MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 35


__ADS_3

Sebelum Demitri tidur, Demitri berbaring sembari memandangi foto Hannah. Perasaan rindu benar benar meruak dari dalam hati Demitri.


“Seandai nya saja kau masih hidup, mungkin aku tidak akan mengejar ngejar wanita yang mirip dengan mu saat ini. Seandai nya saja kau masih hidup mungkin aku orang yang paling bahagia di dunia ini. Seandai nya saja dulu aku memilih keputusan yang berbeda, seandai nya saja dulu aku mengeluarkan mu dari penjara dan mengajak mu membalaskan dendam kita bersama sama. Mungkin akhir kisah kita akan berbeda.”


Demitri terlalu sibuk berandai andai sampai Demitri jatuh tertidur, jika Hannah bermimpi tentang masa lalu nya lain dengan Demitri. Demitri justru bermimpi tentang kemungkinan kemungkinan yang terjadi jika saja Demitri mengeluarkan Hannah dari penjara.


Demitri memimpikan bagaimana jadinya jika Hannah belum meninggal dan Demitri serta Hannah berkerja sama untuk menghancurkan Hannah bersama sama.



"*Kenapa kau datang kemari? Mau menghina dan mencaci maki ku, apa kau belum puas dengan apa yang sudah kau lakukan selama ini?" Hannah melipat tangannya di depan dada, jelas sekali Hannah tidak suka dengan kunjungan Demitri.


Sebelum nya Hannah telah memohon, menangis meminta Demitri untuk membebaskan nya dari penjara namun Demitri menulikan telinga nya tak menggubris permohonan Hannah sedikitpun dan sekarang Demitri justru datang mengunjungi nya, sungguh tidak tahu malu.


"Berhentilah bersikap angkuh, aku kemari bukan untuk berdebat dengan mu tapi aku ingin mengajukan kerja sama."


Hannah berdecih, setelah Demitri merendahkan nya, memaki nya dan menolak mengakui bahwa anak yang Hannah kandung adalah anak nya sekarang Demitri justru mengajak nya berkerja sama? Yang benar


saja.


"Jangan bicara omong kosong, aku meminta mu mengeluarkan ku dari penjara ini demi anak kita saja kau tidak mau lalu untuk apa aku mendengarkan bualan bualan mu sekarang?" Hannah bersiap untuk


berdiri, ia hendak meninggalkan Demitri namun gerakan nya itu seketika terhenti saat Demitri mengatakan satu kalimat yang menarik perhatian Hannah.


"Aku akan mengeluarkan mu dari penjara jika kau setuju dengan rencana ku."


Hannah kembali duduk dan menatap Demitri serius, "Rencana apa yang kau maksud Demitrius Constantine? Aku tidak akan mau melakukan hal yang hanya akan merugikan ku dan anak ku."


Demitri tersenyum misterius, ia bangkit mendekati Hannah, membisikkan sesuatu ke telinga Hannah.


"Kau dan aku kita berkerja sama menghukum wanita sialan itu, Martha." Hannah terdiam sejenak, ia memproses dalam kepala nya kenapa juga Demitri mau menghukum Martha


yang statusnya saat ini adalah istri dari Demitri.


"Kita siksa dia sebagai mana dia menyiksa mu, bagaimana kau mau?" Demitri menawarkan penawaran yang selama ini Hannah dambakan namun juga membuat Hannah bertanya tanya, tidak mungkin


Demitri mau melakukan hal itu tanpa alasan, Demitri pasti punya asalan.


"Kenapa kau ingin menyakiti istri mu sendiri, tidak kah kau mencintainya?"


Demitri yang berdiri di samping Hannah tertawa sinis, "Untuk apa aku mempertahan kan wanita tua sebagai istri ku sementara di sampingku ada wanita muda yang katanya sedang mengandung anak ku. Lagi pula kau tidak perlu banyak bertanya, cukup jawab pertanyaan ku kau mau atau tidak?"


Hannah dengan ragu ragu mengangguk kan kepalanya, "Ya, bebaskan aku dari sini dan mari kita buat istri sialan mu itu menderita sampai mati."


***


Martha menatap cemas pantulan wajahnya di cermin besar yang berada tepat di hadapan nya, seluruh produk mahal kecantikan sudah Martha coba namun penuaan diwajahnya tetap tak teratasi.


Martha kesal lantaran Demitri masih teramat muda dan banyak wanita muda lainnya yang mengincar Demitri, Martha tidak bisa mengolok olok wanita yang mendekati Demitri lantaran Martha sadar wanita


yang mendekati Demitri memiliki tubuh yang jauh lebih baik dan juga jauh lebih cantik dari Martha.


Yang membuat Martha lebih kesal lagi adalah Demitri, sudah hampir sebulan mereka menikah namun


Demitri belum juga mau menyentuhnya, dahulu sebelum menikah alasan Demitri adalah tidak mau


berhubungan sex sebelum ada ikatan pernikahan, namun sekarang saat mereka sudah menikah pun


Demitri tetap tidak mau melakukannya.


Martha mulai menaruh curiga terhadap Demitri, apakah Demitri tidak mencintainya lagi? Apakah karna


ia semakin lama semakin kelihatan tua dan itu membuat Demitri jijik?


Martha mengusap bekas luka di pipi, leher, dan juga lengannya.


Luka luka itu adalah luka yang Hannah


berikan kepadanya, luka yang juga membuat Martha malu akan penampilannya sendiri. Martha ingin melakukan operasi plastik tapi Demitri tidak memperbolehkannya, Martha pikir setelah ia


menikah dengan Demitri maka ia akan hidup enak dengan banyak uang namun alih alih hidup mewah


Martha justru merasakan ketidak bahagiaan.


Demitri membatasi uang yang bulanan untuknya, Demitri tidak membelikan nya hadiah mahal dengan


alasan harus menabung untuk kehidupan masa depan, Martha baru menikah sebentar dengan Demitri


namun dalam waktu singkat itu Martha sudah mulai merasa tidak tahan.


Namun Martha tidak akan pernah mau melepas Demitri, Martha sebelumnya sudah berapa bahwa


Demitri akan menjadi laki laki terakhirnya dan ia akan hidup bahagia memiliki anak bersama Demitri.


Martha akui sebelumnya ia tidak pernah pakai hati dalam menjalin hubungan dengan para mantan


suami ataupun para mantan selingkuhannya namun dengan Demitri berbeda, Martha benar benar


mencintai Demitri, Martha bahkan rela jika harus membunuh orang lain asalkan Demitri tetap menjadi


miliknya dan hanya mencintainya seorang.


Martha berputar memastikan penampilannya sudah sebaik mungkin, Martha mengenakan baju tidur


super sexy dan malam ini rencananya ia akan merayu Demitri untuk yang kesekian kalinya.


Senyum Martha tergugah ketika ia mendengar suara mobil, Martha yakin sekali itu Demitri yang baru


saja pulang dari kantor nya. Martha berlari girang menuruni tangga, ia bersenandung kecil sesaat melewati ruang tamu, namun


semua itu sirna seketika pintu terbuka dan Martha melihat dengan matanya sendiri Demitri masuk


kedalam tidak sendirian, sosok yang sangat amat dibencinya dan ia harapkan segera mati membusuk


dipenjara justru berjalan bersama dengan Demitri.


"S-sayang, kenapa k-kamu bisa bersama Hannah?" Martha menatap tajam Demitri dan Hannah


bergantian, bagaimana bisa Hannah keluar dari penjara begitu saja?


"Aku membebaskannya, sebagai seorang ibu kau tidak sepantasnya memenjarakan dia." Demitri berkata


seolah olah apa topik pembicaraan merek saat ini adalah hal sepele yang tidak perlu dibahas.


"Tidak sepantasnya? Kau pikir mencoba membunuh ku adalah hal sepele? Luka luka ku bahkan sampai


sekarang tidak bisa menghilang dan kau justru membawa pulang anak sial-"


"Jangan memulai perdebatan Martha, kau jelas tahu bahwa apa yang kau lakukan pada Hannah di masa


lalu jauh lebih buruk dari apa yang dia lakukan jadi diam lah dan berusaha lah untuk menerima Hannah."


Martha terdiam mendengar perkataan Demitri, ia mendadak gelagapan. Martha panik lantaran Demitri


berkata seolah olah ia telah tahu semua tindakan Martha dimasa lalu.


"A-apa maksud mu s-sayang, aku tidak mengerti." Martha mendekati Demitri mengusap dada suaminya


itu lembut.


"Kau tidak seharusnya percaya dengan omong kosong Hannah."


"Kau mengatakan padaku untuk tidak percaya akan semua perkataan nya tapi kau sendiri tidak pernah


bertindak berlawanan dari apa yang ia katakan, sikap mu yang keras kepala seperti ini justru membuat


ku semakin berpikir bahwa ia benar dan kau lah yang salah. Jangan buat aku menyesali pilihan ku karna


telah menikahi mu Martha, jangan membuat ku merasa aku telah memilih pasangan hidup yang salah." Demitri menepis tangan Martha di dadanya, ia pergi meninggalkan Martha yang masih shock akanperkataan nya dan Hannah yang berdiri disana menikmati drama malam hari yang diperankan oleh nya


dan Martha.


"Menyedihkan sekali." desis Hannah dengan suara menyebalkan, Martha yang bisa mendengarnya


menoleh menatap Hannah tajam.


"Apa kau bilang?!"


"Aku bilang dimana kamar ku? Tidak mungkin kan aku tidur di ruang tamu?" Hannah menatap sekeliling, cukup terpesona dengan mewahnya rumah Demitri, pantas saja Martha tidak rela melepaskan Demitri


begitu saja.


"Kau bisa tidur di kamar pembantu, kebetulan kami punya kamar lebih di belak-"


"Aku tidak berselera tidur ditempat kumuh, aku lebih suka tidur dipelukan Demitri."


"Jangan macam macam kau Hannah!!"


Hannah terkikik melihat reaksi Martha, melihat wanita tua dihadapannya itu emosi membuat Hannah


tak sanggup menahan rasa gembiranya. Hannah berjalan meninggalkan Martha yang masih menatapnya penuh emosi, Hannah menaiki tangga


dengan santai menghiraukan Martha yang mengikutinya dari belakang dan memakinya, menyuruh


Hannah untuk pergi ke belakang bukannya ke lantai atas.


"Jangan masuk ke kamar itu, itu bukan kamar mu!!" Martha berteriak ketika ia melihat Hannah


membuka sebuah kamar yang lima langkah jaraknya dari kamar utama, kamar dimana Demitri dan


dirinya tidur.


"Ada apa lagi ini ribut ribut?" Demitri yang berada dikamar keluar dengan wajah tidak senangnya, Martha dengan emosi menunjuk Hannah yang masih berdiri didepan kamar yang pintunya sudah


terbuka itu.


"Dia mau memasuki kamar itu, kau tahu sendiri kan itu kamar untuk anak kita kelak Demitri!" Martha


semakin menaikan suaranya, ia tidak suka rencananya untuk masa depan dan juga angan angan nya


untuk hidup tentram hancur karna Hannah.


"Biarkan saja dia memiliki kamar itu, soal kamar anak itu bisa dipikirkan nanti. Lagi pula aku ragu kau


bisa memberikan ku keturunan diusia setua itu." Martha terkejut, ia tidak menyangka respon Demitri akan seperti itu.


"Apa maksud mu Demitri, kau


merendahkan ku karna aku sudah tidak muda lagi? Kalau memang kau tidak ingin hidup dengan wanita


tua seperti ku lalu kenapa kau menikahi ku? Aku bersumpah Demitri aku bisa memberi mu anak, aku


bisa memberi mu sepuluh anak jika itu yang kau ingin kan. Kau hanya perlu menyentuh ku itu saja, kau


yang selama ini selalu menjauh dan tidak mau melakukan hubungan yang sudah seharusnya kita lakukan


sejak lama!" Martha semakin meninggikan suaranya, Martha benar benar merasa diserang hari ini. Maksud hati ingin


merayu Demitri namun ia justru bertengkar dengan Demitri hanya karna Hannah.


"Kau bertanya kenapa aku ingin menikah dengan mu? Aku sudah menolak sebelumnya, kau kan yang


memaksa untuk cepat cepat menikah. Jangan salah kan aku jika kau harus berumah tangga dengan laki


laki yang belum begitu kau kenal sifat nya, salah mu bukan salah ku." Demitri masuk kembali kedalam


kamar dan menutup pintu kamarnya rapat rapat, Martha merasa benar benar dilecehkan oleh

__ADS_1


perkataan Demitri.


Martha semakin terluka ketika melihat Hannah masuk ke kamar itu dan menutupnya


dengan kencang pula. Kenapa semuanya harus tidak berjalan sesuai rencana?


Kenapa?


***


Martha kesal, bukan, ini sudah bukan lagi kekesalan namun Martha sudah benar benar muak dengan


Hannah. Hannah bertingkah semaunya, Hannah bahkan meminta Demitri untuk memanggil beberapa orang


untuk merombak kamar yang ditempatinya, kamar yang seharusnya menjadi kamar calon anak Martha


dan Demitri kelak.


Memikirkan soal anak membuat Martha kembali mengingat perkataan Demitri, Martha malam itu


memutuskan untuk tidur dikamar lain, berharap Demitri akan mencarinya dan membujuknya namun


Martha justru terbangun dalam kesendirian, Demitri tidak pernah datang malam itu mencari Martha, bahkan paginya Martha justru mendapati Demitri sudah sarapan dengan Hannah tanpa mengajaknya. Martha benar benar sudah tidak tahan, Martha ingin mengamuk dan mengungkapkan kekecewaannya


terhadap Demitri namun Martha tidak berani, Martha takut jika ia menunjukkan sifat aslinya maka


Demitri akan semakin menjauh dan bahkan menceraikannya tanpa pikir panjang.


“Kau sarapan pagi tanpa ku sayang?” Martha mencoba untuk bersikap manja, berharap Demitri luluh


namun yang Martha dapatkan justru Demitri bangkit dari posisinya dan memakai jas kebanggaanya.


“Kau sudah mau berangkat kerja?” Martha masih tetap belum menyerah, ia mencoba membantu


Demitri mengancingkan jasnya namun tangan Martha justru ditepis oleh Demitri. Martha mengepalkan tangannya sembunyi sembunyi, ia menahan emosinya agar tidak meledak, Martha


bisa merasakan bahwa Hannah menatapnya dengan tatapan mencemooh, menertawakan apa yang


Demitri lakukan kepadanya.


Martha menatap kepergian Demitri dengan kekesalannya, setelah Demitri menghilang dari jarak


pandang nya Martha menoleh kearah Hannah, melotot tajam seolah olah menantang Hannah untuk adu


gulat saat itu juga.


“Sebenarnya apa yang kau mau hah? kenapa kau selalu saja mengacaukan hidup ku?!” Martha


mendekat kearah Hannah, menjauhkan mangkuk sereal Hannah hingga Hannah terpaksa berhenti


makan, Martha dengan kurang ajarnya menarik rambut Hannah. bertingkah bagaikan nyonya rumah


yang galak.


“Sadar lah akan posisi mu, kau tidak akan bisa tinggal lama dirumah ini. akan ku pastikan Demitri sendiri


yang akan menendang mu keluar dari rumah ini.” Martha melepaskan rambut Hannah secara kasar, membuat kepala Hannah sedikit terdorong namun itu sama sekali tidak membuat Hannah menunjukkan


rasa takut atau apapun seperti yang Martha harapkan. Hannah justru meninggikan dagunya, balik menantang Martha dengan matanya, tersenyum sombong


dan berdiri menghadap Martha yang sedikit lebih pendek darinya.


“Aku juga akan memastikan bahwa


kau lah yang akan terusir dari sini, Demitri sendiri yang akan mengusir mu atas perintah ku.” Hannah berjalan meninggalkan Martha tanpa lupa menyenggol bahu Martha dengan sangat amat


sengaja.


Hannah bisa mendengar suara mangkuk yang dibanting, tanpa menoleh pun Hannah tahu apa


yang terjadi, Martha pasti membanting mangkuk yang sebelumnya Hannah pakai untuk melampiaskan


rasa kesalnya.


Hannah bersemangat tiap kali melihat Martha emosi ataupun tersudutkan, namun disisi lain Hannah


juga masih bertanya tanya mengapa Demitri justru berpihak padanya untuk menyiksa Martha? bukan


kah Demitri mencintai Martha, ataukah Demitri akhirnya menyadari untuk apa ia bersama dengan


wanita tua yang tidak ada artinya, dan Demitri hanya membantu Hannah untuk mencari cari alasan agar


bisa berpisah dari Martha.


Hannah menggelengkan kepalanya, Hannah tidak perduli dengan hal itu. Hannah hanya perduli kepada


calon anaknya dan juga menyelesaikan misinya yang belum terselesaikan. Urusan Demitri ia tidak akan ikut campur, Demitri mau melakukan apa saja Hannah tidak akan perduli


asal kan apa yang Demitri lakukan tidak merugikan nya dan calon bayinya yang notabene nya adalah anak


dari Demitri juga. atau yang lebih tepat nya tidak diakui oleh Demitri.


***


“Ku pikir kakak ku hanya bicara omong kosong tapi ternyata kau benar benar ada disini.” Ivander


tersenyum lebar ketika melihat Hannah tengah sibuk memerintah para tukang untuk menata kamarnya.


“Ah kau.” Hannah tersenyum canggung, Hannah masih merasa kurang nyaman dengan Ivander, bukannya Hannah masih sakit hati atas apa yang dulu Ivander katakan tentangnya hanya saja Hannah


tidak tahu bagaimana harus bersikap kepada Ivander yang tiba tiba saja berubah manis kepadanya


semenjak Ivander mengetahui bahwa ia tengah mengandung anak Demitri.


“Bagaimana keadaan keponakan ku?” Ivander dengan sumrigah menyentuh perut Hannah yang masih


datar, Ivander tampak tidak segan mendaratkan tangannya diperut Hannah yang statusnya bukan siapa


justru tidak percaya itu anaknya.


“Kakak dan wanita sial itu tidak melakukan hal yang buruk kepada mu kan? aku masih sedang berusaha


menghubungi Giovano, aku akan membuat Giovano mengatakan kepada kakak ku bahwa ia tidak


pernah menyentuh mu jadi kakak bodoh ku itu bisa menyadari bahwa anak yang kau kandung adalah


darah dagingnya.”


“Uh.. aku rasa itu tidak perlu.” Hannah tidak memerlukan Demitri mengakui anak yang dikandungnya, tanpa Demitri pun Hannah yakin Hannah bisa membesarkan anaknya dengan baik. single parent tidak


terdengar buruk bagi Hannah.


“Apanya yang tidak perlu, aku tidak mau keponakan ku tumbuh tanpa sosok seorang Ayah, aku tidak


mau keponakan ku sama menderitanya seperti ku dulu.” raut wajah Ivander berubah serius, “Meski kau


merasa sanggup mengurusnya tanpa bantian siapapun bukan berarti anak mu nanti tidak butuh sosok


Ayah, dia pasti membutuhkannya.”


Hannah menghela nafas, “Kau juga tidak bisa memaksa Demitri untuk bertanggung jawab, dia sudah


beristri dan aku tidak akan mau menikah dengan Demitri yang statusnya adalah suami dari wanita yang


paling ku benci di dunia ini.”


Ivander nampak melunak ketika mendengar perkataan Hannah namun wajahnya kembali mengeras


ketika ia teringat dengan wanita yang saat ini menyandang status sebagai kakak iparnya.


“Aku tidak habis pikir kakak ku bisa menikahi wanita yang sudah menghancurkan hidup kami dan


parah nya ia mengadakan pernikahannya tanpa mengundang satu pun pihak keluarga, meskipun kami


tidak akan sudi menghadiri pernikahan mereka itu tapi bukan kah seharusnya kakak ku tetap


mengundang kami sekeluarga?” Ivander kembali mengoceh membuat Hannah sedikit terpana, Hannah


baru tahu kalau Ivander secerewet ini.


kesan awal Hannah bertemu Ivander dahulu seolah olah


menghilang dikantikan dengan Ivander yang lain. Namun tetap saja kata kata Ivander itu cukup membingungkan bagi Hannah, “Menghancurkan hidup


kalian seperti apa? Apa yang Martha lakukan kepada kalian”


Ivander nampak gelagapan. “A-ah itu maksud ku membuat kami sekeluarga menjadi jauh dari kak


Demitri, kau tahu sendirikan wanita sialan itu memberikan pengaruh buruk terhadap kakak ku.”


Hannah sedikit mengangkat alisnya ketika memperhatikan gelagat Ivander, Ivander bertingkah


mencurigakan, dari caranya berbicara membuat Hannah berpikiran bahwa bukan itulah masalah


sebenarnya yang sebelumnya Ivander maksudkan, Hannah merasa ada hal lain yang lebih besar dari itu. Hannah tidak berani bertanya lebih jauh, lagi pula ia tidak begitu perduli. Hannah sudah membuat


dirinya untuk menjadi egois, Hannah tidak akan memikirkan orang lain selain dirinya dan anaknya. Hannah tidak akan lagi menjadi orang disakiti melainkan menjadi orang yang menyakiti, karna dunia ini


kejam. hanya tersedia dua pilihan dalam hidup Hannah, menyakiti atau disakiti?


Hannah tentu saja memilih menyakiti, Hannah akan menyakiti siapa pun yanh mencoba menghalanginya


ataupun mengancam keselamatannya dan juga calon anaknya.


***


“Kau belum menjawab pertanyaan ku Demitri, kenapa kau mau menghancurkan istri mu sendiri?” Hannah dengan lancang duduk di kursi kerja Demitri, memutar mutarnya sebentar sebelum akhirnya


Hannah mengangkat kakinya keatas meja kerja Demitri.


“Kau benar benar tidak tahu diri ya? aku sudah mengeluarkan mu dari penjara, seharusnya kau


menghormati ku bukannya malah berbuat sesuka mu seperti itu.” Demitri menarik lengan Hannah, bermaksud mengusirnya dan menyuruhnya keluar dari ruangannya.


“Aku sudah memberi mu akses


masuk ke rumah ini dan memberikan mu kamar yang bagus, jangan pancing aku untuk berbuat hal yang


tidak tidak terhadap mu Hannah.” Hannah terkikik, ancaman Demitri sama sekali tidak mengganggunya, Hannah hendak menuruti Demitri


namun dari sudut matanya Hannah bisa melihat bayangan yang mengintip dari luar ruangan Demitri


yang tidak tertutup rapat, Hannah tahu dengan jelas siapa itu dan karna hal itu Hannah justru menarik


kerah baju Demitri, mendekatkan wajahnya dengan wajah Demitri, mengikis jarak diantara keduanya.


“Cium aku maka aku akan pergi.” Hannah mengedipkan matanya, menunggu Demitri menyatukan kedua


bibir mereka yang sudah nyaris bersentuhan. Hannah merasa tidak sabaran, Hannah benar benar kesal karna Demitri masih saja tidak mau bergerak. padahal Hannah merasa timingnya sudah sangat pas untuk melakukan hal itu, tepat di depan mata


Martha.


“Jangan meminta macam macam Hannah keb—” Hannah tanpa gemas, ia menarik kerah baju Demitri dan menyatukan bibirnya dengan bibir Demitri. Hannah bisa merasakan tangan Demitri berusaha untuk mendorongnya menjauh namun Hannah tetap


mencengkram kerah Demitri erat erat. Hingga suara pintu ruangan Demitri yang dibuka paksa hingga membentur tembok itulah Hannah baru


melepaskan Demitri, senyum puas melekat dibibirnya ketika ia melihat Martha berdiri didepan pintu

__ADS_1


dengan wajah memerah.


“Apa yang kalian lakukan dibelakang ku?!” Martha berteriak mengamuk, ia berjalan cepat menghampiri


Hannah dan mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan ke pipi Hannah namun semuanya


sia sia, Hannah menangkap tangan Martha terlebih dahulu sebelum Martha sempat menjatuhkan


tangan nya itu tepat di pipi Hannah.


“Kau mencoba untuk menggoda suami ku hah?!” Martha sedikit mengernyit ketika marasakan


cengkaraman tangan Hannah begitu kuat di lengannya.


“Lepaskan!!” Demitri yang berada diantara kedua wanita itu melaerai mereka, Demitri menjauhkan keduanya dan


menatap datar kearah kedua nya bergantian, “Berhentilah bersikap kekanakan, kau Martha berhentilah


paranoid dengan keberadaan Hannah, dia itu putri mu dan apa salahnya jika aku mencium putri ku


sendiri, bukan kah itu hal wajar?”


“Itu bukan hal wajar Demitri, dia bukan putri kandung mu, dimana mata mu sehingga kau tidak bisa


melihat bahwa dia jelas jelas bermaksud untuk menggoda mu!” Martha sudah tidak habis pikir kenapa


Demitri terus saja membela Hannah.


“Kau sangat kekanakan, aku tidak mau mendengar ocehan mu lagi, lebih baik kau pergi ke kamar mu


sekarang!” Demitri mengusir Martha, membuat Martha terkejut lantaran tak menyangka setelah


dimarahi ia justru diusir oleh suaminya sendiri.


“Kenapa kau menyuruh ku pergi tapi tidak dengan Hannah, kenapa kau hanya mengusir ku saja?!” Martha masih tidak terima, Martha menarik tangan Hannah hendak menyeretnya keluar namun lagi lagi


tindakan Martha tersebut dihentikan oleh Demitri.


“Masih ada hal yang harus ku bicarakan kepada Hannah, kau pergilah sendiri. jangan lupa tutup rapat


rapat pintunya.” Martha mendengus, ia tidak menyangka dirinya akan diperlakukan seperti orang asing seperti ini oleh


suaminya sendiri, yang lebih parahnya lagi Martha disuruh untuk menutup pintu selayaknya pembantu, Martha bebar benar merasa terhina.


***


Sepeninggal Martha, Demitri mengalihkan fokusnya kepada Hannah yang masih saja tersenyum senyum


setelah melihat drama antara dirinya sendiri dan Martha.


“Seharusnya kau tidak melakukan itu.” Hannah menoleh kearah Demitri dan memandangnya penuh tanda tanya, “Apa maksud mu? bukan kah


kau sendiri yang mengatakan kepada ku untuk membantu mu menyakitinya, ini lah cara ku


menyakitinya suka tidak suka kau harus menerimanya!”


Demitri menggelengkan kepalanya tidak setuju, “Bukan begitu maksud ku, seharus nya kau


mengatakan nya kepada ku jadi kita bukan hanya berciuman saja di depan nya tadi, seharusnya kita


bercinta di depan matanya, itu jauh lebih menyenangkan bukan?”


Hannah terdiam, Hannah merasa yang dikatakan Demitri ada benarnya namun juga Hannah merasa


Demitri seolah olah mengambil kesempatan dari hal itu, namun siapa peduli? tidak ada masalah jika


Hannah harus kembali melakukan hubungan sex dengan Demitri, toh Hannah sudah mengandung anak


Demitri, tidak ada lagi yang perlu Hannah hindari atau takuti, misinya hanya satu.


lagi lagi Hannah mengingatkan dirinya bahwa misinya hanya satu, membuat Martha menderita hingga


mati.


“Kalau begitu kapan?”


***.


Ivander memasuki ruangan Demitri seenak nya, ia duduk tepat disofa yang ada didalam ruangan itu.


“Katakan pada ku kenapa kau menikahi wanita tua menjijikan itu kak?”


“Kau tidak perlu tahu!”


“Jawab aku kak, atau aku sendiri yang akan menanyakannya kepada istri tua menjijikan mu itu!!”


Ivander mengancam, ia melotot tajam kearah sang kakak yang tengah sibuk menandatangani berkas


berkas penting nya.


“Aku tidak bisa membiarkan calon keponakan ku tinggal dengan istri gila mu itu, aku tidak mau


keponakan ku dalam bahaya.”


Demitri berdecak, ia malas sekali sebenarnya jika harus meladeni Ivander, pekerjaannya masih


menumpuk dan Ivander justru datang membicarakan masalah yang sedang tidak ingin Demitri dengar.


“Sudah berapa kali aku bilang anak yang Hannah kandung bukan anak ku yang berarti juga bukan


keponakan mu Ivander!!”


“Sudah berapa kali juga ku bilang bahwa Hannah itu hamil anak mu, tidak ada laki laki mana pun yang


menyentuh nya selain dirimu sialan!!”


Demitri masih menolak untuk mempercayainya, jelas jelas ia sendiri saat itu menyerahkan Hannah


ke tangan Giovano untuk memuaskan Giovano, bagaimana mungkin Giovano dan Hannah tidak tidur


bersama, Demitri tidak mempercayainya. “Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan ku, jangan biasakan ikut campur urusan orang lain, urus


saja urusan mu sendiri!”


***


Sudah nyaris sebulan Hannah tinggal bersama Demitri dan juga Martha, Hannah cukup menikmati


peran nya sebagai penjahat, Hannah terus saja melakukan hal hal yang membuat Martha naik darah, baik merombak letak beberapa barang di rumah dan juga berkeliaran di sekitar Demitri.


Setiap kali Martha melabraknya Hannah hanya akan menanggapi dengan senyuman sinis dan semakin


menjadi jadi, semakin Martha melarangnya maka Hannah semakin ingin untuk melakukannya.


Seperti saat ini, Martha melarang Hannah untuk ikut dengan Demitri yang mengajaknya makan malam


dengan klien. Martha ingin dirinya yang mendampingi Demitri makan malam dengan klien namun


Demitri membantah bahwa Hannah lah yang ia perlukan karna Hannah mengerti soal hal yang akan


mereka bahas disana nanti sedangkan Martha dianggap hanya akan menyusahkan saja bagi Demitri


Martha melarang Hannah menerima ajakan Demitri, Martha bermaksud jika ia tidak diperbolehkan ikut


maka Hannah pun tidak, biarkan saja Demitri pergi sendiri atau ditemani Rafael yang pasti jauh lebih ahli


dalam bidang yang Demitri maksud.


“Jangan keras kepala Martha!”


Martha mengepalkan tangannya, dalam waktu nyaris sebulan Martha terus saja dimarahi dan terus saja


salah di mata Demitri dan Demitri terus saja memihak kepada Hannah, posisi nya saat ini entah mengapa


mengingatkan nya akan masa lalu, masalalu dimana ia yang selalu dibela dan korban nya selalu saja salah


di mata laki laki yang Martha goda dulu.


Martha bukan orang bodoh, Martha tahu sekali ini bagian dari rencana Hannah untuk balas dendam, namun Martha tidak bisa terima karna ia tidak punya senjata untuk melawan, senjatanya yang paling


kuat justru berbalik ikut melawan nya.


“Aku hanya ingin ikut kenapa tidak boleh, kita sudah lama sekali tidak makan malam diluar bersama


Demitri!” Martha selalu saja tidak pernah mau menurut dalam satu kali perkataan Demitri, Martha


selalu mengajak Demitri berdebat dahulu meski diakhir Martha selalu kalah dan akhirnya harus


mengalah.


“Persetan dengan segala kekeras kepalaan mu itu!” Demitri tidak perduli ia meraih tangan Hannah dan


membawanya pergi begitu saja, mengabaikan Martha yang masih meneriak kan namanya kuat kuat.


Martha lagi lagi kalah, ia memandang dari kejauhan Demitri yang memasuki mobil nya bersama Hannah, Martha kemudian menunduk melihat gaun yang sudah dikenakan nya, ia sudah berdandan susah payah


namun justru Hannah yang Demitri ajak, mengesalkan.


Ini sudah kesekian kalinya Martha merasa harga dirinya seolah olah di injak injak


.***


“Bukan kah kau bilang kita akan makan malam dengan klien mu?” Hannah menatap bingung kearah


Demitri yang sudah mulai mengunyah makanannya, tidak ada satupun klien hanya Demitri dan Hannah


di meja restoran itu.


“Aku mengajak mu kesini untuk makan malam bersama, sekaligus membicarakan soal kehamilan mu.” Demitri bicara santai sembari memotong steaknya,menyuapkannya kedalam mulutnya sendiri dengan


penuh elegan, gaya orang kaya.


“Kehamilan ku bukan hal penting untuk kau bahas, kau sendiri kan yang tidak mau mengakui anak ini


adalah anak mu.” Hannah ikut menyicipi steak miliknya, cukup tergoda melihat Demitri yang nampak


menikmati sekali makanannya.


“Aku akan berkompromi, Ivander terus saja memaki ku berkata bahwa anak yang kau kandung itu


adalah anak ku, jadi aku sudah memutuskan bahwa aku akan merawat mu dan calon anak itu dengan


baik sampai kau melahirkan, setelah anak itu lahir aku akan melakukan tes dna untuk membuktikannya


dan jika anak itu terbukti bukan anak ku, aku ingin kau dan Ivander berhenti menyebut nyebut bahwa


aku ayahn ya dan jika anak itu benar benar adalah anak ku maka aku dengan suka rela akan menikahi


mu*.



Demitri tiba tiba saja terbangun dari mimpi panjang nya karena mendengar teriakan dari Ivander, Demitri bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang nya.


Memijat kepala nya karena terasa pusing, mimpi barusan. Mimpi yang baru saja Demitri alami itu.


Mimpi macam apa itu, bagaimana bisa Demitri memimpikan Martha hidup kembali dan Martha menjadi istri nya.

__ADS_1


Tapi jikalau dipikir pikir rencana itu lebih baik di bandingkan dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Andai saja Hannah dan dirinya benar benar berkerja sama dahulu untuk menghancurkan Martha


Mungkin Hannah yang asli sekarang pasti masih hidup, begitu pula dengan anak mereka.


__ADS_2