MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 13


__ADS_3

Hannah, Darlen dan Giovano masih berada di mobil saat mereka melihat Demitri dan Ivander pergi dari depan rumah mereka.


Darlen menghela nafas lega saat melihat mereka benar benar pergi, Giovano kembali memutar arah mobil mereka menuju rumah mereka.


Setidaknya mereka bisa pulang ke rumah dengan tenang malam ini, tapi entahlah dengan esok hari.


Karena Giovano yakin bahwa Demitri dan Ivander pasti akan datang lagi.


***


Setelah Hannah menidurkan Axel, Hannah, Darlen dan Giovano berkumpul di ruang tengah. Itu semua karena Hannah yang meminta.


Pembicaraan mereka di mobil belum selesai, Hannah masih belum mendapatkan penjelasan yang di inginkan nya.


“Dulu saat aku bertanya kepada kalian kenapa aku memiliki banyak luka di tubuh ku, kalian mengatakan bahwa dahulu aku pernah diculik dan disiksa, lalu kecelakaan saat melarikan diri sehingga lupa ingatan. Apa kedua laki laki yang sebelumnya datang kemari itu adalah orang yang kalian maksud menculik dan menyiksa ku?” Hannah ingat dengan perkataan Darlen dahulu perihal luka luka di tubuh Hannah.


Darlen menganggukkan kepalanya, “Iya mereka lah yang menculik dan menyiksa mu.”


Hannah mengerutkan alisnya merasa janggal, “Jika memang mereka yang menculik dan menyiksa ku, kenapa mereka bisa berkeliaran bebas dan tidak di penjara?”


Darlen gelagapan, bingung harus menjawab apa. Untungnya Giovano dengan sigap menggantikan Darlen menjawab pertanyaan Hannah.


“Mereka bukan orang sembarangan Hannah, bagi mereka keluar dari penjara adalah hal mudah. Mereka punya kekuasaan, karena itu lah Aku dan Darlen tidak punya pilihan lain selain menyembunyikan mu.” ucap Giovano menjelaskan, Hannah masih tidak puas dengan jawaban itu.


Hannah masih belum bisa mempercayai sepenuhnya cerita Darlen dan juga Giovano tapi setidak nya Hannah menghargai mereka yang mau bercerita entah itu kisah yang sebenar nya atau karangan Darlen dan Giovano lagi. Hannah tidak tahu, tapi satu hal yang sudah pasti Hannah ketahui.


Bahwa Darlen dan Giovano tidak ada niat jahat terhadap nya, Mereka tidak akan menyakiti Hannah. Hannah bisa merasakan sendiri bahwa Darlen dan Giovano menyayangi nya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


***


“Meeting nya berjalan lancar?” Ivander baru saja bertemu dengan Demitri di lobby kantor, Demitri baru saja kembali dari meeting panjang bersama klien. Sebentar lagi jam makan siang, Ivander mengajak Demitri untuk makan siang bersama namun Demitri menolak.


“Aku sudah makan, kau pergi makan sendiri saja.” Demitri hendak pergi menuju lift namun Ivander menghentikan nya sejenak. Seperti biasa Ivander mengingatkan Demitri untuk tidak lupa minum obat. Kegiatan rutin Ivander setiap hari, menjadi alarm minum obat untuk Demitri.


“Hei jangan lupa minum obat mu okay?”


Demitri hanya menganggukkan kepala nya sambil lalu, Ivander berdecak melihat sikap acuh Demitri.


Demitri pasti masih memikirkan wanita itu, sosok wanita yang mirip dengan Hannah itu. Ivander agak khawatir Demitri akan kecewa nantinya jika wanita itu ternyata tidak terlalu mirip dengan Hannah, mereka kebetulan melihat wanita itu mirip karena mereka melihatnya sekilas dan karena mereka terlalu memikirkan sosok Hannah yang telah tiada itu.


Tapi jika seandainya wanita itu memang benar benar mirip dengan Hannah maka apa kedepannya yang akan terjadi? Apa Demitri akan mendekati wanita itu sebagai pengganti Hannah yang telah tiada?


Ivander harap tidak begitu, hal seperti itu hanya akan membawa Demitri kedalam penyesalan lagi. Salah melangkah hanya akan membuat Demitri menderita pada akhirnya.


***


“Kita tidak punya pilihan lain, aku tidak mau melihatnya seperti dulu lagi. Apa kau tidak ingat seberapa hancurnya Hannah dulu?” Darlen menatap Giovano dengan mata memerah, sebenarnya Darlen juga benci berbohong kepada Hannah. Darlen juga lelah terus menyembunyikan kebenarannya tapi Darlen tidak bisa lupa bagaimana Hannah dulu menderita.


Flashback


“*Luka tembaknya tidak terlalu dalam jadi seharusnya Hannah bisa selamat, cepat Giovano, sebelum semuanya terlambat!” Darlen berteriak sembari ia sibuk menekan luka tembak di dada Hannah dengan tangannya, Darlen dan Giovano membawa lari Hannah.


Darlen dan Giovano telah merencanakan semuanya, ia sudah menyuap orang dalam disana agar Hannah tidak benar benar ditembak tepat dijantung nya, Darlen dan Giovano menyerahkan uang yang sangat banyak agar mereka bisa menutupi soal kematian Hannah, menggantikan Hannah dengan mayat orang lain.


Giovano tidak melajukan mobil nya menuju rumah sakit namun menuju rumahnya, disana Giovano sudah menyediakan dokter kepercayaannya dan segala peralatan yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa Hannah.

__ADS_1


“Cepat!” sesaat Giovano berhasil membawa masuk mobilnya ke dalam garasi mobilnya saat itu juga Giovano berteriak kepada para pelayan yang telah bersiap menunggu kedatangannya untuk datang membawa bangsal. Bersama sama mereka mengangkat tubuh Hannah keatas bangsal dan mendorongnya menuju ruangan yang telah Giovano sediakan.


Dokter didalam ruangan tersebut sudah siap dengan semuanya, dengan cekatakan ia dan membuka pakaian Hannah, mengecek sedalam apa peluru itu masuk ke dalam dada Hannah.


“Selamatkan dia dok, bagaimana pun itu caranya selamatkan dia.” ujar Darlen kepada dokter itu, Giovano menarik Darlen untuk keluar dari ruangan itu. Dengan maksud agar konsentrasi dokter yang menangani Hannah tidak terpecah karena kepanikan Darlen.


“Tenanglah Darlen, Hannah pasti selamat.”


***


Operasi berjalan lancar, peluru berhasil di keluarkan dari dalam tubuh Hannah. Namun Hannah masih juga belum sadar, Hannah sempat kritis karena kekurangan darah. Untunglah semua itu bisa terlewati, dan sekarang hanya perlu menunggu Hannah membuka matanya, dan kembali sehat seperti dulu.


Namun kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan, Harapan Darlen, Hannah bangun dan bisa kembali menjalani hidupnya kembali.


Tapi nyatanya ketika Hannah sadar, Hannah justru menjerit, memaki Darlen dan Giovano karena telah menyelamatkannya. Hannah tidak ingin hidup, Hannah mengatakan bahwa Darlen dan Giovano telah menghancurkan semuanya.


Hannah tidak ingin hidup di dunia yang menjijikan ini, Hannah tidak ingin hidup setelah semua penderitaan yang ia alami. Hannah hanya ingin pergi dengan tenang, menyusul orang tua nya, menyusul anaknya yang telah tiada tanpa sempat terlahir ke dunia ini.


“Kau melukai dirimu lagi?!” Darlen berlari menghampiri Hannah yang tergeletak tak berdaya di lantai dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya, ini sudah yang kesekian kalinya Hannah mengiris pergelangan tangan nya untuk bunuh diri.


Sejak pertama kali Hannah bangun setelah operasi itu berhasil, Hannah selalu saja berusaha menyakiti dirinya sendiri. Melukai dirinya sendiri sedemikian rupa hanya untuk menemui ajalnya.


“Giovano!!!” Darlen berteriak memanggil kekasihnya, Giovano segera datang dengan cepat. Melihat kondisi Hannah Giovano tahu apa yang harus dilakukannya, sama seperti sebelum sebelumnya Giovano menelepon dokter kepercayaan nya untuk segera datang menangani Hannah.


Sembari menunggu dokter datang Giovano membantu Darlen untuk menahan luka di pergelangan tangan Hannah dengan kain agar tidak mengeluarkan darah semakin banyak lagi.


“Sampai kapan kau akan terus seperti ini Hannah, kau seharusnya hidup dengan baik. Mati bukanlah solusi, kepedihan mu di masa lalu jangan terus kau ingat ingat, lepaskan semuanya, mulai lah hidup yang baru.” Darlen mengusap kening Hannah, wajah Hannah terlihat pucat. Darlen menyayangi Hannah seperti ia menyayangi adik nya sendiri*.

__ADS_1


*Darlen telah menganggap Hannah sebagai adiknya, dan melihat Hannah tersiksa seperti ini membuat Darlen juga merasa tersiksa.


Seandainya saja, seandainya Darlen bisa membantu Hannah melupakan semua kepedihan dan trauma nya itu. Pasti semua bisa berjalan lebih baik*.


__ADS_2