
Ivander mengerjap ngerjapkan memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat, wanita itu benar benar sangat mirip dengan Hannah. Wanita yang Demitri cintai.
Ivander bangkit dari posisi duduknya, berniat untuk melihat lebih dekat namun seorang wanita menarik tangan Ivander membuat Ivander mau tidak mau menoleh kearah nya.
“Kau mau kemana, bersenang senang saja disini dengan ku.” rayu wanita itu berusaha untuk membuat Ivander kembali duduk disamping nya, namun Ivander menolak nya. Jelas saja hal ini lebih penting dari pada bersenang senang dengan wanita itu.
Ivander menepis tangan wanita tersebut dan kembali melanjutkan langkah nya. Namun Ivander tidak lagi melihat keberadaan wanita yang mirip dengan Hannah itu.
Ivander berkeliling berusaha mencari, karena ia yakin bahwa wanita itu benar benar sangat mirip dengan Hannah. Tidak mungkin jika Ivander salah melihat orang ataupun berhalusinasi.
Belum ada setetes pun minuman yang Ivander tenggak malam ini, Ivander juga tidak mungkin berhalusinasi Ivander bukan Demitri.
Jadi sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa dia bisa mirip sekali dengan Hannah?
Apakah Hannah masih hidup?
Ivander menggelengkan kepala nya, hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Ivander jelas jelas tahu bahwa Hannah telah dihukum mati dan Ivander pun selalu datang ke makam Hannah setiap ada kesempatan jadi mana mungkin orang yang telah mati bisa hidup kembali.
Ivander menghela nafas berat dan memijit pelipis nya yang mendadak terasa pening, seketika Ivander teringat dengan perkataan Demitri sebelum nya bahwa Demitri melihat Hannah meskipun ia sudah meminum obat nya.
Apa kebetulan waktu itu Demitri juga bertemu dengan wanita yang Ivander lihat malam ini?
Jika iya siapa sebenar nya wanita itu?
.***
“Sebenar nya ada apa dengan mu Darlen, kenapa kau menarik ku kemari?” Hannah menatap bingung ke arah Darlen, mereka sekarang ini tengah berada di ruangan Darlen.
Hannah memperhatikan Darlen yang masih kelihatan panik, Darlen merogoh ponsel di saku celana nya dan mengirim kan pesan kepada Giovano.
“Pulang lah, aku sudah menyuruh Giovano untuk menjemput mu. Jadi sekarang ganti pakaian mu.”
Hannah mengerutkan kening nya, bukan ini jawaban yang ingin Hannah dengar. “Kenapa kau justru menyuruh ku pulang, kau tidak menjawab pertanyaan ku Darlen. Kau ini sebenar nya kenapa, sejak dua hari yang lalu kau jadi bersikap aneh begini. Sebelum nya kau terburu buru membawa mobil seolah olah takut dikejar seseorang dan sekarang kau membawa ku kemari seolah olah kita sedang bersembunyi dari seseorang. Sebenar nya kau kenapa?”
__ADS_1
Darlen menggelengkan kepala nya, “Ini bukan apa apa. Aku hanya tidak memerlukan bantuan ku disini, lebih baik kau pulang dan bermain dengan Axel.”
“Tapi bukan kah kita sudah membahas permasalahan ini sebelum nya, kau juga sudah setuju. Ada Giovano dirumah jadi ketidak-hadiran ku dirumah bukan lah masalah. Jawab aku Darlen, sebenar nya apa yang terjadi padamu?” Hannah masih bersikeras ingin mengetahui apa yang Darlen sembunyikan, namun Darlen nampak nya tidak akan memberitahu kan Hannah meski Hannah memaksa sekali pun.
“Aku sudah mengatakan nya kepada mu bahwa tidak ada apa apa, Giovano ada urusan jadi ia tidak bisa menjaga Axel, maka dari itu ia akan kemari menjemput mu pulang lalu pergi mengurus urusann ya.”
Darlen berbohong, Hannah tahu itu. Tapi Hannah tidak ingin berdebat lagi, ia hanya diam menuruti perkataan Darlen.
Mungkin bukan sekarang, mungkin nanti Darlen akan bicara jujur kepada nya.
***
Ivander masih mengelilingi Bar tersebut berharap ia bertemu dengan wanita yang ia lihat mirip dengan Hannah itu.
Karena sepengelihatan Ivander sebelum nya, wanita itu mengenakan seragam yang sama dengan seragam yang wanita incaran Christian kenakan. Jadi seharusnya wanita itu berkerja disini dan pasti dia ada di suatu tempat di Bar ini.
Namun berkali kali Ivander berkeliling tidak sekali pun ia melihat wanita itu lagi, Ivander mulai meragukan mata nya sendiri sekarang. Mungkin kah ia hanya salah lihat?
Mungkin saja benar, Ivander salah lihat. Mungkin saja ini efek karena Ivander terlalu sering melihat foto Hannah lantaran disetiap sudut rumah kakak nya terpajang wajah Hannah.
Ivander berdecak dan berbalik menuju tempat sebelum nya, dimana Christian sedang sibuk menggoda wanita incaran nya itu.
“Hei, Ivander kau dari mana saja?” Teman Ivander yang lain yang sebelum nya bermain dilantai dansa itu telah kembali dengan seorang wanita yang duduk di atas pangkuan nya.
“Toilet.” Jawab Ivander singkat, Ivander kembali duduk ditempat nya. Sejenak Ivander merenung sembari memegangi segelas Vodka ditangan nya.
Pandangan Ivander teralih kan kepada wanita yang sibuk Christian goda, sebuah pemikiran terlintas dikepala Ivander. Jika Ivander tidak salah melihat dan benar ada wanita yang mirip dengan Hannah berkerja di Bar ini pasti wanita yang Chiristian sukai itu mengenal siapa wanita itu bukan?
Ivander menaruh kembali gelas nya diatas meja, ia mendekati wanita itu meski Christian yang berada disisi wanita itu merengut tak senang dengan kedatangan Ivander yang tiba tiba.
“Siapa nama mu?” tanya Ivander pada wanita itu, Christian yang memperhatikan nya berdecak tidak senang.
“Hei, Ivan—” Baru saja Christian ingin protes kepada Ivander, Ivander sudah lebih dulu memberi Christian pandangan untuk jangan mengganggu. Mau tidak mau Christian hanya bisa diam menonton.
__ADS_1
“Elijah.” jawab wanita itu singkat.
Ivander mengeluarkan ponsel milik nya, Christian semakin merengut tidak senang. Berpikiran bahwa Ivander berniat untuk meminta nomer telepon Elijah.
Namun pemikiran Christian itu salah besar, Maksud Ivander mengeluarkan ponsel nya adalah untuk menanyakan apakah ada wanita yang berkerja di tempat ini dengan rupa yang mirip dengan Hannah.
Ivander membuka galeri ponsel nya, mencari foto Hannah yang kebetulan tersimpan di ponsel nya itu.
“Apa wanita yang mirip dengan di foto ini berkerja di tempat ini?” tanya Ivander sembari menyodorkan ponsel nya, baru saja Elijah ingin menoleh melihat foto yang Ivander tunjukan Elijah sudah lebih dulu dipanggil oleh atasan nya.
“Elijah!”
Darlen lah yang memanggil nya, dengan wajah erius ia memberikan gestur agar Elijah segera menghampirinya. Mau tidak mau Elijah bangkit dan berjalan cepat menuju Darlen tanpa sempat melihat foto yang Ivander tunjuk kan.
Elijah menatap Darlen takut takut, Darlen terlihat sangat serius. Elijah takut bahwa ia telah membuat kesalahan sehingga membuat Darlen marah kepada nya.
“Aku ingin meminta bantuan mu.” Ujar Darlen serius.
“Bantuan?” tanya Elijah pelan, dalam hati ia merasa lega bahwa ia tidak dimarahi.
“Jika ada orang yang bertanya tentang Hannah, ku harap kau bisa berpura pura tidak mengenal Hannah atau pun melihat nya.”
Elijah mengerutkan kening nya kebingungan, “Tapi kenapa?”
“Ku mohon, ini demi kebaikan Hannah. Kau bisa kan?” tanya Darlen lagi yang dibalas anggukkan kepala oleh Elijah.
“Baik, sekarang kembali lah berkerja.”
***
“Kau kelihatan kesal.” Giovano melirik Hannah yang duduk disebelah nya, mereka tengah ada di dalam mobil sekarang. Dalam perjalanan pulang.
“Kalau aku mengatakan alasan kenapa aku kesal dan menuntut jawaban dari mu kau juga pasti akan berakhir berbohong sama seperti Darlen.” tukas Hannah pelan sembari menatap keluar.
__ADS_1
Giovano terdiam, benar apa yang Hannah katakan. Jika Hannah menuntut penjelasan pasti Giovano akan berakhir berbohong dan menutup nutupi kebenaran nya, semuanya ini Giovano dan Darlen lakukan atas dasar karena mereka perduli kepada Hannah dan tidak ingin Hannah terluka.
Atau lebih tepatnya terluka ‘lagi’.