu, itu semua salah mu karena tidak bisa menyelamatkan kedua orangtua mu! Salah mu yang meninggalkan Ayahmu, salah mu juga kau hancur, semuanya salah—”


“Diam!”

__ADS_1


Bang!


Hannah menembak Martha, tangannya gemetar dan menjatuhkan pistol itu bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk.


Hannah menangisi dirinya, menangisi kepedihan masalalunya dan menangisi bahwa yang dikatakan oleh Martha tidak sepenuhnya salah, Martha benar.


Hannah memandang Martha yang tergeletak tak berdaya dilantai, darah mulai berceceran dilantai, luka tusukan dipunggung Martha dan juga luka tembakan diperut itu lah yang menjadi penyebab lantai marmer berwarna putih itu berubah menjadi merah.


Hannah menjerit, ia kesakitan di dalam dirinya, ia terluka terlalu dalam di dalam dirinya.


Martha benar.. jika saja Hannah dulu bisa mempersatukan Ayah dan Ibunya semuanya tidak akan begini, jika saja dulu Hannah tidak meninggalkan Ayahnya semuanya tidak akan begini, seandainya waktu itu Hannah tidak memutuskan untuk balas dendam semuanya tidak akan begini, semuanya memang bermula dari dirinya sendiri, ia sendiri yang membuat luka di dalam dirinya sendiri.


“Arghhhh!!!!”


Hannah berteriak, ia menangis meraung raung, Hannah berusaha untuk memukuli dirinya sendiri meski sebuah lengan yang berlumuran darah datang memberinya pelukan namun tetap saja itu tidak bisa membuat Hannah tenang.


Semuanya hancur memang karena dirinya.

__ADS_1


__ADS_2