
Hannah menodongkan pisaunya tepat dileher Martha, Hannah sempat mengusap bekas luka yang sebelumnya ia torehkan diwajah Martha.
“Aku akan mengantarkan kau ketempat dimana kau seharusnya berada.” Hannah memberikan sayatan dileher Martha, Martha yang berada dibawahnya bergerak gerak melawan, namun Hannah seolah tak terlawan, Hannah begitu kuat menahannya.
“Argh- lepaskan!” Martha mencekik Hannah, ia mencengkram leher Hannah sekuat mungkin, berharap tindakannya akan membuahkan hasil namun Hannah tetap tak bergeming.
Martha menjerit kesakitan, Hannah memberikan luka ditempat yang sama dimana Hannah sebelumnya lukai, Martha tidak tahu harus bagaimana lagi, Martha dengan sekuat tenaga mendorong Hannah hingga terdorong beberapa langkah sebelum akhirnya Martha menendang perut Hannah hingga Hannah jatuh kelantai.
Martha mengambil kesempatan itu untuk berlari mengambil senjata yang selama ini ia sembunyikan di laci lemari televisinya, Martha menodongkan pistol kearah Hannah yang bangkit berdiri dan menatapnya dengan datar, Hannah seolah tidak gentar dengan todongan pistol Martha, seolah olah pistol itu tidak akan melukainya, tidak akan membuatnya berhenti untuk melakukan apa yang di inginkan ya saat ini.
__ADS_1
“Berhenti ku bilang! Aku tidak akan segan segan melukai mu!” Martha semakin mengacungkan pistol di tangannya, “Kau bisa mati saat ini juga, aku akan mempertemukan diri mu dengan kedua orangtua sialan mu itu!”
Martha menggerakkan jari telunjuknya, hendak menarik pelatuk pistolnya namun suara gedoran pintu apartemen nya membuat fokus Martha teralih, belum lagi ketika Martha mendengar bahwa Demitri lah yang datang.
“Martha, kau meninggalkan dompet mu di mobil ku, cepat ambil ini aku harus segera kembali. Ada urusan penting yang harus aku lakukan sekarang ini.”
Martha berjalan mundur, ia masih terus menodongkan pistolnya sembari berjalan perlahan lahan menuju pintu. Martha ingin Demitri melihat bahwa Hannah mengajarinya sehingga Demitri akan melupakan niatnya untuk membebaskan Hannah dari penjara.
Martha membuka pintu itu dan Martha bisa melihat dari sudut matanya bahwa Demitri terkejut melihatnya yang menodongkan pistol kearah Hannah.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan Martha, kau mau membunuh Hannah?!” Demitri meneriakinya, menjatuhkan dompet Martha yang sebelumnya ia genggam. “Lepaskan senjata itu, jangan bertindak macam macam kau Martha.”
Martha mengernyit tidak senang, bukan reaksi seperti itu yang ia harapkan dari Demitri. “Kau tidak melihat Demitri, aku lah disini yang terluka, dia melukai ku! Aku menodongnya dengan pistol agar dia tidak coba coba menyakiti ku lagi!”
Martha mengalihkan fokusnya kepada Demitri, ia menurunkan pistolnya dan menunjukkan Demitri luka dilehernya, Martha terlalu sibuk mengambil perhatian Demitri hingga ia tidak sadar Hannah berjalan mendekatinya dan menghujamkan pisau tajamnya tepat di punggung Martha.
“K-kau!” Martha kesakitan, lukanya sudah teramat banyak, dengan tangan gemetaran Martha kembali menodongkan pistol ke kepala Hannah, ia menggerakkan jali telunjuknya yang terasa tak berdaya namun tiba tiba saja pistol ditangannya di ambil alih.
Hannah hendak mengambil alih pistol tersebut namun Demitri bergerak lebih cepat sehingga Demitri yang mendapatkan pistol itu. Senyum Martha terbit diantara kesakitan ya akibat dari luka yang ia dapati. “Tembak dia Demitri, jangan beri ampun.”
__ADS_1