
“Kau sudah menghubungi Hannah?” Demitri langsung menyemprot Rafael dengan pertanyaan ketika Rafael masuk ke ruangannya hendak memberikan dokumen yang harus Demitri tanda tangani.
“Saya sudah menghubungi ponsel Hannah Pak namun yang mengangkat justru laki laki dan laki laki tersebut bilang Hannah sedang kurang sehat.”
Dahi Demitri berkerut, laki laki mana yang mengangkat telepon Hannah? Giovano kah? Atau laki laki lain?
Demitri menyerahkan dokumen yang sudah ditanda tanganinya kepada Rafael, “Batalkan jadwal ku hari ini, aku ada urusan lain yang harus ku lakukan.”
Demitri meraih jas miliknya dan memakainya, Demitri berjalan terburu buru keluar dari ruangannya. Demitri bersumpah akan memergoki Hannah dan Giovano, jika benar mereka menghabiskan waktu bersama selama ini maka Demitri tidak akan segan segan untuk memberi Hannah pelajaran.
Demitri hanya menyuruh Hannah melayani Giovano semalam saja bukan terus terusan seperti ini, memang sekalinya pelacur tetap saja pelacur.
***
“Kau mencari siapa?”
Demitri menoleh kearah sosok perempuan yang melihat kearah Demitri tidak senang, sepertinya wanita itu tinggal tepat disebelah apartemen Hannah dan kegiatan Demitri mengetuk ngetuk pintu apartemen Hannah secara brutal mengganggu perempuan itu.
__ADS_1
“Apa kau Hannah di dalam atau tidak?”
Perempuan itu nampak mengernyit, “Kau ini siapanya? Kau tidak tahu ya hampir seminggu yang lalu dia dibawa oleh dua temannya ke rumah sakit, aku tidak tahu persisnya kenapa tapi aku melihat ada banyak darah di bajunya. Aku sudah bertanya tapi temannya tidak mau memberitahu.”
Entah kenapa Demitri merasa tubuhnya kaku mendengar bahwa kondisi Hannah sedang tidak baik.
“Kau tahu dia dibawa kerumah sakit mana?”
“Tiga hari yang lalu aku baru menjenguknya, ia dirawat dirumah sakit umum dekat sini, tidak jauh.”
Demitri bergegas berlari memasuki mobilnya, Demitri bahkan lupa mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu atau memang Demitri tipikal laki laki yang tidak sudi mengucapkan terima kasih.
Demitri hanya perduli tentang Martha, Hannah bukan apa apa baginya. Seharusnya mendengar kabar Hannah terluka tidak mengusiknya.
Harusnya begitu.
Tapi kenapa?
__ADS_1
***
Demitri menyesal, ia menyesal telah datang kerumah sakit, untuk apa juga ia datang kerumah sakit jika ujung ujungnya hanya melihat adegan menjijikan Hannah dengan laki laki lain.
Entah siapa laki laki itu Demitri tidak mau ambil pusing untuk memikirkannya, Demitri merasa bodoh karna telah jauh jauh mencari Hannah dan berujung mendapati Hannah tengah berduaan dengan laki laki yang jelas jelas bukan Giovano.
Demitri yakin banyak sekali laki laki di dalam kehidupan Hannah, mungkin besok besok Demitri akan mendapati Hannah dengan laki laki yang berbeda lagi nantinya, wanita seperti Hannah memang tidak bisa dipercayai dan tidak pantas dipercayai.
Demitri berpikir untuk apa ia pusing pusing menjenguk Hannah, jika Hannah butuh sesuatu pasti Hannah akan datang sendiri kepada Demitri, seperti butuh sentuhan contohnya ketika laki laki lain yang bersamanya tidak bisa membuatnya puas, seperti itulah adanya karna Hannah memang wanita murahan.
***
Hannah melepaskan pelukan James, “Kau berjanjikan akan membantuku menghabisi Martha?”
Hannah mengeratkan cengkeramannya di lengan James, Hannah jelas sekali menekan James untuk mengiyakan permintaannya. Hannah tidak punya cara lain, James lah satu satunya kunci yang ia punya setelah Hannah menyerah dengan Demitri.
Senyum Hannah melebar ketika melihat James mengangguk, masa bodo jika Hannah nantinya akan dikenakan hukuman penjara atau apapun itu atas rencana pembunuhan, Hannah hanya ingin menyelesaikan semuanya, mati pun ia tak masalah asalkan Martha habis ditangannya.
__ADS_1
Hannah sekelebat melihat sosok yang mirip dengan Demitri sebentar mengintip ke dalam dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, Hannah tersenyum miris kepada dirinya sendiri karna merasa dirinya sudah gila. Mana mungkin Demitri ada disini, meski Hannah mati sekalipun Hannah ragu Demitri akan sudi menghadiri pemakamannya.