
“Rafael, bawa Martha keluar dari sini.” Demitri berbalik, kembali duduk bersama Hans, mengabaikan teriakan tidak terima Martha.
“Ah, aku harus segera pergi. Kau tahu Ibu mu meminta ku untuk menemaninya hari ini, aku sudah sengaja mengosongkan jadwal ku hari ini untuk menemaninya.” Hans bangkit berdiri, menepuk nepuk bahu Demitri dan tersenyum pada Hannah sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan tersebut.
“Kenapa kau masih ada disini?” Demitri melirik kearah Hannah dengan tatapan datarnya, jelas sekali Demitri terlihat tidak suka dengan keberadaan Hannah didalam ruangan itu.
Hannah berdecak, ia bangkit berdiri hendak pergi juga dari ruangan ini namun tiba tiba gerakan Hannah terhenti ketika mendengar suara Demitri.
“Semakin lama kau semakin kelihatan seperti *******.”
Jujur saja Hannah merasa sakit hati dengan perkataan Demitri, tapi Hannah menguatkan hatinya bahwa ia tidak akan menjadi lemah hanya karna hinaan seperti itu.
__ADS_1
“Pelacur? Kau bilang aku ini *******? Jangan sok merasa jijik, kau lah laki laki pertama yang menyentuh ******* ini.” Hannah berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar, Hannah memberanikan dirinya untuk menentang Demitri.
Wajah Demitri tampak memerah menahan emosi, ia balik menatap Hannah menantang. “Bukan salah ku kalau kehilangan kesucian mu, kau lah yang menggoda ku, mau kau menderita atau bahkan berkeliaran menggoda orang lain itu bukan urusan ku tapi setidaknya jangan lakukan itu di perusahaan ku.”
Hannah mengepalkan tangannya menahan emosi, siapa juga yang ingin menggoda laki laki lain? Hannah sama sekali tidak ada pikiran untuk menggoda laki laki lain, menggoda Demitri saja itu sudah menyiksa Hannah, ia melakukan ini semata mata untuk membuat Martha menderita.
Jikalau bukan karna Martha, Hannah pun tidak akan sudi memberikan harta berharganya itu untuk laki laki brengsek seperti Demitri.
Demitri naik pitam, ia sudah tidak sanggup lagi menahan kemarahannya, Demitri menarik lengan Hannah kasar dan menghempaskan Hannah ke sofa tanpa perduli jeritan wanita itu.
“Jangan macam macam dengan ku, aku bisa melakukan hal yang terduga kepada mu.” Demitri tepat berada diatas tubuh Hannah, mengancam Hannah dengan suara pelan namun menuntut itu.
__ADS_1
Namun Hannah justru semakin meninggikan dagunya, seolah olah gertakan Demitri sama sekali tidak mengusiknya apalagi membuatnya takut.
“Hal tak terduga seperti apa hah, kau pikir aku takut?” Hannah memancing Demitri tentu saja, laki laki seperti Demitri memang harus dikompor kompori.
Demitri menggeretakkan giginya, Hannah mencengkram pinggiran sofa erat erat, Hannah merasa bagian tubuhnya sangat amat sakit. Semalam ia baru saja kehilangan kesuciannya bahkan saat bangun pagi tadi ia agak kesulitan berjalan karna rasa sakitnya dan sekarang ia justru kembali harus merasakan kembali rasa sakit itu karna Demitri.
Salah Hannah juga memancing Demitri disaat Demitri sudah memperingatkannya sebelumnya.
Tapi memang ini yang Hannah inginkan, Demitri jatuh kedalam perangkapnya. Terserah Demitri mau memperlakukannya dengan kasar atau apapun itu. Yang pasti tujuan Hannah hanya satu, dan untuk mencapai hal itu ia rela melakukan apapun.
Meski Hannah harus mengorbankan harga dirinya sekalipun, ia rela.
__ADS_1