
Sebelum Demitri tidur, Demitri berbaring sembari memandangi foto Hannah. Perasaan rindu benar benar meruak dari dalam hati Demitri.
“Seandai nya saja kau masih hidup, mungkin aku tidak akan mengejar ngejar wanita yang mirip dengan mu saat ini. Seandai nya saja kau masih hidup mungkin aku orang yang paling bahagia di dunia ini. Seandai nya saja dulu aku memilih keputusan yang berbeda, seandai nya saja dulu aku mengeluarkan mu dari penjara dan mengajak mu membalaskan dendam kita bersama sama. Mungkin akhir kisah kita akan berbeda.”
Demitri terlalu sibuk berandai andai sampai Demitri jatuh tertidur, jika Hannah bermimpi tentang masa lalu nya lain dengan Demitri. Demitri justru bermimpi tentang kemungkinan kemungkinan yang terjadi jika saja Demitri mengeluarkan Hannah dari penjara.
Demitri memimpikan bagaimana jadinya jika Hannah belum meninggal dan Demitri serta Hannah berkerja sama untuk menghancurkan Hannah bersama sama.
—
"*Kenapa kau datang kemari? Mau menghina dan mencaci maki ku, apa kau belum puas dengan apa yang sudah kau lakukan selama ini?" Hannah melipat tangannya di depan dada, jelas sekali Hannah tidak suka dengan kunjungan Demitri.
Sebelum nya Hannah telah memohon, menangis meminta Demitri untuk membebaskan nya dari penjara namun Demitri menulikan telinga nya tak menggubris permohonan Hannah sedikitpun dan sekarang Demitri justru datang mengunjungi nya, sungguh tidak tahu malu.
"Berhentilah bersikap angkuh, aku kemari bukan untuk berdebat dengan mu tapi aku ingin mengajukan kerja sama."
Hannah berdecih, setelah Demitri merendahkan nya, memaki nya dan menolak mengakui bahwa anak yang Hannah kandung adalah anak nya sekarang Demitri justru mengajak nya berkerja sama? Yang benar
saja.
"Jangan bicara omong kosong, aku meminta mu mengeluarkan ku dari penjara ini demi anak kita saja kau tidak mau lalu untuk apa aku mendengarkan bualan bualan mu sekarang?" Hannah bersiap untuk
berdiri, ia hendak meninggalkan Demitri namun gerakan nya itu seketika terhenti saat Demitri mengatakan satu kalimat yang menarik perhatian Hannah.
"Aku akan mengeluarkan mu dari penjara jika kau setuju dengan rencana ku."
Hannah kembali duduk dan menatap Demitri serius, "Rencana apa yang kau maksud Demitrius Constantine? Aku tidak akan mau melakukan hal yang hanya akan merugikan ku dan anak ku."
Demitri tersenyum misterius, ia bangkit mendekati Hannah, membisikkan sesuatu ke telinga Hannah.
"Kau dan aku kita berkerja sama menghukum wanita sialan itu, Martha." Hannah terdiam sejenak, ia memproses dalam kepala nya kenapa juga Demitri mau menghukum Martha
yang statusnya saat ini adalah istri dari Demitri.
"Kita siksa dia sebagai mana dia menyiksa mu, bagaimana kau mau?" Demitri menawarkan penawaran yang selama ini Hannah dambakan namun juga membuat Hannah bertanya tanya, tidak mungkin
Demitri mau melakukan hal itu tanpa alasan, Demitri pasti punya asalan.
"Kenapa kau ingin menyakiti istri mu sendiri, tidak kah kau mencintainya?"
Demitri yang berdiri di samping Hannah tertawa sinis, "Untuk apa aku mempertahan kan wanita tua sebagai istri ku sementara di sampingku ada wanita muda yang katanya sedang mengandung anak ku. Lagi pula kau tidak perlu banyak bertanya, cukup jawab pertanyaan ku kau mau atau tidak?"
Hannah dengan ragu ragu mengangguk kan kepalanya, "Ya, bebaskan aku dari sini dan mari kita buat istri sialan mu itu menderita sampai mati."
***
Martha menatap cemas pantulan wajahnya di cermin besar yang berada tepat di hadapan nya, seluruh produk mahal kecantikan sudah Martha coba namun penuaan diwajahnya tetap tak teratasi.
Martha kesal lantaran Demitri masih teramat muda dan banyak wanita muda lainnya yang mengincar Demitri, Martha tidak bisa mengolok olok wanita yang mendekati Demitri lantaran Martha sadar wanita
yang mendekati Demitri memiliki tubuh yang jauh lebih baik dan juga jauh lebih cantik dari Martha.
Yang membuat Martha lebih kesal lagi adalah Demitri, sudah hampir sebulan mereka menikah namun
Demitri belum juga mau menyentuhnya, dahulu sebelum menikah alasan Demitri adalah tidak mau
berhubungan sex sebelum ada ikatan pernikahan, namun sekarang saat mereka sudah menikah pun
Demitri tetap tidak mau melakukannya.
Martha mulai menaruh curiga terhadap Demitri, apakah Demitri tidak mencintainya lagi? Apakah karna
ia semakin lama semakin kelihatan tua dan itu membuat Demitri jijik?
Martha mengusap bekas luka di pipi, leher, dan juga lengannya.
Luka luka itu adalah luka yang Hannah
berikan kepadanya, luka yang juga membuat Martha malu akan penampilannya sendiri. Martha ingin melakukan operasi plastik tapi Demitri tidak memperbolehkannya, Martha pikir setelah ia
menikah dengan Demitri maka ia akan hidup enak dengan banyak uang namun alih alih hidup mewah
Martha justru merasakan ketidak bahagiaan.
Demitri membatasi uang yang bulanan untuknya, Demitri tidak membelikan nya hadiah mahal dengan
alasan harus menabung untuk kehidupan masa depan, Martha baru menikah sebentar dengan Demitri
namun dalam waktu singkat itu Martha sudah mulai merasa tidak tahan.
Namun Martha tidak akan pernah mau melepas Demitri, Martha sebelumnya sudah berapa bahwa
Demitri akan menjadi laki laki terakhirnya dan ia akan hidup bahagia memiliki anak bersama Demitri.
Martha akui sebelumnya ia tidak pernah pakai hati dalam menjalin hubungan dengan para mantan
suami ataupun para mantan selingkuhannya namun dengan Demitri berbeda, Martha benar benar
mencintai Demitri, Martha bahkan rela jika harus membunuh orang lain asalkan Demitri tetap menjadi
miliknya dan hanya mencintainya seorang.
Martha berputar memastikan penampilannya sudah sebaik mungkin, Martha mengenakan baju tidur
super sexy dan malam ini rencananya ia akan merayu Demitri untuk yang kesekian kalinya.
Senyum Martha tergugah ketika ia mendengar suara mobil, Martha yakin sekali itu Demitri yang baru
saja pulang dari kantor nya. Martha berlari girang menuruni tangga, ia bersenandung kecil sesaat melewati ruang tamu, namun
semua itu sirna seketika pintu terbuka dan Martha melihat dengan matanya sendiri Demitri masuk
kedalam tidak sendirian, sosok yang sangat amat dibencinya dan ia harapkan segera mati membusuk
dipenjara justru berjalan bersama dengan Demitri.
"S-sayang, kenapa k-kamu bisa bersama Hannah?" Martha menatap tajam Demitri dan Hannah
bergantian, bagaimana bisa Hannah keluar dari penjara begitu saja?
"Aku membebaskannya, sebagai seorang ibu kau tidak sepantasnya memenjarakan dia." Demitri berkata
seolah olah apa topik pembicaraan merek saat ini adalah hal sepele yang tidak perlu dibahas.
"Tidak sepantasnya? Kau pikir mencoba membunuh ku adalah hal sepele? Luka luka ku bahkan sampai
sekarang tidak bisa menghilang dan kau justru membawa pulang anak sial-"
"Jangan memulai perdebatan Martha, kau jelas tahu bahwa apa yang kau lakukan pada Hannah di masa
lalu jauh lebih buruk dari apa yang dia lakukan jadi diam lah dan berusaha lah untuk menerima Hannah."
Martha terdiam mendengar perkataan Demitri, ia mendadak gelagapan. Martha panik lantaran Demitri
berkata seolah olah ia telah tahu semua tindakan Martha dimasa lalu.
"A-apa maksud mu s-sayang, aku tidak mengerti." Martha mendekati Demitri mengusap dada suaminya
itu lembut.
"Kau tidak seharusnya percaya dengan omong kosong Hannah."
"Kau mengatakan padaku untuk tidak percaya akan semua perkataan nya tapi kau sendiri tidak pernah
bertindak berlawanan dari apa yang ia katakan, sikap mu yang keras kepala seperti ini justru membuat
ku semakin berpikir bahwa ia benar dan kau lah yang salah. Jangan buat aku menyesali pilihan ku karna
telah menikahi mu Martha, jangan membuat ku merasa aku telah memilih pasangan hidup yang salah." Demitri menepis tangan Martha di dadanya, ia pergi meninggalkan Martha yang masih shock akanperkataan nya dan Hannah yang berdiri disana menikmati drama malam hari yang diperankan oleh nya
dan Martha.
"Menyedihkan sekali." desis Hannah dengan suara menyebalkan, Martha yang bisa mendengarnya
menoleh menatap Hannah tajam.
"Apa kau bilang?!"
"Aku bilang dimana kamar ku? Tidak mungkin kan aku tidur di ruang tamu?" Hannah menatap sekeliling, cukup terpesona dengan mewahnya rumah Demitri, pantas saja Martha tidak rela melepaskan Demitri
begitu saja.
"Kau bisa tidur di kamar pembantu, kebetulan kami punya kamar lebih di belak-"
"Aku tidak berselera tidur ditempat kumuh, aku lebih suka tidur dipelukan Demitri."
"Jangan macam macam kau Hannah!!"
Hannah terkikik melihat reaksi Martha, melihat wanita tua dihadapannya itu emosi membuat Hannah
tak sanggup menahan rasa gembiranya. Hannah berjalan meninggalkan Martha yang masih menatapnya penuh emosi, Hannah menaiki tangga
dengan santai menghiraukan Martha yang mengikutinya dari belakang dan memakinya, menyuruh
Hannah untuk pergi ke belakang bukannya ke lantai atas.
"Jangan masuk ke kamar itu, itu bukan kamar mu!!" Martha berteriak ketika ia melihat Hannah
membuka sebuah kamar yang lima langkah jaraknya dari kamar utama, kamar dimana Demitri dan
dirinya tidur.
"Ada apa lagi ini ribut ribut?" Demitri yang berada dikamar keluar dengan wajah tidak senangnya, Martha dengan emosi menunjuk Hannah yang masih berdiri didepan kamar yang pintunya sudah
terbuka itu.
"Dia mau memasuki kamar itu, kau tahu sendiri kan itu kamar untuk anak kita kelak Demitri!" Martha
semakin menaikan suaranya, ia tidak suka rencananya untuk masa depan dan juga angan angan nya
untuk hidup tentram hancur karna Hannah.
"Biarkan saja dia memiliki kamar itu, soal kamar anak itu bisa dipikirkan nanti. Lagi pula aku ragu kau
bisa memberikan ku keturunan diusia setua itu." Martha terkejut, ia tidak menyangka respon Demitri akan seperti itu.
"Apa maksud mu Demitri, kau
merendahkan ku karna aku sudah tidak muda lagi? Kalau memang kau tidak ingin hidup dengan wanita
tua seperti ku lalu kenapa kau menikahi ku? Aku bersumpah Demitri aku bisa memberi mu anak, aku
bisa memberi mu sepuluh anak jika itu yang kau ingin kan. Kau hanya perlu menyentuh ku itu saja, kau
yang selama ini selalu menjauh dan tidak mau melakukan hubungan yang sudah seharusnya kita lakukan
sejak lama!" Martha semakin meninggikan suaranya, Martha benar benar merasa diserang hari ini. Maksud hati ingin
merayu Demitri namun ia justru bertengkar dengan Demitri hanya karna Hannah.
"Kau bertanya kenapa aku ingin menikah dengan mu? Aku sudah menolak sebelumnya, kau kan yang
memaksa untuk cepat cepat menikah. Jangan salah kan aku jika kau harus berumah tangga dengan laki
laki yang belum begitu kau kenal sifat nya, salah mu bukan salah ku." Demitri masuk kembali kedalam
kamar dan menutup pintu kamarnya rapat rapat, Martha merasa benar benar dilecehkan oleh
__ADS_1
perkataan Demitri.
Martha semakin terluka ketika melihat Hannah masuk ke kamar itu dan menutupnya
dengan kencang pula. Kenapa semuanya harus tidak berjalan sesuai rencana?
Kenapa?
***
Martha kesal, bukan, ini sudah bukan lagi kekesalan namun Martha sudah benar benar muak dengan
Hannah. Hannah bertingkah semaunya, Hannah bahkan meminta Demitri untuk memanggil beberapa orang
untuk merombak kamar yang ditempatinya, kamar yang seharusnya menjadi kamar calon anak Martha
dan Demitri kelak.
Memikirkan soal anak membuat Martha kembali mengingat perkataan Demitri, Martha malam itu
memutuskan untuk tidur dikamar lain, berharap Demitri akan mencarinya dan membujuknya namun
Martha justru terbangun dalam kesendirian, Demitri tidak pernah datang malam itu mencari Martha, bahkan paginya Martha justru mendapati Demitri sudah sarapan dengan Hannah tanpa mengajaknya. Martha benar benar sudah tidak tahan, Martha ingin mengamuk dan mengungkapkan kekecewaannya
terhadap Demitri namun Martha tidak berani, Martha takut jika ia menunjukkan sifat aslinya maka
Demitri akan semakin menjauh dan bahkan menceraikannya tanpa pikir panjang.
“Kau sarapan pagi tanpa ku sayang?” Martha mencoba untuk bersikap manja, berharap Demitri luluh
namun yang Martha dapatkan justru Demitri bangkit dari posisinya dan memakai jas kebanggaanya.
“Kau sudah mau berangkat kerja?” Martha masih tetap belum menyerah, ia mencoba membantu
Demitri mengancingkan jasnya namun tangan Martha justru ditepis oleh Demitri. Martha mengepalkan tangannya sembunyi sembunyi, ia menahan emosinya agar tidak meledak, Martha
bisa merasakan bahwa Hannah menatapnya dengan tatapan mencemooh, menertawakan apa yang
Demitri lakukan kepadanya.
Martha menatap kepergian Demitri dengan kekesalannya, setelah Demitri menghilang dari jarak
pandang nya Martha menoleh kearah Hannah, melotot tajam seolah olah menantang Hannah untuk adu
gulat saat itu juga.
“Sebenarnya apa yang kau mau hah? kenapa kau selalu saja mengacaukan hidup ku?!” Martha
mendekat kearah Hannah, menjauhkan mangkuk sereal Hannah hingga Hannah terpaksa berhenti
makan, Martha dengan kurang ajarnya menarik rambut Hannah. bertingkah bagaikan nyonya rumah
yang galak.
“Sadar lah akan posisi mu, kau tidak akan bisa tinggal lama dirumah ini. akan ku pastikan Demitri sendiri
yang akan menendang mu keluar dari rumah ini.” Martha melepaskan rambut Hannah secara kasar, membuat kepala Hannah sedikit terdorong namun itu sama sekali tidak membuat Hannah menunjukkan
rasa takut atau apapun seperti yang Martha harapkan. Hannah justru meninggikan dagunya, balik menantang Martha dengan matanya, tersenyum sombong
dan berdiri menghadap Martha yang sedikit lebih pendek darinya.
“Aku juga akan memastikan bahwa
kau lah yang akan terusir dari sini, Demitri sendiri yang akan mengusir mu atas perintah ku.” Hannah berjalan meninggalkan Martha tanpa lupa menyenggol bahu Martha dengan sangat amat
sengaja.
Hannah bisa mendengar suara mangkuk yang dibanting, tanpa menoleh pun Hannah tahu apa
yang terjadi, Martha pasti membanting mangkuk yang sebelumnya Hannah pakai untuk melampiaskan
rasa kesalnya.
Hannah bersemangat tiap kali melihat Martha emosi ataupun tersudutkan, namun disisi lain Hannah
juga masih bertanya tanya mengapa Demitri justru berpihak padanya untuk menyiksa Martha? bukan
kah Demitri mencintai Martha, ataukah Demitri akhirnya menyadari untuk apa ia bersama dengan
wanita tua yang tidak ada artinya, dan Demitri hanya membantu Hannah untuk mencari cari alasan agar
bisa berpisah dari Martha.
Hannah menggelengkan kepalanya, Hannah tidak perduli dengan hal itu. Hannah hanya perduli kepada
calon anaknya dan juga menyelesaikan misinya yang belum terselesaikan. Urusan Demitri ia tidak akan ikut campur, Demitri mau melakukan apa saja Hannah tidak akan perduli
asal kan apa yang Demitri lakukan tidak merugikan nya dan calon bayinya yang notabene nya adalah anak
dari Demitri juga. atau yang lebih tepat nya tidak diakui oleh Demitri.
***
“Ku pikir kakak ku hanya bicara omong kosong tapi ternyata kau benar benar ada disini.” Ivander
tersenyum lebar ketika melihat Hannah tengah sibuk memerintah para tukang untuk menata kamarnya.
“Ah kau.” Hannah tersenyum canggung, Hannah masih merasa kurang nyaman dengan Ivander, bukannya Hannah masih sakit hati atas apa yang dulu Ivander katakan tentangnya hanya saja Hannah
tidak tahu bagaimana harus bersikap kepada Ivander yang tiba tiba saja berubah manis kepadanya
semenjak Ivander mengetahui bahwa ia tengah mengandung anak Demitri.
“Bagaimana keadaan keponakan ku?” Ivander dengan sumrigah menyentuh perut Hannah yang masih
datar, Ivander tampak tidak segan mendaratkan tangannya diperut Hannah yang statusnya bukan siapa
justru tidak percaya itu anaknya.
“Kakak dan wanita sial itu tidak melakukan hal yang buruk kepada mu kan? aku masih sedang berusaha
menghubungi Giovano, aku akan membuat Giovano mengatakan kepada kakak ku bahwa ia tidak
pernah menyentuh mu jadi kakak bodoh ku itu bisa menyadari bahwa anak yang kau kandung adalah
darah dagingnya.”
“Uh.. aku rasa itu tidak perlu.” Hannah tidak memerlukan Demitri mengakui anak yang dikandungnya, tanpa Demitri pun Hannah yakin Hannah bisa membesarkan anaknya dengan baik. single parent tidak
terdengar buruk bagi Hannah.
“Apanya yang tidak perlu, aku tidak mau keponakan ku tumbuh tanpa sosok seorang Ayah, aku tidak
mau keponakan ku sama menderitanya seperti ku dulu.” raut wajah Ivander berubah serius, “Meski kau
merasa sanggup mengurusnya tanpa bantian siapapun bukan berarti anak mu nanti tidak butuh sosok
Ayah, dia pasti membutuhkannya.”
Hannah menghela nafas, “Kau juga tidak bisa memaksa Demitri untuk bertanggung jawab, dia sudah
beristri dan aku tidak akan mau menikah dengan Demitri yang statusnya adalah suami dari wanita yang
paling ku benci di dunia ini.”
Ivander nampak melunak ketika mendengar perkataan Hannah namun wajahnya kembali mengeras
ketika ia teringat dengan wanita yang saat ini menyandang status sebagai kakak iparnya.
“Aku tidak habis pikir kakak ku bisa menikahi wanita yang sudah menghancurkan hidup kami dan
parah nya ia mengadakan pernikahannya tanpa mengundang satu pun pihak keluarga, meskipun kami
tidak akan sudi menghadiri pernikahan mereka itu tapi bukan kah seharusnya kakak ku tetap
mengundang kami sekeluarga?” Ivander kembali mengoceh membuat Hannah sedikit terpana, Hannah
baru tahu kalau Ivander secerewet ini.
kesan awal Hannah bertemu Ivander dahulu seolah olah
menghilang dikantikan dengan Ivander yang lain. Namun tetap saja kata kata Ivander itu cukup membingungkan bagi Hannah, “Menghancurkan hidup
kalian seperti apa? Apa yang Martha lakukan kepada kalian”
Ivander nampak gelagapan. “A-ah itu maksud ku membuat kami sekeluarga menjadi jauh dari kak
Demitri, kau tahu sendirikan wanita sialan itu memberikan pengaruh buruk terhadap kakak ku.”
Hannah sedikit mengangkat alisnya ketika memperhatikan gelagat Ivander, Ivander bertingkah
mencurigakan, dari caranya berbicara membuat Hannah berpikiran bahwa bukan itulah masalah
sebenarnya yang sebelumnya Ivander maksudkan, Hannah merasa ada hal lain yang lebih besar dari itu. Hannah tidak berani bertanya lebih jauh, lagi pula ia tidak begitu perduli. Hannah sudah membuat
dirinya untuk menjadi egois, Hannah tidak akan memikirkan orang lain selain dirinya dan anaknya. Hannah tidak akan lagi menjadi orang disakiti melainkan menjadi orang yang menyakiti, karna dunia ini
kejam. hanya tersedia dua pilihan dalam hidup Hannah, menyakiti atau disakiti?
Hannah tentu saja memilih menyakiti, Hannah akan menyakiti siapa pun yanh mencoba menghalanginya
ataupun mengancam keselamatannya dan juga calon anaknya.
***
“Kau belum menjawab pertanyaan ku Demitri, kenapa kau mau menghancurkan istri mu sendiri?” Hannah dengan lancang duduk di kursi kerja Demitri, memutar mutarnya sebentar sebelum akhirnya
Hannah mengangkat kakinya keatas meja kerja Demitri.
“Kau benar benar tidak tahu diri ya? aku sudah mengeluarkan mu dari penjara, seharusnya kau
menghormati ku bukannya malah berbuat sesuka mu seperti itu.” Demitri menarik lengan Hannah, bermaksud mengusirnya dan menyuruhnya keluar dari ruangannya.
“Aku sudah memberi mu akses
masuk ke rumah ini dan memberikan mu kamar yang bagus, jangan pancing aku untuk berbuat hal yang
tidak tidak terhadap mu Hannah.” Hannah terkikik, ancaman Demitri sama sekali tidak mengganggunya, Hannah hendak menuruti Demitri
namun dari sudut matanya Hannah bisa melihat bayangan yang mengintip dari luar ruangan Demitri
yang tidak tertutup rapat, Hannah tahu dengan jelas siapa itu dan karna hal itu Hannah justru menarik
kerah baju Demitri, mendekatkan wajahnya dengan wajah Demitri, mengikis jarak diantara keduanya.
“Cium aku maka aku akan pergi.” Hannah mengedipkan matanya, menunggu Demitri menyatukan kedua
bibir mereka yang sudah nyaris bersentuhan. Hannah merasa tidak sabaran, Hannah benar benar kesal karna Demitri masih saja tidak mau bergerak. padahal Hannah merasa timingnya sudah sangat pas untuk melakukan hal itu, tepat di depan mata
Martha.
“Jangan meminta macam macam Hannah keb—” Hannah tanpa gemas, ia menarik kerah baju Demitri dan menyatukan bibirnya dengan bibir Demitri. Hannah bisa merasakan tangan Demitri berusaha untuk mendorongnya menjauh namun Hannah tetap
mencengkram kerah Demitri erat erat. Hingga suara pintu ruangan Demitri yang dibuka paksa hingga membentur tembok itulah Hannah baru
melepaskan Demitri, senyum puas melekat dibibirnya ketika ia melihat Martha berdiri didepan pintu
__ADS_1
dengan wajah memerah.
“Apa yang kalian lakukan dibelakang ku?!” Martha berteriak mengamuk, ia berjalan cepat menghampiri
Hannah dan mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan ke pipi Hannah namun semuanya
sia sia, Hannah menangkap tangan Martha terlebih dahulu sebelum Martha sempat menjatuhkan
tangan nya itu tepat di pipi Hannah.
“Kau mencoba untuk menggoda suami ku hah?!” Martha sedikit mengernyit ketika marasakan
cengkaraman tangan Hannah begitu kuat di lengannya.
“Lepaskan!!” Demitri yang berada diantara kedua wanita itu melaerai mereka, Demitri menjauhkan keduanya dan
menatap datar kearah kedua nya bergantian, “Berhentilah bersikap kekanakan, kau Martha berhentilah
paranoid dengan keberadaan Hannah, dia itu putri mu dan apa salahnya jika aku mencium putri ku
sendiri, bukan kah itu hal wajar?”
“Itu bukan hal wajar Demitri, dia bukan putri kandung mu, dimana mata mu sehingga kau tidak bisa
melihat bahwa dia jelas jelas bermaksud untuk menggoda mu!” Martha sudah tidak habis pikir kenapa
Demitri terus saja membela Hannah.
“Kau sangat kekanakan, aku tidak mau mendengar ocehan mu lagi, lebih baik kau pergi ke kamar mu
sekarang!” Demitri mengusir Martha, membuat Martha terkejut lantaran tak menyangka setelah
dimarahi ia justru diusir oleh suaminya sendiri.
“Kenapa kau menyuruh ku pergi tapi tidak dengan Hannah, kenapa kau hanya mengusir ku saja?!” Martha masih tidak terima, Martha menarik tangan Hannah hendak menyeretnya keluar namun lagi lagi
tindakan Martha tersebut dihentikan oleh Demitri.
“Masih ada hal yang harus ku bicarakan kepada Hannah, kau pergilah sendiri. jangan lupa tutup rapat
rapat pintunya.” Martha mendengus, ia tidak menyangka dirinya akan diperlakukan seperti orang asing seperti ini oleh
suaminya sendiri, yang lebih parahnya lagi Martha disuruh untuk menutup pintu selayaknya pembantu, Martha bebar benar merasa terhina.
***
Sepeninggal Martha, Demitri mengalihkan fokusnya kepada Hannah yang masih saja tersenyum senyum
setelah melihat drama antara dirinya sendiri dan Martha.
“Seharusnya kau tidak melakukan itu.” Hannah menoleh kearah Demitri dan memandangnya penuh tanda tanya, “Apa maksud mu? bukan kah
kau sendiri yang mengatakan kepada ku untuk membantu mu menyakitinya, ini lah cara ku
menyakitinya suka tidak suka kau harus menerimanya!”
Demitri menggelengkan kepalanya tidak setuju, “Bukan begitu maksud ku, seharus nya kau
mengatakan nya kepada ku jadi kita bukan hanya berciuman saja di depan nya tadi, seharusnya kita
bercinta di depan matanya, itu jauh lebih menyenangkan bukan?”
Hannah terdiam, Hannah merasa yang dikatakan Demitri ada benarnya namun juga Hannah merasa
Demitri seolah olah mengambil kesempatan dari hal itu, namun siapa peduli? tidak ada masalah jika
Hannah harus kembali melakukan hubungan sex dengan Demitri, toh Hannah sudah mengandung anak
Demitri, tidak ada lagi yang perlu Hannah hindari atau takuti, misinya hanya satu.
lagi lagi Hannah mengingatkan dirinya bahwa misinya hanya satu, membuat Martha menderita hingga
mati.
“Kalau begitu kapan?”
***.
Ivander memasuki ruangan Demitri seenak nya, ia duduk tepat disofa yang ada didalam ruangan itu.
“Katakan pada ku kenapa kau menikahi wanita tua menjijikan itu kak?”
“Kau tidak perlu tahu!”
“Jawab aku kak, atau aku sendiri yang akan menanyakannya kepada istri tua menjijikan mu itu!!”
Ivander mengancam, ia melotot tajam kearah sang kakak yang tengah sibuk menandatangani berkas
berkas penting nya.
“Aku tidak bisa membiarkan calon keponakan ku tinggal dengan istri gila mu itu, aku tidak mau
keponakan ku dalam bahaya.”
Demitri berdecak, ia malas sekali sebenarnya jika harus meladeni Ivander, pekerjaannya masih
menumpuk dan Ivander justru datang membicarakan masalah yang sedang tidak ingin Demitri dengar.
“Sudah berapa kali aku bilang anak yang Hannah kandung bukan anak ku yang berarti juga bukan
keponakan mu Ivander!!”
“Sudah berapa kali juga ku bilang bahwa Hannah itu hamil anak mu, tidak ada laki laki mana pun yang
menyentuh nya selain dirimu sialan!!”
Demitri masih menolak untuk mempercayainya, jelas jelas ia sendiri saat itu menyerahkan Hannah
ke tangan Giovano untuk memuaskan Giovano, bagaimana mungkin Giovano dan Hannah tidak tidur
bersama, Demitri tidak mempercayainya. “Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan ku, jangan biasakan ikut campur urusan orang lain, urus
saja urusan mu sendiri!”
***
Sudah nyaris sebulan Hannah tinggal bersama Demitri dan juga Martha, Hannah cukup menikmati
peran nya sebagai penjahat, Hannah terus saja melakukan hal hal yang membuat Martha naik darah, baik merombak letak beberapa barang di rumah dan juga berkeliaran di sekitar Demitri.
Setiap kali Martha melabraknya Hannah hanya akan menanggapi dengan senyuman sinis dan semakin
menjadi jadi, semakin Martha melarangnya maka Hannah semakin ingin untuk melakukannya.
Seperti saat ini, Martha melarang Hannah untuk ikut dengan Demitri yang mengajaknya makan malam
dengan klien. Martha ingin dirinya yang mendampingi Demitri makan malam dengan klien namun
Demitri membantah bahwa Hannah lah yang ia perlukan karna Hannah mengerti soal hal yang akan
mereka bahas disana nanti sedangkan Martha dianggap hanya akan menyusahkan saja bagi Demitri
Martha melarang Hannah menerima ajakan Demitri, Martha bermaksud jika ia tidak diperbolehkan ikut
maka Hannah pun tidak, biarkan saja Demitri pergi sendiri atau ditemani Rafael yang pasti jauh lebih ahli
dalam bidang yang Demitri maksud.
“Jangan keras kepala Martha!”
Martha mengepalkan tangannya, dalam waktu nyaris sebulan Martha terus saja dimarahi dan terus saja
salah di mata Demitri dan Demitri terus saja memihak kepada Hannah, posisi nya saat ini entah mengapa
mengingatkan nya akan masa lalu, masalalu dimana ia yang selalu dibela dan korban nya selalu saja salah
di mata laki laki yang Martha goda dulu.
Martha bukan orang bodoh, Martha tahu sekali ini bagian dari rencana Hannah untuk balas dendam, namun Martha tidak bisa terima karna ia tidak punya senjata untuk melawan, senjatanya yang paling
kuat justru berbalik ikut melawan nya.
“Aku hanya ingin ikut kenapa tidak boleh, kita sudah lama sekali tidak makan malam diluar bersama
Demitri!” Martha selalu saja tidak pernah mau menurut dalam satu kali perkataan Demitri, Martha
selalu mengajak Demitri berdebat dahulu meski diakhir Martha selalu kalah dan akhirnya harus
mengalah.
“Persetan dengan segala kekeras kepalaan mu itu!” Demitri tidak perduli ia meraih tangan Hannah dan
membawanya pergi begitu saja, mengabaikan Martha yang masih meneriak kan namanya kuat kuat.
Martha lagi lagi kalah, ia memandang dari kejauhan Demitri yang memasuki mobil nya bersama Hannah, Martha kemudian menunduk melihat gaun yang sudah dikenakan nya, ia sudah berdandan susah payah
namun justru Hannah yang Demitri ajak, mengesalkan.
Ini sudah kesekian kalinya Martha merasa harga dirinya seolah olah di injak injak
.***
“Bukan kah kau bilang kita akan makan malam dengan klien mu?” Hannah menatap bingung kearah
Demitri yang sudah mulai mengunyah makanannya, tidak ada satupun klien hanya Demitri dan Hannah
di meja restoran itu.
“Aku mengajak mu kesini untuk makan malam bersama, sekaligus membicarakan soal kehamilan mu.” Demitri bicara santai sembari memotong steaknya,menyuapkannya kedalam mulutnya sendiri dengan
penuh elegan, gaya orang kaya.
“Kehamilan ku bukan hal penting untuk kau bahas, kau sendiri kan yang tidak mau mengakui anak ini
adalah anak mu.” Hannah ikut menyicipi steak miliknya, cukup tergoda melihat Demitri yang nampak
menikmati sekali makanannya.
“Aku akan berkompromi, Ivander terus saja memaki ku berkata bahwa anak yang kau kandung itu
adalah anak ku, jadi aku sudah memutuskan bahwa aku akan merawat mu dan calon anak itu dengan
baik sampai kau melahirkan, setelah anak itu lahir aku akan melakukan tes dna untuk membuktikannya
dan jika anak itu terbukti bukan anak ku, aku ingin kau dan Ivander berhenti menyebut nyebut bahwa
aku ayahn ya dan jika anak itu benar benar adalah anak ku maka aku dengan suka rela akan menikahi
mu*.
—
Demitri tiba tiba saja terbangun dari mimpi panjang nya karena mendengar teriakan dari Ivander, Demitri bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang nya.
Memijat kepala nya karena terasa pusing, mimpi barusan. Mimpi yang baru saja Demitri alami itu.
Mimpi macam apa itu, bagaimana bisa Demitri memimpikan Martha hidup kembali dan Martha menjadi istri nya.
__ADS_1
Tapi jikalau dipikir pikir rencana itu lebih baik di bandingkan dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Andai saja Hannah dan dirinya benar benar berkerja sama dahulu untuk menghancurkan Martha
Mungkin Hannah yang asli sekarang pasti masih hidup, begitu pula dengan anak mereka.