MY REVENGE

MY REVENGE
BAB 51


__ADS_3

Demitri keluar dari toko bunga dengan sebuket bunga di tangan nya, Demitri sengaja membeli bunga agar menyenangkan hati Hannah. Hannah pasti bahagia saat keluar dari rumah dan mendapati Demitri yang datang tanpa tangan kosong.


Demitri mencium sejenak bunga tersebut, menghirup aroma segar dari sana sebelum ia kembali masuk ke dalam mobil nya. Melanjutkan perjalanan nya menuju rumah Hannah.


***


“Axel sudah tidur?” tanya Hannah kepada Giovano yang baru keluar dari kamar Axel, sebelumnya Axel rewel sekali. Merengek meminta agar Hannah mengajak dirinya juga, padahal Hannah sendiri tahu bahwa Axel kelelahan karena siang tadi asik sendiri melihat lihat binatang.


Giovano menggelengkan kepala nya, “Belum, Axel masih belum tidur. Mata nya sudah memerah namun ia masih saja memaksakan diri untuk tidur, tapi kau tenang saja ada Darlen di dalam, kau tidak perlu khawatir dan bersiap-siap lah.”


Giovano melirik jam yang tergantung di dinding, “Sebentar lagi Demitri pasti akan datang untuk menjemput mu, kau tidak ingin membuat nya menunggu lama bukan?”


“Tapi Axel—”


“Kau tidak perlu khawatir Hannah, hanya perlu tepukan lembut dan dongeng kesukaan nya Axel pasti akan langsung jatuh tertidur. Sekarang bersiap lah, berdandan lah yang cantik.” Giovano mendorong pelan Hannah menuju kamar wanita itu agar Hannah segera bersiap karena Hannah tidak punya banyak waktu lagi sebelum Demitri datang.


Hannah menurut dan masuk ke dalam kamar nya, ia sudah mandi hanya saja ia belum menentukan pakaian apa yang akan ia kenakan. Hannah tidak punya banyak baju cantik yang biasa wanita kenakan saat berkencan dengan seorang laki-laki.


Beruntung nya ia punya beberapa dress meski terlihat sederhana namun ya memang begitu gaya Hannah akhir-akhir ini, tidak seperti dulu yang dandanan Hannah terlihat seperti ******* karena dulu Hannah mengerahkan semua usaha nya untuk merebut Demitri dari Martha.


setelah mengenakan dress bermotif bunga bunga nya itu Hannah duduk di meja rias, memoles sedikit wajah nya dengan bedak, memakai lipstik yang mencerahkan warna bibir nya, tak lupa menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangan nya.


Hannah mendengar suara mobil dari luar rumah, Hannah bangkit dan melangkah menuju balkon kamar nya berusaha melihat keluar dan mendapati Demitri sudah datang untuk menjemput nya.


Mobil yang ada di luar sana adalah mobil Demitri, Hannah dengan cepat berlari keluar dari kamar nya setelah mengambil tas kecil berisi hal hal penting yang harus ia bawa.


“Sepertinya Demitri sudah ada di luar.” ujar Giovano yang duduk sembari menonton televisi, menoleh kearah Hannah yang keluar dari kamar nya dengan terburu-buru.


Giovano memperhatikan Hannah yang sibuk mengeluarkan sepatu untuk ia kenakan dari rak sepatu dan memakai nya dengan terburu-buru.


“Aku pergi dulu ya, jika Axel masih belum bisa tidur dan ia mencari keberadaan ku tolong sampaikan permintaan maaf ku dan katakan bahwa aku akan pulang cepat.” ucap Hannah sembari membuka pintu rumah.

__ADS_1


Giovano menggelengkan kepala nya tidak setuju, “Kau tidak perlu pulang terburu-buru kencan mu hanya akan kacau jika pikiran mu terus berpusat pada Axel. Sudah ku bilang bukan untuk tidak memusingkan Axel, Axel akan tidur dengan pulas sampai besok pagi karena ia sudah kelelahan. Yang perlu kau pastikan itu kau pulang dengan selamat dan jika Demitri berbuat hal yang kau tidak sukai, telepon aku segera dan aku akan datang menjemput mu secepat mungkin.”


Hannah menganggukkan kepala nya mendengar perkataan Giovano, “Baik lah kalau begitu aku pergi.”


“Ya, hati-hati.”


Hannah keluar dan menutup kembali pintu sebelum berlari kecil menghampiri Demitri yang sudah berdiri di samping mobil nya menunggu Hannah.


“Maaf, apa aku lama?” tanya Hannah sembari tersenyum canggung, merasa bersalah karena mereka bertemu lewat dari jam yang mereka janjikan sebelumnya.


“Tidak sama sekali, ini aku ada sesuatu untuk mu.”


Demitri menyodorkan sebuket bunga kepada Hannah, Hannah terkejut tentu saja, tidak mengira bahwa Demitri akan sampai memberikan nya bunga begini.


Karena tidak ada sosok Demitri yang romantis di ingatan Hannah, meski dulu Hannah dekat dengan Demitri, Hannah tidak pernah melihat sisi Demitri yang seperti ini.


“Terima kasih.” ujar Hannah sembari menerima buket bunga tersebut, “Kita akan kemana?”


Demitri mengulurkan tangan nya menjaga kepala Hannah agar tidak teratuk saat masuk ke dalam mobil, saat Hannah sudah duduk dengan nyaman Demitri langsung menutup pintu mobil nya berputar dan ikut masuk ke dalam, duduk tepat di sebelah Hannah.


***


“Kenapa Mama pergi sama Om Demitri, kenapa tidak di rumah saja. Kalau mau maka malam kan di rumah juga bisa.” Axel memajukan bibir nya, ia agak kesal karena ia telah merengek untuk ikut dengan Hannah. namun ia tidak diperbolehkan dengan alasan bahwa dirinya sudah mengantuk dan hanya akan membuat Hannah kerepotan untuk menggendong Axel yang tertidur nanti.


“Itu karena Mama ada yang perlu dibicarakan dengan Om Demitri makanya mereka pergi makan malam bersama sekaligus berbincang.” Darlen yang berbaring di sebelah Axel mengusap kening putra nya itu. “Kenapa kok Axel kelihatan seperti tidak suka begitu dengan Om Demitri, bukan nya Om Demitri itu baik ya, dia kan sudah belikan Axel mainan mahal.”


Axel menggelengkan kepala nya pelan, “Axel suka kok sama Om Demitri soal nya Om Demitri baik sama Axel dan Mama, tapi Axel bingung kenapa Om Demitri sering sama Mama terus. Makan siang juga Axel sama Mama diajak sama Om Demitri, Axel pulang sekolah juga jadi sama Om Demitri terus.”


“Loh bukan nya seharusnya Axel senang, karena Om Demitri sudah mau repot-repot menjemput Axel, Mama jadi tidak perlu menyetir kan?”


Axel memainkan jemari jemari kecil nya, “Awal nya Axel senang tapi Axel lebih senang kalau Mama datang jemput Axel sama Papa atau sama Daddy. Soal nya teman-teman Axel juga di jemput sama Mama dan Papa nya bukan sama teman Mama nya.”

__ADS_1


Darlen terdiam sejenak memandang Axel, “Kalau Om Demitri bukan teman Mama tapi jadi Ayah nya Axel apa Axel akan senang di jemput dengan Om Demitri dan juga Mama?” Darlen bertanya hati-hati takut takut ia salah bicara dan justru membuat Axel berpikir yang aneh-aneh.


Axel kembali menggelengkan kepala nya. “Kenapa Om Demitri harus jadi Ayah Axel, kan Axel sudah punya Papa Darlen dan Daddy Giovano, apa Axel harus punya tiga Papa, kan Axel sudah punya dua.”


Darlen terdiam, tidak melanjutkan perkataan nya lagi takut ia salah bicara dan justru membeberkan mengenai hubungan Hannah dengan Demitri kepada Axel secara tidak sengaja.


Perihal hubungan Hannah dan Demitri, hanya Hannah lah paling berhak untuk mengungkapkan nya kepada Axel.


“Sudah.. sudah.. sekarang Axel tidur ya, mata Axel sudah merah sekali begitu. Jangan di tahan kantuk nya nanti Axel jadi sakit kepala loh.” Darlen meraih Axel agar tidur lebih mendekat dengan nya dan memeluk hangat Axel, menepuk nepuk punggung putra nya itu.


***


“Kau menyiapkan semua ini?” tanya Hannah ketika mereka sampai di restaurant, restaurant yang mereka datangi ini telah di sewa oleh Demitri sehingga hanya mereka tamu di restaurant ini.


Hannah terkejut saat melihat meja tempat mereka tertata rapih dengan lilin-lilin dan bunga yang indah, belum lagi dengan lampu lampu cantik yang mengelilingi pagar balkon restaurant tersebut.


Demitri dengan sigap menarik kursi untuk Hannah duduk, mempersilahkan Hannah duduk sementara ia juga memberi kode kepada pelayan untuk membawakan menu makanan yang sudah disiapkan itu.


Dari tempat duduk mereka, mereka bisa melihat ke pemandangan di luar, pemandangan yang indah menurut Hannah karena gemerlap nya lampu lampu hiasan kecil di gelap nya malam.


Tak lama pelayan datang membawa makanan untuk mereka dan juga wine, mereka bersulang sebelum menenggak wine tersebut.


“Kalau dipikir pikir sudah lama aku tidak minum, meski hanya wine sekalipun. Karena apa yang ku minum selalu menarik perhatian Axel, aku tidak ingin dia merengek meminta ingin mencoba nya saat aku minum.” Hannah tertawa pelan teringat dengan Axel.


“Kau bisa minum sepuas mu kalau kau ingin, kau tidak perlu khawatir aku akan mengantarkan mu pulang dengan selamat meski kau mabuk. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau ingin kan.” Demitri mengambil botol wine di atas meja dan menuangkan nya ke gelas kosong Hannah, “Kau mau mendengarkan musik?”


Hannah mengerutkan kening nya sejenak karena merasa bingung namun sedetik kemudian Hannah menganggukkan kepala nya setuju. “Boleh.”


Hannah tidak menyangka bahwa Demitri akan menyiapkan sampai sejauh ini, Demitri bahkan menyewa seorang pianis untuk memainkan mereka sebuah lagu. Hannah tidak menyangka bahwa Demitri akan terpikirkan untuk melakukan hal seperti ini.


Jatuh cinta memang benar benar dapat merubah seseorang, contoh nya Demitri. Dulu Demitri tidak seperti ini, dan jujur Hannah menyukai Demitri yang sekarang di bandingkan dengan Demitri yang dulu.

__ADS_1


__ADS_2