
"Apa? Kau meminta ku untuk membebaskan Hannah, kau gila?!" Martha menatap Demitri tidak terima, ia tidak suka dengan usulan Demitri, bagaimana mungkin Demitri memintanya untuk membebaskan orang yang telah mencoba untuk membunuhnya.
"Kau tidak seharusnya memenjarakan dia, dia putri mu kan?"
Martha mendengus tidak senang, "Kenapa kau selalu saja mengatakan soal dia itu putri ku, iya dia memang putri tiri ku tapi bukan berarti dia harus dibebaskan, dia bersalah maka dia harus dipenjara! Orang yang melakukan kejahatan harus dipenjara!"
Martha berucap dengan emosi meledak ledak, ia mendongak untuk kembali menyerbu Demitri dengan kalimat kalimat kekesalannya namun semuanya mendadak tertelan ketika ia melihat ekspresi Demitri yang tampak tidak biasa.
Demitri menatapnya lurus, senyum Demitri terlihat aneh dan juga alisnya yang menukik tajam itu membuat Martha mendadak merasakan hawa disekitarnya mendadak tak nyaman.
"Benarkah?"
"A-apa?" Martha gelagapan ia bingung dengan Demitri, kenapa Demitri mendadak menatapnya sedingin itu.
"Benarkah orang yang bersalah harus dipenjara? Kalau memang begitu adanya, lantas kenapa sampai sekarang kau masih bisa berkeliaran disekitar ku?"
Martha mengerutkan alisnya, ia tidak mengerti dengan apa yang Demitri maksud. "Apa maksud mu?"
Demitri hanya menggelengkan kepalanya, ia bangkit dari posisi duduknya, "Bukan apa apa, ayo kita pulang.. kondisi mu juga belum begitu pulih, tidak baik kau keluyuran terlalu lama."
"Tapi pesanan ku bahkan belum datang dan kau sudah mengajak ku pulang?" Martha kembali tidak terima, entah mengapa Martha merasa Demitri semakin hari semakin menyebalkan dan bahkan sudah tidak mau menurutinya lagi.
__ADS_1
"Kau mau aku antar pulang atau kau ku tinggal disini dan pulang sendiri?"
Martha menghentakkan kakinya tidak senang, ia bangkit berdiri dan berjalan sembari mengoceh sepanjang jalan, Martha sibuk dengan perasaan kesalnya sehingga ia tidak menyadari Demitri menatapnya dengan tatapan tajamnya.
Demitri menatap Martha yang melangkah mendahuluinya dengan tatapan tajamnya, bibirnya bergerak mengucapkan satu kata tanpa suara.
"Pelacur."
***
Hannah berlari, digelapnya malam ia berlari sekencang yang ia bisa. Ia berhasil melarikan diri dari rumah sakit setelah sebelumnya ditanyai oleh perawat mengapa pasien berkeliaran keluar dijam yang tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamar rawat.
Hannah memukul perawat yang menanyainya itu, membuat perawat itu meringis dan berteriak, Hannah mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri.
Hannah berlari kencang tanpa memperdulikan bahwa ia berlari tanpa mengenakan alas kaki apapun, Hannah tidak perduli kakinya terluka, Hannah hanya perduli pada satu hal bahwa malam ini adalah malam terakhir.
Semuanya akan berakhir setelah malam ini.
Hannah semakin mempercepat larinya, ia meraba kantung dari piyama rumah sakit yang dikenakannya. Hannah sudah membawa pisau buah bersamanya, pisau buah yang ia ambil diam diam dari atas nakas meja kamar rawatnya.
Hannah terus berlari, Hannah tidak memperdulikan rasa sakit di kakinya dan bahkan perutnya yang kembali terasa nyeri.
__ADS_1
***
Martha berdecak, malam ini Demitri lagi lagi menolak tawarannya untuk menginap di apartemen nya dengan alasan Martha butuh istirahat.
Martha berkaca, ia memandang pantulan dirinya di cermin dengan perasaan tidak suka.
Luka yang Hannah sebabkan meninggalkan bekas dan Martha merasa hal itu mengurangi kadar kepercayaan dirinya di depan Demitri.
Martha memicingkan matanya ketika ia mengingat Hannah, ia kesal setengah mati lantaran Hannah selalu saja membuat masalah dalam hidupnya.
Martha cukup terkejut ketika mendengar suara bel, ia tidak berpikir akan ada tamu yang datang malam malam begini, namun tiba tiba saja senyum terbit diwajahnya ketika Martha berpikir kemungkinan orang yang bertamu adalah Demitri.
Martha berlari kecil dan membuka pintu dengan senyum lebarnya, namun senyuman Martha mendadak luntur ketika ia membuka pintu itu bukan Demitri yang ia dapati, Martha justru mendapati orang yang sangat dibencinya seumur hidup, Martha baru saja ingin berteriak namun teriakannya itu tak sempat ia keluarkan karena Hannah sudah lebih dulu mendorongnya hingga terdorong masuk kedalam apartemen nya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Martha tidak terima, Martha juga bingung kenapa Hannah bisa keluar dari penjara dan justru berada dihadapannya.
Hannah tidak menunjukkan ekspresi apa apa, ia hanya menatap Martha dengan tatapan datarnya. "Aku hanya akan menyelesaikan apa yang seharusnya ku selesaikan sebelumnya. Kali ini tidak akan ada orang yang akan menyelamatkan mu."
***
Demitri berdecak ketika melihat dompet Martha tertinggal di mobilnya, ia sebenarnya malas untuk kembali ke apartemen Martha hanya untuk mengembalikan dompet namun Demitri juga tidak mau jika Martha besok justru datang ke kantornya dan merecokinya saat berkerja dengan alasan dompet.
__ADS_1
Demitri memutar balik mobilnya melajukan mobil itu kearah apartemen Martha.