
“Jangan sentuh foto itu.” suara berat Demitri membuat gerakan Ivander yang hendak mengambil foto tersebut berhenti.
“Kak—”
“Diamlah Ivander, jika kau akan mengatakan hal yang sama lagi maka lebih baik kau diam. Kau tidak mengerti apa yang ku rasakan, semua nya tidak semudah yang kau katakan. Sampai kapan pun aku tidak akan bisa melupakan nya, aku tidak akan bisa melupakan Hannah.” Demitri berucap dengan wajah dingin, ia lelah terus terusan dibujuk oleh Ivander untuk menemui wanita lain.
Mencari pengganti Hannah, sampai kapanpun Hannah tidak akan bisa tergantikan. Tidak semudah itu, dan juga Demitri tidak mau melakukan nya. Tidak semudah itu.
***
Demitri baru menyelesaikan pekerjaan nya saat jam sudah menunjuk kan pukul 8 malam, Demitri tidak langsung melajukan mobil nya menuju kediaman nya melainkan menyempat kan diri untuk makan di restoran yang ia inginkan.
Sesaat Demitri memarkirkan mobil nya diparkiran restoran tersebut, saat itu lah Demitri melihat sesuatu dari pantulan kaca spion mobil nya.
Mata Demitri melebar saat melihat hal itu dan ia segera membuka pintu mobil nya untuk turun, namun sosok yang Demitri lihat itu menghilang setelah Demitri berhasil turun dari mobil.
Nafas Demitri mendadak menjadi berat, ia yakin dirinya tidak salah lihat. Wanita itu.. sosok wanita yang ia lihat barusan terlihat sangat amat mirip dengan wanita yang Demitri cintai sampai saat ini; Hannah.
Demitri mengacak acak rambutnya kasar, apakah ini halusinasi lagi? Apa Demitri kembali berhalusinasi lagi seperti dulu, tapi Demitri telah meminum obat nya jadi seharus nya ia tidak mengalami halusinasi lagi.
Lalu barusan itu apa?
__ADS_1
Atau apakah ini efek karena Demitri terlalu merindukan Hannah?
***
“Ada apa, kenapa kau terburu buru sekali menyetir nya?” Seorang wanita menatap bingung laki laki yang duduk disamping nya, laki laki itu terlihat sesekali melirik kaca spion mobil nya dengan raut wajah panik. Seolah-olah takut di ikuti oleh seseorang.
Hal itu membuat wanita tersebut semakin kebingungan dan penasaran, “Darlen.. ada apa?” tanya wanita itu sekali lagi.
Laki laki yang bernama Darlen itu akhirnya mengurangi laju kecepatan mobil nya. Ia menggelengkan kepala nya. “Bukan apa apa Hannah.”
Sekali lagi Darlen melirik kaca spion mobil nya, ia menghela nafas lega setelah merasa bahwa mereka tidak diikuti.
***
Demitri berdecak sebal lantaran Ivander ada dirumah nya, “Aku tidak ingin bertengkar Ivan, pulang lah. Kau punya tempat tinggal mu sendiri.”
“Aku tidak mengajak mu bertengkar, aku hanya bertanya apa kau sudah makan atau belum.” Ivander tidak mau mengalah, bukan nya Ivander bermaksud untuk mengganggu kehidupan Demitri.
Tapi Ivander masih tidak bisa percaya kepada Demitri, semenjak kematian Hannah. Demitri kerap sekali memperlakukan dirinya sendiri dengan buruk ataupun melukai dirinya sendiri.
Ivander hanya berusaha agar hal buruk itu tidak terjadi lagi. Dia seperti ini karena perduli.
__ADS_1
“Aku sudah makan malam diluar, sekarang pulang lah. Aku ingin sendiri.” Demitri melepas jas kerja nya dan melempar nya ke sembarang.
Ivander tidak menuruti perintah Demitri, justru semakin Demitri ingin sendirian disitu lah Ivander akan semakin memaksa untuk tinggal.
“Sebelum tidur minum lah ob—”
“Tidak bisa kah kau diam?! kenapa kau terus saja menyuruh ku untuk meminum obat itu. Semua nya tidak ada gunanya Ivander, meski aku meminum obat itu pun aku tetap berhalusinasi melihat Hannah!” Demitri melempar botol obat yang Ivander serahkan sehingga obat dari dalam botol tersebut berserakan di lantai.
“Tentu saja kau terus berhalusinasi, karena kau tidak bisa melepas kan tentang nya. Sudah berapa kali aku katakan pada mu untuk mengikhlaskan nya.” Ivander ikut tersulut amarah, “Aku sudah memperingat kan mu sebelum nya bahwa kau akan menyesal tapi kau tidak pernah mendengar kan ku.”
“Karena itulah aku ingin sekali menghabisi nyawa ku sendiri, seandai nya saja aku menyadari perasaan ku lebih awal. Semua nya tidak akan jadi begini, Hannah pasti masih hidup sekarang.” Demitri mengacak acak rambut nya kasar, ia benar benar putus asa.
Yang ada di kepala nya selalu saja tentang Hannah, dari ia membuka mata hingga ia kembali menutup mata, selalu Hannah yang ada di kepala nya.
Dalam mimpi pun Hannah lah yang muncul di mimpi nya, setiap malam. Rasa nya benar benar menyiksa.
“Kak.. ku mohon lupakan lah dia.” Ivander menatap kasihan Demitri, Ivander juga sudah lelah dengan semua ini. Ini sudah 5 tahun, sampai kapan kakak nya akan terus seperti ini.
“Kau tidak tahu rasa nya Ivander, kau mudah menyuruh ku untuk melupakan karena bukan kau yang merasakan nya. Kau bahkan tidak mengenal apa itu cinta, karena kau belum pernah mencintai orang lain. Kau tidak akan mengerti dengan apa yang ku rasakan saat ini.”
Ivander mengusap wajah nya kasar, kesabaran nya benar benar menipis. “Terserah mu saja!” Ivander meninggal-kan Demitri sendiri, semakin Ivander memaksa maka mereka akan semakin bertengkar nantinya.
__ADS_1
Ivander tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menyadarkan kakak laki laki nya itu.