
Demitri menatap malas Martha yang tengah merajuk dihadapannya, Demitri sudah hampir muak tiap hari harus mendengar rengekan Martha soal menikah.
“Kapan sebenarnya kau akan menikahi ku sayang, aku sudah menua, aku khawatir jika terlalu lama aku jadi tidak bisa memberimu keturunan.” Martha mengambil tangan Demitri dan mengusapnya lembut, berusaha membujuk Demitri.
“Kau tahu sendiri bahwa aku tidak perduli dengan keturunan bukan?” Demitri menarik tangannya dari Martha, Demitri mengalihkan fokusnya pada americano nya, rasanya pahit sepahit moodnya hari ini.
Martha menatap sinis Demitri, semakin hari Demitri semakin pintar melawannya dan Martha sangat sangat yakin bahwa itu disebabkan oleh Hannah.
“Kalau kau tidak mau menikahi ku lalu untuk apa kita menjalin hubungan? Katakan padaku kau ini mencintaiku atau tidak?!” emosi Martha semakin meledak ledak, Martha juga semakin kesini semakin melupakan bahwa ia harus bersikap manis di depan Demitri seperti sebelum sebelumnya, Martha sudah tidak bisa menghandle emosinya lagi.
“Tentu saja aku mencintaimu, kalau tidak kenapa juga aku tetap bertahan dengan wanita tempramen seperti mu Martha.” Demitri berkata dengan tajam, kata kata Demitri itu menyadarkan Martha bahwa Martha tidak bisa semena mena terhadap Demitri, jika Demitri membuangnya maka habislah sudah. Martha tidak akan ada lagi tujuan dan bahkan Martha akan menjadi gembel dadakan.
***
“Kau dari mana saja Pak Demitri marah marah karna kau sudah hampir dua minggu tidak masuk kerja, kau sakit?” Rafael menatap khawatir Hannah yang nampak pucat, Rafael juga nampak kebingungan karena Hannah datang ke kantor dengan pakaian santainya, hanya kaus dan celana jins. Tidak seperti biasanya.
__ADS_1
“Aku baik baik saja kau tidak perlu khawatir, apa Pak Demitri ada di dalam?”
Rafael menggeleng gelengkan kepalanya, “Dia tidak ada di dalam, saat ini Pak Demitri tengah makan siang bersama Ibu Martha.”
Ah wanita itu..
Hannah terlalu sensitif dengan segala hal yang menyangkut wanita itu, mendengar namanya saja sudah membuat adrenalin Hannah terpacu untuk menikam wanita itu tepat di jantungnya.
“Maaf bisa kah kau menaruh surat ini di meja Pak Demitri?” Hannah menyerahkan sebuah amplop, amplop yang berisikan surat pengunduran dirinya.
“Ini surat pengunduran diri ku, ku rasa aku sudah tidak bisa lagi bekerja disini dan lagi pula pekerjaan ku adalah pekerjaan sepele, pasti tidak masalah jika tidak adanya diriku bukan?” Hannah berusaha terlihat terlihat ceria, berusaha terlihat tertawa.
Rafael mengerutkan alisnya, Rafael benar benar tidak paham dengan maksud Hannah. Kenapa juga Hannah harus mengundurkan diri disaat ia bahkan belum sempat menikmati gaji pertamanya, jikalau Hannah memang ingin mengundurkan diri bukankah lebih baik disaat Hannah sudah mendapatkan upah atas jerih payahnya?
Hannah menaruh amplop itu dimeja Rafael, tersenyum sebentar sebelum akhirnya berpamitan kepada Rafael. Dalam hati Hannah berdoa semoga Rafael bahagia, besar kemungkinan nantinya Hannah tidak akan bisa bertemu dengan Rafael lagi, sosok Rafael yang sudah dianggapnya sebagai sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Hannah mengeluarkan ponselnya menghubungi James sembari ia masuk ke dalam lift, “Kau sudah mengatur waktu yang tepat?”
“Ya, besok tepat pukul satu siang.”
Hannah mematikan sambungan telepon, ia sama sekali tidak berekspresi, memang sudah saatnya mengakhiri semuanya, lupakan segala drama. Hannah hanya ingin Martha mati, itu saja.
***
Demitri *** surat pengunduran Hannah, moodnya yang sebelumnya memang sudah buruk semakin parah, Demitri sekarang merasa ingin sekali memukul seseorang karna saking kesalnya.
Demitri seharusnya tidak perlu terkejut dengan pengunduran Hannah, seharusnya Demitri tahu bahwa suatu saat Hannah pasti akan berhenti dikala ia sudah menemukan laki laki lain yang jauh lebih kaya atau dianggap bodoh olehnya.
Ada secuil rasa penyesalan di dalam hati Demitri, ia menyesal lantaran tidak memberikan Hannah uang yang banyak, barang mewah dan hal serupa lainnya. Jika saja Demitri memberikannya maka Hannah pasti tidak akan pergi mencari korban yang lain.
Demitri tidak tahu kenapa ia selalu merasa tidak senang setiap kali memikirkan Hannah bersenang senang dengan laki laki lain, satu hal yang terlintas dipikiran Demitri, mungkin ia merasakan hal itu karena Hannah adalah wanita pertamanya, karna Hannah adalah pelacur pertama yang bisa membuat Demitri lupa akan pendiriannya sendiri.
__ADS_1
“Wanita sialan itu, akan ku buat dia menyesal karna telah memilih laki laki lain.”