
Hannah menoleh ketika pintu kamar rawatnya dibuka secara paksa, Ivander berdiri disana dengan nafas terengah-engah tak lupa dua orang polisi yang berusaha menahannya untuk tidak masuk ke dalam.
"Biarkan aku masuk, aku tidak akan melakukan hal aneh aku hanya ingin melihat keadaannya!"
Hannah mendengar teriakan teriakan Ivander berdebat dengan para polisi itu, Hannah disatu sisi merasa salut kepada Ivander yang nampak sangat perduli kepadanya namun disisi lain Hannah juga merasa Ivander melakukan hal yang percuma, tidak ada artinya.
Untuk apa Ivander baik kepadanya disaat Hannah sendiri saja sudah tidak memiliki harapan lagi, untuk apa Ivander mencoba untuk mendukung dan berada disisinya sementara Hannah sudah tidak punya alasan untuk tetap hidup di dunia.
Untuk siapa ia hidup? Tidak akan ada yang perduli jika ia mati, perasaan Ivander hanya perasaan sesaat karena Hannah sebelumnya mengandung anak dari Demitri, Ivander hanya menyayangi calon anak itu tidak lebih.
Hannah tahu orang sepertinya tidak pantas dicintai, Hannah juga tidak mau mencintai, setiap kali Hannah mencintai sesuatu ataupun seseorang, mereka akan lenyap darinya, pergi dengan meninggalkan luka yang dalam.
"Kau baik baik saja?"
__ADS_1
Hannah menoleh menatap Ivander yang menunjukkan wajah khawatirnya, "Berhenti berekspresi seperti itu, itu tidak ada gunanya."
Ivander mengerutkan alisnya bingung, ia tidak mengerti dengan apa yang akan Hannah maksud.
"Apa maksud mu? Jawab pertanyaan ku apa kau baik baik saja?" Ivander hendak mendaratkan telapak tangannya dikening Hannah, berniat menyeka keringat di dahi Hannah namun Hannah justru mengelak, ia menepis tangan Ivander menjauh.
"Berhenti bersikap baik padaku, calon keponakan mu sudah tidak ada jadi berhenti bersikap sok baik padaku, sudah tidak ada artinya."
Ivander yang mendengar Hannah bicara begitu merasa tidak senang, "Kenapa kau kelihatan menyedihkan begini? Bukan kah kau wanita kuat, bukan kah kau benci dengan Demitri, lalu kau akan membiarkan dirimu terlihat menyedihkan sementara Demitri akan tertawa bahagia dalam rangka menyelenggarakan pernikahannya begitu?!"
Ivander mundur selangkah, "Aku tahu kau sedang tidak ingin melihat ku, aku akan pergi tapi pikirkan lah maksud dari perkataan ku baik baik."
Ivander semakin mundur sebelum akhirnya ia berbalik pergi, Ivander merasa bersalah atas keguguran Hannah, Ivander merasa lalai menjalankan tugasnya sebagai calon paman dan juga sebagai seorang adik.
__ADS_1
Sepeninggal Ivander, Hannah merenung menatap langit langit kamar rawatnya, Hannah benar benar memikirkan apa yang Ivander katakan, namun dari sudut pandang yang berbeda.
Hannah sadar, ia memang tidak seharusnya lemah, bagaimana mungkin ia bersikap putus asa dan hilang harapan akan hidup sementara orang yang menjadi penyebab dari penderitaannya tertawa bahagia.
Hannah berpikir Demitri tidak merasakan kesedihan atas kehilangan dari calon anak mereka, Demitri terlalu sibuk dengan Martha, Martha pun jika mengetahui hal ini ia hanya akan merayakannya dengan senang.
Hannah mengepalkan tangannya, Hannah tidak mau menderita sendirian, Hannah akan menarik semua orang kedalam jurang yang sama, menderita bersama.
Hannah bangkit dari posisinya yang sebelumnya berbaring, Hannah menatap kearah pintu yang tidak tertutup dengan rapat, Hannah bisa melihat ada dua polisi berjaga di depan pintu tersebut.
Pandangan Hannah teralih kearah jendela, Hannah meneliti apakah kita kira ia bisa melompat dari jendela itu.
Bersyukur Hannah tidak dirawat dilantai yang tinggi sehingga memungkinkan bagi Hannah untuk melompat dari jendela dan berlari, namun sialnya tepat di depan jendela itu adalah taman rumah sakit dimana banyak pasien atau bahkan perawat yang berkeliaran, Hannah jelas akan ketahuan jika ia nekat melompat sekarang.
__ADS_1
Hannah akan menunggu, Hannah akan menunggu hingga waktu memungkinkan baginya untuk melompat.