MY REVENGE

MY REVENGE
SEASON II EP 42


__ADS_3

Seperti apa yang Hannah katakan kepada Ivander, Ivander datang malam harinya ke tempat tinggal Hannah. Ivander datang setelah urusannya di kantor selesai.


Kedatangan Ivander disambut sinis oleh Darlen, begitu pula dengan Ivander. Ivander menatap tidak suka kepada Darlen yang berada di rumah yang sama dengan Hannah.


Tidak menyangka bahwa laki laki itu sangat tidak tahu malunya tinggal di rumah kekasihnya yang telah memiliki istri.


“Duduk lah Ivander.” Hannah mempersilahkan Ivander duduk di ruang tamu.


Axel sedang berada di kamar dengan Giovano. Giovano sedang berusaha menidurkan Axel dengan membacakan buku buku dongeng kepada Axel.


Ivander duduk di sofa bersebrangan dengan Darlen sementara Hannah sibuk membuat minuman di dapur. Ivander merasa canggung berduaan dengan Darlen lantaran Darlen terus menatapnya dengan tatapan tajam.


Ivander membenci tatapan itu, bukan kah seharusnya Ivander lah yang menatap Darlen seperti itu. Siapa yang lancang disini?


Tak lama Hannah datang membawa minuman, menaruhnya di atas meja dan Hannah duduk tepat disebelah Darlen. Mempersilahkan Ivander untuk meminum minuman yang telah dibuatkannya.

__ADS_1


Ivander menurut, meneguk kopi buatan Hannah itu sebelum akhirnya membuka percakapan kembali. Mengatakan apa yang siang tadi ingin ia katakan.


“Aku datang kemari untuk membahas tentang kakak ku Demitri. Aku merasa bahwa keputusan yang kau ambil tidak adil. Aku tahu bahwa ini keputusan mu dan aku juga lebih senang kau bahagia dengan orang lain dibandingkan dengan Kakak ku, mengingat betapa menderitanya kau dulu. Tapi dari sekian pria kenapa kau justru bersama dengan Giovano? laki laki itu yang membeli mu dari Kakak ku dengan alasan untuk menebus kesalahan ku, dan kau juga mengetahui bahwa Giovano memiliki kekasih gelap dan kekasihnya itu tengah duduk disamping mu saat ini.. bagaimana bisa kah kau memilih bersama laki laki seperti itu sementara selama ini kakak ku mengira kau sudah mati dan berkali kali masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Kakak ku putus asa sekali saat berpikir bahwa kau benar benar telah tiada.”


Darlen yang berada disamping Hannah emosi mendengar perkataan Ivander, Ivander hanya membahas kesulitan Demitri saja. Apa Ivander tahu apa yang telah Hannah alami selama ini. Hannah menderita, jauh lebih menderita dibandingkan Demitri.


“Kau tahu apa soal keputusan Hannah hah, jangan berusaha untuk membuat Kakak mu itu terlihat seperti korban. Kalau dulu dia menderita terus kenapa, apa urusannya dengan Hannah? Kau pikir setelah lolos dari maut hidup Hannah bahagia, tidak sama sekali!” Darlen emosi, Darlen kembali mengingat masa masa dimana Hannah berhasil sadar setelah kejadian penembakan itu.


Ivander mengernyitkan dahi melihat Darlen yang marah, kenapa juga Darlen yang marah soal kepedihan Hannah sementara Darlen juga menjadi salah satu dari orang yang melukai Hannah. Memangnya Darlen pikir berhubungan dengan laki laki yang berstatus sebagai suami Hannah itu bukan sebuah kejahatan dan tidak melukai perasaan Hannah?


“Kau tidak perlu menyalahkan Giovano dan Darlen terus menerus, mereka tidak salah. Aku tidak menikah dengan Giovano, jadi aku tidak perlu merasa tersakiti jika Giovano dan Darlen memiliki hubungan.” jawab Hannah dengan tenang, jawaban Hannah tersebut membuat Ivander dan juga Darlen terkejut.


Jika Ivander terkejut dengan kebenaran yang baru Hannah katakan sementara Darlen terkejut Hannah membocorkan rahasia yang selama ini mereka bertiga jaga untuk kebaikan Hannah.


“Hannah.. apa yang kau lakukan, kenapa kau memberitahunya!” Darlen ingin kembali protes namun lagi lagi Hannah menepuk punggung tangan Darlen lembut seolah menyuruh Darlen untuk tenang dan percaya kepadanya.

__ADS_1


“Ka-kau dan Giovano tidak menikah, tapi kau sendiri bukan yang mengatakan kepada Demitri bahwa kau sudah menikah dengan Giovano?” tanya Ivander kebingungan, sebenarnya Ivander memang sudah merasa aneh. Wanita seperti Hannah mana mungkin mau hidup dengan suami yang memiliki selingkuhan, terlebih lagi tinggal bersama dengan selingkuhan suaminya itu.


“Aku dan Giovano mengatakan kalau kami menikah kepada Demitri semata mata untuk membuat Demitri berhenti menemui ku. Tolong berhenti menyalahkan Darlen dan Giovano tanpa mereka mungkin sekarang ini aku sudah mati.”


Ivander mengepalkan tangannya kesal, “Kenapa kau ingin sekali menjauh dari Kak Demitri? memangnya apa salah Kak Demitri kepada mu? Aku tahu kak Demitri memang salah karena tidak mempercayai mu mengandung anak nya dulu, dan juga karena Kak Demitri tidak berusaha mengeluarkan mu dari penjara sebelum kau keguguran. Tapi bukan kah kau sendiri yang ingin membalas dendam? Kak Demitri tidak pernah menyuruh mu untuk balas dendam bukan? Saat kau membunuh Martha, apa kau tidak ingat bahwa Kak Demitri memeluk mu di apartemen Martha dan dengan mati matian tidak ingin melepaskan mu saat polisi datang. Itu karena Kak Demitri tidak ingin kau kembali ke tempat mengerikan itu, Kak Demitri itu mencintai mu meski ia terlambat menyadarinya. Dia menderita sekali saat berpikir bahwa kau telah tiada.”


Darlen memutar matanya mendengarkan perkataan Ivander, yang Ivander sebut selalu saja penderitaan Demitri. “Kalau kakak mu itu menderita memangnya kenapa? Apa kau tahu seberapa trauma nya Hannah dulu hingga ia berkali kali mencoba untuk bunuh diri? lagi pula Hannah tidak bisa kembali begitu saja dan mengatakan bahwa dia masih hidup. Jika polisi tahu bahwa Hannah masih hidup polisi pasti akan menangkap Hannah dan kembali mengeksekusinya.”


“Itu alasan mu saja karena kau memang tidak suka pada Kakak ku.” jawab Ivander dingin.


Darlen merasa tertantang, “Iya, aku memang tidak menyukai kakak mu. Aku bahagia jika Hannah mau memulai hidup baru dan menikah dengan laki laki yang dicintainya tapi aku tidak sudi kalau laki laki itu kakak mu. Kau lupa bahwa kakak mu itu tanpa berpikir dua kali menjual Hannah kepada Giovano hanya untuk menebus nama baik mu, kau pikir apa yang bisa diharapkan dari laki laki seperti itu untuk menjaga Hannah yang sangat berharga bagiku?!”


Hannah untuk kesekian kalinya memegang tangan Darlen lembut berusaha untuk membuat laki laki itu tenang, “Tenang lah Darlen, jika kau berteriak seperti ini kau akan membuat Axel terbangun dari tidurnya.”


Darlen berusaha untuk mengontrol emosinya, sejak awal Darlen tidak setuju untuk menerima kedatangan Ivander kemari. Darlen tahu Ivander hanya akan membuat perdebatan saja.

__ADS_1


“Kenapa harus bersama dengan laki laki lain, apa laki laki lain di luaran sana suci tanpa dosa sedikitpun? Kakak ku juga bisa berubah, ia sudah berubah banyak. Apa kau pikir jika kakak ku tidak berubah dia akan mau menuruti kemauan Hannah untuk berhenti menemui Hannah? Kenapa harus mencari orang lain ketika ada yang dekat dan sangat mendambakan mu sepenuh hati.”


__ADS_2