
Hannah terus saja memikirkan perkataan Giovano kepadanya semalam, Hannah merasa bahwa kata kata Giovano ada benarnya.
Kalau dipikir pikir, Demitri itu tidak benar benar bersalah kepada Hannah. Hannah sendiri lah yang memutuskan untuk membalas dendam kepada Martha, melibatkan Demitri sebagai alatnya untuk balas dendam.
Anak mereka dulu meninggal juga bukan sepenuhnya salah Demitri, wajar Demitri curiga bahwa anak yang Hannah kandung bukan anaknya lantaran Hannah sendiri yang dengan sadar berpura pura bahwa dirinya pernah benar benar tidur dengan Giovano dahulu.
Dan juga setelah mendengar penjelasan Giovano bahwa Demitri sangat menderita saat mengira dirinya dulu meninggal membuat Hannah merasakan perasaan aneh dalam dirinya.
Hannah tidak bisa menjelaskan perasaaan apa itu sebenarnya, tapi entah mengapa dalam hatinya seolah ia merasa puas? merasa senang bahwa kepergiannya bukan lah kebahagiaan bagi orang lain.
Bahwa di dunia ini ada orang yang akan merasakan luka teramat dalam jika ia pergi meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya.
Hannah membalikkan posisi tidurnya menjadi menghadap Axel yang tengah tertidur lelap, Hannah memandang wajah damai Axel dalam diam. Jika Hannah memutuskan untuk membuka hatinya untuk Demitri lalu bagaimana dengan Axel?
Apa Axel bisa menerima jika Hannah yang Axel pikir sebagai Ibu kandungnya itu bersama dengan laki laki baru lagi. Dan jika Hannah memang sampai menikah dengan Demitri nanti bukan kah ini akan menjadikan Axel memiliki 3 Ayah?
***
Ivander menaruh sendok yang ia genggam dengan kuat hingga menimbulkan suara keras, namun sekuat apapun suara tersebut tidak membuat Demitri menoleh kearah Ivander sedikitpun.
“Setidaknya makan makanan mu Kak!” ujar Ivander gemas kepada Demitri, ia kesal setengah mati lantaran makanan yang telah dipesannya online tersebut tidak disentuh sedikitpun oleh Demitri.
Ivander benar benar kesal melihat Demitri, Dimata Ivander, Demitri itu sudah bukan lagi terlihat seperti seorang kakak melainkan anak kecil yang harus ia urus dan sangat merepotkan.
__ADS_1
“Kalau kau jadi frustasi begini sampai tidak makan lebih baik kau tidak usah menyerah, aku lebih baik melihat mu bersemangat dengan ambisi mu untuk memenangkan hati Hannah meski itu mustahil dari pada melihat mu seperti ini.” Ivander lebih memilih melihat Demitri berambisi untuk memenangkan hati Hannah sampai sampai terus membahas tentang Hannah dihadapannya dibandingkan harus melihat Demitri berdiam diri dan tak makan. Setidaknya saat Demitri berjuang, Demitri tidak perlu Ivander awasi seperti ini hanya untuk makan saja.
“Aku juga ingin berjuang tapi dia sudah menyuruh ku untuk menyerah. Apa aku harus terus memaksanya untuk bersama ku? Bukan kah itu hanya akan menunjukkan betapa egoisnya aku ini kepadanya?” Demitri juga sebenarnya tidak ingin menyerah, ia tidak ingin kehilangan Hannah untuk yang kesekian kalinya. Tapi Jika Demitri bersikeras yang ada Hannah hanya akan semakin membencinya. Demitri tidak ingin dibenci oleh Hannah.
“Berdiam diri meratapi nasib mu juga bukan hal yang Hannah inginkan. Kau pikir dengan diam dan tidak makan begini akan membuat Hannah datang dan mengasihani dirimu? Tidak. Setidaknya kau harus sehat saat Hannah merubah pikirannya nanti dan memutuskan untuk memberikan mu kesempatan. Bagaimana jadinya jika kau mati saat Hannah baru akan membuka pintu hatinya untuk mu?” Ivander tidak tahu kenapa dirinya harus terjebak dalam drama kisah cinta kakaknya. Ivander harap kisah cintanya tidak akan serumit kisah cinta sang kakak. Itu pun kalau Ivander bisa mencinta.
***
Hannah mengantarkan Axel berangkat ke sekolah pagi ini, Hannah pula yang menjemput Axel pulang sekolah. Tapi Hannah tidak melihat adanya keberadaan Demitri disekitar sekolah Axel.
Memang benar Demitri menuruti keinginan Hannah untuk berhenti mengganggunya, awalnya Hannah senang bahwa Demitri menuruti apa yang ia katakan namun setelah memikirkan kembali dan juga setelah mendengar apa yang Giovano katakan perihal Demitri membuat Hannah berpikir ulang.
Apakah dirinya terlalu egois?
Baru saja Hannah ingin maju mendekat, seorang pria tiba-tiba saja berdiri di depan Hannah menghalangi Hannah untuk menghampiri Axel.
Laki laki tersebut tinggi dengan setelan kerjanya, Hannah mendongak menatap wajah laki laki tersebut. Hannah terkejut ketika ia menyadari siapa laki laki itu.
Laki laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ivander, adik Demitri. Hannah ingat wajah itu. Wajah dari orang yang dulu menjadi salah satu orang yang Hannah benci namun juga orang yang perduli kepada Hannah.
“Ivander?”
“Lama tidak bertemu Hannah. Bisa kita bicara sebentar?” Ivander dengan senyumannya menatap Hannah serius, tanpa Ivander harus mengatakannya saja Hannah sudah tahu bahwa hal yang ingin Ivander bicarakan dengannya pasti menyangkut tentang Demitri.
__ADS_1
“Mama..? Om ini siapa?” tanya Axel sembari memandang bingung kearah Hannah dan Ivander secara bergantian, lantaran Axel belum pernah melihat Ivander sebelumnya. Ada rasa tidak senang dalam diri Axel ketika melihat ekspresi terkejut Hannah saat melihat laki laki itu. Axel takut jika laki laki itu adalah laki laki jahat yang akan menjajaki Ibunya.
Hannah gelagapan, tidak tahu harus menjawab pertanyaan Axel seperti apa. Hannah tidak bisa menjawab bahwa Ivander adalah temannya karena Hannah memang tidak berteman dengan Ivander.
Melihat kebingungan Hannah, Ivander dengan sendirinya menjawab pertanyaan Axel. Laki laki itu menoleh kearah Axel dan memasang senyum ramah agar Axel tidak takut dan tidak salah mengartikan keberadaannya. “Oh halo, nama Om Ivander. Om teman lama Mama kamu, kami sudah lama tidak bertemu. Kamu gak papa kan kalau Om dan Mama mu bicara sebentar?”
Axel menganggukkan kepala kecilnya itu pelan setelah merasa bahwa laki laki yang mengaku sebagai teman Ibunya itu tidak ada niatan untuk berbuat jahat. Axel menggenggam tangan Hannah, tidak akan meninggalkan Ibu nya itu meski ia tidak mengerti dengan pembahasan orang dewasa.
“Kenapa kau menemui ku Ivander?” tanya Hannah kepada Ivander yang masih berdiri tepat dihadapannya.
Hannah melihat Ivander kembali tersenyum sebelum membuka mulutnya tersebut membalas pertanyaan Hannah.
“Aku senang kau ternyata masih hidup Hannah, kau tahu aku memang lebih senang jika kau hidup bahagia dengan orang lain dan dibandingkan bersama dengan kakak ku. Tapi bukan kah ini agak tidak adil? kenapa kau justru menikah dengan laki laki yang memiliki kekas—”
“Tolong jangan bahas masalah ini disini Ivander, aku tidak ingin anak ku mendengar hal yang tidak tidak.” Hannah memotong perkataan Ivander, Hannah tahu hal apa yang ingin Ivander bahas dan Hannah tidak ingin Axel mendengarnya. Axel masih kecil.
Ivander menutup mulutnya rapat-rapat, merasa menyesal karena membahas hal ini diwaktu yang tidak tepat. “Maafkan aku, tapi jika aku tidak mengatakannya sekarang. Aku tidak tahu kapan aku punya kesempatan untuk mengatakan nya lagi kepada mu.”
Hannah menghela nafas berat, Ivander kelihatan lelah. Ivander masih mengenakan pakaian kerjanya. Tentu saja karena ini masih jam makan siang. Sepertinya Ivander dengan terburu buru kemari untuk menemui Hannah
tepat di jam makan siang dan melewatkan makan siangnya setelah tertekan oleh setumpuk pekerjaan hanya untuk menemui Hannah.
“Jika kau memang ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku, kau bisa menemui ku nanti malam. Sekarang kembali lah.” Hannah menepuk bahu Ivander lembut sebelum akhirnya pergi meninggalkan Ivander sembari bergandengan tangan dengan Axel. Memasuki mobil mereka yang terparkir rapih di pinggir jalan. Sekali lagi Hannah melirik Ivander melalui kaca spion mobilnya sebelum akhirnya melaju meninggalkan daerah sekitaran sekolah Axel itu.
__ADS_1