
“Sialan, kau benar benar harus mencopot cctv itu. Aku sudah tidak butuh pengawasan mu lagi.”
Ivander menggelengkan kepala nya tidak setuju, “Aku belum bisa mempercayai mu Kak. Jadi aku tidak akan mencopot cctv itu.”
Demitri memutar bola mata nya jengkel, meski Ivander tidak bersedia mencopot kamera cctv itu. Nanti Demitri akan mencopot nya sendiri, Demitri merasa sudah tidak perlu diawasi.
Dirinya sudah mulai jarang berhalusinasi lagi. Entahlah, mungkin ini efek dari Demitri rajin minum obat atau karena Demitri sekarang sudah bertemu dengan wanita yang mirip Hannah sehingga rasa rindu nya kepada Hannah menjadi terobati.
***
“Sepertinya Axel sudah waktu nya untuk mulai bersekolah. Umur nya sudah cukup, Axel pun sudah berkali-kali meminta untuk disekolah-kan. Meski alasan Axel merengek meminta bersekolah agar bisa bermain main dengan teman-teman baru.” Hannah memulai pembicaraan di meja makan, kali ini Hannah, Darlen dan Giovano tengah sarapan bersama. Tak lupa dengan Axel yang sibuk dengan pancake nya.
Axel yang mendengar Hannah menyebut nyebut kata ‘Sekolah’ mendadak semakin bersemangat, mata Axel berbinar binar menatap ketiga orang dewasa yang tengah berbincang itu dengan tatapan penuh harap.
Giovano yang menyadari tatapan penuh harap dari Axel tidak bisa menahan tawa nya, Axel benar benar menggemaskan. “Ya, memang sepertinya sudah saat nya Axel masuk Taman Kanak-Kanak, tapi kita belum menemukan sekolah yang bagus untuk Axel. Mungkin kita akan bicarakan hal ini lagi bersama setelah aku pulang dari kantor. Atau mungkin kalian berdua bisa membahas dan mengurus nya tanpa aku, tidak perlu menunggu ku karena aku tahu pilihan kalian pasti yang terbaik untuk Axel.”
“Kau sudah mau berangkat?” Kali ini Darlen lah yang buka suara, ia ikut bangkit ketika Giovano berdiri dari kursi meja makan nya, telah menghabiskan sarapan nya yang di buat oleh Darlen.
“Ya, sudah waktu nya aku berangkat.” Giovano mengecup kening Axel sejenak, rutinitas nya di pagi hari sebelum berpisah dengan Axel. Giovano memperhatikan Darlen yang mengambilkan tas kerja nya, sebelum akhirnya Giovano menoleh ke arah Hannah dan tersenyum. “Aku berkerja dulu, jika ada apa apa dan Darlen telepon aku.”
Hannah menganggukkan kepala nya sebagai jawaban, ia tertawa melihat Darlen yang berlari sembari membawa tas kerja Giovano.
Hannah melanjutkan sarapan nya sembari sesekali tertawa melihat betapa berantakan nya Axel memakan pancake milik nya.
“Kau tahu sekolah yang bagus disekitar sini, kau tahu aku jarang keluar kecuali ke Bar. Mungkin kau tahu anak anak seumuran Axel disekitar sini bersekolah dimana.” Darlen baru saja kembali setelah mengantar Giovano sampai ke mobilnya, rutinitas mereka.
“Ada, aku sering melewati sekolah itu bersama dengan Axel karena Axel selalu penasaran dengan sekolah, ku rasa lebih baik kita menyekolahkan nya disana. Sekolah itu tidak begitu jauh, dekat dengan taman yang sering ku kunjungi dengan Axel.”
__ADS_1
Darlen mengangguk mengerti, “Bagus lah kali begitu, bagaimana kalau siang ini kita pergi kesana untuk melihat lihat. Memastikan apa Axel benar benar ingin bersekolah disana, Jika ia maka kita akan segera mendaftarkan nya.”
Axel yang sebelumnya masih sibuk dengan pancake nya kali ini kembali mendongak penuh semangat. “Axel mau sekolah Papa!!”
Axel terlalu bersemangat sampai secara tidak sengaja menyenggol gelas kaca yang tepat ada di dekat siku nya. Gelas kaca tersebut jatuh dan menimbulkan suara keras, pecah berserakan di lantai.
Axel yang menyenggol gelas itu kaget tentu saja, namun bukan hanya Axel yang terkejut karena hal itu. Darlen pun sama terkejut nya.
Namun diantara mereka, Hannah lah yang paling terkejut. Wajah wanita itu mendadak pucat sembari memandangi pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Situasi ini, keadaan ini seolah pernah dirasakan nya dulu. Hannah terus memandang kearah pecahan gelas itu dengan nafas yang mulai tersengal-sengal.
Kepala Hannah mendadak terasa amat sangat pusing, sebuah kilasan kilasan kejadian seolah olah berputar di kepala nya bagai kaset rusak.
Hannah tahu bahwa kilasan kilasan seperti kaset rusak itu adalah ingatan nya sehingga ia memaksa dirinya untuk mengingat dengan baik.
Hannah melihat *seorang gadis kecil dengan piama imut di tubuhnya mengintip kearah ruang tamu, dimana suara berisik terdengar tak habis habisnya sejak setengah jam yang lalu.
Gadis kecil itu siapa? Apakah itu dirinya sendiri?
Dalam ingatan Hannah yang samar samar, *gadis kecil itu tengah menangis. Isak tangis mulai keluar dari bibir kecilnya, gadis kecil itu terduduk lantaran tak kuat melihat sosok laki laki yang Hannah yakini adalah Ayah nya tengah memukuli wanita yang juga Hannah yakini adalah Ibu nya. suara tangisan gadis kecil itu cukup kencang itu terdengar oleh dua orang dewasa itu, sang Ibu menatap nya dengan senyuman yang dipaksakan menyuruh gadis kecil itu untuk masuk ke kamar dan tidur berbanding terbalik dengan sang Ayah yang terlihat tidak perduli.
Gadis kecil itu bangkit dan melangkah pelan mendekati Ibunya sesaat Ayah nya pergi tanpa kata, meninggalkan sang Ibu terduduk dengan luka lebam di pipi nya*.
Hannah bertanya tanya, kenapa laki laki itu memukuli Ibu nya? Jika itu memang benar Ayah nya kenapa Ayah nya setega itu?
"I-Ibu.." gadis itu menjatuhkan boneka nya dan berlari memeluk Ibu nya, ia memang masih kecil tapi ia tahu bahwa apa yang terjadi tadi adalah hal yang buruk dan sial nya Ibu nya lah yang menjadi korban. Gadis kecil itu tahu bahwa Ibu nya disiksa tapi yang tidak diketahui nya adalah alasan mengapa Ibu nya diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Ibu, s-sakit?" Gadis kecil itu mengusap lebam di pipi Ibu nya, melihat Ibunya meringis membuat gerakan tangan gadis itu terhenti, mata nya kembali meneteskan air mata.
"Ibu baik baik saja, Hannah lebih baik sekarang tidur, besok Hannah harus berangkat sekolah."
Sekali lagi laki laki itu menimbulkan keributan, kali ini ia melempar gelas kaca hingga pecah ke arah dinding. “Bersekolah?! Habiskan saja semua uang ku! Kalian berdua memang tidak berguna!”
Nafas Hannah masih tersengal sengal dan keringat mengucur deras ditubuh nya karena terlalu memaksa mengingat sesuatu.
Darlen yang merasakan keanehan pada Hannah dengan terburu buru mendekat dan memegang bahu Hannah lembut.
“Ada apa? apa kau sakit?” tanya Darlen khawatir, Axel yang melihat itu semua juga mulai berkaca kaca. Sedih melihat Ibu nya yang kelihatan kesakitan dan tersiksa.
Hannah menggelengkan kepala nya, “Aku baik baik saja. Han-hanya saja aku baru mengingat sesuatu, a-aku mengingat masa kecil ku.”
Darlen terkejut, Darlen memandang Hannah dengan pandangan tidak percaya. Apakah ingatan Hannah perlahan lahan mulai kembali?
“A-aku mengingat bagaimana Ayah bersikap jahat kepada Ibu.. ta-tapi kenapa dalam ingatan ku kau tidak ada Darlen? Dimana kau saat Ibu dipukuli oleh Ayah, dan disaat aku dan Ibu menangis. Bukan kah kau bilang kau itu kakak ku? Kenapa aku tidak mengingat satu hal pun tentang mu di masa lalu?”
Darlen terdiam, ia ingin menjawab namun Darlen mendadak gelagapan. “A-ah itu, kau tahu kita berpisah saat kita masih sangat kecil. Mungkin karena itu aku tidak ada dalam ingatan mu. Ayah sendiri yang membuang ku, menjauhkan ku dari kalian berdua. Maafkan aku karena aku tidak ada disaat saat sedih kalian.”
Lagi dan lagi, Darlen mengarang kebohongan. Begini lah yang terjadi jika semua nya diawali dengan kebohongan, Darlen pasti akan terus menimbun kebohongan nya dengan kebohongan lagi begitu terus menerus.
Semuanya semata mata demi kebaikan Hannah.
Darlen pun semakin takut, Hannah sudah mulai mengingat kenangannya di masa lalu satu persatu, bagaimana jika ingatan Hannah akhirnya kembali ke semula.
Apakah Hannah bisa menerima kenyataan atau Hannah akan menyakiti dirinya lagi seperti dulu? Darlen harap kali ini tidak akan seperti dulu, karena dulu Hannah putus asa dan trauma karena Hannah merasa tidak memiliki siapa siapa dan tidak bisa mempercayai siapapun.
__ADS_1
Tapi bukan kah kondisinya sekarang sudah berbeda? Hannah tidak lagi sendirian, ada Darlen, Giovano dan tentu saja Axel yang selalu ada di sisi Hannah.
Berusaha mewarnai hidup Hannah yang baru sedemikian rupa, Darlen harap jika ingatan Hannah memang benar benar kembali. Hannah akan tetap menjalani hidupnya ini dan melepaskan rasa trauma, sakit hati nya dan juga bisa melupakan kepergian anaknya yang telah tiada.