
Hannah kembali ke rumah di antar oleh Demitri, saat Hannah sampai di rumah keadaan rumah sudah sepi karena tidak ada suara Axel, Axel sudah terlelap pulas dalam mimpi nya.
Hanya ada Darlen dan Giovano yang sedang duduk menonton televisi berdua di ruang tamu yang Hannah temui saat ia masuk ke dalam rumah.
“Bagaimana kencan nya? lancar?” tanya Darlen sembari mengubah posisi duduk nya menjadi tegak, ia menatap penasaran ke arah Hannah yang tengah membuka sepatu nya sebelum menaruh sepatu tersebut kembali ke rak sepatu.
“Kalian melakukan apa saja?" tanya Darlen lagi, Giovano mencubit lengan nya pelan. Berusaha mengingat kan Darlen untuk tidak mendesak Hannah untuk bercerita perihal masalah pribadi nya jika Hannah tidak ingin melakukan nya.
“Sakit Vano, aku kan hanya bertanya. Ini kencan pertama mereka, aku bukan bermaksud untuk ikut campur. Aku hanya ingin tahu apa Demitri memperlakukan Hannah dengan baik atau tidak.” Darlen mendengus kesal, ia kembali beralih kepada Hannah yang kini duduk di sofa sebarang nya sembari bersandar pada kepala sofa.
Darlen melihat Hannah menarik nafas berat sebelum melepaskan nya dengan helaan keras, seolah olah menunjukkan bahwa ada sesuatu hal yang mengganggu dirinya, ada sesuatu yang mengganjal di pikiran nya.
“Ada apa? Demitri tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada mu bukan?” kini nada suara Darlen menjadi lebih berat, pertanda bahwa ia kali ini serius bertanya. Tatapan mata Darlen juga menunjukkan kekhawatiran. Darlen khawatir lantaran Hannah bukan nya terlihat bahagia setelah pulang berkencan dengan Demitri.
Hannah justru kembali dengan wajah masam, tentu saja Darlen di buat panik karena hal tersebut.
Hannah menggelengkan kepala nya, Demitri sama sekali tidak melakukan hal yang buruk kepada nya. Hannah hanya merasa bersalah saja kepada Demitri karena ia telah menolak cincin pemberian Demitri.
“Demitri tidak melakukan hal buruk pada ku, justru diriku ini lah yang melakukan hal yang buruk kepada nya.”
Darlen mengerutkan kening nya kebingungan, serupa dengan Giovano, Giovano juga sama sama tidak mengerti dengan apa yang sebenar nya terjadi.
“K-kau yang melakukan hal buruk kepada Demitri?” Darlen semakin bingung, “Apa yang kau lakukan, ku pikir kencan kalian akan berjalan baik dan kau akan pulang dengan raut wajah bahagia.”
Hannah kembali menghela nafas berat, “Kencan kami memang berjalan dengan baik, kami hanya pergi makan malam romantis, Demitri bahkan memberikan banyak kejutan kepada ku, bunga, lagu yang merdu, makanan yang enak dan tak lupa cincin.”
“Kalau memang kencan kalian sesempurna itu lalu kenapa kau bilang kau melakukan hal yang buruk kepada Demitri? Apa yang sebenarnya kau lakukan?” tanya Darlen lagi.
“Aku menolak cincin pemberian nya.” jawab Hannah pelan, Darlen dan Giovano sontak duduk tegak dan menatap Hannah dengan pandangan serius mereka.
“Kenapa kau menolak cincin pemberian nya? apa kau berubah pikiran dan tidak ingin menjalin hubungan dengan nya lagi?” kali ini Giovano yang bertanya, ia pikir Hannah sudah mulai serius dengan Demitri tapi ternyata mereka justru seperti ini.
“Aku juga merasa berat hati untuk menolak cincin tersebut, tapi cincin yang Demitri berikan kepada ku bukan cincin hadiah biasa, dia mengajak ku untuk menikah. Demitri melamar ku sementara kami saja belum mendapat kan persetujuan dari Axel. Aku tidak bisa memberi Demitri harapan besar jika kami saja belum yakin dengan penerimaan Axel, jika Axel tidak ingin aku menikah maka aku tidak akan melakukan nya.” ucap Hannah pelan, ia kembali teringat dengan perbincangan nya dengan Demitri saat makan malam bersama, Hannah teringat wajah kecewa yang Demitri berusaha sembunyikan namun tetap terlihat oleh Hannah.
“Lalu bagaimana? Demitri marah karena kau menolak cincin nya?” Darlen sudah berpikir yang tidak-tidak saja, meski Darlen sudah memberi lampu hijau untuk Demitri mendekati Hannah namun Darlen masih saja berpikiran buruk tentang laki laki itu. Darlen masih saja tidak bisa berpikiran positif tentang Demitri terlebih lagi itu menyangkut dengan Hannah.
“Demitri tidak marah padaku, dia justru mengatakan bahwa dirinya akan berjuang keras untuk bisa mendapat kan hati Axel. Demitri mengatakan ia akan berjuang keras untuk membuat Axel menerima nya, bukan sebagai teman dari ku tapi menerima sebagai seorang Ayah.”
Kali ini Darlen menghela nafas, perkataan Hannah membuat Darlen teringat dengan perbincangan kecil Darlen dengan Axel sebelum Axel tidur.
__ADS_1
“Tapi ku rasa itu tidak akan mudah bagi Demitri.”
Hannah menaikkan alis nya kebingungan, “Kenapa kau berkata begitu?”
“Karena sebelumnya saat kau pergi untuk makan malam dengan Demitri, saat aku berusaha untuk menidurkan Axel, kami sempat berbincang kecil. Aku sengaja memancing pembicaraan tentang Demitri kepada Axel, tapi Axel terlihat kurang senang dengan fakta bahwa kau mulai sering menghabiskan watu dengan Demitri.” Darlen menghela nafas sejenak, “Saat aku pancing mengenai Demitri, jika Demitri menjadi Ayah nya, Axel justru menjawab bahwa ia tidak butuh Demitri sebagai Ayah nya karena ia sudah memiliki aku dan Giovano.”
“Seperti nya Axel tidak menginginkan Ayah baru, ia justru benci karena waktu nya bersama dengan ku dan juga Giovano menjadi terbagi karena kau terus mengajak nya pergi keluar bersama dengan Demitri.”
Hannah mengacak acak rambut nya frustasi, “Sepertinya aku telah melakukan kesalahan, seharusnya membuat mereka dekat bukan dengan cara membuat mereka bertemu setiap hari. Itu hanya membuat Axel kesal, seharusnya mereka bertemu sesekali namun bermakna dengan begitu Axel akan suka dengan Demitri dan akan dengan kemauan nya sendiri untuk menemui Demitri. Salah ku memang, aku bodoh.”
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri Hannah, Axel masih kecil ia tidak akan mudah membenci Demitri akan hal seperti itu, ia hanya merasa waktunya dengan ku dan dengan Giovano jadi berkurang, maka dari itu dia menolak makan siang dengan Demitri hari itu karena ia menjadi merindukan ku. Demitri harus sabar, meski memakan waktu yang tidak sebentar tapi aku yakin suatu saat nanti Axel pasti akan menyukai Demitri dan kalian bisa membangun keluarga yang sempurna bersama.”
***
Axel tidak tidur, atau lebih tepat nya ia terbangun saat mendengar suara mesin mobil dari luar rumah.
Axel turun dari tempat tidur nya dan melangkah ke arah jendela kamar nya, menyibakkan tirai jendela yang menutupi pandangan nya ke arah luar.
Axel melihat mobil yang ia kenali, mobil tersebut tak lain adalah mobil milik Demitri. Dan benar saja tebakan Axel, ia melihat Demitri turun dari mobil tersebut dan membukakan pintu mobil untuk Hannah.
Axel yang awal nya masih mengantuk mendadak segar ketika melihat Hannah sudah kembali, tapi setelah turun dari mobil Hannah tak langsung masuk ke dalam rumah.
alis kecil Axel terangkat kebingungan melihat kejadian tersebut, namun ia masih tetap mengintip hingga Hannah benar benar masuk ke dalam rumah.
Niat awal Axel itu ingin keluar kamar dan menyapa Ibu nya, merengek karena telah di tinggal kan dan tidak di ajak lalu mengajak Ibu nya untuk tidur bersama di kamar.
Namun semua itu tidak jadi Axel laksanakan ketika ia mendengar suara perbincangan antara Ibu dan kedua Ayah nya di ruang tamu.
Axel kecil memang biasa nya akan masa bodoh dan tetap datang mengecoh meski orang tua nya sedang berbincang di ruang tamu namun kali ini Axel melakukan hal yang berbeda lantaran ia mendengar nama Om Demitri, teman Ibu nya itu di sebut-sebut.
Kencan?
Axel tidak mengerti dengan apa yang disebut sebut oleh orang tua nya itu, tapi Axel mengerti saat mereka menyebutkan soal menjadi Ayah baru untuk Axel.
Axel bingung kenapa orang tua nya terus saja mengatakan seolah olah Demitri akan menjadi Ayah baru untuk Axel, sementara Axel saja sudah punya 2 Ayah. 2 Ayah sudah cukup untuk nya.
Meski sudah menguping sepanjang pembicaraan orang tua nya, Axel tetap tidak paham. Ia memutuskan untuk membatalkan rencana nya dan kembali tidur di ranjang nya.
Axel berniat untuk tidur saja dan menanyakan hal ini kepada teman nya, mungkin teman nya akan mengerti dan menjelaskan nya nanti. Axel akan bertanya kepada teman-teman nya besok.
__ADS_1
***
“Itu arti nya Mama Axel mau menikah lagi.” salah satu teman Axel itu berkata, “Tante ku punya banyak suami, dia menikah empat kali. Jadi sepupu aku punya 4 Ayah.”
Axel dengan polos nya mengangkat alis nya tak mengerti, “Tapi Mama ku tidak menikah banyak-banyak.”
“Iya tidak menikah banyak banyak, tapi kan sekarang baru mau menikah lagi. Bukti nya kamu bilang Om yang sering jemput kemari itu akan jadi Ayah mu, berarti itu tanda nya Mama mu akan menikah lagi dengan Om itu.”
“Kalau menikah lagi dengan Om itu berarti kau akan pisah dengan Papa-papa mu yang lain.” sahut teman Axel yang satu lagi.
Membuat Axel semakin khawatir saja.
“Tapi kenapa Mama harus menikah, kan sudah ada Papa Darlen dan Daddy Giovano. Sebenar nya menikah itu untuk apa.”
“Menikah itu karena cinta, kalau cinta ya menikah. nanti jadi punya anak bersama, kata nya kau ingin punya adik seperti ku, mungkin kalau Mama mu menikah lagi kau akan punya adik.”
Axel menggelengkan kepala nya, “Axel lebih baik tidak punya adik dari pada harus pisah dengan Papa Darlen dan juga Daddy Giovano.”
“Mau menikah lagi atau tidak yang terpenting kan mereka sayang pada mu.”
***
“Hari ini kau tidak ikut menjemput Axel dengan ku tidak apa-apa kan?” Hannah menghubungi Demitri melalui telepon, lebih dulu memberitahu perihal Axel sebelum Demitri datang untuk menjemput.
“Iya, tidak apa-apa. Kau tida perlu khawatir tentang diriku.” jawab Demitri dari sebrang sana.
“Aku, Darlen dan Giovano sudah sepakat untuk menceritakan yang sebenar nya kepada Axel sebelum Axel semakin besar dan mengetahuinya sendiri, meski ia tidak akan begitu mengerti setidak nya tidak ada yang kami sembunyikan dari nya dengan begitu ia tidak akan membenci kami. Jika kami terus menyembunyikan nya dan Axel mengetahui rahasia kami pasti Axel akan membenci kami karena telah membodohi nya.”
“Tapi apa kau yakin?" tanya Demitri sekali lagi dari sebrang sana.
“Ya, ini pilihan terbaik. Aku juga akan mengatakan tentang mu kepada Axel, Semoga ia mau mengerti.”
“Ya, aku doa kan yang terbaik. Jika terjadi sesuatu atau kau butuh bantuan ku, jangan segan untuk meminta bantuan ku.”
“Ya, kau tenang saja aku akan menelepon mu jika aku memerlukan bantuan mu, aku juga akan menelepon mu jika sudah selesai. Kembali lah bekerja, jangan lupa makan siang.”
Demitri berharap ia bisa memulai kisahnya kembali dengan Hannah, dengan Axel juga. meski membutuhkan waktu yang lama sekalipun Demitri tidak masalah.
Asalkan bisa bersama dengan Hannah, wanita yang ia cintai. Itu saja sudah cukup bagi Demitri.
__ADS_1