MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 34


__ADS_3

Hannah terbangun dari tidur nya, seharus nya saat ia terbangun tubuh nya terasa lebih segar dan sakit kepala nya berkurang. Namun sakit kepala itu justru semakin menjadi-jadi saat Hannah bangkit berdiri untuk keluar dari kamar.


Rasa nya benar benar menyakitkan, kenapa hanya untuk mendapatkan ingatan nya kembali Hannah harus melewati proses mengerikan ini? Hannah tidak ingin kelihatan lemah di depan Axel, jika Axel melihat Hannah lemah dan kesakitan seperti ini Axel pasti akan sangat khawatir dan berujung menangisi nya nanti.


Hannah berusaha menarik nafas dalam dalam, berusaha mengendalikan tubuh nya dan berjalan keluar kamar. Hari ini sudah malam, pasti yang lain nya sedang bersiap siap untuk makan malam.


Hannah harus keluar untuk menunjukkan bahwa ia tidak apa apa dan makan bersama. Dengan begitu Darlen, Giovano dan Axel tidak akan lagi khawatir dengan keadaan nya.


***


“Akhir akhir ini setiap aku melihat ku wajah mu tidak pernah terlihat senang.” Ivander berkunjung ke rumah Demitri, lagi lagi orang yang ditemui nya itu memandanginys dengan tatapan tak bersahabat.


“Kalau kau tidak suka dengan ekspresi wajah ku kau tidak perlu datang kemari, lagi pula kenapa kau selalu mengunjungi ku. Apa kau tidak memiliki urusan mu sendiri?”


Ivander dengan malas nya berbaring di sofa milik Demitri, “Siang tadi kau mengamuk di kantor, aku harus mengawasi mu sekarang. Takut kau berbuat macam macam nanti.”


Demitri menghela nafas berat, kalau sudah begini Demitri tidak bisa memarahi Ivander. Ia kalah.


***


“Mama sudah sehat?” tanya Axel saat melihat Hannah keluar dari kamar.


Hannah menganggukkan kepala nya, tersenyum menyambut pelukan dari Axel yang bahagia melihat Ibu nya kembali sehat.


“Pasti ini karena doa Asel kan, Asel tadi juga cium pipi Mama supaya Mama cepat sembuh.” Dengan Girang Axel menceritakan apa yang sudah dilakukan nya tak lupa juga menceritakan keseharian nya di sekolah. Hannah turut senang melihat Axel bahagia.


“Ayo kita makan malam, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua.” Darlen bersuara, ia telah menyiapkan makanan dan menata nya di atas meja makan. Siap untuk mereka semua nikmati.


“Ayo Ma, makan. Axel sudah lapal.”


***


Setelah makan malam selesai, Hannah dan Axel duduk berdua di depan televisi menonton tayangan televisi. Hannah menemani Axel menonton kartun kesukaan.


Hannah ikut menonton kartun tersebut, namun lama kelamaan Hannah merasa mengantuk saat menonton tayangan kartun tersebut sampai Hannah tidak sadar bahwa dirinya kembali jatuh tertidur.


Dan tepat saat Hannah tertidur, mimpi mimpi kelam nya kembali datang. Atau lebih tepat nya bayangan bayangan ingatan nya dari masa lalu. Dan kali ini semua nya bukan hanya potongan potongan ingatan kecil saja.



“*Apa yang kau tunggu Demitri, cepat tembak dia!”


Hannah melihat Martha berteriak di sela sela kesakitan nya, karena luka yang Hannah berikan sebelum nya. Martha gemas melihat Demitri yang hanya mengacungkan pistol itu tanpa melakukan apa apa, Demitri hanya terus memandang Hannah dihadapan nya.


“Tembak dia Demitri!!”


Demitri masih saja tidak bergeming, ia menatap Hannah yang berdiri tidak jauh dihadapan nya, Hannah tidak menunjukkan ekspresi apa apa. Bukan kah seharus nya Hannah tengah berduka saat ini? Hannah baru saja keguguran bukan.

__ADS_1


Demitri melihat Hannah memiringkan kepala nya menatap Demitri dengan wajah datar nya, “Kenapa kau belum juga menembak ku? Jangan ragu ragu, sebelum nya kau tidak ragu ragu menjual ku dan menyakiti ku lalu kenapa sekarang kau justru kelihatan ragu?”


Sesaat Demitri sibuk dengan pemikirannya sendiri Hannah dengan luwes mengambil alih pistol itu dari tangan Demitri dan membalikkan keadaan, kini Hannah yang menodong Demitri dengan pistol ditangan nya.


Hannah bisa melihat ekspresi terkejut Demitri tentu saja, namun ia tidak begitu perduli.


“Kenapa kau juga menunggu?” Tanya Demitri menatap Hannah yang masih mengacungkan pistol kearahnya, Seolah menantang Hannah untuk menembak nya.


“Apa kau juga tidak bisa menembak ku? Bukan kah kau membenciku? Ayo tembak saj—”


Namun Hannah tidak lagi sama dengan Hannah yang dulu, Hannah dalam mimpi ini terlalu sakit hati, terlalu terluka untuk berpikir lurus. Hingga Hannah menarik pelatuk pistol di tangan nya itu tanpa ekspresi.


“As you wish.”


Bang!


Demitri terlihat meringis kesakitan, jatuh terduduk ketika satu peluru tepat mengenai kaki nya. Demitri juga terlihat meneteskan air mata, namun air mata Demitri tersebut tidak menggerakkan perasaan Hannah sedikit pun. Yang terpikirkan oleh Hannah adalah air mata itu adalah air mata buaya, penyesalan sudah tidak ada arti nya lagi.


“Demitri!!”


Hannah melihat Martha berteriak, Martha tampak tidak terima dengan perlakuan Hannah kepada Demitri,


“Mati saja kau Hannah, diantara semua orang di dunia ini kau lah yang pantas mati dan disalahkan atas semua yang terjadi, kau seharus nya membunuh dirimu sendiri!” Teriak Martha kepada Hannah.


Hannah mengalihkan fokus nya kepada Martha.


“Diam!”


Bang!


Hannah menembak Martha, tangan nya gemetar dan menjatuhkan pistol itu bersamaan dengan tubuh nya yang ambruk.


Hannah menangisi diri nya, menangisi kepedihan masa lalu nya dan menangisi bahwa yang dikatakan oleh Martha tidak sepenuh nya salah, Martha benar.


Hannah memandang Martha yang tergeletak tak berdaya dilantai, darah mulai berceceran di lantai, luka tusukan di punggung Martha dan juga luka tembakan di perut itu lah yang menjadi penyebab lantai marmer berwarna putih itu berubah menjadi merah.


Hannah menjerit, ia kesakitan di dalam dirinya, ia terluka terlalu dalam di dalam dirinya.


Martha benar.. jika saja Hannah dulu bisa mempersatukan Ayah dan Ibunya semua nya tidak akan begini, jika saja dulu Hannah tidak meninggalkan Ayah nya semua nya tidak akan begini, seandai nya waktu itu Hannah tidak memutuskan untuk balas dendam semua nya tidak akan begini, semua nya memang bermula dari dirinya sendiri, ia sendiri yang membuat luka di dalam dirinya sendiri.


“Arghhhh!!!!”


Hannah berteriak, ia menangis meraung raung, Hannah berusaha untuk memukuli diri nya sendiri meski sebuah lengan yang berlumuran darah datang memberi nya pelukan namun tetap saja itu tidak bisa membuat Hannah tenang.


Semuanya hancur memang karena dirinya*.


Hannah yang menangis mendadak di peluk oleh Demitri, kenapa setelah semua yang terjadi Demitri justru memeluk Hannah?

__ADS_1


Hannah masih menangis saat polisi datang dan membekuk Hannah untuk di bawa ke kantor polisi atas tindakan kejahatan yang telah Hannah lakukan.


Hannah di penjara tentu saja, dalam mimpi itu Hannah melihat sendiri betapa menderita nya dirinya. menatap jeruji besi yang membatasi dirinya, hukuman untuk dirinya sudah ditetapkan sejak beberapa hari lalu, tidak ada keluarga yang bisa dikabarkan tentang hukuman mati nya, Hannah benar benar sendirian.


Hannah akan dieksekusi dengan cara ditembak mati, Hannah dalam mimpi nya itu sama sekali tidak merasakan perasaan takut, Hannah justru merasa diri nya pantas mendapatkan itu semua, karena itu semua memang salah nya, salah dirinya sendiri.


Satu hal yang Hannah syukuri, ia akan segera bertemu kedua orang tua nya. Meski itu harus dengan cara mengerikan seperti ini.


Sudah saat nya Hannah kembali ke pelukan ibu nya, misi nya telah berhasil. Martha sudah tewas ditangan nya, Martha sudah tewas karena kehabisan darah dan terlambat dilarikan kerumah sakit.


Hannah memejamkan mata nya ketika mengingat kata terakhir yang Martha ucapkan kepada nya bahwa semua hal yang terjadi adalah salah nya.


Bahu Hannah bergetar, ia kembali menangis, semua cobaan ini sudah jauh melebihi dari batas kemampuan nya.


Hannah berjalan keluar dari jeruji besi yang selama ini mengurung nya, Hannah hanya diam tak bicara ketika petugas memborgol tangan nya dan membawa nya ke suatu tempat yang sudah Hannah ketahui adalah ruang eksekusi.


Sebelum Hannah masuk kedalam ruangan tersebut mata nya ditutupi dengan sebuah kain, Hannah melangkah maju dalam arahan sang petugas dan diarahkan untuk berlutut diposisi yang sudah ditentukan.


Sebelum nya mereka sudah bertanya apakah Hannah punya permintaan terakhir sebelum dieksekusi namun Hannah tidak meminta apa apa, Hannah hanya berkata untuk melakukan nya dengan cepat.


Hannah bisa merasakan hawa dingin di ruangan tersebut, tempat itu sangat sunyi, Hannah hanya bisa mendengar suara nafasnya dan suara suara jantung nya yang berdetak, pikiran Hannah melayang memikirkan hidup nya selama ini.


Dilahirkan oleh Ibu yang baik hati, namun besar dengan penuh penderitaan. Namun senyum Hannah sempat terbit ketika mengingat momen momen bahagia nya bersama Ayah dan Ibunya, tertawa bersama karena sebuah hal kecil.


Namun senyum itu hanya sekilas, Hannah mulai meneteskan air matanya ketika mengingat bahwa hidup nya telah hancur ditangannya sendiri.


Hannah merasa bersalah kepada Ibu nya, seandai nya saja saat itu Hannah tahu bahwa Ibunya sangat depresi pasti Hannah bisa mencegah Ibunya untuk bunuh diri.


Hannah merasa bersalah kepada Ayahnya karena telah meninggalkan Ayahnya itu, seandainya Hannah tidak meninggalkan Ayah nya maka Ayah nya mungkin saat ini masih hidup bersama nya.


Hannah merasa bersalah kepada calon anak nya yang bahkan belum sempat lahir sudah harus kembali ke pelukan Tuhan, seandai nya Hannah tidak memulai pertikaian maka Hannah tidak akan dipenjara dan anak nya pasti selamat.


Hannah merasakan kain yang menutup mata nya basah, kenangan kenangan pedih masa lalu tidak pernah gagal membawa duka dihati nya dan membuat nya menangis.


Hannah merasa bersalah, ia terus menangis tidak menyadari dan tidak perduli ketika hitungan mundur sudah dimulai dan para sniper sudah mengarahkan senjata api mereka tepat kearah posisi jantung Hannah.


Tepat dihitung and terakhir, para sniper tersebut menarik pelatuk mereka dan melayangkan peluru ke jantung Hannah, hanya 3 dari beberapa sniper disana yang benar benar memiliki peluru dan peluru tersebut berhasil menusuk masuk tepat di jantung Hannah.


Membuat Hannah terjatuh tak berdaya, semuanya terjadi begitu saja tanpa suara karena senjata apinya sudah dipakaikan peredam suara, Hannah terbaring dengan darah yang mulai mengucur deras membasahi tubuh nya.


Semuanya menjadi gelap, tubuhnya mati rasa. Hannah hanya mampu menjerit dalam hati nya sebelum akhir nya semuanya benar benar menghilang, tertelan dalam kegelapan dan kesunyian.


mimpi Hannah tidak berhenti sampai disitu, berlanjut saat Dimana Hannah terbangun dalam keadaan tubuh sangat lemah. Hannah berpikir bahwa dirinya telah mati namun nyata nya dirinya masih selamat.


Atau lebih tepat nya diselamatkan oleh Giovano dan Darlen, Giovano dan Darlen membawa lari Hannah. Tapi Hannah tidak senang dengan hal tersebut, Hannah justru benar benar ingin mati. Lelah dengan semua beban di kehidupan ini dan ingin bertemu dengan kedua orang tua nya dan juga anak mu yang belum sempat terlahir kan kedunia itu.


Melakukan banyak tindakan bunuh diri, termasuk menyayat pergelangan tangan nya, menenggelam kan dirinya, hingga melompat dari atap.

__ADS_1


Benar benar kenangan yang mengerikan*.


__ADS_2